
Pagi ini Ken dan Tita sudah bersiap pergi ke bandara setelah menyelesaikan sarapan mereka. Daren, Keina, Daffin dan Intan pun telah bersiap untuk mengantarkan mereka. Rahman asisten Ken akan bertemu di bandara. Mereka bertiga menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Ito.
Intan hanya diam mengikuti alur kemana keluarga itu membawanya. Tak pernah sedikitpun dirinya menyangka jika dirinya akan berada di lingkungan keluarga kaya. Bahkan tak pernah terfikir sedikitpun. Lebih tepatnya tak berani memikirkannya.
"Tan, ayo." Ajak Keina.
"Eh, iya Kak." Intan.
Ken dan Tita masuk ke dalam mobil Ken yang di kendarai supir. Sedang Daren, Keina, Daffin dan Intan dalam mobil yang sama dengan Daren di balik kemudi. Daffin duduk di samping Daren. Sedang Keina dan Intan duduk di kursi penumpang di belakang.
"Daff, jika tak ada kuliah datanglah ke kantor. Abang akan kerepotan jika Daddy tidak ada." Daren.
"Iya Bang. Siang ini ada kuliah satu mata kuliah setelah itu Daff akan ke kantor sebentar." Daffin.
"Kerja yang bener Dek. Jangan magabut Lu." Keina.
"Magabut apaan Yang?" Tanya Daren.
"Makan gaji buta."Keina.
"Astaga! Kesambet apa sih nih Kakak gw." Daffin.
"Daff.." Daren.
"Eh, iya sorry Bang. Lupa kalo ada pawangnya." Daffin.
Sampai di Bandara Tita, Ken dan Rahman berpamitan kepada keluarga masing-masing. Rahman di antarkan oleh istri dan anak-anaknya. Begitu banyak pesan yang di sampaikan Tita untuk anak-anaknya.
"Mom, sudahlah. Intan bisa sawan denger pesan-pesan dari Mommy." Celetuk Daffin.
"Kamu itu kalo di ingatkan ngeyel aja. Awas jangan keluyuran ga jelas. Bantu Abang kamu di kantor. Jangan modusin Intan terus. Biar Intan belajar untuk masuk universitas." Cerocos Tita.
"Siap Komandan." Jawab Daffin dengan tagan di angkat seperti hormat pada bendera.
"Dasar anak kurang garam." Umpat Tita.
"Sudah ayo Mom. Kita malah ga berangkat-berangkat." Ajak Ken.
Akhirnya Ken dan Tita pun masuk. Keina memeluk pinggang Daren dan Daren memeluk bahu Keina. Walaupun ini bukan pertama kalinya Tita dan Ken meninggalkan Daffin dan Keina. Tapi, dalam keadaan Keina yang tengah berbadan dua ini untuk pertama kalinya.
Mereka berempat meninggalkan Bandara begitu juga dengan keluarga Rahman. Setelah mereka saling bertegur sapa. Keluarga Rahman pun sudah tak canggung lagi dengan keluarga Ken karena Rahman sudah lama ikut bersama Ken.
"Sayang, Abang langsung ke kantor ya. Hati-hati di rumah." Daren.
"Iya Bang. Abang hati-hati di jalan ya." Keina.
"Iya sayang. Intan Abang titip Kakak ya." Pesan Daren pada Intan.
"Iya Bang." Intan.
"Daff pamit juga Kak." Daffin.
"Iya. Hati-hati jangan nakal. Inget yang di rumah." Keina.
"Hufh... Daff pergi Kak." Pamit Daffin.
__ADS_1
"Eh, Intan ga di pamitin?" Keina.
"Tan, Ayang pergi dulu ya. Hati-hati di rumah." Ucap Daffin.
"Eh, apaan tadi Ayang... Ceh, Ayang apaan modelan kaya begini." Keina.
"Hahahaa.... Bye semua." Daffin.
Intan hanya diam dengan wajah yang memerah. Untung saja Keina tidak terlalu fokus padanya. Jadi Intan bisa menyembunyikan wajahnya.
Keina mengajak Intan masuk dan menonton drama kesukaannya. Intan pun tak menolak karena tidak ada yang bisa di lakukannya di sana. Semua sudah ada yang mengerjakannya.
"Tan, suka nonton drama?" Keina.
"Ngga Kak." Intan.
"Beneran?" Keina.
"Iya Kak. Jika di rumah Intan membantu Ibu." Intan.
"Hm.. Oke. Sekarang Intan mau nonton yang mana?" Tanya Keina menawarkan beberapa judul drama yang akan di tonton.
Intan membaca satu persatu dan Intan tertarik dengan satu judul yang terdapat di sana. Keina pun memutar drama yang di pilih Intan. Keduanya menonton dengan di temani dua gelas jus dan beberapa camilan.
"Maaf Nona ada yang nencari Anda di depan." Lapor Bibi.
"Siapa? Kein ga punya janji Bi." Keina.
"Kayanya pernah datang sama Nyonya Olla Non." Bibi.
Sinta pun masuk bersama dengan Bibi. Keina dan Intan menyapanya. Sinta duduk dan bergabung menonton drama di selingi obrolan-obrolan santai.
"Sama siapa tadi kesini Kak?" Keina.
"Di antar Bunda." Sinta.
"Loh, terus Tante Olla mana?" Keina.
"Bunda ada keperluan tadi jadi nanti ke sini setelah selesai." Sinta.
"Owh! Kirain Tante Olla ada di sini. Nginep di sini ya Kak." Ajak Keina.
"Hm.. Kayanya ngga Kein." Sinta.
"Kenapa? Abang Zayn ngelarang? Biar Kein telfon Abang." Keina.
"Eh, ga usah. Nanti Kakak tanya Bunda aja lagi." Sinta.
"Kok Bunda." Keina.
"Kan Kakak ke sini sama Bunda." Sinta.
"Astaga! Baiklah." Keina.
Olla datang bersamaan dengan jam makan siang. Olla melihat keponakan dan menantunya sudah berada di meja makan. Olla pun segera menyusul mereka untuk makan siang bersama setelah Bibi menyiapkan piring tambahan untuk Olla.
__ADS_1
Setelah makan siang. Mereka bersantai di halaman belakang yang menjadi spot favorit setiap keluarga saat cuaca terik siang hari di halaman belakang cukup sejuk karena terdapat beberapa pohon yang cukup rindang sehingga menambah kesan sejuk.
"Intan kapan datang?" tanya Olla.
"Kemarin sore Tante." Intan.
"Loh, langsung ke sini?" Olla.
"Iya." Intan.
Keina pun menceritakan apa yang terjadi dengan Intan. Olla dan Sinta tak menyangka Intan akan di usir. Mereka fikir Intan akan di raih. Tapi, mereka berdua pun percaya karena saat upacara pemakaman saja hanya beberapa warga yang ikut membantu.
"Sabar ya Tan. Tante yakin kamu bisa melewati ujian ini." Olla.
"Iya Tan." Intan.
Tak lama Ayumi datang bersama dengan Gladys dan kedua putra putrinya. Gean dan Gea.
"Hi Tan. Kenalin ini anak-anak Kakak." Ucap Gladys memperkenalkan Gean dan Gladys.
"Gean sekarang masuk SMA ya?" Tanya Keina.
"Iya Onty." Gean.
"Sudah ketemu sekolahnya?" Keina.
"Sudah. Kemarin sudah mendaftar juga sama Mama." Gean.
"Kalo Gea kelas berapa?" Tanya Intan.
"Gea masih SMP Onty." Gea.
"Mereka beda berapa tahun Kak?" Sinta.
"Dua tahun. Sekarang Gea masuk kelas tujuh." Gladys.
"Nah, ini dia macaron sama Strawberry cake pesanan Ibu hamil." Ucap Ayumi ketika Bibi membawakannya untuk mereka.
"Waah,,, Sinta mau dong.." Ucap Sinta begitu tergiur melihat macaron yang warna-warni.
"Boleh. Ayo Tan. Makan juga." Ayumi.
"Iya Buna. Sebentar. Perut Intan masih penuh nasi." Intan.
"Mmm... Ini enak banget Tante." Ucap Sinta sambil mulutnya penuh dengan Macaron.
"Astaga! Kak. Habiskan dulu makanannya jangan dulu ngomong." Keina.
"Abis ini enak. Kakak mau minta Abang beliin." Sinta.
"Makan saja yang di sini dulu Kak. Nanti baru Bang Zayn beli lagi." Keina.
"Hehhee... Makasih Kein." Sinta.
Sinta pun menikmati beberapa buah macaron yang tersedia. Ayumi merasa senang anak-anaknya rukun saling sayang menyayangi.
__ADS_1
🌻🌻🌻