
Setelah memastikan Zizi baik-baik saja Melan pun keluar dari kamar mereka dan menutup pintu kamar. Suasana di kamar menjadi hening hanya suara tut keyboard laptop yang terdengar. Andre berusaha berkonsentrasi pada tugas Zizi sementara Zizi di buat salah tingkah dengan pernyataan Melan dan sikap Andre.
"Mm... Bang." Panggil Zizi.
Andre menoleh ke samping dan menatap lembut Zizi.
"Mm... Abang nyesel ga nikah sama Aku?" Tanya Zizi menundukkan kepalanya.
"Kenapa harus nyesel?" Tanya Andre memperbaiki duduknya sehingga menghadap ke arah Zizi.
"Ya... Kan Abang terpaksa nikahin aku. Terus pasti hati Abang masih buat Kak Kinan kan?" Tanya Zizi takut.
Andre diam menatap manik mata Zizi dalam. Zizi merasa ada yang salah dengan ucapannya. Zizi pun berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
"Mm... Aku udah baikan kok Bang. Tugasnya biar aku yang lanjutin aja ya." Ucap Zizi mengambil Laptopnya.
Belum sempat terambil laptopnya tangan Zizi di cekal oleh Andre. Sejenak tatapan mereka beradu namun tak lama Zizi memutus tatapannya dan mengalihkan ke segala arah.
"Abang tanya sama kamu. Kamu nyesel ya di nikahin Abang?" Tanya balik Andre.
Zizi langsung menggelengkan kepalanya cepat kemudian menunduk.
"Kenapa? Bukankah pernikahan kita tak ada dalam rencana kamu?" Andre.
Zizi diam tak menjawab pertanyaan yang di lontarkan Andre. Entah mengapa lidahnya terasa kelu.
"Jujur Abang awalnya tak berminat dengan perjodohan kita dulu. Karena jujur Abang tidak ingin kebebasan kamu terkekang karena kita di jodohkan. Dan karena saat itu juga Abang menyukai orang lain." Jelas Andre membuat manik mata Zizi menatapnya mencari kejujuran dari mata Andre.
Tak ada kebohongan di sana. Zizi pun hanya terdiam menunggu apa lagi yang akan di ucapkan suaminya.
"Namun, ternyata orang yang Abang sukai menyukai orang lain dan Abang tidak bisa berbuat apa-apa. Kinan yang selalu ada mensuport Abang. Entah mengapa Abang memilih berpacaran dengan dia. Mungkin saat itu hanya sebagai pelarian."
"Sampai Abang mendengar kamu dekat dengan almarhum rasanya hati Abang sakit. Tapi, Abang tidak mampu berbuat apapun. Abang hanya berdo'a yang terbaik buat kita. Abang selalu menghindari setiap pertemuan yang akan membuat kita bertemu."
Sejenak Andre diam menarik nafas dalam mengatur segala emosi di hatinya. Sementara Zizi hanya diam menjadi pendengar tanpa ikut berkomentar.
__ADS_1
"Hingga puncaknya kamu akan menikah Abang merasa sesak. Saat itu Abang sebenarnya tak akan hadir di acara pernikahan itu. Terlalu sakit untuk Abang melihat kalian duduk di pelaminan. Tapi, Tuhan berkehendak lain."
"Entah perasaan apa yang harus Abang ungkapkan. Sedih atau bahagia. Sedih karena melihat rasa kehilangan kamu yang begitu dalam hingga beberapa kali tak sadarkan diri. Bahagia. Rasanya tak pantas Abang bahagia di atas kesedihan kamu dan keluarga almarhum."
"Akhirnya demi keluarga dan hati Abang. Abang memutuskan untuk menjadi pengantin pengganti untuk kamu. Abang tak akan memaksa kamu untuk menjadi istri yang sesungguhnya untuk Abang. Dengan kehadiran kamu saja itu sudah lebih dari cukup. Dan dengan menjadikan kamu istri Abang tidak akan ada lagi laki-laki lain yang mencoba mendekati kamu."
"Abang mencintai dan menyayangi kamu lebih dari yang kamu kira Zi. Dan jika saat ini rasa itu belum ada di hati kamu untuk Abang, Abang tak mengapa. Abang tau semua butuh proses."
Penjelasan Andre begitu menyentuh hati Zizi. Entah apa yang harus dirinya sampaikan. Walaupun jujur dari lubuh hatinya pernah tersimpan rasa untuk Andre di hati Zizi hanya saja penolakan dari Andre membuat Zizi harus menekan perasaannya.
Dan saat Damar datang dengan segala ketulusananya membuat hati Zizi kembali terbuka untuk pria lain. Zizi pun berusaha mencurahkan segalanya pada Damar. Walaupun terkadang hatinya masih teringat tentang Andre.
Setelah Zizi dan Andre saling diam dan menatap tanpa di duga Zizi menghambur kedalam pelukkan Andre dan memeluknya dengan erat seolah tak ingin kehilangan Andre lagi. Zizi bersyukur karena di nikahi oleh Andre.
"Terima kasih Bang." Ucap Zizi dalam pelukkan Andre.
Andre mengusap lembut rambut panjang Zizi dan beberapa kali mengecup puncak kepala Zizi. Zizi merasakan kenyamanan dalam pelukkan Andre. Saat ini tak ada tempat ternyaman selain pelukkan halal dari Andre.
Zizi mengurai pelukannya. Keduanya saling bertatapan hingga tanpa disadari jarak antara keduanya terkikis entah siapa yang memulainya benda kenyal milik keduanya pun saling bersilaturahmi.
Zizi memejamkan matanya merasakan sentuhan Andre. Hingga pasokan oksigen keduanya berkurang dan hampir habis keduanya melepaskan tautannya. Dengan nafas tersengal Zizi menundukkan kepalanya.
Andre mengulas senyumnya kemudian mendaratkan ciuman di kening Zizi. Zizi pun memejamkan matanya menerima segala perlakuan manis Andre.
"Terima kasih." Bisik Andre di telinga Zizi.
"Seharusnya Zi minta maaf sama Abang." Ucap Zizi mengerucutkan bibirnya.
"Minta maaf untuk apa?" Andre.
"Minta maaf karena selama kita menikah Zi belum bisa menjadi istri yang seharusnya." Zizi.
"Memang istri yang seharusnya itu bagaimana?" Andre.
"Abang ih... Jangan goda Zi." Manja Zizi.
__ADS_1
"Abang tidak menggoda Abang hanya bertanya sayang." Andre.
Blush...
Wajah Zizi semakin merona dengau ucapan sayang dari bibir Andre. Matanya menatap dalam manik mata Andre.
"Kenapa hmm?" Tanya Andre merapihkan anak rambut Zizi.
"Tidak." Ucap Zizi menundukkan kepalanya.
Andre pun kembali mengangkat dagu Zizi.
"Jangan pernah menundukkan kepala kamu di hadapan siapapun. Apalagi di hadapan Abang." Ucap Andre.
"Tapi Zi malu Bang." Ucap Zizi.
"Malu pada siapa. Abang suami mu." Andre.
"Iiihh... Udah ah. Zi mau lanjut ngerjain tugas lagi." Zizi.
"Tugasnya udah selesai sayang. Tinggal di koreksi saja. Barangkali Abang ada salah. Soalnya tadi ada sedikit gangguan yang membuat Abang kurang konsentrasi." Jelas Andre.
"Serius?! Abang udah menyelesaikannya?" Tanya Zizi.
"Coba kamu lihat saja." Ucap Andre menyodorkan laptop Zizi.
Zizi melihatnya dan matanya berbinar tak percaya jika Andre menyelesaikan tugasnya lebih cepat di bandingkan dirinya mengerjakan tugasnya sendiri. Belum lagi ada iklan sakit segala.
Tatapannya beralih pada layar laptop dan Andre. Sementara Andre hanya biasa saja dan menyiapkan pekerjaannya sendiri di laptop pribadinya. Zizi menyimpan laptopnya di meja dengan hati-hati dan tak lupa menyimpan filenya terlebih dahulu takut-takut dirinya ceroboh.
"Abang." Panggil Zizi memegang lengan Andre.
"Kenapa? Ada yang salah ya" Tanya Andre memutar badannya.
Zizi menggelengkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Makasih."
🌻🌻🌻