Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Keluarga Hangat


__ADS_3

Mohon maaf telat up ya sahabat πŸ™. Othor rawat Mama sakit dulu kemarin.


Oke kita lanjut ya...


🌼🌼🌼


🎢🎢🎢


Ken mengehentikan langkahnya menuju meja makan ketika melihat seseorang yang asing baginya. Ken memang begitu waspada.


"Kenapa berhenti sayang?" Tita.


"Siapa dia?" Ken.


"Hah! Dia! Siapa?" Tita.


"Itu sayang yang di meja makan." Ken.


"Hm... Kita tidak akan tau siapa dia jika kita tetap berada di sini sayang." Tita.


"Ah, kau benar sayang. Ayo. Kasian dede udah kelaperan." Ken.


Ken dan Tita pun kembali berjalan menuju meja makan tanpa Keina tentunya karena Keina sudah tertidur karena kelelahan. Tita yang sedikit kelelahan memilih makan malam bersama di meja makan.


"Malam Onty, Oncle." Sapa Gagah.


"Hm..." Ken.


"Malam Kak. Malam semuanya.." Tita.


"Onty, Oncle kenalkan ini Ibu dari Laras." Tunjuk Gagah pada Ibu Laras.


"Perkenalkan saya Marni." Ucap Ibu Laras.


Ken hanya mengangguk sedangkan Tita mengalaminya menyapa besan dari Kakak iparnya itu.


Setelah semua lengkap. Semua menikmati makan malam dengan khidmat hanya ada suara dentingan sendok garpu mengenai piring. Ibu Laras tampak terus memperhatikan anak dan menantunya selama makan.


Setelah selesai semua berkumpul di ruang utama. Laras berdampingan duduk bersama Ibunya. Gagah dan Gladys yang baru saja datang bersama Angga bergelayut manja di sisi kanan dan kiri Tita.


"Hei, apa kalian tidak malu dengan pasangan kalian?" Tuan Ito.


"Kakak tuh yang harusnya malu. Ada mertua juga." Gladys.


"Ceh, biar saja. Ibu sedang memanjakan anak gadisnya yang udah ga gadis." Gagah.


"Kakak!" Protes Laras dengan wajah yang memerah.


"Up's! Maaf sayang keceplosan." Gagah.


Semua pun tertawa dengan tingkah Gagah. Gagah dan Gladys memang begitu manja kepada Tita. Usia Gagah dan Tita hanya terpaut dua tahun lebih tapi tak membuatnya canggung untuk bermanja pada Onty nya itu.


Tita pun begitu menyayangi kedua keponakan dari suaminya itu. Karena keponakan Tita dari kakaknya masih kecil dan masih menempel pada Mommy nya.

__ADS_1


"Angga, yakin mau nikahin anak manja ini?" Tunjuk Gagah pada Gladys.


"Ceh, harusnya aku yang nanya sama Kak Laras. Kakak ga nyesel nikah sama cowok manja begini." Cibir Gladys.


"Ais... Jangan salah. Cinta mati istriku ini padaku." Sombong Gagah.


"Iya kau mati dia cari lagi." Ledek Gladys.


"Glad, ish..." Gagah.


"Hei, kalian bisa diem ngga? Adik kalian pusing nih di dalam denger kalian berantem." Tita.


"Up's! Maaf Onty. Maaf ya dede sayang." Ucap Gladys mengusap lembut perut Tita.


"Lagian kalian ini. Bunda kalian tuh kosong ngapain kalian ngerebutin istri Oncle." Protes Ken.


"Iya. Pindah sana." Rehan.


"Kalo gitu kita bobo sama Bunda ya Yah." Tawar Gladys.


"Jangan!" Laras.


Semua pun menoleh pada Laras.


"Kenapa?" Nyonya Laura.


"Laras sudah terbiasa bobo berdua Oma." Ucap Laras malu.


Ibu Laras memeluk Laras dan menyunggingkan senyumannya. Dirinya tak menyangka jika putri nya begitu polos dan manja terhadap keluarga suaminya. Ibu Laras begitu bahagia melihat putrinya bahagia.


"Ceh, katanya tadi suruh sama Bunda." Gladys.


"Kau fikirkan lagi matang-matang Ga. Yakin ngga mau nikahin anak manja ini." Ucap Gagah beranjak berpindah duduk di samping Ibu Laras.


"Tentu yakin Kak. Aku menyukai dia apa adanya. Tidak perlu berubah menjadi orang lain cukup menjadi dirinya sendiri seperti apapun itu." Angga.


"Makasih sayang." Ucap Gladys bangkit dari duduknya akan menghampiri Angga namun, setelah mendekat Gladys membelokkan badannya menuju Rehan dan memeluk Rehan.


"Hei, kenapa jadi peluk Ayah?" Protes Ayumi.


"Bunda, Dia Ayah ku." Gladys.


"Bunda tau. Tapi, kenapa kau peluk suami Bunda. Sedangkan yang memujimu itu calon suami mu." Ayumi.


"Karena dia calon suami ku Bunda bukan suamiku." Jawab Gladys santai.


Angga menggelengkan kepalanya menanggapi Gladys. Karena waktu semakin larut Angga pun berpamitan pulang. Gladys mengantarkannya hingga ke depan.


"Hati-hati ya sayang." Gladys.


"Setelah sampai nanti Kakak kabarin." Angga.


Angga pun mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang keluar dari halaman rumah keluarga Ito. Setelah mobil Angga tak terlihat Gladys pun masuk kedalam dengan langkah gontai.

__ADS_1


Gladys berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum seperti biasa. Namun, saat langkahnya sampai di pintu dapur Gladys melihat Ibu Laras tengah duduk di kursi meja makan.


"Ibu menginginkan sesuatu?" Tanya Gladys mengagetkan lamunan Ibu Laras.


"Hah! Ah, tidak. Ibu sedang menghabiskan Teh hijau Ibu." Ibu Laras.


"Owh! Glad fikir ibu ingin sesuatu biar Glad buatkan." Gladys.


Gladys pun mengisi botol minumnya.


"Nak, boleh Ibu bertanya sesuatu?" Ibu Laras.


"Boleh." Jawab Gladys duduk bersebrangan dengan Ibu Laras.


"Apa kalian sudah lama mengenal Laras anak Ibu?" Ibu Laras.


"Tentu saja Bu." Gladys.


"Apa Laras pernah menceritakan sesuatu pada kamu atau keluarga tentang kami?" Ibu Laras.


"Hm... Kak Laras banyak bercerita hanya saja apa yang ingin Ibu ketahui?" Gladys.


"Apa Laras bercerita jika Ibu jahat padanya?" Tanya Ibu Laras lagi menundukkan kepalanya.


"Tidak. Kak.Laras begitu menyayangi Ibu. Bagaimana mungkin Dia berfikir jika Ibu jahat padanya. Kak.Laras begitu bangga pada Ibu." Ucap Gladys terhenti.


"Bahkan saat pernikahannya dengan Kak.Gagah. Kak.Laras begitu sedih karena Ibu tak dapat di hubungi olehnya maupun kami. Rumah Ibu tampak tak berpenghuni." Jelas Gladys lagi.


"Ya. Suami Ibu selalu mengunci Ibu dari luar ketika dirinya pergi. Ibu tak pernah di ijinkan keluar rumah tanpanya atau Lili anaknya." Ibu Laras.


"Dari mana Ibu mengenal Suami Ibu? Maaf, jika pertanyaan Glad kurang sopan." Gladys.


"Dia adalah orang kepercayaan mendiang suami saya dulu. Dirinya menduda karena di tinggal meninggal juga oleh istrinya. Karena sikapnya begitu baik dan sopan Ibu tidak menyangka jika dia berani berbuat seperti sekarang." Ibu Laras.


"Karena itu Ibu mau menikah dengannya?" Gladys.


"Ada sesuatu yang membuat Ibu tidak bisa melepaskannya Nak." Ibu Laras.


"Apa?" Gladys.


Ibu Laras pun terdiam mengingat masa lalunya.


"Ibu tidak perlu menceritakannya jika itu berat. Glad pun tidak ingin Ibu merasa tertekan di rumah ini. Berikanlah kasih sayang Ibu pada Kak Laras dan Kak Gagah." Gladys.


"Tentu saja Nak. Ibu selalu menyayangi Laras dan kini Ibu telah memiliki menantu yang begitu baik." Ibu Laras.


"Dan jangan lupakan aku Bu." Gladys.


"Tentu. Rasanya Ibu begitu beruntung. Bisa berada di tengah-tengah keluarga ini. Keluarga yang begitu menyayangi kami tanpa memandang rendah kami." Ibu Laras.


"Jangan berbicara seperti itu Bu. Anggap aku anak Ibu jangan membedakan Aku dengan Kak Laras." Ucap Gladys bangkit dari duduknya mendekati Ibu Laras dan memeluknya.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2