Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Kehangatan Mansion


__ADS_3

Melan, Ayumi dan Intan masuk bersamaan. Intan dan Ayumi pamit ke kamar terlebih dahulu sementara Melan langsung menuju gazebo dimana Sinta dan Keina berada di sana.


"Mami, darimana kok baru datang?" Tanya Keina.


"Mami membawa ini untuk kamu dan Zizi." Ucap Melan memberikan satu paper bag pada Keina.


"Wah, terima kasih Mam." Keina.


"Sama-sama sayang. Bagaimana Cucu Mami ga rewel kan?" Tanya Melan mengusap lembut perut Keina.


"Ngga dong Oma."Ucap Keina menirukan suara anak kecil.


"Zizi sudah pergi Sin?" Tanya Melan pada Sinta.


"Sudah Tante." Sinta.


"Eh, maaf ya Sin, Tante tidak membelikan untuk kamu." Ucap Melan tak enak.


"Tidak apa Tan. Kan lain kali bisa hehehe.." Jawab Sinta terkekeh.


"Eh, dasar kamu ini." Melan.


Sinta melihat Intan dan Ayumi berjalan ke arah mereka.


"Eh, Buna sama Intan sudah pulang." Sapa Sinta.


"Eh, ada Sinta. Iya Nak. Kamu sudah lama?" Ayumi.


"Lumayan Bun. Intan selamat ya." Sinta.


"Terima kasih Kak." Intan.


"Selamat apa nih?" Melan.


"Intan di terima kuliah di universitas A Mam." Keina.


"Wah, benarkah? Selamat sayang." Ucap Melan memeluk Intan.


"Terima kasih Tante." Intan.


"Buna sama Intan kok lama? Banyak yang mendaftar ulang ya?" Keina.


"Ngga. Tadi Buna ajak Intan ke butik dulu ada yang mau ambil pesanan tapi Buna lupa terkunci di lemari Buna." Jelas Ayumi.


"Owh! Begitu." Keina.


Mereka pun bercengkrama bersama. Hingga Daffin datang mengacaukan acara para wanita. Daffin merebahkan kepalanya di atas pangkuan Ayumi. Ayumi pun mengusap lembut rambut Daffin.


"Manja bener." Sinta.


"Tempat ternyaman pangkuan Buna sama Mommy. Jadi kangen Mommy." Daffin.


"Jangan lebay. Mommy baru saja sampai di sana." Keina.


"Yey... Kan cuma bilang." Daffin.


"Kamu ga malu Daff di lihat Intan?" Melan.


"Kenapa harus malu? Kan Daff ga melakukan apapun." Daffin.

__ADS_1


"Ceh, kamu ga ke kantor?!" Keina.


"Eit's... Ke kantor dong." Daffin.


"Terus kenapa jam segini udah pulang?"Keina.


"Udah selesai dong.. Tadi Daff cuma ikut meeting terus pulang." Jawab Daffin santai.


"Astaga! Ga bantu Abang dulu?" Keina.


"Abang mah ga usah di bantuin Kak. Semuanya beres." Daffin.


"Kamu harus contoh itu sayang. Abang bisa menghendle kerjaan dengan baik. Bahkan Abang juga bisa menjaga Kakak dengan baik." Ayumi.


"Iya Buna." Daffin.


Tak lama Daffin tertidur di pangkuan Ayumi. Diam-diam Intan memperhatikan Daffin yang tengah memejamkan matanya. Sinta dan Keina saling lirik memperhatikan Intan yang curi-curi merhatiin Daffin.


"Tan, maaf sebelumnya. Apa kamu ga kefikiran buat nyari orang tua kandung kamu?" Melan.


"Hm... Ngga Tan. Cukup Ibu dan Ayah orang tua Intan. Tapi, jika Tuhan berkehendak Intan bertemu dengan orang tua Intan. Intan terima apapun keadaannya." Intan.


"Kenapa ga coba nyari Tan?" Sinta.


"Daddy pernah menawarkan juga tapi Intan menolaknya Kak. Intan sudah banyak merepotkan Daddy dan Mommy." Intan.


"Tidak ada yang di repotkan Tan. Kita kan keluarga." Keina.


Intan hanya tersenyum. Karena hari semakin sore mereka pun bangkit segera menuju kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Ayumi membangunkan Daffin perlahan hingga Daffin bangun.


"Kak," Panggil Intan saat Daffin memulai langkahnya masuk.


"Boleh bicara sebentar." Intan.


"Tentu. Ada apa?" Daffin.


Mereka berdua pun mendudukkan diri lagi di tepi gazebo. Intan menundukkan kepalanya sebelum memulai berbicara. Daffin memperhatikannya tanpa bersuara.


"Hm... Intan mau menjual rumah Ibu." Ucap Intan lirih.


"Kenapa?" Daffin.


"Tidak apa-apa Kak. Intan fikir jika Intan tinggal bersama Buna. Rumah itu sayang jika di biarkan kosong. Mungkin dengan adanya penghuni baru rumah itu akan lebih terawat." Intan.


"Kamu ga berencana pergi kan?" Daffin.


"Ngga Kak." Ucap Intan menggelengkan kepalanya cepat.


"Apapun keputusan mu Kakak dukung asal itu untuk kebaikanmu." Daffin.


"Tapi," Intan.


"Tapi, kenapa?" Daffin.


"Intan tidak tau harus menjual berapa." Intan.


"Astaga! Ya sudah nanti Kakak urus. Kamu ada surat-suratnya kan?" Daffin.


"Ada Kak." Intan.

__ADS_1


"Kasih ke Kakak nanti kakak yang urus." Daffin.


"Terima kasih Kak." Intan.


Daffin dan Intan pun masuk ke kamar masing-masing. Hingga jam makan malam tiba barulah mereka semua berkumpul kembali di meja makan. Daren pun sudah berkumpul bersama.


Seperti biasa Keina akan makan langsung dari tangan Daren. Karena semenjak dirinya hamil Keina lebih lahap makan dari suapan Daren. Semua pun tak mempermasalahkannya.


Zayn datang saat mereka semua menikmati makan malamnya. Zayn pun langsung bergabung duduk di samping Sinta. Bukan membawa makanan baru Sinta langsung menyuapkan makanannya dari sendok miliknya.


"Astaga! Kalian ga bisa makan sendiri ya." Protes Daffin.


"Kamu belum merasakannya saja Daff." Melan.


"Benar itu." Ayumi.


Daffin memutar matanya. Rehan dan Abi hanya tersenyum melihat mereka. Sementara Intan di buat salah tingkah. Pasalnya jika ada sesuatu dengan Daffin maka dirinyalah yang akan menjadi sasaran.


Setelah menyelesaikan makan malamnya Melan dan Abi berpamitan pulang. Sementara Sinta dan Zayn berencana menginap. Suasana mansion terasa bertambah hangat dengan kehadiran Sinta dan Zayn.


Keina bermanja di pangkuan Daren. Daren pun tak merasa keberatan. Daren terus mengusap lembut rambut Keina. Sebaliknya Zayn yang bermanja di pangkuan Sinta memeluk pinggang sinta.


"Daff,, ga pengen kaya gitu." Tunjuk Rehan pada dua pasang Daren Keina dan Zayn Sinta.


"Tunggu tanggal mainnya Yaya." Daffin.


"Siap.." Ayumi.


"Tan, surat-surat nya mana?" Daffin.


"Surat-surat apa? Mau ngapain kalian?"Tanya Keina langsung bangkit dari pangkuan Daren.


"Haish... Itu Intan mau jual rumahnya Kak." Daffin.


"Jual! Kenapa?" Ayumi.


"Intan rasa ini yang terbaik Buna. Dan Intan tau ini pun akan sulit karena sudah pasti para tetangga akan mengatakan tentang siapa pemilik rumah sebelumnya." Ucap Intan menunduk.


"Itu tidak masalah bagi orang yang mengetahui jika apa yang di alami orang tua kamu dan adikmu bukan suatu aib yang perlu mereka hindari." Rehan.


"Benar Tan. Abang yang tak mengerti kesehatan saja tau jika itu hanya kebetulan. Mungkin saja dulu orang tua mu merasa senasib akhirnya memutuskan menikah dan mereka pun tau apa resiko yang akan di alaminya jika mereka memiliki anak. Daren.


"Iya Tan. Jangan berkecil hati. Jika memang rejeki kamu Kakak yakin rumah itu akan terjual dengan harga yang pantas." Keina.


"Kamu tenang saja. Nanti Daffin pasti akan membantu." Zayn.


"Atau kamu bilang saja pada Om Angga Daff. Siapa tau dia bisa membantu kamu." Ayumi.


"Owh! Iya. Nanti Daff ke kantor Om Angga saja kalo begitu." Daffin.


"Makasih Kak." Intan.


"Kamu mau buat apa uangnya Tan?" Rehan.


"Sementara Intan belum tau Ya. Mungkin akan Intan tabung dulu." Intan.


"Kamu fikirkan baik-baik ya Tan. Jangan sampai uangnya ga jelas kemana." Keina.


"Iya Kak." Intam.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2