Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Panik


__ADS_3

Sore hari semua kembali berkumpul. Tita dan Nyonya Laura pun sudah kembali. Keina kembali menempel pada Tita. Gagah yang sudah kembali dari rumah sakit pun terus menempel pada Laras tanpa malu dengan ayah dan ibu mertuanya.


"Pak, malam nanti Bapak akan di antar supir seperti biasa." Tita.


"Iya Nak." Jawab Burhan.


"Kau pernah pergi ke luar saat bersembunyj?" Tuan Ito.


"Ya Tuan. Sesekali." Jawab Burhan.


"Bagaimana bisa?" Tuan Ito.


"Tita selalu punya cara agar saya bisa keluar menghirup udara." Burhan.


"Dia memang menantu tersayang." Puji Tuan Ito.


"Ayah.." Rehan.


"Kau juga tentunya Han." Jawab Tuan Ito terbahak.


"Kau ini selalu iri dengan Tita Han." Nyonya Laura.


"Aku ini menantu kalian juga Bu." Rehan.


"Kalian menantu hebat Ayah dan Ibu." Nyonya Laura.


"Omaaa..." Laras.


"Ish! Kau cucu menantu tercantik." Nyonya Laura.


Dan semua pun tertawa melihat Laras dan Rehan yang merengek manja pada Nyonya Laura. Burhan dan Marni perasaannya menghangat karena Laras begitu di terima di keluarga Ito.


Tita mengusap lembut perutnya yang membuncit karena terasa sedikit tegang padahal usia kandungannya baru memasuki usia lima bulan. Ken memperhatikan Tita yang terus mengusap perutnya.


"Kenapa sayang?" Ken.


"Perut Tita kenceng deh Mas." Tita.


"Istirahat saja kalo begitu. Nanti makan malam biar bibi ambilkan ke kamar kita." Ken.


"Ngga Mas. Sebentar pasti ilang lagi." Tita.


"Kau yakin? Tapi, Mas lihat kamu pucat sayang." Ucap Ken mengusap lembut pipi Tita.


"Ada apa?" Ayumi.


"Perut Tita kenceng." Ken.


"Kamu membuatnya kelelahan Ken?" Ayumi.

__ADS_1


"Tidak Kak. Aku tak setega itu ketika banyak acara tetap membiarkan istriku terkapar dengan perut buncitnya." Ken.


"Ssshhhh." Desis Tita.


"Kau yakin baik-baik saja Ta?" Rehan.


"Iya Kak. Mungkin Mas Ken benar Tita perlu berbaring sebentar." Tita.


"Apa tadi anakmu memakan sesuatu di teman teman mu atau ada sesuatu?" Tuan Ito.


"Tidak. Kita hanya duduk mengobrol dan Tita tidak memakan sesuatu yang memancing sakit perut." Nyonya Laura.


"Tita tidak apa-apa Ayah." Bela Tita tak ingin Ibu mertuanya kena marah Tuan Ito.


"Sebaiknya memang kamu harus istirahat Nak." Titah Burhan cemas.


Burhan dan Tita seperti memiliki rasa antara Ayah dan Anak. Burhan akan mencemaskan Tita jika terjadi sesuatu padanya begitupun sebaliknya.


"Iya Nak. Bapak benar kamu harus istirahat." Marni.


Kemudian Ken membantu Tita bangkit dari duduknya karena Tita menolak di gendong. Namun, saat dirinya bangun terasa ada yang mengalir di antara kedua kakinya. Tita memegang perutnya kemudian menoleh ke bawah.


"Ada apa?" Ken.


"Sepertinya ketubannya pecah Mas." Ucap Tita lirih.


Tanpa aba-aba Gagah segera mengambil kunci mobil dan berlari keluar menyiapkan mobil. Ken langsung mengangkat Tita ala bridal dan membawanya ke luar untuk segera di bawa kemobil.


Semua panik dan ricuh. Keina menangis histeris melihat Mommy nya di bawa oleh Daddy nya. Marni dan Burhan bertugas menjaga Keina di rumah dengan Tuan dan Nyonya Ito.


Rehan segera menelfon rumah sakit. Ayumi, Gladys dan Laras mengikuti Rehan memasuki mobilnya untuk mengikuti mobil Gagah. Semua tampak begitu panik.


Gladys menghubungi Angga. Dan Angga pun yang baru saja tiba di rumah kembali memutar mobilnya ke luar gerbang rumahnya membuat penjaga rumahnya heran.


Tiba di rumah sakit dua orang perawat wanita dan Dokter Rini sudah menunggu di pintu IGD. Ken segera membawa Tita keluar dari mobil dan menidurkan Tita di brankar dengan penuh kehati-hatian.


"Apa akan keluar sekarang Kak?" Ken.


"Tenanglah. Kita akan lakukan pemeriksaan terlebih dahulu." Rini.


Dokter Rini pun membawa Tita ke dalam ruang khusus pemeriksaan IGD. Ken terus menemani Tita. Tita sesekali meringis merasakan sakit di perutnya. Dokter Rini segera memeriksa keadaan bayi di dalam perut Tita.


"Sejak kapan kamu merasakannya Dek?" Rini.


"Baru pagi tadi Kak. Tapi tidak terlalu sering hanya beberapa kali saja. Tita fikir karena beberapa hari sebelumnya Tita muntah-muntah jadi perut Tita kenceng." Jelas Tita.


"Apa semalam kalian melakukan hubungan?" Rini.


"Tidak Kak." Ken.

__ADS_1


"Kaluar air-air?" Rini.


"Baru saja beberapa menit yang lalu. Makanya saya bawa Tita kemari." Ken.


"Maafkan saya. Saya harus mengatakannya walaupun saya tau ini pahit." Rini.


"Jangan buat kami khawatir Kak." Ken.


"Bayi kalian harus segera di keluarkan." Rini.


Tita memejamkan matanya menahan tangisnya. Walaupun tanpa sengaja dirinya kembali hamil tapi Tita tak menyesal. Sejak awal kehamilan Tita memang banyak mengeluh sakit hanya saja dokter mengatakan semuanya baik-baik saja hingga kini mereka berdua harus merelakan bayi mereka yang ternyata berjenis kelamin perempuan.


Ken dan Tita berpasrah. Ken terus menguatkan Tita walaupun Tita terlihat tegar Ken tau hatinya hancur. Karena ibu manapun pasti tak menginginkan kehilangan bayinya.


Proses persalinan begitu cepat karena memang Tita sudah merasakan mules yang semakin kencang setelah air-air keluar. Tidak ada tangisan bayi membuat Tita tak kuasa lagi menahan bulit bening di sudut matanya.


Dokter Rini segera memberikan bayi Ken dan Tita kepada perawat untuk di bersihkan. Ken memintanya dan ingin memandikan jenazah bayinya sendiri dan perawat tersebut pun memberikannya pada Ken.


"Mas," Panggil Tita.


"Ya sayang." Jawab Ken menahan isak tangisnya.


"Tita ingin memeluknya." Pinta Tita.


Ken melihat ke arah Dokter Rini dan Dokter Rini pun menganggukkan kepalanya sebagai isyarat. Ken pun membawa bayinya mendekati Tita sementara Tita di bersihkan oleh perawat.


Tita memeluk bayinya dan menciuminya. Bayi yang masih terlalu kecil untuk ukuran bayi. Tita dan Ken pun tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi sekuat tenaga keduanya tahan. Ken melabuhkan ciuman hangat di puncak kepala Tita memberinya kekuatan.


"Biar Mas mandikan adik sayang." Pinta Tita.


Tita menoleh dan memberikan bayinya yang sudah tak bernyawa lagi. Kedua perawat dan Dokter Rini pun ikut terharu dan ikut menitikan air mata mereka.


Sementara semua keluarga di luar belum ada yang mengetahuinya satupun. Karena tak melihat kehadiran Tanio dan Olla Gagah lun menghubungi Tanio dan memintanya ke rumah sakit.


Tanio pun segera ke rumah sakit dan meminta Olla untuk juga segera ke rumah sakit. Olla dan Tanio tiba bersamaan dengan mobil berbeda di rumah sakit. Keduanya segera menuju ruangan khusus yang terdapat di IGD.


"Bagaimana keadaan Tita Kak?" Tanya Tanio pada Rehan.


"Kami belum mendapatkan informasi Nio. Ken dan Tita masih di dalam. Bahkan kedua perawat dan Dokter Rini pun belum ada yang keluar." Rehan.


"Semoga semua baik-baik saja." Olla.


Olla dan Ayumi saling berpelukkan menanti Ken dan Tita keluar. Tuan dan nyonya Ito saling berpegangan tangan seolah saling memberikan kekuatan. Laras terus memeluk Gagah dan Gladys menyandarkan kepalanya di lengan Angga yang juga ikut panik.


Sementara Rehan dan Tanio berdiri tak jauh dari pintu ruangan khusus keluarga Ito. Semua harap-harap cemas menantikan siapapun yang akan keluar dari ruangan khusus.


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2