
Melihat anggukan Tita sebagai jawaban Ayumi tak mengerti kenapa orang tersebut bisa melakukan hal yang begitu merugikan perusahaan. Sementara Tita melenggang masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian.
Setelah itu Tita kembali ke luar menemui Keina, Laras dan Ayumi. Tita duduk di antara Laras dan Ayumi. Dengan Keina yang asik bermain di depan mereka. Tita meminta Bibi membuatkan jus buah untuknya.
"Mikha sudah mengetahuinya?" Tanya Ayumi semakin penasaran.
"Berawal darinya kami mengetahui ini Kak." Tita.
"Apa! Bagaimana bisa kalian lengah?" Ayumi.
"Sebenarnya Kak.Nio sudah merasa curiga dengan adanya program tersebut. Mas Ken pun telah memberitahukannya pada Tita hanya saja saat Itu Tita tidak terlalu mempermasalahkannya. Itu kesalahan Tita. Dan sampai akhirnya setelah di selidiki dia sudah berbuat sangat jauh." Jelas Tita menghembuskan nafas kasar.
Laras hanya diam menyimak pembicaraan Mertua dan Onty nya. Laras tak begitu faham masalah bisnis. Jadilah Laras hanya sebagai pendengar setia saja.
"Setelah Mikha mengabari kejanggalan di perusahaan Tita barulah Mas Ken dan Kak Nio mengecek dan beginilah sekarang Kak." Tita.
"Kamu tidak menerima laporan apapun dari Arif dan Tari?" Ayumi.
"Terima Kak. Hanya Tita serahkan pada Mas Ken. Beberapa kali Mas tanya sama Tita hanya saja Tita terlalu terpaku pada kesedihan Tita karena kehilangan Tiara." Ucap Tita menundukkan kepalanya.
"Bersabarlah. Kalian pasti bisa melewatinya." Ucap Ayumi mengusap bahu Tita.
"Ya. Semoga semua berjalan lancar Kak." Tita.
"Lantas bagaimana rencana kalian setelah ini? Apa kamu akan bekerja kembali?" Ayumi.
"Perusahaan akan di ambil alih Mas Ken Kak. Dengan di pimpin oleh Arif. Jadi, untuk kedepannya Mas Ken memiliki kuasa penuh tanpa harus menunggu keputusan Tita. Tita hanya ingin fokus mengurus anak saja." Tita.
"Jika itu lebih baik. Kakak dukung saja Ta." Ayumi.
"Ibu dan Ayah juga kasian jika harus di repotkan oleh anak-anak nantinya. Walaupun kalian ada di sini bersama kami." Tita.
"Kita keluarga sayang. Apapun yang terjadi di keluarga ini kita hadapi bersama." Ayumi.
"Terima kasih Kak. Sudah mau tinggal bersama kami dan di repotkan." Tita.
"Tidak perlu berbicara seperti itu. Tuhan sudah memiliki rencana di balik semua ini. Kita ambil hikmahnya saja. Dengan kita tinggal satu atap membuat kita semakin kuat." Ayumi.
Mereka berdua pun saling berpelukan membuat iri Laras yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia.
"Bunda, Onty. Kenapa Laras ga di ajakin pelukkan." Ucap Laras lirih.
Ayumi dan Tita melerai pelukkannya dan merentangkan tangan mereka untuk Laras bisa masuk kedalam pelukan mereka berdua dan mereka bertiga pun saling berpelukkan. Dan pelukkan mereka pun di kejutkan oleh pertanyaan seseorang.
"Ngapain kalian berpelukkan? Sudah seperti Teletubbies saja." Ucap Bagas yang baru saja datang bersama Hena.
Bukan hanya Tita, Ayumi dan Laras yang menoleh tapi juga Keina. Keina bangkit dari duduknya dan menghambur ke dalam pelukkan Bagas.
__ADS_1
"Opa,,, Oma...." Teriaknya riang.
"Apa kabar cucu Opa yang paling cantik?" Tanya Bagas menggendong Keina.
"Baik Opa. Opa cama Oma temana aja? Kei anen." Ucap Keina lancar.
Bagas dan Hena saling tatap mendengar perkataan Keina yang semakin lancar dan jelas.
"Opa sama Oma kaget ya? Makanya Opa, Oma perginya jangan terlalu lama. Ketinggalan perkembangan Keina kan?" Ucap Ayumi.
"Hahaha... Kau tau saja." Bagas.
Hena pun mendekati mereka bertiga saling berpelukkan dan mencium pipi kanan dan kiri pada masing-masing keponakannya dan cucu menantunya.
"Tante kemana aja?" Tita.
"Tuh, ada yang ga mau pergi dinas sendiri." Tunjuk Hena pada Bagas.
"Ceh, biarkan saja Om Bagas pergi sendiri." Ayumi.
"Owh! Jangan dong. Nanti banyak yang mau deket-deket Om gimana." Elak Bagas.
"Banyak yang deketin Opa atau Oma?" Goda Laras.
"Kau ini. Tentu Opa lah." Ucap Bagas.
"Pergi ke rumah Ai." Ayumi.
"Ada apa? Tumben sekali siang-siang begini mereka ke sana." Bagas.
"Loh, Om sama Tante belum tau?" Tita.
"Tau apa?" Hena.
"Kak Ai kan stroke." Tita.
"Astaga! Kenapa tak ada yang memberitahu kami." Bagas.
"Benarkah? Maafkan Kami Om. Di sini juga terlalu banyak masalah yang kami hadapi." Ayumi.
"Tidak masalah. Bagaimana keadaannya sekarang?" Hena.
"Sudah jauh lebih baik Tan. Sekarang Kak Ai sedang menjalani terapi bersama Gagah dan Dokter Emanuel." Tita.
"Wow! Langsung di tangani Dokter Emanuel. Baguslah." Bagas.
"Bagaimana ini pengantin? Sudah ada yang isi?" Tanya Hena pada Laras.
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah Oma. Ini sudah ada Gagah junior." Tunjuk Laras pada perutnya yang sedikit membuncit.
"Benarkah? Selamat sayang." Ucap Hena tulus.
"Bagaimana dengan Gladys?" Bagas.
"Jangan di tanya dong Om. Mereka baru saja menikah dua minggu lalu." Protes Ayumi.
"Astaga! Aku melupakannya. Bagaimana dengan kamu Ta? Tidak menunda kehamilan lagi kan?" Bagas.
"Tidak Om. Semoga kami cepat mendapat kabar gembira lagi." Ucap Tita dan di amini semua yang ada di sana.
Mereka pun saling bercengkrama melepas kerinduan mereka yang sudah dua minggu tidak bertemu. Keina terus menempel pada Bagas seperti biasanya. Hingga Hena merasa kesal karena jika ada Bagas Hena seolah terlupakan oleh Keina.
Tak lama Gagah dan Rehan datang setelah menjalankan tugas mereka di rumah sakit. Gagah dan Rehan memang membatasi kerja mereka di rumah sakit karena ingin lebih lama bersama keluarga. Apalagi Gagah yang selalu merindukan istri tercintanya yang tengah mengandung buah cinta mereka.
"Kapan Opa dan Oma datang?" Tanya Gagah.
"Siang tadi. Bagaimana kabar calon Ayah ini?" Tanya Bagas.
"Baik Opa. Bahkan jauh lebih baik setelah mendengar kabar kehamilan Laras." Gagah.
"Baguslah. Bagaiman mertua mu sudah di beritahu?" Bagas.
"Sudah Opa. Dan mereka tidak bisa datang karena kesibukan di sana. Mungkin saat acara empat bulanan nanti mereka akan usahakan datang." Gagah.
"Ya. Kau harus mengerti situasi di sana. Mereka memulainya dari nol dan sudah pasti sangat repot." Bagas.
"Ya. Opa benar." Gagah.
"Kau tidak apa-apa kan Ras?" Tanya Hena.
"Tidak Oma. Sepertinya Gagah junior hanya ingin bersama Omanya yang disini." Ucap Laras.
"Benarkah? Kejadian lagi seperti saat Tita hamil Keina?" Tanya Hena tak percaya.
"Iya Tan. Laras tak bisa lepas dari Kak Ayu. Bahkan tidur harus di keloni Kak Ayu terlebih dahulu barulah dia bisa tidur." Tita.
"Benar begitu Ras?" Hena.
"Iya Oma. Entah kenapa rasanya ingin deket Bunda terus. Dan makanan dari suapan Bunda itu jauh lebih nikmat dari pada suapan Kak Gagah." Jelas Laras.
Bagas dan Hena pun tertawa mendengar penjelasan Laras dan Tita. Mereka tak menyangka jika itu akan kejadian lagi dan kali ini menimpa Ayumi.
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏
__ADS_1