
Sepanjang pulang Zizi terus melihat print USG miliknya. Dirinya tak menyangka di dalam perutnya kini ada buah cintanya bersana Andre. Sesekali Zizi mengusap perutnya yang masih rata.
"Mami,," Panggil Zizi.
Melan yang tengah menyetir pun menolehkan wajahnya pada menantunya.
"Ada apa sayang?" Melan.
"Kita ke kantor Abang ya Mi." Ajak Zizi.
"Boleh sayang." Jawab Melan.
Melan pun melajukan mobil yang di kemudikannya menuju kantor milik suaminya. Abi memang masih bertugas walau Andre sudah mengheandle penuh pekerjaannya. Abi memiliki ruang khusus tersendiri.
Walau semua pekerjaannya sudah di limpahkan pada Andre namun Abi selalu datang menemani Andre dan Andre pun tidak keberatan. Bukan juga karena Abi tak mempercayai putranya Abi hanya ingin menemani putranya. Karena itu juga yang di lakukan mendiang Ayah nya dulu.
Sampai di kantor Melan dan Zizi di sambut hangat oleh semua karyawan. Melan dan Zizi melangkahkan kakinya langsung menuju lift petinggi. Zizi keluar di lantai dimana Andre berada dan Melan menuju ruangan Abi.
"Nanti hubungi Mami jika sudah ingin pulang ya sayang." Ucap Melan sebelum Zizi keluar dari dalam besi kotak itu.
"Oke Mam.. Sampai ketemu lagi." Ucap Zizi melambaikan tangannya.
Zizi melangkah menuju ruangan Andre.
"Apa Bapak ada di dalam?" Tanya Zizi pada sekretaris Andre.
"Maaf Anda siapa? Apa Anda sudah membuat janji?" Tanya Sekretaris baru Andre seorang perempuan.
"Kamu sudah berapa hari bekerja disini?" Tanya balik Zizi.
"Apa urusannya dengan Anda? Anda mencari atasan saya dan Anda sangat tidak sopan saat saya bertanya anda tidak menjawab pertanyaan saya." Kesal sekretaris Andre.
"Bu Zizi." Amar.
"Amar. Apa suami saya di dalam?" Tanya Zizi pada Asisten Andre.
"Ada Bu. Silahkan masuk." Ucap Amar tak enak hati.
"Terima kasih Mar." Ucap Zizi.
Setelah melangkahkan kakinya dan sebelum dirinya masuk Zizi membalikkan badannya kembali menghadap Amar dan sekretaris baru Andre.
"Mar, saya minta cv dia." Tunjuk Zizi pada sekretaris Andre.
"Baik Bu." Amar.
Saat Zizi sudah memasuki ruangan Andre. Amar pun mendekati sekretaris itu.
"Kau tidak pernah masuk ruangan Bos?" Tanya Amar.
"Pernah. Kenapa memangnya?" Tanya Rika sekretaris baru Andre tersebut.
__ADS_1
"Kau tidak bisa melihat jika dia istri dari Bos." Geram Amar.
"Astaga! Jadi itu istrinya? Ku fikir itu adiknya." Rika.
"Bodoh! Berdo'a saja supaya Bu Zizi berbaik hati padamu." Amar.
"Maksud Bapak?" Tanya Rika.
"Sekretaris sebelumnya di pecat oleh dia gara-gara tidak sopan padanya." Amar.
"Hah! Hanya karena itu?" Rika.
"Ya. Bu Zizi sangat protektif pada Pak Andre." Amar.
"Tapi, wajar dong kan saya ga tau kalo itu istrinya." Jawab Rika karena tak pernah menyangka jika Andre atasannya sudah memiliki istri.
"Seharusnya kamu tau." Amar.
Sementara di ruangan Andre.
"Sayang, sama siapa?" Tanya Andre bangun dari duduknya.
"Sama Mami. Tapi Mami ke ruangan Papi." Zizi.
"Bagaimana tadi. Apa Mami sakit?" Tanya Andre yang khawatir tiba-tiba Maminya meminta di antar ke dokter.
"Tidak. Mami sehat." Jawab Zizi.
Mereka pun duduk di sofa. Namun, Zizi mendudukkan bokongnya di pangkuan Andre dan memeluk Andre. Zizi membenamkan kepalanya di dada Andre.
"Kenapa hm?" Tanya Andre membalas pelukkan Zizi dan mengusap rambut Zizi.
Zizi menggelengkan kepalanya dan tetap memeluk Andre. Andre mengusap lembut punggung Zizi dan membiarkan Zizi memeluknya. Kemudian terdengar ketukan di pintu ruangannya. Andre pun mempersilahkan masuk dan membiarkan Zizi tetap memeluknya.
"Maaf Pak. Ini CV yang di minta Ibu." Ucap Amar menyodorkan map pada Andre.
"CV? CV apa?" Tanya Andre bingung.
Zizi melepaskan pelukannya dan menghadap Amar. Mengambil CV dan membacanya. Andre menatap Amar seolah bertanya ada apa. Amar pun mengangkat kedua bahunya dan menggelengkan kepalanya.
"Kau yang memilihnya Mar?" Tanya Zizi.
"Mmm... Iya Bu." Jawab Amar gugup.
"Pindahkan dia jadi sekretaris kamu. Dan Jo di posisinya." Zizi.
"Ada apa sayang? Siapa?" Tanya Andre berpura-pura padahal dirinya tau apa maksud dari perkataan istrinya.
"Abang mau dia tetap menjadi sekretaris Abang?" Rengek Zizi.
"Tidak. Abang hanya bertanya." Jawab Andre.
__ADS_1
"Baiklah. Lakukan seperti apa yang aku katakan." Ucap Zizi pada Amar. Dan Amar pun berpamitan keluar dari ruangan Andre.
"Maaf ya sayang. Abang rekrut sekretaris tanpa memberitahu kamu." Andre.
"Tidak apa-apa. Hanya Zizi kurang suka dia duduk di depan ruangan Abang." Zizi.
"Apapun untuk kamu sayang. Mau minum atau makan sesuatu?" Tawar Andre.
"Zi, mau mie kuah pedas Bang." Zizi.
"Ngga ada yang lain sayang? Nanti perut kamu sakit." Tawar Andre.
"Tapi, maunya itu sama jus jeruk." Zizi.
"Sayang,,, yang lain ya." Bujuk Andre.
"Abang, Abang ga sayang ya sama dia." Tunjuk Zi pada perutnya.
"Maksudnya. Tentu karena Abang sayang pada perut kamu ini makanya makan yang lain ya." Bujuk Andre lagi.
"Bukan perut Zizi. Tapi DIA." Ucap Zizi menekan kata Dia.
"Dia?" Tanya Andre tak mengerti.
Zizi bangkit dari pangkuan Andre untuk mengambil tasnya. Tapi, Andre fikir Zizi marah dan meraih kembali Zizi untuk duduk di pangkuannya kembali.
"Iih, Abang. Sebentar dong. Zi mau ambil tas Zi." Ucap Zizi manja.
Andre yang salah sangka pun melepaskan kembali Zizi dan membiarkan mengambil tasnya. Setelah apa yang di dapatnya berhasil Zizi kembali duduk di pangkuan Andre. Zizi membuka tasnya dan mengambil sesuatu dari dalamnya.
Andre hanya diam memperhatikan pergerakan Zizi. Andre hanya memeluk pinggang Zizi dan sesekali mencium pipi Zizi. Sampai Zizi mengeluarkan selembar foto yang mirip seperti foto klise.
"Apa ini sayang?" Tanya Andre saat Zizi mengulurkan foto tersebut padanya.
"Abang liat dulu dong." Zizi.
Andre pun meraihnya dan membaca setiap tulisan yang tertera disana. Walaupun tak mengerti tapi saat dirinya membaca tulisan Dokter Rini, SpOG Andre menolehkan wajahnya pada Zizi.
Pandangannya seolah bertanya apa istrinya tangah hamil. Zizi menganggukkan kepalanya seperti mengerti apa arti dari tatapan Andre. Andre kembali melihat kertas foto yang di berikan Zizi padanya.
Tangannya gemetar dan matanya mulai berkaca-kaca. Di pandanginya dengan seksama gambar pada kertas tersebut walau hanya ada bulatan kecil di sana tapi entah apa yang ada dihatinya. Andre benar-benar tak menyangka jika hasil kerjanya membuahkan hasil.
Di tatap kembali Zizi yang masih berada di pangkuannya. Tangannya terulur pada perut Zizi yang masih rata. Zizi mengusap rambut Andre dengan air mata yang tanpa permisi meluncur di pipi mulusnya. Tangis bahagia karena kehamilannya.
"Dia." Ucap Andre lirih.
"Ya. Dia." Jawab Zizi.
"Terima kasih sayang terima kasih." Ucap Andre memeluk erat Zizi dan menciumi setiap inci wajah Zizi.
🌻🌻🌻
__ADS_1