Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Berbela Sungkawa


__ADS_3

Pagi hari Zizi telah siap di dampingi Andre suami yang baru mempersuntingnya kemarin. Olla, Nio dan Zayn pun sudah siap. Hanya Zio dan Raya yang tak ikut karena Raya tengah hamil. Walaupun ketiga jenazah telah di kebumikan para tetua melarang Keina dan Raya ikut serta.


Ken dan Tita sudah siap di salam mobil bersama Daffin. Abi dan Melan pun telah siap di mobilnya. Empat mobil beriringan menuju rumah Keluarga Damar. Andre terus menggenggam tangan Zizi sepanjang perjalanan menuju rumah Damar.


Sampai di rumah Damar mereka semua di sambut hangat oleh Paman dan Bibi Damar yang masih setia menemani Sinta. Rahmat putra sulung Paman Damar pun masih berada di sana bersama dengan keluarga kecilnya. Ada adik Rahmat juga di sana.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikum salam... Mari silahkan masuk." Sambut Paman Damar.


"Dimana Sinta?" Tanya Zizi tanpa basa basi.


"Sinta di kamar Nak. Dari kemarin baru suapan dari Nak Zayn yang masuk ke dalam mulutnya. Dia pun hanya tidur sebentar terus kembali menangis semalam. Aisah sudah membujuknya tapi Sinta tetap menangis." Jawab Paman Damar.


"Boleh saya masuk paman?" Tanya Zizi.


"Boleh Nak. Silahkan." Paman Damar.


Zizi pun menoleh ke arah Andre dan Andre mengangguk tanda setuju. Zizi pun melangkahkan kakinya menuju kamar Sinta yang memang sudah di ketahuinya. Saat melewati kamar Damar Zizi sempat berdiri sejenak memandangi kamar tersebut.


Semua pun menunggu apa yang akan di lakukan Zizi di hadapan kamar Damar. Dan ternyata Zizi menundukkan kepalanya kemudian mengangkatnya kembali. Zizi pun melanjutkan langkahnya menuju kamar Sinta.


Zizi mengetuk pintu kamar sebelum memasukinya. Aisah adik Rahmat membukakan pintu kamar Sinta. Kemudian Aisah memberi jalan Zizi untuk masuk. Zizi melangkahkan kakinya mendekati Sinta tang tengah terduduk di tempat tidur dengan pandangan lurus ke depan.


Zizi mendudukkan bokongnya di samping tempat tidur. Sinta menoleh saat dirinya merasakan kehadiran seseorang di sisinya.


Grep...


Keduanya saling berpelukan dan menumpahkan kesedihan di antara keduanya. Pelukkan keduanya begitu erat seolah tak ingin terpisahkan.


"Ada Zizi yang Kak." Ucap Zizi lirih.


Entah mengapa Zizi memanggil sinta dengan sebutan Kak. Berbeda saat Damar masih ada. Zizi memanggil Sinta dengan sebutan adik. Entahlah. Rasanya semua berbeda.


Sinta menganggukkan kepalanya dalam pelukkan Zizi. Sejenak keduanya larut dalam kesedihan mereka masing-masing. Walau pertemuannya dengan Damar dan kedua orang tuanya begitu singkat namun tak ada kenangan pahit di dalamnya.

__ADS_1


Damar yang begitu sabar menghadapinya. Orang tua Damar yang begitu menerima kehadiran Zizi dan menyambut hangat setiap kedatangannya membuat Zizi tak bisa melupakan hari-hari itu.


Sementara Tanio mengungkapkan rasa dukanya yang terdalam buat keluarga besannya yang batal menjadi besan. Paman Damar pun mengucapkan permohonan maafnya atas batalnya pernikahan keponakan dan putri dari Tanio yang di ketahui paman Damar adalah seorang CEO dari MD grup.


"Tidak apa-apa Pak. Itu semua takdir Tuhan. Kita tidak bisa menghindarinya. Kita hanya bisa berencana Tuhan lah yang menakdirkannya." Tanio.


"Semoga kita masih bisa bersilaturahmi ya Pak, Bu." Olla.


"Iya Bu. Dengan senang hati kami akan selalu menerima kehadiran keluarga anda." Ucap Bibi Damar.


Percakapan mereka pun sejenak terhenti ketika Aisah datang tergesa dari kamar Sinta.


"Maaf Pak. Kak Sinta pingsan lagi." Ucap Aisah.


"Astagfirullah... Maaf sebentar saya pamit melihatnya dulu." Pamit paman Damar.


"Saya bisa ikut Pak." Ucap Tita.


"Mari silahkan Bu." Jawab Paman Damar.


Tita bangkit dari duduknya di ikuti Olla, Melan dan Zayn. Tanio heran melihat anaknya yang ikut berdiri.


"Mau lihat Sinta Yah." Jawab Zayn santai.


Ken menepuk bahu Nio memberi kode.


"Kenapa anak itu ikut masuk?" Gumam Nio.


"Selalu ada hikmah di balik kejadian Bang." Ken.


"Maksud Lu?" Nio.


"Andre bisa bersatu dengan Zizi dan sepertinya ada sesuatu pada hati Zayn untuk Sinta." Ken.


Nio memandang Ken tajam. Ken hanya bersikap acuh melihat pandangan tajam kakak ipar sekaligus sahabatnya itu.

__ADS_1


Sementara di kamar Sinta, Zizi tengah berusaha menyadarkan Sinta dengan menggunakan minyak kayu putih. Tapi sepertinya Sinta begitu larut dengan kesedihannya.


Tita mendekati Zizi dan memintanya untuk bergeser. Zizi memberi ruang pada Tantenya. Tita memeriksa Sinta dengan seksama. Kemudian Tita kembali bangkit dari duduknya.


"Sebentar Sinta akan kembali sadar. Beri dia makan saat dia sadar." Titah Tita.


"Saya bisa meminta bubur Bi?" Tanya Zayn tiba-tiba.


Semua mata menoleh padanya dan Bibi Sinta pun segera mengiyakan permintaan Zayn. Olla saling tatap dengan Zizi. Zizi pun menggeleng kecil tanda tak tau apa yang terjadi dengan Zayn.


"Temani Sinta dan berikan dia makan. Kami menunggu di depan." Ucap Tita menepuk bahu keponakannya.


Melan mengajak Olla keluar begitu juga dengan Zizi yang di minta Tita untuk keluar. Menyisakan Zayn dan Sinta di dalam. Paman Sinta dan juga Aisah ikut keluar bersama dengan yang lainnya.


Zizi mendudukkan dirinya di samping Andre. Andre menautkan jari-jari tangannya dengan jari tangan Zizi dan Zizi pun meresponnya. Paman Zizi merasa senang Zizi dapat menerima kehadiran suami pengganti keponakannya.


Walaupun dirinya tau itu begitu sulit tapi Paman Damar dapat melihat ketulusan di mata Andre. Mereka pun berbincang santai sampai Zizi meminta untuk mendatangi makam Damar dan kedua orang tuanya.


Paman Damar pun bersedia mengantarkan mereka semua bersama dengan Rahmat putranya. Sementara Zayn di tinggal untuk menemai Sinta bersama Aisah dan Bibi Sinta. Tak sedikit pun Zayn merasa keberatan.


"Duduklah. Kamu harus makan." Titah Zayn saat kesadaran Sinta kembali.


Seolah terhipnotis Sinta pun menuruti ucapan Zayn. Zayn memperbaiki rambut Sinta yang terurai dengan telaten Zayn merapihkannya dan mengikatnya dengan ikatan rambut yang di mintanya dari Aisah.


Sinta hanya diam menuruti apa yang di lakukan oleh Zayn. Bahkan Sinta pun membuka mulutnya begitu sendok makanan mendekati mulutnya. Tatapannya menatap Zayn sendu.


Bibi Sinta pun senang akhirnya Sinta mau makan walaupun hanya bubur buatannya. Bibi pun mengajak Aisah keluar dari kamar Sinta dan membiarkan pintu kamarnya tetap terbuka. Bibi Sinta memberikan ruang pada Zayn dan Sinta.


Zayn dengan telaten terus menyuapi Sinta hingga bubur di dalam mangkuk habis. Setelah semua bubur habis Zayn menaruh mangkuk di atas nakas dan memberikan Sinta minum.


"Terima kasih." Ucap Sinta lirih.


"Istirahatlah... Semalaman kamu belum tidur." Zayn.


Zayn membantu Sinta mencari posisi nyamannya kemudian menyelimutinya hingga ke pinggang. Sinta memejamkan matanya dan Zayn mengusap lembut puncak kepala Sinta hingga Sinta terlelap.

__ADS_1


Dengkuran halus dari mulutnya menandakan jika Sinta telah tertidur. Zayn pun bangkit dari duduknya keluar dari kamar Sinta. Zayn menunggu keluarnya kembali dari makam Damar dan kedua orang tuanya di ruang utama.


🌻🌻🌻


__ADS_2