
Bagas tak menjawab pertanyaan Daren. Melainkan menepikan mobilnya terlebih dahulu. Bagas menarik nafasnya kemudian membuka seat belt nya. Setelah itu Bagas memutar badannya dan menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya Tuan, Nona. Saya diminta untuk tidak memberitahukan kalian berita ini saat di bandara. Dan sekarang waktunya." Bagas.
"Ada apa? Cepat jangan bertele-tele." Keina.
"Maaf Nona. Tuan Besar menghembuskan nafas terakhirnya beberapa jam yang lalu dan tak ada yang mengetahuinya. Karena Tuan Besar tengah beristirahat di dalam kamarnya." Ucap Bagas menunduk.
Keina membuka mulutnya kemudian menutupnya menggunakan telapak tangannya. Air matanya tumpah begitu saja. Daren segera membawanya kedalam pelukannya karena Daren tau apa yang kini di rasakan sang istri.
"Lanjutkan kemudi kamu Gas." Titah Daren.
Tanpa menjawan Bagas pun kembali melajukan mobilnya yang hanya tinggal beberapa rumah lagi menuju mansion. Mobil Bagas memasuki mansion dengan di tuntun oleh beberapa pengawal karena mereka tau siapa yang berada di dalam mobil Bagas.
Salah satu pengawal membuka pintu penumpang arah Daren. Kemudian Daren turun di susul Keina. Keina tak bersuara hanya air matanya yang terus mengalir. Daren terus memeluknya dari samping.
Semua mata memandang ke arah mereka. Karena hanya tinggal mereka yang di tunggu untuk segera mengantarkan Burhan ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Semua memberi jalan untuk Keina dan Daren. Keina langsung duduk bersimpuh di samping jenazah sang Kakek.
Tangis Keina pun pecah saat memeluk Burhan yang terbujur kaku. Semua pelayat pun ikut meneteskan air mata mendengar tangisan pilu Keina. Bahkan Daren pun tak kuasa ikut meneteskan air matanya namun segera di sekanya.
Daren memegang bahu sang istri dan memintanya untuk melepaskan pelukannya pada Burhan. Keina pun melepaskan pelukannya berbalik memeluk Daren dengan erat. Marni mendekati cucunya kemudian memeluknya. Keina pun membalas pelukkan Neneknya.
"Sayang, ikhlaskan Kakek ya. Ampuni segala dosanya." Ucap Marni lirih.
Keina tak menjawabnya hanya anggukkan kepalanya sebagai jawaban. Daren mengusap lembut punggung Keina. Marni melepaskan pelukkannya kemudian mendaratkan ciuman di seluruh wajah Keina.
Keina mendekati Tita kemudian keduanya pun saling menumpahkan kesedihan mereka. Olla dan Laras ikut serta bersama mereka di susul Zizi. Mereka menangis bersama.
__ADS_1
"Mas, lihatlah mereka begitu menyayangimu. Kami semua kehilangan kamu Mas. Pergilah. Kami akan ikhlaskan kepergian mu Mas. Mereka akan selalu ada untuk ku." Ucap Marni lirih di samping jenazah sang suami.
Proses pemakaman pun segera di mulai. Semua do'a di panjatkan untuk mengiringi kepergian Burhan. Sebelum jenazahnya di angkat pemuka agama memberikan kesempatan untuk melihat wajah terakhir Burhan untuk terakhir kalinya dengan catatan tidak ada yang menangis.
Semua pun menyetujuinya. Dan di bukalah penutup wajah Burhan untuk yang terakhir. Semua melihatnya dan menahan tangis mereka agar tak pecah. Setelah itu penutup pun kembali di tutup. Jenazah pun segera di angkat untuk di tempatkan di tempat peristirahatan terakhirnya.
Rangkaian demi rangkaian telah di lalui. Kini semua pelayat telah kembali pulang hanya menyisakan keluarga saja di mansion. Tita dan Laras merebahkan kepalanya di atas pangkuan Marni yang duduk di lantai beralaskan karpet. Marni memeluk keduanya.
Laras memang anak kandungnya bersama Burhan tapi Tita malaikat penyelamat Burhan dan karena Tita lah keluarga mereka akhirnya dapat bersatu kembali. Marni begitu menyayangi Tita seperti dirinya menyayangi Laras. Kasih sayangnya selalu adil untuk keduanya.
Dan kini mereka lah yang menjadi penyemangat hidupnya terutama Tita yang sangat begitu terpukul. Walaupun Laras juga sama terpukulnya hanya saja Laras lebih bisa mengendalikan kehilangannya di banding Tita. Meskipun Bagas juga menyayanginya namun, kedekatannya dengan Bagas tak seperti kedekatannya dengan Burhan.
Dulu Tita tak sengaja menyembunyikan Burhan di dalam mansion dan tak menyangka jika Tita akan begitu cepat mengakrabkan diri dengan Burhan. Bahkan Tita akan bercerita apapun pada Burhan tak ada sedikitpun yang di tutupinya.
Mungkin karena kelembutan hati Burhan pula yang membuatnya bisa nyaman berada di sisi Burhan. Tita yang kehilangan sosok Ayah bisa merasakan kehadiran Ayah kembali saat Burhan berada di mansion. Begitu juga dengan Burhan yang kehilangan putrinya merasa mendapatkan putrinya kembali.
Itulah yang membuat mereka akhirnya bersatu. Dan Marni ikut juga menyayangi Tita seperti putri pertamanya. Ada sedikit rasa takut pada Tita saat ternyata Burhan adalah Ayah dari Laras. Tita takut jika Burhan tak menyayanginya lagi. Takut jika Laras akan mengambilnya dan melarangnya dekat dengan Burhan.
Kini hanya Marni orang tuanya yang akan selalu di jaganya. Tita tak peduli jika di katakan egois tapi Tita ingin Marni bersamanya. Dan Laras pun mengerti dan mengijinkannya. Laras mengerti keadaan Tita karena suaminya yang notabene adalah keponakan dari Ken suami Tita selalu menceritakan bagaimana Tita di masa lalunya.
Bukan membencinya melainkan rasa sayangnya semakin bertambah pada Tita. Walaupun Tita seolah merebut orang tuanya tapi Laras begitu berterima kasih karena Tita lah yang membuat keluarganya utuh kembali. Tita malaikat tak bersayap bagi Laras dan keluarganya. Tanpa Tita dirinya tak akan lagi merasakan kasih sayang Ibu bahkan Ayahnya.
Ken dan Gagah mendekati Marni,Tita dan Laras. Mereka berdua mendekati istri masing-masing. Marni menyunggingkan senyumannya pada kedua menantunya.
"Kalian makanlah. Sejak siang tadi kalian belum makan." Titah Ken.
"Kalian saja makan lebih dulu." Tita Marni.
__ADS_1
"Tidak Bu. Ibu juga harus makan." Gagah.
Kemudian Olla membawakan makanan untuk mereka di bantu Zizi. Tita dan Laras duduk di sisi Marni. Ken makan satu piring berdua dengan Tita, Gagah dengan Laras dan Olla menyuapi Marni dengan telaten.
"Terima kasih Nak. Ibu sudah kenyang." Jawab Marni setelah setengah dari isi piringnya berkurang.
"Tapi, ini masih banyak Bu. Ibu baru menghabiskannya sedikit." Bujuk Olla.
"Sudah nak. Perut Ibu sudah tak bisa menampungnya. Kau membawa terlalu banyak." Marni.
"Baiklah. Sekarang ibu istirahat ya." Pinta Olla.
"Baiklah." Marni.
Marni pun menuruti apa yang di katakan Olla. Zizi mengantarkannya hingga ke kamar. Di pastikan hingga Marni benar-benar tertidur barulah Zizi keluar dari kamar sang Nenek. Zizi kembali menemui Damar yang masih setia menemaninya.
"Abang ngga capek? Abang mau pulang?" Tanya Zizi.
"Ngga. Sebentar lagi saja Abang disini." Damar.
"Makasih ya Bang." Zizi.
"Terima kasih untuk apa? Semuanya Abang ikhlas tidak perlu berterima kasih." Damar.
Zizi pun menyandarkan kepalanya di lengan Damar. Andre terus memperhatikan interaksi keduanya dan kali ini Zayn memergokinya.
"Cemburu."
__ADS_1
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏