Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Tangisan pilu Keina


__ADS_3

Andre terlihat lebih murung setelah acara pertunangan Zizi dan Damar. Bahkan saat Kinan mengajaknya bertemu pun selalu menghindarinya. Andre hanya berdiam diri di kamar tanpa ingin tau berita di luaran sana.


Perubahan sikap Andre dirasakan oleh Melan. Melan pun merasa sedih dengan melihat keadaan putra bungsunya. Melan mengadukannya pada Abi. Dan Abi pun tak dapat berbuat apapun. Semua sudah menjadi keputusan Andre yang tak ingin menerima perjodohan itu.


Dan kini Andre lah yang menyesali perkataannya sendiri. Abi dan Melan hanya bisa diam tanpa berbuat apapun. Karena memisahkan Zizi dan Damar pun bukan solusi yang benar.


"Jadi gimana Mas?" Melan.


"Biarkan saja dulu. Biar dia bertanggung jawab dengan apa yang telah dia katakan." Abi.


"Huh... Mel yang salah Mas." Melan.


"Jangan menyalahkan diri sendiri sayang. Smeua sudah jalannya seperti ini. Biarkan saja dulu. Dengan berjalannya waktu Mas rasa Andre akan menerimanya." Abi.


"Amin. Semoga ya Mas." Melan.


"Kamu tidak membantu Olla menyiapkan acara pernikahan Zizi?" Abi.


"Tentu Mel membantunya Mas. Tita juga selalu datang setiap hari." Melan.


"Baguslah. Kalian harus selalu kompak apapun yang terjadi." Abi.


"Begitupun Mas dan suami-suami mereka." Melan.


Abi pun berpamitan ke kantor setelah bersiap dan menyelesaikan sarapannya. Saat mobil Abi keluar bersamaan dengan masuknya mobil Tita ke halaman rumah Tanio. Abi pun membunyikan klakson mobilnya begitu juga dengan Tita.


Tita segera turun dari mobilnya dan masuk kedalam rumah Kakaknya. Tita membawa berbagai macam paper bag keperluan pernikahan Zizi yang di pesan Olla.


"Huh... Cek kembali Kak." Ucap Tita mendaratkan bokongnya di sofa ruang utama.


"Astaga! Punya adek ga tau sopan santun banget sih. Salam dulu kek atau apa dulu gitu. Ngagetin banget." Umpat Olla.


"Ceh,,, bukannya Kakak sudah lihat aku datang." Tita.


"Iiihh,,,,, dosa apa gw punya adek ipar modelan kaya begini." Ucap Olla.


"Yang penting Abang aku servisnya memuaskan kan??" Goda Tita.


"Mas Niooo....." Teriak Olla.


Nio yang tengah bersiap di dalam kamar pun segera berlari ke luar mendengar teriakan Olla. Karena Nio berfikir terjadi sesuatu dengan Olla mengingat saat dirinya meninggalkan Olla tadi Olla tengah membereskan meja makan.


Begitu juga dengan Zayn dan Zizi yang langsung berlari dari kamar mereka masing-masing mendengar teriakan Bunda mereka.


"Ada apa sayang?"

__ADS_1


"Ada apa Bunda?"


Tanya mereka kompak.


"Wow!!! Keluarga yang kompak." Ucap Tita bertepuk tangan.


"Lihatlah Mas adek mu. Udah datang-datang ga ngucapin salam malah ngagetin eh dia bikin Olla gemes banget." Adu Olla.


"Ssshhh... Aduan banget sih jadi istri." Tita.


"Biarin..." Ucap Olla tak kalah.


"Hish... Berani Bang Nio marah-marah sama Tita maka Tita adukan sama Mas Ken." Tita.


"Hufh... Kirain Bunda kenapa." Gumam Zizi dan masih bisa di dengar Zayn..


"Tau begini ga perlu turun. Bikin capek saja." Zayn.


Zayn dan Zizi pun saling berangkulan naik kembali ke kamar mereka masing-masing. Begitu juga dengan Nio yang kembali meninggalkan dua wanita kesayangannya.


"Ceh, lihat mereka pergi ninggalin Kamu." Tita.


"Hais..." Olla.


Kemudian Olla dan Tita pun memeriksa kembali pesanan Olla yang di bawa Tita. Olla dan Tita kembali dengan mode serius. Saat Nio berpamitan pun Olla hanya bergumam membuat Nio menggelengkan kepalanya.


Sementara di kantor Daren di buat serba salah. Karena baru saja dirinya mendudukan bokongnya di kursi kebesarannya Keina menghubunginya dan memintanya untuk pulang. Bahkan Keina sampai menangis saat menelfonnya.


Pasalnya dirinya harus menghadiri meeting yang akan di hadiri oleh Ken juga. Daren semakin tidak bisa konsentrasi mengingat tangisan Keina di telfon. Di mansion Daffin yang kebetulan tak ada kuliah pun di buat kelimpungan dengan tangisan Keina.


Saat Daffin bertanya Keina hanya menangis dan menyebutkan nama Daren. Tangisan Keina begitu menyayat hati. Daffin pun segera mnghubungi Darendan itu sukses membuat Daren semakin panik. Daren pun memberanikan diri menemui Ken sebelum meeting.


Tok.... Tok...


"Masuk."


"Dad," Panggil Daren.


"Ren, ada apa?" Ken melihat kepanikan di wajah Daren.


"Hm... Maaf Dad. Daren sepertinya harus segera pulang." Daren.


"Ada apa? Kita baru saja sampai sekarang kau minta pulang. Kau lupa kita ada meeting?" Ken.


"Maaf Dad. Bahkan ini lebih penting dari meeting." Ucap Daren menunduk.

__ADS_1


"Apa yang lebih penting dari meeting pagi ini Ren?" Tanya Ken kesal.


"Keina menangis meminta Daren kembali pulang Dad. Bahkan Daffin terus menghubungi Daren meminta Daren pulang." Daren.


"Hah! Kenapa sampai Keina menangis? Kalian bertengkar?" Ken.


"Tidak Dad. Bahkan saat Daren pergi tadi Kein masih baik-baik saja." Daren.


"Baiklah. Kau pulang saja. Biar meeting pagi ini Daddy yang tangani. Jika perlu Mommy pulang hubungi saja Mommy." Ken.


"Baik Dad. Terima kasih." Pamit Daren.


Dengan cepat Daren kembali pulang. Dua asisten pribadi dan sekretaris Daren di buat panik karena Daren pergi begitu saja tanpa pesan apapun. Bahkan ponselnya tak bisa di hubungi. Karena Daren yang berkonsentrasi menyetir.


Dengan terpaksa Rasya dan Bagas menghandle pekerjaan Daren hari ini yang cukup padat. Tidak hanya meeting intern tapi ada rapat lain yang mestinya harus di hadiri oleh Daren tetapi Daren meninggalkan kantor begitu saja tanpa pesan.


Sampai mansion Daren memarkirkan mobilnya sembarang dan segera berlari ke dalam. Penjaga yang melihat mobil Daren kembali pun merasa heran sedang bibi yang mengetahui Keina menangis sejak Daren pergi merasa lega melihat Daren datang.


"Dimana Keina?" Tanya Daren pada Bibi.


"Di taman belajang Tuan." Bibi.


Dengan langkah lebarnya Daren segera menuju taman belakang. Dan benar saja Daffin tengah mencoba membujuk kakak nya karena terus menangis memanggil namanya.


"Huhuhu.... Bang Daren..." Panggil Keina di sela tangisannya.


"Iya Kak. Abang dalam perjalanan pulang. Sabar ya. Jam segini jalanan masih sedikit macet. Abang pasti pulang kok. Kakak masuk dulu yuk." Bujuk Daffin.


"Huaaa.... Abang..," Tangis Keina semakin kencang.


Melihat hal itu Daren segera menghampirinya. Daffin yang melihat Daren datang bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Daren dan Keina setelah saling berkomunikasi melalaui tatapan mata dengan Daren.


"Sayang.." Ucap Daren mengusap puncak kepala Keina.


"Abang..." Panggil Keina memeluk pinggang Daren.


Daren membalas pelukkan Keina dan mengusap kepala dan punggungnya dengan lembut. Dan apa yang terjadi Keina malah tertidur dalam pelukkan Daren. Daren pun segera menganggkat tubuhnya dan membawanya masuk kedalam kamar mereka.


"Hah! Kakak pingsan?" Tanya Daffin yang berpapasan dengan Daren yang tengah menggendong Keina.


"Tidak. Sepertinya hanya tidur." Jawab Daren.


"Astaga! Hanya ingin tidur dia menangis histeris memanggil Abang." Ucap Daffin tak mengerti.


Daffin hanya tersenyum melihat ke terkejutan Daffin. Bukan hanya Daffin dirinya pun sama terkejutnya. Setelah menidurkan Keina Daren menghubungi Ken dan meminta ijin untuk menghadiri rapat secara virtual saja setelah menceritakan apa yang terjadi dengan Keina.

__ADS_1


Karena Daren tak yakin jika dirinya kembali ke kantor Keina akan baik-baik saja. Karena Keina belum berbicara satu kata pun saat tadi dirinya datang. Dan benar saja. Saat Daren tengah meeting setengah jalan Keina terbangun dan kembali menangis saat tidak melihat Daren di sisinya.


🌻🌻🌻


__ADS_2