Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Nama Baju


__ADS_3

Angga menyimpan Keina dengan perlahan agar tak terganggu tapi baru saja Angga menyimpannya Keina terbangun dan menangis Angga pun segera menggendongnya kembali.


"Cup... cup sayang. Jangan nangis dong. Ini sama Kakak kok." Angga.


Angga pun kembali ke luar dengan membawa Keina dalam gendongannya.


"Loh, ga tidur?" Tita.


"Nangis Onty ga mau di simpen." Angga.


"Oalah... Sini." Pinta Tita menepuk pahanya.


Angga pun memberikan Keina pada Tita Keina sempat menolak tapi mendengar suara Mommynya Keina membuka matanya sebentar kemudian memeluk erat Tita.


"Nah, kan beda klo Mommy nya yang gendong." Gladys.


"Memangnya kenapa?" Laras.


"Dari tadi ga mau pindah ke gendongan Glad." Gladys.


"Marah dia sama kamu?" Gagah.


"Iya. Dia mau ikut ke kelas tapi Glad tinggal." Gladys.


"Pantesan." Gagah.


"Sudah sana coba baju kalian. Kurang apa biar nanti di tambah atau di kurang cepet." Ayumi.


"Ceh, makan dulu kali Bun." Gladys.


"Udah gampang makan mah. Sana cobain baju dulu." Ayumi.


Gladys dan Angga pun mencoba baju untuk dua acara sekaligus. Angga tak ada keluhan baju yang di cobanya pas dengannya namun Gladys masih ada komplain.


"Bun, pinggangnya kurang kecil." Gladys.


"Hah! Masa sih?" Ayumi.


"Iya." Gladys.


"Kamu ambil sesuai nama kamu kan?" Ayumi.


"Hah! Emang ada namanya?" Gladys.


"Astaga! Iya dong Glad. Kan semua baju sama hanya berbeda model. Mana Bunda inget yang mana punya siapa." Ayumi.


"Coba kamu lihat dulu itu baju siapa? Mungkin punya Laras." Tita.


"Dimana namanya?" Gladys.


"Di punggung, kamu buka dulu bajunya." Ayumi.

__ADS_1


"Sekarang?" Gladys.


"Iya. Tapi, di kamar Glad nggak di sini." Laras.


"Eh, iya lupa." Gladys.


Gladys pun kembali ke kamarnya dan melihat nama di balik bajunya dan ternyata benar saja nama Laras yang tercantum di bajunya. Gladys pun segera mengganti bajunya dengan baju yang dia kenakan tadi kemudian kembali ke bawah untuk membawa baju miliknya.


"Kok Kakak ga ngomong itu baju Kakak." Protes Gladys pada Laras.


"Mana Kakak tau. Kan Kakak juga belum coba Glad." Laras.


"Hah! Jadi semua belum coba bajunya terus nyuruh Glad coba duluan?" Gladys.


"Kita baru aja selesai makan Glad. Nah, karena kamu datang ya sudah sekalian saja kamu coba dulu." Ayumi.


"Ish! Bunda jahat banget sih. Suruh anaknya makan dulu kenapa." Gladys.


"Udah sana nih dua baju dengan nama kamu. Ayo cobain cepet biar cepet makan. Kasian calon mantu Bunda kelaperan." Titah Ayumi.


"Ya Tuhan berasa anak tiri deh gw." Gladys.


"Bukan anak Tiri Glad. Anak pungut." Gagah.


"Kakak." Protes Gladys.


Dan setelah mencoba gaun yang bernamakan dirinya Gladys pun baru merasa nyaman dan pas tak ada protes lagi kurang kecil karena memang sudah pas ukurannya. Laras dan Gladys memang sedikit lebih sintal Laras.


"Udah. Ayo Yang kita makan." Ajak Gladys.


Angga pun berpamitan untuk makan pada semuanya dan mengikuti Gladys ke meja makan. Gladys melayani Angga dengan sigap. Angga tak menyangka jika Gladys akan melakukannya.


Hal kecil seperti itu membuatnya merasa tersanjung. Karena Gladys yang terlihat cuek dan manja mampu melayaninya dengan sigap. Angga fikir Gladys akan sulit di beritahu namun nyatanya salah.


Angga dan Gladys pun makan dengan tenang tanpa ada suara sama sekali hanyabada dentingan sendok yang beradu dengan piring. Sementara itu di ruang utama satu persatu anggota keluarga mencoba pakaian yang Ayumi bawa tadi.


Semuanya pun selalu merasa puas dengan rancangan Ayumi. Tanpa mengatakan bagaimana keinginan kita Ayumi selalu tau selera keluarganya. Laras pun begitu mengaguminya.


"Bunda, Laras boleh belajar menjahit seperti Bunda?" Laras.


"Kau yakin?" Tanya Ayumi bahagia.


Pasalnya Gladys begitu enggan membantunya di butik. Gladys masih tetap pada pendiriannya ingin menjadi akuntan.


"Kamu bisa?" Gagah.


"Nggak. Makannya minta di ajarin Bunda." Laras.


"Yakin?" Gagah.


"Hm.. Boleh yah?" Ijin Laras.

__ADS_1


"Di ijinkan saja Gah. Biar ga bosen nungguin kamu kerja dan sekolah nanti." Tuan Ito.


"Iya. Dari pada sekolah kamu ga ijinin nah sekarang jahit juga ga boleh?" Nyonya Laura.


"Gagah belum ngomong apa-apa ini Opa, Oma." Gagah.


"Ya sudah cepet ngomong. Di ijinkan atau tidak." Nyonya Laura.


"Ceh, boleh jika kamu mau melakukannya apalagi kamu juga bersama Bunda belajarnya. Asal tau waktu ya." Gagah.


"Makasih sayang." Ucap Laras memeluk Gagah.


"Cie,,, pelukan." Goda Gladys yang baru saja datang dan bergabung lagi.


Laras segera melepas pelukannya pada Gagah dan jangan lupakan wajahnya yang memerah karena malu. Laras belum pernah melakukannya di depan keluarganya.


"Santai aja Ras. Toh sama suami kita. Ngiri aja tuh fia belum bisa pegang-pegang." Tita.


"Onty...Jahat. Ayang, ayo nikah." Rajuk Gladys.


"Hei," protes Tita.


"Katanya sekolah dulu tanggung udah di akhir." Goda Angga.


"Nikah dulu aja deh." Gladys.


"Bener nih?" Angga.


"Eh, ngga. Nanti aja deh Yang. Aku takut cuekin kamu nanti kalo bikin tugas akhir." Gladys.


"Bukannya kamu udah cicil tugas akhir Glad?" Tita.


"Iya Onty. Makanya nanti aja." Gladys.


Kebersamaan yang begitu hangat dan yang selalu di rindukan oleh Tuan dan Nyonya Ito. Karena alasan itu pula menbuat keduanya melarang anggota keluarganya pindah rumah. Hanya saja setiap keputusan apapun mereka tak pernah ikut campur.


Keluarga Ayumi di serahkan pada keluarga mereka begitu juga dengan Ken dan Tita semua di serahkan pada mereka berdua. Karena Keina belum bisa diikut sertakan dalam berdiskusi.


Tuan dan nyonya Ito pun tak akan melarang jika memang salah satu atau kedua anaknya lebih memilih pindah ke rumah impian masing-masing. Hanya saja bukan karena tidak mandiri kedua anaknya lebih memilih tinggal bersama Tuan dan Nyonya Ito.


Ayumi pernah tinggal terpisah tapi Nyonya Laura selalu memintanya menginap di rumah utama. Akhirnya Rehan pun mengalah dan tinggal bersama di rumah utama.


Tita yang merupakan anak pengusaha no 1 di negaranya bukan tak mampu membeli rumah sederhana bahkan rumah mewah sekalipun. Hanya saja keduanya Ken dan Tita lebih memilih tinggal bersama orang tua Ken karena rasa sayang mereka pada Tuan dan Nyonya Ito.


Tita yang sederhana pun tak pernah keberatan harus berbagi rumah dengan Kakak ipar dan keluarganya. Karena memang begitu sejak awal. Tita yang selalu terpisah bersama keluarganya pun begitu senang saat rumah begitu ramai.


Tita lebih nyaman saat Ayumi dan keluarga kembali tinggal bersamanya di rumah utama. Karena rumah tampak ramai dan hangat.


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2