
Akhirnya Aiko pun melunak dan memasrahkan semuanya pada Jessie dan Aldi setelah berbincang serius dengan Tita. Apapun yang akan mereka lakukan terhadap kedua anaknya asalkan itu kebaikan Aiko setuju.
Olla, Melan, Zizi dan Marni pun hanya diam menjadi pendengar. Tak ada satupun dari mereka ingin ikut campur kedalamnya. Bukan tak berempati hanya saja mereka ingin memberi ruang bagi Aiko.
"Apa Bagas sudah jalan ke bandara Ta?" Marni.
"Hmm... Sepertinya sudah Bu." Tita.
"Baiklah. Ibu akan membangunkan Ayah dulu." Pamit Marni.
Sambil menunggu Marni ke kamar. Mereka semua menunggu di meja makan. Ken dan Daffin tak pulang untuk makan siang karena mereka ingin segera menyelesaikan pekerjaan mereka dan pulang lebih cepat.
Saat Aiko, Olla, Tita, Melan dan Zizi mengobrol sambil menunggu Marni dan Burhan terdengar suara jeritan dari kamar Marni.
"Tita,,, Olla..." Teriak Marni.
Tanpa bicara Tita dan Olla pun segera beranjak dari duduknya menuju kamar Marni dan Burhan. Di ikuti oleh yang lainnya. Saat tiba di kamar keduanya langsung menghambur mendekati Burhan yang terbaring dan Marni yang duduk bersimpuh di sisi ranjang.
Olla menutup mulutnya kemudian menghampiri Marni dan membantunya bangun dnegan air mata yang tak terbendung lagi. Sementara Tita mendekati Burhan memeriksanya kemudian Tita menghambur memeluk Burhan dan menangis dalam pelukannya.
Tak ada yang menyangka Tita menjerit histeris ketika menyadari Burhan Laki-laki paruh baya yang dulu di tolongnya dan sudah di anggapnya sebagai Ayah sendiri sejak Tita menemukannya dan kini pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Aiko langsung mendekati Tita dan membantunya bangun namun sayang Aiko terlambat. Tita sudah tak sadarkan diri dan itu membuat Marni semakin histeris. Tita malaikat penolongnya sama rapuhnya seperti dirinya saat harus kehilangan Burhan.
Dengan sekuat tenaga Marni bangun mendekati Tita kemudian memeluk dan menciumi pipi Tita. Semua pun panik. Zizi segera berlari memanggil pekerja untuk memberitahukan tetangga terdekat jika Ayah dari Tita Martin meninggal dunia.
Melan dan Olla segera menghubungi suami mereka dan semua keluarga. Tak lama Laras, Galih dan Galuh yang memang dalam perjalanan menuju mansion datang. Laras langsung berlari menuju kamar orang tuanya.
Air matanya jatuh tak terbendung. Beruntung Galuh sigap menahan tubuh Bundanya. Di bantu oleh Galih. Laras menangis memeluk Burhan. Kemudian Laras bangkit dan mengedarkan pandangannya mencari sosok Ibu dan Kakak angkatnya Tita.
Kemudian Laras semakin menangis histeris kala melihat Tita yang tak sadarkan diri dalam pelukkan Marni.
"Kak, bangun Kak. Jangan membuat kami semakin bersedih." Ucap Laras lirih.
__ADS_1
Marni memeluk kedua putrinya. Olla pun menyusul dan memeluk ketiganya. Tak lama Ken dan Daffin tiba di susul Nio, Zayn, Abi dan Andre. Tak lama Angga dan Gagah datang. Anggaa segera memeriksa Tita. Saat Tita di leriksa Zio dan Raya datang.
Rehan, Ayumi, Gladys dan kedua anaknya pun datang. Bagas, Mega, Angga beserta istrinya pun segera datang. Artur, Aldi, Jessie dan Duo A pun segera datang. Hanya tinggal Keina dan Daren yang masih dalam perjalanan dan belum mengetahui jika Burhan telah pergi untuk selama-lamanya.
Tita sadar kemudian mencari Burhan. Saat manik matanya tak melihat Burhan di tempat tidurnya Tita kembali histeris. Gagah pun segera membawanya ke tempat dimana Burhan tengah di mandikan. Tita pun bersimpuh di lantai menangisi kepergian Burhan.
Burhan laki-laki tumpuannya setelah kehilangan Kevin adik dari Ayahnya yang telah meninggalkannya saat dirinya kecil. Walaupun ada Tuan Ito Ayah mertuanya namun kedekatannya dengan Burhan tak terpisahkan. Tak ada yang mengetahuinya selain orang-orang kepercayaannya.
Ken memeluk istri tercintanya memberikan kekuatan padanya. Tak sedikit pun Ken melepaskan Tita dari pelukkannya. Begitupun dengan Nio yang terus memeluk Olla. Tak jauh beda dengan Nio dan Ken Gagah pun melakukan hal yang sama pada Laras.
Sementara Mega setia mendampingi Marni. Mega tau betul bagaimana perjuangan Marni dan Burhan hingga mereka bisa kembali bersama. Ayumi pun melakukan hal yang sama pada besannya itu.
"Sayang," Panggil Damar pada Zizi yang baru saja datang.
"Abang." Panggil Zizi kemudian memeluk Damar.
Dan itu terlihat jelas oleh Andre. Entah apa yang dia rasakan tapi hatinya terasa perih melihat Zizi menangis dalam pelukkan Damar. Sejak awal kedatangannya tadi Zizi begitu terlihat tegar tapi, begitu Damar datang Zizi langsung menumpahkan kesedihannya pada Damar.
"Astaga! Ada apa dengan ku. Bukankah ini yang aku inginkan." Batin Andre.
Akan tetapi mereka tak akan segera mengebumikannya karena mereka ingin menunggu Keina dan Daren yang masih dalam perjalanan pulang. Bagas di beritahu agar tak memberitahukannya dulu saat di bandara.
"Selamat datang Tuan, Nona." Bagas.
"Terima kasih Gas. Bagaimana kantor aman?" Daren.
"Alhamdulillah... Tuan Daffin bisa di andalkan Tuan." Bagas.
"Syukurlah." Daren.
"Daffin tidak berbuat yang aneh-aneh kan Gas?" Keina.
"Tidak Nona." Bagas.
__ADS_1
"Baiklah. Kita langsung pulang saja Gas. Rasanya sudah ingin segera sampai di rumah." Daren.
"Iya. Entah mengapa perasaan Kein tidak enak kefikiran orang rumah terus." Keina.
"Baik Tuan, Nona." Bagas.
Bagas pun segera memasukkan koper yang di bawa Daren dan Keina ke dalam bagasi sementara Daren dan Keina segera masuk ke dalam mobil. Daren dan Keina duduk di bangku belakang dengan Keina yang menyandarkan kepalanya di dada bidang Daren.
Setelah semua koper masuk Bagas segera masuk kedalam mobil dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bagas tak ingin gegabah dalam mengendarai mobilnya walaupun dirinya saat ini ingin segera sampai di mansion setelah mendengar berita dari orang di mansion.
Jalanan cukup macet karena jam makan siang. Daren cukup kesal karena dirinya tak bisa mengemudikan mobilnya dengan cepat. Namun, dirinya menahan agar tak mengumpat para pengendara yang menghalangi laju mobilnya.
"Kau baik-baik saja Gas?" Tanya Daren yang melihat wajah Bagas yang tak mengenakkan.
"Hah! Saya baik-baik saja Tuan." Jawab Bagas.
"Tapi, sepertinya kau menyimpan sesuatu? Ada masalah?" Daren.
"Tidak ada Tuan. Saya hanya kesal dengan pengendara motor yang asal-asalan dalam mengendarai motornya." Bagas.
"Santai saja. Keselamatan kita lebih penting.". Daren.
"Baik Tuan." Bagas.
"Kalo ada masalah jangan di pendam Gas. Bicarakan saja." Keina.
"Baik Nona. Tapi, sayangnya tidak ada." Bagas.
Bagas pun berusaha menetralkan wajahnya agar tak terlihat gugup di hadapan Daren dan Keina. Namun, sialnya saat mobilnya mulai memasuki kawasan mansion Bagas kembali gugup. Daren dan Keina melihat banyak mobil di area mansionnya.
"Ada apa Gas?"
🌻🌻🌻
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏