
Aiko marah besar pada Ibu dan Ayahnya karena mereka berdua tak mempercayainya dan menutupi dimana Jessie dan Aldi berada. Padahal Tuan dan Nyonya Ito benar-benar tak mengetahui dimana Jessie dan Aldi berada.
"Sebaiknya kamu pulang. Ini sudah malam dan kami akan istirahat." Tuan Ito.
"Kenapa Ayah mengusirku?" Aiko.
"Ayah tidak mengusirmu. Jika kau ingin bermalam disini silahkan. Tapi, jangan buat keributan. Sedikitpun Ayah dan Ibu tak mengetahui keberadaan Jessie dan Aldi. Apa mereka bersama atau tidak Ayah tidak tau." Tegas Tuan Ito.
"Jika ingin bermalam mintalah pada bibik menyiapkan kamar untuk mu. Ibu dan Ayah pergi tidur dulu." Nyonya Laura.
Tuan dan Nyonya Ito pun masuk kedalam kamar tanpa memperdulikan Aiko. Mereka sudah geram dengan sikap Aiko. Tuan dan Nyonya Ito yakin sekali kepergian Jessie dan Aldi ada hubungannya dengan perkataan Aiko mengenai kehamilan Jessie yang tak kunjung datang setelah empat bulan menikah.
Saat memanggil bibik Aiko melihat Tita keluar dari kamarnya. Dan ternyata Tita berjalan menghampirinya. Sebenarnya Tita tidak berniat menghampiri Aiko hanya saja Tita akan mambawa minum di dapur karena minum di kamarnya kosong.
"Tolong siapkan kamar untuk ku. Aku akan menginap." Aiko.
Tita acuh saja dengan permintaan Aiko dirinya terus melangkah mendekati dapur. Melihat Tita yang terus melangkah tanpa mempedulikannya kemarahan Aiko semakin menjadi. Saat Tita kembali dari arah dapur dengan sebotol minumnya tiba-tiba saja Aiko menghampirinya dan melemparkan botol minum Tita begitu saja.
Karena botol minum Tita terbuat dari kaca maka suara benturan botol dan lantai terdengar sangat nyaring. Ken yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar suara botol jatuh langsung keluar kamar karena mengingat tadi Tita pamit akan mengambil minum.
Tuan dan Nyonya Ito yang baru saja memejamkan matanya pun segera bangkit kembali dan melihat apa yang terjadi. Para maid pun berlarian menuju arah suara. Mengingat Tita yang rewel dalam kehamilannya.
"Sayang." Teriak Ken yang ketakutan terjadi sesuatu dengan Tita.
"Tita disini Mas." Jawab Tita santai.
Tita masih diam dengan tindakan Aiko. Sementara Wajah Aiko sudah memerah karena emosi. Para maid segera membawa peralatan untuk membersihkan pecahan botol. Tuan dan Nyonya Ito mengeratkan tangannya.
"Apa salah Tita Kak.Aiko tiba-tiba melemparkan botol minum Tita." Tanya Tita santai.
"Jangan sok pura-pura lugu ya. Jangan juga merasa hebat karena telah memberikan satu unit rumah untuk Jessie sehingga kamu merasa jadi ratu di rumah ini." Aiko.
"Tita memang ratu di rumah ini Kak. Kenapa Kakak malam-malam datang kesini dan marah-marah?" Ucap Ken datar.
__ADS_1
"Istri kamu itu kurang ajar sama Kakak Ken." Aiko.
"Ken lebih percaya istri Ken dari pada Kakak." Ken meraih pinggang Tita dan mendaratkan satu kecupan di pelipis Tita.
"Bi, ambilkan kembali minum untuk Tita dan bawakan ke kamar." Tita Ken pada Bibi.
"Baik Tuan." Bibi.
"Saya minta tolong pada istri kamu baik-baik Ken tapi dia tidak menghiraukannya. Apa menurutmu baik seperti itu?" Aiko.
"Apapun yang Tita ingin lakukan di rumah ini tidak menjadi masalah. Rumah ini milik Ken suami Tita. Tita bebas melakukan apapun di rumah ini." Ken.
"Tapi, " Ucap Aiko terjeda.
"Jika Kakak merasa kurang enak. Kenapa Kakak datang malam-malam mengganggu istirahat kami." Tita.
"Berani kamu ya berbicara seperti itu pada orang tua." Aiko.
"Seperti yang suami Tita bilang. Apapun bebas Tita lakukan di rumah ini." Tita.
"Aiko akan menginap disini saja Yah. Mas.Artur sedang meninjau proyek di luar kota." Aiko.
"Bi, siapkan kamar untuk Tamu." Ken.
"Kembalilah Tidur sayang. Kasihan bayimu. Istirahat." Nyonya Laura.
"Iya Bu. Ini Tita sudah mau tidur kok. Selamat malam Yah, Bu." Tita
Semua pun masuk kedalam kamar masing-masing tanpa mempedulikan Aiko. Bibi yang telah usai membersihkan kamar untuk Aiko pun segera kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar Nyonya Laura merasa bersalah pada Tuan Ito karena dirinya dulu memaksa mengurus Aiko kecil saat kedua orang tuanya meninggal. Dan sampai saat ini Aiko selalu berbuat tak sopan pada mereka berdua.
Sifat orang tuanya yang arogan dan keras kepala sangat menurun padanya. Apalagi Aiko memang telah mengerti saat itu bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari Tuan dan Nyonya Ito. Dirinya hanya keponakan dari Tuan dan Nyonya Ito.
__ADS_1
"Kemarilah sayang." Tuan Ito merengkuh tubuh Nyonya Laura.
"Aku sangat malu padamu sayang. Seandainya saja dulu aku membiarkannya di bawa oleh pamannya mungkin kejadian ini tidak akan terjadi." Nyonya Laura.
"Sudahlah. Do'akan saja yang terbaik untuknya." Ucap Tuan Ito memeluk istri tercintanya.
Tuan Ito tak ingin menyalahkan sang istri karena sang istri pastilah yang paling di kecewakan oleh sikap Aiko padanya. Tak butuh waktu lama mereka berdua pun telah berlayar kealam mimpi.
Sementara di kamar Tita dan Ken. Tita masih bermanja pada Ken. Tita terus merengek pada Ken memintanya membacakan cerita untuknya. Ken pun mencari cerita yang Tita inginkan di ponselnya. Karena memang Ken tidak memiliki buku cerita yang Tita inginkan.
Baru saja Ken membacanya belum ada setengah jalan Tita sudah tertidur sambil memeluk Ken. Ken pun menyimpan ponselnya di atas nakas samping tempat tidurnya. Kemudian memperbaiki posisi tidur Tita agar nyaman.
Pagi hari Aiko kembali membuat keributan yang membuat bingung para maid. Bagas yang baru sampai dari perjalanan ke luar kota pun datang pagi-pagi sekali membawakan pesanan untuk Tita. Seperti janjinya Bagas memang begitu perhatian pada Tita.
Saat dirinya masuk kedalam rumah Bagas melihat Aiko tengah membentak maid yang Bagas tak tau mengapa sampai Aiko marah-marah pada Maid. Dan dilihatnya Sang Kakak berada tak jauh dari dari sana.
"Assalamu'alaikum Kak. Apa kabar kalian?" Sapa Bagas mendekati Tuan dan Nyonya Ito.
"Wa'alaikum salam... Bagas. Kabar baik. Kapan kamu datang?" Tuan Ito.
"Ini baru turun langsung ke sini Kak. Mengantarkan pesanan ibu hamil." Bagas.
Ken turun menuju meja makan dengan Tita dalam gendongannya. Seperti biasa Tita akan bermanja pada Ken setiap saat. Tita terlihat berseri saat melihat Bagas duduk bersama dengan kedua mertuanya.
"Om Bagas..." Teriak Tita dalam gendongan Ken.
"Sayang,,, apa kabar?" Gimana Cucu Opa ga rewel kan?" Sapa Bagas.
"Ngga dong Opa. Apalagi ada Opa datang. Opa ngga lupa bawa pesanannya kan?" Todong Tita pada Bagas.
Semua pun tertawa terkecuali Aiko yang menatap sinis pada Tita. Ken mengusap lembut kepala Tita. Tita tertunduk malu karena permintaanya.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏