
Laras bergegas masuk ke dalam sambil menggendong Galuh. Tas yang di bawanya sudah di bawakan bibi. Laras melihat Ayah nya tengah memangku Keina di ruang utama.
"Selamat pagi." Sapa Laras.
"Pagi. Loh, mana Gagah?" Tanya Burhan.
"Sudah berangkat." Jawab Laras.
"Kakak sakit?" Tanya Laras memegang kening Keina.
"Sedikit." Jawab Keina.
"Kenapa tidak tiduran sayang." Laras.
"Capek Kak tiduran terus." Keina.
"Yang lain mana Yah?" Laras.
"Ibu sedang membantu Kak Olla memandikan Zizi, Kakak mu juga sedang memandikan Daffin. Melan dan Kak Olla sedang menyiapkan Zio, Zayn, Daren dan Andre sekolah." Jelas Burhan.
"Kok kalian jahat sih ga kasih kabar kalo mau menginap?" Laras.
"Kakak mu Nio mendadak bilang mau menginap." Elak Burhan.
Padahal Nio memang sudah merencanakan akan menginap berhubung Bapak dan Ibu angkatnya ada di kota mereka. Hanya Abi dan Melan yang mendadak ikut menginap.
"Astaga! Kak Nio selalu begitu." Laras.
Tak lama Marni datang menggendong Zizi dan Tita menggendong Daffin. Di susul Melan dan Olla beserta anak-anaknya.
"Loh, dek udah datang." Tita.
"Iya baru aja Kak." Laras.
Begitulah panggilan mereka. Jika berada di lingkungan Ayah dan Ibu nya maka panggilan berubah menjadi Kakak sedang jika di lingkungan keluarga Ito maka panggilan pun menjadi Onty.
Pada awalnya sangat canggung dan sering lupa tapi berjalannya waktu mereka pun sudah terbiasa. Karena jika Laras dan Gagah datang ke Manson sudah harus otomatis memanggil Tita dengan sebutan Kakak. Tapi jika Tita yang datang ke rumah keluarga Ito maka Laras memanggilnya dengan Onty.
"Kalian berdua akan mengantarkan anak-anak?" Tanya Burhan pada Olla dan Melan.
"Iya Pak. Olla mau mengantarkan Zio dan Daren. Sedang Melan mengantarkan Andre dan Zayn." Olla.
"Hati-hati. Apa tidak sebaiknya menggunakan supir saja." Saran Burhan.
"Ngga perlu Pak. Kami sudah terbiasa." Olla.
"Ya sudah hati-hati. Segera pulang jika sudah selesai." Burhan.
__ADS_1
"Iya Pak."
Jawab Olla dan Melan bersamaan.
"Olla titip Zizi ya Bu." Pamit Olla pada Marni.
"Iya sudah sana pergi nanti keburu kesiangan anak-anak kasian." Marni.
"Dah semuanya. Kita pergi dulu." Melan.
"Wah,,,, udah wangi nih baby." Ucap Laras pada Zizi.
Galuh ingin menggapai Zizi yang berada dalam gendongan Marni. Dan benar saja begitu Galuh mendapatkan kaos kaki Zizi langsung di tariknya. Dan tak sengaja mengenai kaki mungil Zizi dan Zizi pun menangis histeris.
"Astaga! Sayang. Kenapa di tarik kaki Kak Zizi nya." Ucap Laras yang juga berusaha menenangkan Galuh yang ikut menangis kaget mendengar Zizi menangis.
Begitu juga dengan Daffin yang juga ikut histeris. Dan terjadilah tangisan masal. Keina yang sedang sakit pun hanya bisa menarik nafas panjang mendengar tangisan mereka. Beruntung mereka tak lama menangis. Laras bisa cepat mengendalikan putranya begitu juga dengan Tita dan Marni.
"Mom, Keina mau bobo." Ucap Keina.
"Baiklah. Ayo." Tita.
"Kalo gitu sini Daffin sama Ayah. Biar kamu bisa jaga Keina." Pinta Burhan.
"Terima kasih Pak." Tita.
"Iya Ta. Kami ini orang tua kamu jadi sudah sepatutnya kami di repotkan oleh anak-anak kami." Marni.
"Iya Bu. Terima kasih." Tita.
Kemudian Tita pun membawa Keina ke dalam kamarnya untuk di tidurkan. Mungkin Keina mengantuk karena efek obat yang di minumnya. Tak berapa lama Keina pun tertidur. Tita meminta salah satu bibi untuk menjaganya.
Kemudian Tita pun kembali bergabung bersama Ibu, Bapak dan Laras. Di sana terlihat Zizi dan Daffin di tidurkan di stroller sementara Galuh bermain di atas karpet dengan penjagaan Burhan, Marni dan Laras tentunya.
Mereka semua pun harus waspada karena Galuh bisa sewaktu-waktu mengganggu Zizi dan Daffin. Entah bagaimana Galuh tiba-tiba sudah berada di sisi stroller Zizi dan Daffin. Tak ada yang di lakukan Galuh hanya memperhatikan kedua bayi itu.
Namun, Laras dan marni begitu panik takut Galuh melakukan sesuatu di luar dugaan mereka. Laras langsung mengalihkan perhatian Galuh pada mainannya.
"Galuh sedang apa?" Tanya Tita yang baru saja ikut bergabung.
"Nan." Ucap Gagah yang belum fasih berkata-kata.
Galuh lebih dulu tumbuh gigi dan berjalan sedang untuk bicara masih beberapa kata saja. Berbeda dengan Gean yang sudah banyak mengeluarkan kata tapi gigi nya belum semua tumbuh.
"Galuh main apa?"
"Bimbim." Jawab Galuh.
__ADS_1
"Wah, bagusnya mainan Galuh. Pasti baru lagi ya?" Tita.
"Bunda selalu membelikan mainan baru untuk Galuh dan Gean." Laras.
"Kak Ayu memang begitu. Keina saja hampir semua mainannya Kak Ayu yang membelinya." Tita.
"Kamu datang hari apa dari jepang?" Marni.
"Dua hari sebelum Kakak melahirkan. Itu pun Oma yang memaksa pulang karena katanya perasaannya tidak enak." Laras.
"Iya. Itu Ibu langsung telfon menanyakan apa sudah ada tanda mau melahirkan atau belum. Padahal Tita sudah bilang kalo belum ada tanda apapun tapi Ibu bersikeras untuk pulang. Dan ternyata benar saja dua hari ibu di sini Daffin lahir." Jelas Tita.
"Daffin memang ingin di tunggu oleh Opa dan Omanya." Burhan.
"Iya Pak. Itu sebelumnya Ibu sama Ayah datang kesini dulu dan Tita masih santai belum ada tanda apapun." Tita.
"Melahirkan yang ketiga ini sakit ga Kak?" Laras.
"Hus... Ngaco kamu. Semuanya ya sama sakit. Mana ada yang ga sakit. Hanya bagaimana kita bisa menganganinya itu sudah lebih terkontrol." Tita.
"Kamu berencana memberi adik Galuh?" Marni.
"Tidak." Laras.
"Kenapa tidak? Kalian masih muda." Burhan.
"Eh, maksud Laras tidak sekarang Yah. Lihat saja Galuh masih kecil masa Laras udah hamil lagi." Laras.
"Kenapa ngga. Itu bukan sebuah alasan Laras." Tita.
"Ih, Kakak jangan gitu dong. Rasanya melahirkan Galuh saja masih terasa begini." Laras.
"Haha... Kalo buatnya sih ga kerasa ya Dek." Goda Tita.
"Eh, lihat Bu Yah. Kakak mesum." Laras.
"Ceh, ngadu. Bukannya kamu yang mengajarkan Kakak mesum." Tita.
"Eh, mana bisa begitu. Kakak lah yang mengajarkan Adeknya." Laras.
Burhan dan Marni tersenyum hangat melihat keakraban anak-anaknya walaupun tak sedarah tapi mereka bisa mengisi satu dengan yang lainnya. Burhan dan Marni begitu beruntung di amsa tuanya di kelilingi orang-orang yang begitu menyayangi mereka.
Perselisihannya dengan mantan asistennya dan juga mantan suami Marni sudah teratasi oleh Ken dan Tanio. Dan perusahaan milik Burhan di serahkan padanya. Semuanya sudah tak berati lagi bagi Burhan. Kini dia hanya ingin menikmati masa tuanya di peternakan.
Tita, Ken, Laras, Tanio dan Olla pun menyetujuinya. Mereka tak ingin Burhan kembali bekerja mengingat usianya yang tak lagi muda.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏