
Dua minggu sudah Keina masih bertahan dengan tidur panjangnya. Bahkan luka-lukanya saja sudah mengering. Suster sudah melepaskan perban yang menempel di kepala Keina. Daren benar-benar memindahkan pekerjaannya ke rumah sakit karena dirinya tak ingin meninggalkan Keina.
"Sayang, siang ini Mommy dan Daddy berhalangan datang. Hanya ada kita disini. Mungkin sore nanti Raya dan Bang Zio datang seperti biasa." Ucap Daren pada Keina yang masih setia tertidur.
"Sayang,,," Panggil Daren lirih.
Setiap hari Daren tak henti mengajak Keina berbicara walaupun tak ada balasan apapun dari Keina. Suster yang setiap hari merawat Keina begitu memuji kesetiaan Daren yang terus berada di sisi Keina walaupun Keina tak menunjukkan kemajuan apapun selain lukanya yang sembuh.
Karena itu pula yang menbuat Daren yakin jika Keina akan bangun. Daren selalu meyakinkan dirinya jika Keina akan kembali padanya. Walaupun dokter tak memberikan jawaban apapun atas pertanyaannya.
Ceklek,,,
Terdengar pintu ruang perawatan Keina terbuka. Daren menoleh ke arah pintu. Angga datang dengan membawakan bunga seperti biasa titipan dari Gladys.
"Pagi Ren.." Sapa Angga.
"Pagi Kak." Daren.
"Bagaimana? Ada perkembangan?" Angga.
"Belum ada Kak. Tapi, kemarin dokter sudah membuka perban lukanya." Daren.
"Terus berdo'alah Ren." Angga.
"Iya Kak. Apa Kakak jaga hari ini?" Daren.
"Ya. Ayah sudah datang?" Angga.
"Semalam Yaya ke sini." Daren.
"Onty dan Oncle ada acara di perusahaan." Angga.
"Ya. Itu tidak masalah Kak." Daren.
Setelah itu Angga pun berpamitan untuk kembali menjalankan tugasnya. Hari ini benar-benar waktu untuk berdua antara Daren dan Keina. Hanya ada Angga yang datang pagi tadi membawakan sekuntum bunga mawar setiap harinya.
Menurut Gladys biar Keina tau seberapa lama dirinya tertidur dengan sisa kuntum perkuntum bunga mawar yang layu. Gladys selalu tak kuat jika datang ke rumah sakit melihat Keina yang sekarang semakin kurus.
Selesai makan siang yang di bawakan Rasya untuknya. Rasya memang selalu bolak balik setiap hari. Daren mendudukkan dirinya kembali di samping Keina.
"Sayang,,, Abang sudah makan siang. Dan selalu sama. Makanan yang masuk ke mulut abang rasanya tak enak. Walaupun kamu menemani Abang makan tapi kamu tak bisa ikut abang makan." Daren.
Daren menggengam tangan Keina dan menundukkan kepalanya. Keningnya menempel pada tangannya yang menggenggam tangan Keina. Isak tangisnya selalu saja berhasil lolos.
"Euhmm..."
Terdengar suara lenguhan dari mulut Keina. Daren segera mengangkat kepalanya dan melihat reaksi Keina. Bola mata Keina bergerak tak beraturan. Daren pun segere menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
Tak lama dokter dan satu orang perawat datang menanyakan apa yang terjadi pada Keina.
__ADS_1
"Apa yang terjadi tuan?" Dokter.
"Baru saja dia bersuara Dok. Bahkan saya lihat bola matanya bergerak." Daren.
Dokter pun segera memeriksa keadaan Keina. Daren menunggu hasil pemeriksaan dengan tenang. Dokter menghembuskan nafasnya lega.
"Selamat tuan. Penantian panjang anda akan segera berakhir. Nona Keina akan segera sadar sepertinya. Hanya saja saya tidak bisa memprediksi kapan beliau sadar." Dokter.
"Alhamdulillah.. Syukurlah Dok. Terima kasih. Tidak apa dok saya akan menunggunya." Daren.
Mata Daren berkaca-kaca mendengar penjelasan dokter. Hatinya berdetak tak karuan menunggu kesadaran Keina. Dokter dan suster pun berpamitan kembali ke tempat mereka setelah selesai memeriksa Keina.
"Terima kasih sayang terima kasih... Teruslah berjuang untuk kembali padaku." Ucap Daren mencium kening Keina.
Karena bahagia dan perut sudah terisi Daren pun tertidur dengan memeluk lengan Keina yang terbebas dari infusan. Dan tanpa di sadari Keina pun terbangun. Matanya melihat lurus atap rumah sakit. Kemudian melihat seseorang yang tertidur di sampingnya.
Keina mengangkat tangannya yang terpasang infus dan mengulurkannya ke atas kepala Daren kemudian mengusapnya lembut. Merasa ada yang menyentuhnya Daren pun membuka matanya.
Mengangkat kepalanya dan menghadap ke arah Keina. Matanya berkaca-kaca dan mukutnya bergetar sementara Keina memberikan senyuman manisnya.
"Sayang.." Ucap Daren bergetar.
"Bang,," Panggil Keina.
Daren langsung memeluk Keina. Tangisnya pecah. Bukan karena bersedih melainkan karena bahagia berkecamuk di dadanya.
"Terima kasih sayang." Ucapnya lirih.
"Sayang, kau sudah membuat Abang panik selama dua minggu." Daren.
"Dua minggu!" Keina.
"Iya sayang. Kamu tertidur begitu lama." Ucap Daren mengusap lembut pipi Keina yang semakin kurus.
"Maafkan Kein Bang sudah membuat Abang panik." Keina.
"Ssstt... Abang senang Kein sudah bangun untuk Abang." Daren.
Daren pun kembali memanggil dokter untuk memeriksakan keadaan Keina yang sudah tersadar. Dan syukurlah dokter menyatakan jika Keina sudah lebih baik.
Daren mengirimkan pesan pada semua keluarganya jika Keina sudah tersadar. Ken pun segera menghubungi Daren dan menanyakan kebenarannya. Ken pun segera meninggalkan acara perusahaannya begitupun dengan yang lainnya.
"Mas, Daren sedang tidak mengerjai kita kan karena kita tidak datang hari ini." Melan.
"Tidak sayang. Ken sudah mengkonfirmasi langsung pada anak kita." Abi.
"Syukurlah." Melan.
Angga yang masih berada di rumah sakit pun langsung mendatangi adik sepupu dari istrinya itu. Dan ternyata benar, saat dirinya memasuki ruangan Keina terlihat Keina sedang duduk bersandar di tempat tidurnya dengan senyumannya yang merekah.
__ADS_1
"Adik.." Panggil Angga.
"Kakak." Keina.
"Hah! Syukurlah Dik. Bagaimana keadaan kamu sekarang?" Angga.
"Udah baikan Kak. Dimana Kak Glad?" Keina.
"Di rumah. Dan akan menyusul kesini bersama Gean dan Gea." Angga.
"Terima kasih Kak." Keina.
"Kau begitu beruntung Kein. Daren tak pernah sebentar pun meninggalkan kamu kecuali mandi." Angga.
Keina melirik ke arah Daren dan Daren hanya tersenyum menatap tunangannya itu.
"Apa benar itu Kak? Jangan-jangan dia akan berkeliaran menggoda para perawat disini saat kalian tidak ada." Ucap Keina dengan lirikan manja pada Daren.
"Ah, mungkin saja ya." Ucap Angga yang tau adiknya tengah mengerjai Daren.
"Kau lihat saja cctv rumah sakit ini." Jawab Daren santai.
"Hahahaaa.... Calon suami ku sangat menggemaskan Kak." Ucap Keina.
"Astaga! Sayang. Baru saja kamu sadar kanu sudah mengerjai aku." Daren.
"Bersiaplah Ren. Adik ku telah kembali." Goda Angga.
"Hah! Itu yang aku rindukan Kak. Apapun keadaannya asalkan dia sadar dan bisa menatapku aku bahagia." Daren.
"Gombal." Keina.
"Lihatlah Kak. Dia bahkan mengatai ku gombal ketika aku berkata tulus." Ucap Daren dengan wajah di buat cemberut.
"Hahaha... Kalian memang pasangan yang cocok." Angga.
"Apa tunangan ku terlihat begitu merindukan ku Kak saat aku tertidur?" Keina.
"Sepertinya tidak. Bahkan dia sangat bahagia." Angga.
"Astaga! Kakak..." Daren.
"Hahaha... Kau lihatlah. Betapa dia bahagianya." Tunjuk Angga pada Daren.
"Kak, saya rasa kau perlu memeriksakan matamu ke dokter mata." Daren.
"Hahahahaa...."
🌻🌻🌻
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏