Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Rencana Mikha dan Angel Pindah


__ADS_3

Angel dan Mikha benar-benar tak menyangka jika keponakan mereka bisa hamil dan melahirkan dalam waktu yang bersamaan. Sungguh suatu kejadian yang sangat langka. Angel tak henti mengagumi dua bayi gembul di hadapannya.


"Onty, lihat Onty Angel dia ga ada lelah terus bermain bersama Arka dan Rein." Tunjuk Sinta.


"Iya. Biarkan saja. Ya hitung-hitung Kak Raya sama Kein libur ngurusin bayi mereka." Tita.


"Onty bisa aja." Sinta.


Saat mereka asik berbincang Daffin melewati mereka dengan santainya.


"Daff,, mau kemana?" Zizi.


"Berenang." Daffin.


"Hei,, ga takut gosong pas nikahan nanti?" Sinta.


"Biar eksotis dong Kak." Daffin.


"Mana ada eksotis." Zizi.


"Jangan terlalu lama Daff udara masih panas." Tita.


"Siap Mom.." Daffin.


"Mom, lihat." Tunjuk Keina pada layar ponselnya.


"Astaga! Onty kalian tertidur bersama dua bayi gembul." Tita.


"Tadi kita mau ambil bayi-bayi kita takut onty capek eh taunya mereka tidur bertiga." Raya.


"Ya udah biar aja. Biar Onty Angel puas-puasin main sama anak kalian." Tita.


"Kein ga tega mau ambil Rein." Keina.


"Biarkan saja." Tita.


"Nek, istirahat jangan kecapean." Titah Keina yang melihat Marni di dapur.


"Iya. Ini Nenek sudah selesai kok." Marni.


"Nenek buat apa?" Raya.


"Nenek buatkan cemilan untuk kalian. Setelah ini Nenek mau istirahat." Marni.


Benar saja setelah menyelesaikan kuenya Marni pun masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Marni tak ingin membuat anak dan cucunya khawatir padanya.


Raya dan Wulan ikut mengobrol bersama duo bumil dan Mommy mereka. Olla dan Nio pergi bersama dengan Mikha mengunjungi makam orang tua Nio dan Tita. Sedangkan Ken di ruang kerjanya. Tita tidak ikut ke makam karena baru saja dari sana bersama Ken.


"Kue buatan Nenek selalu enak." Zizi.


"Ini yang selalu buat kangen Nenek ya Zi?" Sinta.


"Iya. Kak Laras pasti seneng banget deh kalo Nenek udah buat kue." Zizi.


"Kalian menginap di sini?" Tita.


"Tidak Onty. Bang Andre jemput sore nanti." Zizi.


"Kamu Ta?" Tita.

__ADS_1


"Sinta belum tau Onty. Bang Zayn kan belum ketemu Onty sama Oncle." Sinta.


"Kenapa ga mampir dulu sih Zayn?" Tita.


"Abang ada rapat Onty." Sinta.


"Mom," Panggil Keina.


"Kenapa Kein?" Tita.


"Ada vendor." Keina.


"Owh! Astaga Mommy lupa. Ya sudah kalian lanjutkan ngobrolnya. Bi, tolong panggilkan Mas Ken di ruang kerjanya ya. Saya ke depan." Titah Tita pada salah satu pelayan.


Sore hari Mansion semakin bertambah. Smeua keluarga berkumpul. Keluarga Tanio dan Tita lengkap dengan anak dan menantu berkumpul di mansion karena kedatangan Mikha dan Angel.


Angel masih belum bisa lepas dari duo bayi gembul. Membuat Zio dan Raya tak enak hati. Mereka pun memutuskan untuk menginap di mansion. Zio dan Raya berpamitan sebentar untuk pulang membawa perlengkapan mereka dan Arka.


Zizi dan Andre berpamitan pulang dan datang lagi besok. Zayn dan Sinta menginap karena Zayn asik berbincang bersama Mikha mengenai bisnis mereka. Olla dan Tanio pulang setelah makan malam.


Zio dan Raya datang setelah makan malam di luar. Mumpung Arka ada yang momong katanya. Daren dan Keina pun asik berduaan selagi Reina asik bermain bersama Omanya.


"Kamu belum cuti Ren?" Zio.


"Belum. Besok lusa lah. Besok masih ada meeting." Daren.


"Astaga! Kayanya Oncle Ken udah nempel lu banget deh Ren." Zio.


"Maksudnya?" Daren.


"Ya lu kerja ga kenal waktu persis Oncle Ken." Zio.


"Bahkan Abang lebih galak dari Daddy Bang." Daffin.


"Hahaha... Itu mah lu aja yang kerjanya males-malesan." Zio.


"Nah, ini yang bikin Daff ga mau magang di tempat Bang Zio." Daffin.


"Hahaha... Iya sih. Masa Daffin magang di tempat Andre." Zayn.


"Serius Lu?" Zio.


"Iya. Bang Andre kan baik masih berprikemanusiaan." Daffin.


"Bagus Lu sama Abang lu aja di kantor Daff." Zio.


"Dih, males. Bisa habis gw." Daffin.


"Gw ga terima mahasiswa magang yang males." Daren.


"Hei, jangan lupa itu perusahaan bokap gw." Daffin.


"Jangan lupa juga gw menantunya." Daren.


Mereka asik berbincang begitu juga dengan para wanita. Tita, Keina, Raya, Marni, Angel dan Sinta asik berbincang. Ken dan Mikha berdua membicarakan bisnis mereka. Setelah berbincang cukup serius. Mikha memutuskan untuk pindah ke Indonesia.


Mikha akan meminta anak semata wayangnya mengurus perpindahannya. Mikha merasa senang melihat Angel begitu senang denga cucunya. Arka dan Rein begitu anteng dalam buaian Angel.


"Sister, did you really move here?" Tita.

__ADS_1


"Sure is. If I can't take my grandchildren, then I'll stay." Angel.


"What about daren?" Tita.


"He has his wife. So, no problem." Angel.


"Okay. um... No matter what you decide, you can only be supportive." Tita.


"Thank you dear." Angel.


Karena sudah cukup malam. Sinta yang tengah berbadan dua pun sudah merasa lelah. Sinta bangkit dari duduknya dan mengajak Zayn untuk tidur.


"Abang Zayn. Ayo bobok." Ajak Sinta.


"Owh! Oke sayang." Zayn.


"Ya, sebaiknya kita pun beristirahat." Zio.


"Auntie, are you sure you'll sleep with arka and reina?" Raya.


"Sure is. Just give me your breast milk and let me take care of it." Angel.


"Biar saja Ray. Kalian tidurlah. Buat adik untuk Arka." Tita.


"Onty, jangan begitu." Ucap Raya malu.


"Siap laksanakan Onty." Jawab Zio dengan senang.


"Abaang ih.."Ucap Raya malu.


"Kau juga Kein." Tita.


"Hah! Kenapa aku di bawa-bawa?" Keina.


"Daren diam-diam teriak yes juga tuh." Zio.


"Sudah-sudah. Nenek tidur sendiri nih." Ucao Marni sambil berlalu.


"Hahaha..."


Semua tertawa mendengar ucapan Marni. Marni memang bukan ibu kandung bagi Tita namun, posisinya melebihi ibu kandung bagi Tita. Bahkan jika boleh egois Tita tak mau Laras membawa Marni keluar dari mansion.


Setiap kali Marni tinggal di rumah Laras sudah bisa di pastikan Tita akan terus menghubungi Marni untuk menanyakan kabarnya.


Pagi hari Tita dan Marni sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan. Kali ini tak ada satupun ibu-ibu muda ikut bergabung. Marni dan Tita memakluminya.


"Arka dan Rein tidak rewel?" Marni.


"Sepertinya tidak Bu. Kak Angel benar-benar sangat merindukan kehadiran anak kecil." Tita.


"Apa Daren dan Istrinya benar-benar tak ingin memiliki keturunan?" Marni.


"Kita tak pernah tau Bu. Bahkan Bang Mikha dan Kak Angel tak berani menanyakannya." Tita.


"Yah, sudah biarkanlah. Kita pun tak bisa melakukan apapun." Marni.


"Iya benar Bu." Tita.


Percakapan keduanya pun terhenti dengan kedatang Mikha. Tita meminta Mikha untuk duduk dan Tita membuatkan kopi untuknya.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2