Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Kehamilan Raya dan Keina


__ADS_3

Sementara Zio tengah menahan kantuknya menemani sang istri memenuhi ngidamnya berbeda dengan Daren yang bisa tertidur dengan pulas dengan memeluk Keina. Berbeda kehamilan Keina dan Raya.


Raya yang selalu meminta apapun pada Zio sedang Keina akan menangis dan tak akan masuk apapun jika tidak ada Daren. Sama-sama tidak menguntungkan karena Zio akan terganggu pekerjaannya saat harus memenuhi keinginan ngidam Raya.


Sedang Daren tak bisa pergi kerja begitu saja karena harus selalu bersama Keina. Ken tidak mempermasalahkannya karena begitu juga dirinya saat Tita hamil dulu. Itulah yang membuat Ken dan Tita begitu faham dengan keadaan Keina.


"Sayang, boleh ya Abang nya mandi dulu. Kein sama Mommy di sini. Mommy ga akan pergi oke." Bujuk Tita karena kasian melihat Daren yang terus di buntuti Keina.


"No Mom. Kein mandi juga sama Abang." Rengek Keina.


"Hm... Tapi, Kein kan udah mandi." Bujuk Tita lagi.


"No." Jawab singkat Keina.


Daren hanya bisa diam melihat Mommy mertuanya membujuk Keina.


"Kalo Mommy ambilkan kue coklat sama es krim mau ya. Kein makan kue dan es krim coklat sama Mommy Abang biar mandi ya." Bujuk Tita terus.


Mata Keina berbinar mendengar kata coklat. Keina melihat ke arah Daren dan Tita bergantian. Kemudian Keina pun mengangguk cepat.


"Oke. Abang boleh mandi Kein makan coklat." Ucap Keina.


Tak menunggu waktu lama Tita pun segera ke dapur untuk membawa es krim dan kue coklat buatannya. Dan membawakan segala macam camilan yang lain agar mengulur waktu saat Daren mandi.


Setelah Tita kembali dengan berbagai makanan dan minuman ditangannya Daren pun segera pergi ke kamarnya untuk mandi dan mengerjakan beberapa pekerjaannya yang di kirimkan bagas melalui emailnya.


"Abang mandi dulu ya sayang. Sayang sama Mommy oke." Pamit Daren mengecup puncak kepala Keina.


"Oke Abang." Jawab Keina dengan tak mengalihkan pandangannya pada makanan dan minuman yang di bawa oleh Tita.


Keina pun melahap beberapa kue dan es krim yang di bawa Tita dengan lahap. Tita hanya tersenyum melihatnya. Belum terlihat perubahan dari badan Keina hanya saja sekarang lebih manja dan suka makan.


Baru saja Keina memakan camilan dan es krim matanya terasa berat. Keina pun merebahkan badannya di sofa dan meminta Tita mengusap kakinya dan tak lama Keina pun terlelap. Tita memberitahu Daren jika Keina tertidur.


Daren pun segera turun dengan menbawa pekerjaannya juga. Tita merasa kasihan sebenarnya tapi mau bagaimana lagi Keina akan histeris jika Daren tidak ada.


"Terima kasih Mom. Abang akan bekerja di sini Mommy bisa mengerjakan pekerjaan Mommy." Daren.

__ADS_1


"Baiklah. mommy harus ke butik Buna. Karena Daddy, Papi dan Om Nio akan fitting baju untuk pernikahan Zizi." Tita.


"Baiklah. Apa Mami akan ke sini?" Daren.


"Ya. Mami mu akan menggantikan Mommy disini. Tenanglah." Daren.


"Baiklah Mom. Terima kasih." Daren.


"Nenek juga tak akan lama. Hanya cek up sebentar. Akan ada Kak Laras juga nanti." Tita.


Daren hanya mengangguk menjawabnya. Kemudian dengan cepat Daren mengerjakan beberapa pekerjaannya yang tertunda. Daren pun menolak beberapa panggilan yang masuk di ponselnya. Daren akan mengirimkan pesan jika dirinya hanya bisa bertukar pesan.


Daren tidak ingin percakapannya mengganggu tidur Keina. Tita pun berpamitan pada Daren hanya dengan menggunakan isyarat saja. Bibi bertugas menunggu Marni dan Laras di depan memberitahukan jika jangan mengeluarkan suara apapun.


Tak lama setelah Tita pergi. Melan pun datang. Melan duduk di dekat kaki Keina. Dan Melan akan mengusap kaki Keina seperti apa yang di lakukan Tita jika ada pergerakan dari Keina agar tidur Keina lebih lelap.


Daren bersyukur Mami dan mertuanya bisa membantunya tidak seperti Zio. Karena Zio tinggal terpisah dari orang tua Zio dan Raya membuat dirinya sedikit kesulitan. Ditambah sekarang Olla sedang sibuk menyiapkan pernikahan Zizi.


Tapi, Olla pun selalu menyempatkan melihat menantunya dan menanyakan apa yang di inginkan menantunya. Begitu juga dengan Zizi yang selalu menyempatkan menemani Raya selepas dirinya kuliah. Terkadang Sinta pun ikut menemaninya.


"Sudah berapa persen Kak persiapan pernikahannya?" Tanya Sinta yang sekarang berada di rumah Zio bersama dengan Zizi.


"Sepertinya sekitar 60% lah." Zizi.


"Maaf ya Zi. Kakak tidak bisa bantu Bunda sama kamu." Raya.


"Tidak apa-apa Kak. Onty dan Mami juga ikut bantu Bunda kok. Mama Mas Damar juga ikut bantu." Zizi.


"Syukurlah. Maaf ya sayang." Raya.


"Kak Raya sehat saja agar saat acara nanti lebih segar dan Vit." Sinta.


"Iya. Terima kasih. Kakak yakin pas acara nanti lebih segar. Karena usia kehamilan Kakak sudah masuk empat bulan dan semoga mual muntahnya sudah berkurang bahkan hilang." Raya.


"Amin." Jawab Zizi dan Sinta bersamaan.


"Semoga Kakak juga cepat isi ya Kak. Biar Sinta punya ponakan." Sinta.

__ADS_1


"Amin. Kamu juga jangan lama-lama ya. Cepet minta di halalin." Zizi.


"Siap. Segera menyusul Kak." Sinta.


Tawa mereka pun pecah di ruang utama rumah Zio. Mereka bertiga terus berbincang kemana-mana dan sudah beberapa kali juga Raya meminta sesuatu pada Zizi dan Sinta. Dan bersyukur tak ada hal aneh yang di inginkan Raya sehingga tidak membuat Zizi dan Sinta kesulitan.


Jika Zizi dan Sinta berada di rumahnya Zio bisa bekerja dengan tenang di kantor. Tapi, dirinya pun tak berleha-leha. Zio segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang lebih cepat.


Sementara Daren baru saja menutup laptopnya dan meregangkan badannya Keina terbangun dan merengek. Tapi, ketika manik matanya terbuka dan menemukan Daren di hadapannya tangisnya pun tak jadi pecah.


Keina langsung bangun dan memeluk Daren dari samping. Daren begitu memanjakan Keina. Beruntung badan Keina yang kecil memudahkan Daren untuk menggendongnya.


"Mami sudah lama?" Tanya Keina saat melihat Melan berada di dekatnya.


"Sudah lumayan lama." Melan.


"Apa Nenek dan Kakak belum datang?" Keina.


"Sudah. Mereka sedang berganti pakaian karena baru dari rumah sakit." Melan.


"Syukurlah. Mami jaga kesehatan juga ya Mi." Pinta Keina pada Melan.


"Tentu sayang. Apalagi akan ada cucu Mami. Mami harus sehat biar bisa main sama cucu Mami." Melan.


"Makasih Mam." Keina.


"Mami yang harus berterima kasih sayang. Kamu mau menerima Abang dan mau nengandung anak Abang." Melan.


"Sayang, Abang pamit ke kamar mandi ya sebentar. Kebelet nih." Pamit Daren.


"Tapi ga lama." Keina.


"Tentu sayang... Boleh ya." Daren.


"Boleh."


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2