Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Ijin Tinggal


__ADS_3

Sore hari suasana mansion begitu ramai. Intan yang baru datang merasa gemas melihat Baby Raina. Pandangannya tak lepas dari bayi yang baru berumur beberapa hari itu. Intan begitu mengagumi wajah perpaduan Keina dan Daren itu.


"Tan, gimana kuliahnya?" Tanya laras.


"Masih aman Kak hehehe.." Intan.


"Udah ada temen?" Gladys.


"Ada Kak." Intan.


"Cewek cowok? Awas loh ada yang kepanasan." Sindir Gladys.


"Cewek kok Kak. Kenapa memangnya?" Intan.


"Astaga! Belum ada kepastian juga?" Laras.


"Kepastian apa?" Tanya Intan yang tak mengerti sama sekali dengan ucapan kedua kakak beradik itu.


Daffin yang merasa kedua kakak sepupunya itu tengah menyindirnya berpura-pura asik dengan ponselnya saja padahal dirinya menajamkan pendengarannya demi mendengar perbincangan ketiganya.


"Daff, bisa bantu Abang ngga di kantor?" Tanya Andre yang baru saja bergabung.


"Ga bisa Bang. Daddy kasih aku proyek." Daffin.


"Yah, masih lama?" Andre.


"Baru juga mulai Bang." Daffin.


"Ada masalah di kantor Dre?" Gladys.


"Ngga sih Kak. Cuma mau manfaatin mahasiswa labil ini aja. Dari pada dia ganting perasaan anak orang mending kerja biar produktif." Andre.


"Nah, kan bener itu." Laras.


"Kalian ngomongin apa sih." Daffin.


"Kayanya Oncle ga bakal masalahin deh Daff kalo mau juga." Ucap Gladys.


"Mau apa sih?" Daffin.


"Nikah muda." Laras.


"Ish... Kalian ini otaknya. Kenapa ga Galih aja tuh di nikahin sama pacarnya." Protes Daffin.


"Yeee... Kenapa jadi anak gw." Laras.


"Lah, kan sama-sama anak kuliah juga." Daffin.


"Baru mau daftar Daff. Jangan ngarang deh." Laras.


"Eh, bentar. Galih udah punya pacar?" Gladys.


"Temen deket." Laras.


"Wuih... Canggih ya Galih. Masa Galih udah ada gandengan Om nya masih jomblo. Malu dong Om. Buruan sebelum ada yang nyalip di pertigaan." Gladys.

__ADS_1


"Pertigaan apa?" Andre.


"Sepertiga malam." Gladys.


"Ngeri banget sih do'anya. Ga bisa yang baik-baik aja gitu do'anya." Daffin.


"Makanya gercep." Laras.


Mendengar ucapan sepupunya membuat Daffin sedikit berfikir tapi dirinya merasa belum pantas karena belum memiliki apapun. Bahkan pekerjaannya pun baru saja di mulai belum menghasilkan apapun.


Sementara Intan hanya diam tak ingin menimpali obrolan di antara saudara sepupu itu. Intan pun merasa canggung bila di dekat Daffin. Tak bisa di pungkiri Daffin lah orang yang selalu ada untuk dirinya di saat-saat tersulitnya.


Nyaman, sayang jangan di tanya lagi. Perasaan itu sudah ada sejak lama. Hanya Intan merasa dirinya tak pantas. Rasanya begitu serakah bagi Intan ketika Daffin telah menolongnya Intan juga menginginkan Daffin jadi miliknya.


Begitupun dengan Daffin yang tak ingin merasa memanfaatkan momen sedih Intan dengan menjadikannya kekasih. Biarlah semua mengalir mengikuti alurnya. Walau rasa takut kehilangan dari keduanya sangat besar.


"Daffin." Panggil Keina dari dalam.


"Iya Kak." Daffin.


"Daff tolong antar ini ke rumah Ka Jess." Pinta Keina memberikan dua paper bag yang ada di tangannya pada Daffin.


"Apaan?" Daffin.


"Ga tau Buna." Jawab Keina santai.


"Kak Jess ada di rumah mana?" Daffin.


"Di rumah Om Artur." Keina.


"Eh, sekalian ikut pulang dong Daff." Sela Laras.


"Iya. Mau bawa baju ganti Mas Gagah. Pulang langsung ke sini katanya." Laras.


"Ya udah ayo." Daffin.


"Titip anak-anak dulu ya." Pesan Laras pada Gladys.


Daffin dan Laras pun pergi bersama. Intan, Keina dan Gladys bersantai di luar Andre masuk menemui Zizi. Keina banyak bertanya seputar masalah ibu baru. Gladys pun bercerita pengalamannya saat baru memiliki Gean.


Intan menjadi pendengar yang baik karena dirinya belum menikah dan memiliki bayi. Mungkin dan tentunya cerita yang di dengarnya akan menjadi bekal saat dirinya hamil dan memiliki anak nanti.


Ayumi, Tita dan Melan pun ikut bergabung dengan membawakan beberapa camilan dan minuman. Ayumi duduk di antara Keina dan Gladys. Melan di sisi kanan Keina dan Tita di sisi kanan Intan.


"Udah mulai kerasan belum Tan kuliah di sana?" Tita.


"Hm.. Masih adaptasi Mom." Intan.


"Kalo kesulitan jangan sungkan untuk meminta bantuan Daffin ya." Tita.


"Iya Mom." Intan.


"Iya nih Intan. Jangan malu-malu Tan. Kita ini keluarga loh." Gladys.


"Iya Kak." Intan.

__ADS_1


Intan memang masih sangat canggung jika keluarga Daffin tengah berkumpul walaupun semua keluarga menyambut hangat dirinya. Tak ada satupun yang memandangnya sebelah mata.


"Sayang, Rein haus nih." Teriak Daren dari arah pintu.


"Oke. Mama datang." Teriak Keina bangkit dari duduknya dan segera mendekati Daren yang tengah menggendong Reina.


Dengan sigap Keina segera memindahkan Reina ke dalam gendongannya. Kemudian mereka pun pergi ke kamar untuk memberikan ASI untuk Reina.


"Kenapa senyum Tan?" Tanya Gladys.


"Lucu aja." Intan.


"Apanya?" Ayumi.


"Daddy nikah sama Mommy kasih nama anaknya Keina hampir sama kaya nama Daddy Kenzo. Terus Kak Kein nikah sama Bang Daren kasih nama anaknya hampir sama juga kaya namanya Reina." Jelas Intan.


"Iya juga ya." Melan.


"Dulu Mas Ken bilang nama Keina adalah nama dirinya versi perempuan. Jadi biarpun Keina perempuan dia harus punya jiwa pemimpin seperti dirinya." Tita.


"Dasar si Ken aja yang ga kreatif." Ledek Ayumi.


"Terus Kein ngapain ngikutin?" Gladys.


"Kata Daren biar kalo dia mau marah sama Rein dia ingat Kein. Jadi ga mungkin banget Daren marah sama Keina." Tita.


"Kok gitu?" Gladys.


"Karena kata dia. Meskipun Mami yang menjodohkan Daren sama Keina bukan sebuah alasa buat Daren membenci Keina atau lantas marah pada Keina karena Daren tau ini adalah jalan yang Tuhan takdirkan ubtuk mereka." Jelas Melan.


"Ya. Dan itu bisa Tita lihat dari sikap Daren pada Keina." Tita.


"Waaaah... Ga salah pilih ya Keina." Gladys.


"Bun, Intan mau masuk asrama aja boleh?" Tanya Intan meminta persetujuan Ayumi.


"Kenapa? Kamu ga nyaman di rumah?" Ayumi.


"Ngga Buna. Intan nyaman di rumah Buna. Bahkan sangat nyaman. Intan cuma ikut mahasiswi yang lainnya saja." Intan.


"Itu di wajibkan Tan?" Gladys.


"Ngga sih Kak. Hanya sebagian besar kelas Intan tinggal di asrama." Intan.


"Ga usah lah sayang. Di rumah aja ya. Buna ga ada temen. Belum lagi nanti kali Daffin minta kamu. Udah di rumah aja ya." Bujuk Ayumi.


Blush...


Pipi Intan memerah karena perkataan Ayumi.


"Iya Buna. Intan hanya bertanya saja. Jika Buna tidak mengijinkan Intan akan tetap di rumah kok." Intan.


"Kamu jangan khawatir Tan. Jika harus ada tugas yang mengharuskan kamu berkumpul bersama teman-teman kamu ikuti saja ga usah khawatir pulang nya bagaimana. Nanti kan ada supir yang bisa antar jemput kamu. Atau minta Daffin jemput." Tita.


"Iya sayang. Pokoknya kamu jangan sungkan ya." Ayumi.

__ADS_1


"Iya Buna. Mommy. Terima kasih." Intan.


🌻🌻🌻


__ADS_2