
Teriakan Sinta sampai ke bawah dan membuat Olla dan Nio berlari menghampiri kamar putranya. Nio dan Olla takut terjadi sesuatu dengan menantu barunya. Olla segera mengetuk pintu kamar bahkan setengah menggedornya.
Zayn berteriak agar orang yang menggedor pintunya masuk karena Zayn sudah membukanya melalui tombol yang ada di dekat tempat tidurnya sementara Zayn tengah mendekap Sinta.
"Ada apa?" Tanya Nio.
"Entahlah Yah. Tadi Zayn akan mandi tapi saat Zayn akan menutup pintu kamar mandi Sinta berteriak." Jelas Zayn.
Sinta yang tengah menangis dalam dekapan Zayn hanya diam tak menjawab. Hanya suara isaknya yang terdengar. Olla pun mendekati ranjang mereka dan duduk di samping Sinta.
"Sayang, ada apa?" Tanya Olla lembut.
Sinta melirik ke arah Olla tapi pelukannya tak sedikit pun di lepaskan.
"Abang mau tinggalin Sinta Bun." Jawab Sinta di sela isak tangisnya.
"Hah! Zayn." Peringat Olla.
"Sayang, Abang hanya mandi sebentar. Badan Abang lengket. Apa kamu tidak mencium bau keringat Abang?" Tanya Zayn lembut.
"Tidak. Abang bohong. Padahal Abang mau pergi kan ninggalin Sinta." Ucapnya lagi.
"Baiklah. Bunda temani Sinta ya di sini sebagai jaminan Abang tidak akan kemana-mana. Abang hanya akan mandi." Bujuk Olla.
"Ngga. Nanti Bunda juga di bohongin Abang. Abang mau pergi huaaa .." Tangis Sinta semakin menjadi.
"Bun, sebaiknya kita keluar. Biar Zayn mengatasi semuanya." Ajak Nio.
"Baiklah. Bunda sama Ayah keluar dulu ya. Kamu tenang. Abang tidak akan pergi." Olla.
Setelah orang tuanya keluar Zayn di buat bingung bagaimana dirinya bisa lepas untuk sekedar mandi. Akhirnya dengan terpaksa Zayn membawa serta Sinta masuk kedalam kamar mandi karena Zayn tak mungkin tidur tidak mandi.
Sinta duduk manis di closet sementara Zayn mandi dengan tenang di bawah guyuran air shower. Sebagai wanita normal jujur saja Sinta tergoda dengan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna di hadapannya. Zayn yang semula ragu untuk membuka semua bajunya pun akhirnya pun membuka seluruh pakaiannya.
Selesai mandi dan mengenakain pakaiannya Zayn pun membawa Sinta kembali ke atas tempat tidur mengajaknya untuk tidur. Zayn cukup lelah hari ini dengan segala rentetan kejadian yang menguras tenaga dan fikirannya.
Sinta pun tidur dalam dekapan Zayn dengan nyaman pelukannya begitu erat karena memang takut Zayn akan pergi. Namun, setelah tidurnya lelap pelukkannya mengendur dan Zayn pun dapat bernafas dengan lega.
Pagi hari Zayn pergi jogging seperti biasa meninggalkan Sinta yang masih terlelap. Zayn fikir saat dirinya kembali setelah jogging Sinta pun masih terlelap. Namun, bayangannya salah besar. Saat dirinya kembali Sinta tengah meringkuk dan menangis karena dia fikir Zayn benar-benar pergi meninggalkannya.
"Sayang," Panggil Zayn yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Abang,, Huaaa...." Tangis Sinta memeluk Zayn.
"Sssttt... Kenapa sayang? Maaf Abang pergi jogging tidak memberitahukan kamu. Karena tadi kamu masih tidur sayang." Bujuk Zayn agar Sinta lebih tenang.
"Mmm... Abang bau." Ucap Sinta melepas pelukannya.
"Hahaa... Kamu lucu. Tentu saja. Bahkan keringat Abang pun masih basah." Ucap Zayn.
"Abang mandi sana bau." Usir Sinta.
"Eh, Abang di usir? Ga ikut mandi sama Abang lagi?" Tanya Zayn.
"Nggak. Tapi, jangan tutup pintu kamar mandinya." Ucap Sinta malu-malu.
"Baiklah. Tunggu Abang mandi ya." Zayn.
Di meja makan Sinta duduk bersama Zayn, Olla dan Nio. Sinta makan dengan lahap hidangan sarapan mereka karena lapar setelah menangisi Zayn yang tengah berolah raga.
"Sayang, hari ini Abang dan Ayah akan ke kantor. Kamu di rumah sama Bunda ya. Nanti akan ada Zizi selepas Zizi berkuliah ada Tante Melan juga biasanya datang." Bujuk Zayn.
"Tapi, Abang akan pulang kan?" Tanya Sinta seperti anak kecil yang merajuk takut di tinggalkan.
"Tentu dong. Abang akan menyelesaikan pekerjaan Abang dengan cepat dengan begitu Abang akan cepat pulang." Zayn.
"Tentu." Zayn.
"Bagaimana aku bisa menghubungi Abang?" Tanya Sinta karena Zayn mengatakan jika ponselnya hilang saat dirinya kecelakaan. Padahal itu pun ponsel baru yang dibelikan Zayn setelah kecelakaan maut itu.
"Abang sudah meminta Ruli untuk membelikan ponsel baru untuk kamu. Mungkin siang ini akan di anatarkan olehnya ke sini." Jelas Zayn.
"Sinta boleh menghubungi Abang nantinya?" Tanya Sinta lagi.
"Boleh dong." Zayn.
"Terus kalo Ruli belum datang juga bagaimana?" Tanya Sinta cemas.
"Ada ponsel Bunda sayang. Sinta bisa menghubungi Zayn menggunakan ponsel Bunda." Ucap Olla.
"Iya sayang. Bunda ada di rumah. Mintalah pada Bunda apa yang kamu perlukan. Jangan khawatir. Abang Ayah yang jaga." Ucap Nio ikut menenangkan kekhawatiran menantunya.
Sejenak tampak Sinta berfikir sampai akhirnya Sinta setuju Zayn pergi ke kantor. Zayn pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi ke kantor bersama dengan Nio juga tentunya. Walaupun dengan mobil yang berbeda.
__ADS_1
Nio dengan supir biasanya Zayn mengendarai mobilnya sendiri. Zayn benar-benar melenyapkan mobil dan ponsel Sinta setelah kejadian itu. Mobil yang tampak hancur bagian depannya dan ponsel yang membuatnya emosi karena ternyata kejadian yang menimpa Sinta karena Hendrik.
Namun, Zayn tak ingin gegabah dalam memproses Hendrik. Yang terpenting bagi Zayn sekarang adalah kesembuhan Sinta. Jujur walaupun hatinya sakit melihat Sinta seperti itu tapi dirinya begitu bijak tak ingin lebih menyakitkan siapapun lagi. Terlebih istri dari Hendrik saat ini tengah hamil.
Zayn mengingat dua kakak perempuannya tengah hamil juga. Belum lagi dirinya memiliki adik perempuan yang akan hami juga. Zayn begitu memperhatikan perasaan wanita-wanita di sekitarnya.
Zayn benar. Tak lama Melan datang ke rumah Olla menemui sahabatnya yang tengah menenangkan menantu barunya.
"Hai Sayang..." Sapa Melan pada Sinta yang tengah duduk sendiri di hadapan televisi.
"Hai Tante. Zizi mana?" Tanya Sinta.
"Zizi ada kuliah pagi ini. Kamu sudah sarapan?" Tanya Melan.
"Sudah Tan." Jawab Sinta.
Melan duduk di dekat Sinta ikut menonton drama yang tengah Sinta tonton.
"Dimana Bunda kalian?" Tanya Melan yang tak melihat Olla.
"Bunda di dapur Tante sedang mengambil camilan." Jawab Sinta santai.
Tak lama Olla datang dengan beberapa minuman dan beberapa camilan di atas nampan.
"Hai Mel, sudah datang." Ucap Olla yang melihat Melan sudah berada di rumahnya.
"Sudah. Karena Zizi sudah berangkat kuliah dan Mas Abi sama Andre sudah pergi ke kantor jadi rumah sepi." Melan.
"Keina dan Raya jadi pergi?" Tanya Olla.
"Jadi, katanya mau ke butiknya Kak Ayu dulu." Melan.
"Apa Keina dan Kak Raya akan kembali?" Tanya Sinta dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu sayang. Mereka hanya pergi memenuhi undangan pernikahan teman kuliah mereka saja. Kan Keina dan Kak Raya satu kampus." Ucap Olla meyakinkan Sinta.
"Apa Kak Zio dan Kak Daren menemani mereka?" Tanya Sinta lagi dengan penuh kekhawatiran.
"Mereka di antar oleh supir pribadi Keina. Tenanglah sayang. Apa perlu Bunda minta mereka datang ke sini jika urusan mereja telah usai?" Tanya Olla.
"Ya."
__ADS_1
🌻🌻🌻