Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Berkebun


__ADS_3

Tita selalu memaklumi Jessie yang tak mengetahui masa lalunya dengan Aldi. Karena itu pula Tita tidak ingin mengungkit masa lalunya. Kepergiannya ke rumah Kakaknya hanya ingin sedikit bernafas tanpa ada rasa ingin mengadu pada kakaknya ataupun Kakak iparnya.


Saat ini cukup Ken berada di sisinya itu sudah membuat Tita bahagia.


Mereka berbaring di atas ranjang setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan piyama. Ken memeluk Tita begitupun Tita membalas pelukkan Ken.


"Terima kasih Sayang. Mas sangat beruntung mendapatkan kamu. Kamu yang memiliki hati yang tulus." Ucap Ken mendaratkan ciuman di puncak kepala Tita.


"Semua karena Mas. Tita tidak akan bisa berdiri setegak ini jika tidak ada Mas di samping Tita." Tita.


"Tetap menjadi Tita seperti ini jangan oernah berubah sayang." Ken.


"Dan tetaplah menjadi penegak untuk Tita Mas. Jangan pernah tinggalkan Tita sendiri." Tita.


Tak lama keduanya pun terlelap dan berlayar ke alam mimpi.


Pagi hari Tita sudah siap dengan koper kecilnya yang berisikan pakaiannya dan Ken. Tita akan di antarkan Ken ke rumah Tanio terlebih dahulu setelah tadi malam mereka memberitahukan pada Tanio bahwa mereka akan menginap di sana beberapa hari.


"Tante jadi pergi ya?" Tanya Jessie sendu.


"Iya Jess." Tita.


"Ngga lama kan?" Jessie.


"Ngga. Tenang aja. Nanti kita pergi jalan-jalan bersama ya. Berbelanja mengahabiskan uang suami." Goda Tita.


"Tante bisa saja. Kalo Jess kan harus nunggu gajian suami Tan ngga kaya Tante yang bisa belanja kapan pun." Keluh Jessie.


"Tenang, Om mu ini masih bisa membelanjakan kamu kok jangan bersedih. Biarkan uang suami mu kamu tabung." Canda Tita.


"Hmm... Siap-siap Al. Siap mengamankan rekening kita." Ken.


Aldi hanya tersenyum menjawab ucapan Ken.


"Ih,, Om pelit." Jessie.


"Mana mungkin Om bisa kaya jika Om menghambur-hamburkan uang Jessie." Ken.


"Lantas Mas jatuh miskin gara-gara Tita hambur-hambur uangnya?" Tita.


"Tentu tidak sayang. Mas akan bertambah kaya karena istri Mas bahagia. Apapun yang bisa membuatmu bahagia Mas pasti berikan." Ken.


"Sudah-sudah ayo makan. Kalian itu menggombal saja pagi-pagi." Nyonya Laura.


"Cie... Ibu mau di gombalin Ayah juga ya." Tita.

__ADS_1


"Hus kamu itu. Kami sudah tua tidak oantas lagi." Nyonya Laura.


Mereka pun tertawa melihat kedua orang tua itu yang saling malu-malu. Setelah sarapan Tita dan Ken pamit lebih dulu. Kemudian Aldi menggunakan mobilnya sendiri pergi ke rumah sakit.


Menyisakan Jessie bersama Tuan dan Nyonya Ito. Jessie mengikuti Nyonya Laura melihat-lihat kebun bunga dan sayurnya.


"Oma setiap hari melakukan ini?" Jessie.


"Tentu saja sayang. Mereka pun harus kita jaga dan rawat agar bunga terlihat indah dan sayuran subur." Nyonya Laura.


"Jessie tidak pernah melakukannya Oma. Tapi, sepertinya ini mengasikkan. Oma mau kan mengajarkan Jess berkebun." Jessie.


"Tentu saja sayang." Nyonya Laura.


Keduanya terlihat asik berkebun bersama. Tuan Ito pun ikut bersama dengan mereka berdua.


Sementara Tita di rumah Olla bercengkrama bersama baby Cio yang semakin pintar dan gembul.


"Sudah ngga rewel kan hamilnya Ta?" Olla.


"Ngga Kak. Udah bisa di tinggal Daddy nya kerja sekarang." Jessie.


"Syukurlah. Jika begitu. Kan asik bisa jalan-jalan sama Cio." Olla.


Cio terlihat asik bermain bersama mainannya di dekat Tita. Tita hanya mengawasinya saja. Sementara Olla mondar mandir membuat pesanan adik iparnya.


"Nanti pas kamu lahiran saja katanya sekalian." Teriak Olla dari dapur.


"Kita kok bisa ya Kak punya pasangan yang juga saling bersahabat." Tita.


"Semua rencana Tuhan Ta. Kita berbeda sirkel dengan pasangan kita tapi atas ijin Tuhan kita di pertemukan. Olla lewat kamu, Melan lewat keluarganya dan Kamu lewat atasan kamu." Olla.


"Lucu ya Kak. Dan ga tau kenapa Tita masih merasa sedih dan kesel kalo denger sesuatu yang berhubungan dengan tempat kerja Tita dulu." Tita.


"Tidak masalah. Suami kamu sudah bisa memberikan apapun yang kamu mau tidak perlu di fikirkan." Canda Olla membawa kue untuk Tita.


"Makasih Kak." Ucap Tita menerima kue dari Olla dan Olla hanya mengangguk.


"Tapi, jangan salah ya. Tanpa kerja di sana dan tanpa suami kaya pun Tita bisa membeli tas berlogo H keluaran terbaru loh Kak." Sombong Tita.


"Ish... Lupa Kakak siapa kamu." Ucap Olla dan keudanya pun tertawa bersama.


Sementara Baby Cio tak memperdulikan Ibu dan Onty nya yang tengah asik berbincang. Seperti tujuannya Tita tak sedikit pun menyinggung tentang tinggalnya Jessie dan Aldi di rumah mereka.


Tita dan Olla asik bernostalgia bersama walaupun kali ini tanpa Lu dan Gw. Tita lebih menghormati Olla dengan selalu menyebutnya Kakak. Karena Tita takut keceplosan di hadapan Cio ataupun anak-anak nya nanti.

__ADS_1


Begitupun Olla yang selalu bersikap sopan pada Tita karena dirinya tak ingin Cio mencontoh hal-hal yang tak baik darinya.


"Kak, tidak berencana memberi adik pada Cio?" Tita.


"Ceh, kamu ga lihat Cio masih butuh banyak perhatian. Biarkan saja dulu Cio besar baru kasih adik." Olla.


"Ga takut keburu tua?" Ledek Tita.


"Astaga! Kamu ini ya." Kesal Olla melemparkan bantal kursi.


Sore hari Tanio dan Ken pulang bersama dengan mobil masing-masing. Keduanya tak sengaja bertemu di depan gerbang rumah Tanio. Penjaga membukakan pintu pagar untuk Tuan-tuan nya. Mobil Tanio masuk lebih dulu di susul mobil Ken.


"Baru pulang juga?" Tanio.


"Iya." Ken.


"Tumben bisa pulang jam segini tanpa drama?" Tanio.


"Sekarang udah bisa di tinggal Kak walaupun dengan hati tak tenang gw." Ken.


"Geli juga denger Lu manggil gw Kakak. Mungkin ini juga yang dirasain Istri gw ya." Ucap Tanio dan tertawa di akhir ucapannya.


"Tapi harus di biasakan. Karena gw ga mau anak-anak kita mencontoh." Ken.


"Bener." Tanio.


Mereka pun masuk bersama kedalam rumah dan di sambut oleh Cio dengan jalan tertatih mendekati Daddy dan Oncle nya yang baru datang.


"Sayang, jangan gendong Daddy dulu ya. Daddy masih kotor belum mandi." Olla.


"Baby Cio pun menangis merengek meminta gendong pada Tanio. Tanio pun bergegas menbersihkan dirinya dan segera mendekati buah hatinya yang terus menangis dalam gendongan Olla.


"Sayang, sudah jangan menangis lagi ya. Nanti gentengnya hilang." Goda Tanio pada anaknya.


"Gimana Tita ngga rewel kan Yang?" Tanya Tanio pada Olla.


"Ngga. Sekarang lebih anteng Yang." Olla.


"Syukurlah. Kasian juga Ken jika terus di tempeli Tita." Tanio.


"Olla malah sedih liat Tita begitu." Olla.


"Mas juga begitu sayang. Kita do'akan saja yang terbaik untu Tita dan Ken ya." Ucap Tanio mencium kening Olla dengan Cio dalam gendongannya.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏


__ADS_2