
Hari ini hari ketiga kepergian Tyan dan Nyonya Ito. Di rumah utama masih terlihat suasana duka. Keina dan Aiko masih mengurus pengajian yang di adakan sore hari. Hari ini Keina ke kantor bersama Ken. Memenuhi permintaan Ken dan Tita walaupun sebenarnya Keina masih ingin bersantai di rumah.
Olla dan Melan masih setia datang ke rumah utama untuk membantu Tita begitu juga dengan Aiko dan Mega. Marni memang berada di kota yang sama hanya saja Olla dan Tita melarang untuk pergi ke rumah utama karena kondisi Burhan.
Hari ini Laras datang ke mansion untuk membantu Marni mengurus Burhan. Walaupun Burhan sudah meyakinkan istri dan anak-anaknya jika dirinya baik-baik saja. Hanya saja istri dan anak-anaknya terlalu khawatir. Terlihat Tita yang sangat tidak ingin kehilangan Burhan.
Karena bagi Tita Burhan adalah Ayah sama seperti Martin Durant dan Kevin Durant. Oleh karena itu Tita tidak ingin kehilangan Burhan sama halnya seperti dirinya kehilangan Kevin dan Martin yang belum sempat dikenalnya.
"Apa Gladys akan kesini Kak?" Tita.
"Sepertinya sore nanti baru ke sini. Karena ada acara di rumahnya." Ayumi.
"Acara apa Kak?" Aiko.
"Acara keluarga rutin dari keluarga Papanya Angga." Ayumi.
"Owh! Di adakan di rumahnya?" Aiko.
"Bergilir. Dan kebetulan tahun ini Mama Angga kebagian jadi tuan rumah." Ayumi
"Absen ke sini juga ga apa-apa kalo repot." Tita.
"Iya Kak Ayu juga sudah bilang sama Glad." Ayumi.
Mereka pun berbincang sambil menyiapkan acara sore nanti. Melan dan Olla sudah tak canggung lagi berbaur. Apalagi Melan yang notabene anak tunggal selalu senang berada di lingkungan keluarga besar.
Abi juga kebetulan hanya dua bersaudara dan adik Abi tinggal jauh di negri orang. Begitu juga dengan Olla yang hanya dua bersaudara dan kebetulan Nio juga hanya dua bersaudara hanya saja kebetulan Nio dan Tita memiliki sepupu Mikha yang sangat dekat.
"Dad, " Panggil Keina masuk ke ruang kerja Ken.
"Kenapa sayang?" Ken.
"Kein rasa ini perlu perbaikan yang sangat banyak." Ucap Keina menyodorkan sabuah map pada Ken.
"Hm... Kau sudah teliti dengan benar?" Ken.
"Sudah Dad. Dan sudah berkali-kali. Dan untuk yang ini ada yang perlu di ganti tapi tidak terlalu buruk." Jawab Keina memberikan satu map lagi.
"Kapan akan di realisasikan?" Ken.
"Secepatnya." Keina.
"Butuh waktu berapa hari?" Ken.
"Besok saja minta semua yang terlibat untuk meeting." Tita.
"Baiklah. Minta Anton mengurusnya." Ken.
"Kein sudah minta Kak Rahman Dad." Keina.
"Baiklah. Apa rencana Kamu sekarang?" Ken.
"Pulang Dad. Otak Kein udah lelah." Keina.
"Astaga! Baru saja mengerjakan dua proyek kamu mengeluh sayang." Ken.
"Itu sangat buruk Dad." Keina.
"Hahahaa.... Pulanglah. Biar supir mengantarkan." Ken.
"Daddy tidak pulang makan siang?" Keina.
"Daddy ada meeting jadi untuk menghemat waktu Daddy makan siang di sini saja." Ken.
"Kalo begitu Kein temani Daddy makan siang dulu baru pulang." Keina.
"Apa kamu tidak ingin ikut meeting sama Daddy?" Tawar Ken.
"No Dad. Ini hari pertama Kein kerja." Keina.
Keina pun hanya duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Hanya mengskrol tanpa berniat melakukan apapun. Tak lama OB datang untuk mengantarkan makan siang Ken dam Keina. Mereka berdua pun menikmati makan siang mereka dengan tenang.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan makan siangnya Ken bersiap untuk meeting sedang Keina pulang. Dirinya merasa sudah cukup untuk pekerjaan hari ini.
Ting...
Terdengar bunyi pesan masuk di ponselnya.
💌 Abang Daren
Lagi apa? Sudah makan siang?
Tak menunggu lama Keina langsung membalas pesan yang dikirim oleh Daren
💌Keina
Mau pulang dari kantor Daddy. Sudah, tadi sekalian makan sama Daddy.
💌Abang Daren
Bawa mobil? Mau Abang jemput pulang?
💌Keina
Tidak. Tapi, tidak usah. Abang masih kerja. Kein pulang di antar supir. Nanti ketemu sore aja di rumah utama.
💌Abang Daren
Baiklah. Hati-hati. Kasih kabar kali udah sampe ya.
💌Keina
Siap.
Keina pun memasukkan ponselnya kedalam tas kemudian Keina masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya. Keina bersandar pada sandaran kursi mobil dan sejenak memejamkan matanya setelah tadi berkutat dengan pekerjaan yang cukup melelahkan baginya.
Sampai di rumah utama Keina menyapa semua yang ada di sana. Setelah itu Keina berpamitan untuk beristirahat sebentar.
"Kenapa anak itu. Apa Ken memberikan pekerjaan yang berat padanya?" Aiko.
"Astaga! Ada-ada saja Ken ini.
"Ya maklum lah Kak. Daffin masih sekolah belum bisa membantu Mas Ken di kantor." Tita.
"Kau benar. Dan sebelum itu Ken harus bisa terus mengurusnya. Karena sepertinya Keina tak berminta bekerja di perusahaan." Aiko.
"Yah, kau lihat saja Ai bagaimana Mommy nya dulu. Ke kantor hanya ada perlunya saja." Ayumi.
"Kak Ayu benar. Sampai-sampai Mas Nio suka khawatir padanya." Olla.
"Seperti itu rupanya? Parah banget sih Ta." Melan.
"Ceh, tapi kan gw pantau." Bela Tita.
"Buah jatuh ga jauh dari pohonnya." Aiko.
"Ga apa-apa Kak Ai. Biar Kein bisa mengurus suami." Melan.
"Kau bilang saja biar anakmu ada yang mengurus." Olla.
Semua pun tertawa. Meskipun Melan sangat ingin Keina menjadi menantunya tapi tidak serta merta memaksa Keina dan Daren untuk segera menikah. Melan dan Abi juga Tita dan Ken menyerahkan sepenuhnya keputusan pada Daren dan Keina.
Tak lama Keina pun turun kembali menuju dapur. Keina berniat membuat puding coklat kesukaannya yang akan membuatnya lebih segar setelah berhadapan dengan laporan yang di berikan kepadanya tadi di kantor.
"Mau ngapain?" Ayumi.
"Bikin puding Buna." Keina.
"Kenapa?" Ayumi.
"Ga apa-apa. Kein hanya ingin yang menyegarkan saja." Keina.
Setelah berkutat di dapur dan kini tiba Keina menunggu pudingnya dingin di lemari es. Sambil menunggu Keina pun menuju taman belakang untuk membaca novel kesukaannya.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" Tanya Tita yang melihat anak gadisnya seperti kehilangan semangat.
"Tidak ada apa-apa Mom." Jawab Keina.
"Apa pekerjaan di kantor terlalu membuat putri Mommy kelelahan?" Tita.
"Tidak Mom. Daddy tidak memaksa Kein untuk bekerja seperti yang lain." Keina.
"Lantas kenapa sayang?" Tita.
"Hanya ada sedikit masalah di kantor Mom." Keina.
"Perlu Mommy bantu? Atau kenapa tidak minta bantuan Daddy?" Tita.
"Besok Kein akan coba menyelesaikannya Mom. Tenanglah. Kein hanya perlu beradaptasi." Keina.
"Syukurlah. Jangan sungkan untuk meminta bantuan Mommy atau Daddy." Tita.
"Oke Mom." Keina.
Setelah berbincang sebentar Tita pun kembali masuk ke ruang utama bergabung bersama yang lainnya.
"Kenapa dia?" Olla.
"Hanya sedikit kaget dengan suasana kerja. Butuh banyak penyesuaian." Tita.
"Hufh... Itu yang membuat Jessie tidak mau mengelola perusahaan." Aiko.
"Dan sekarang Aldi mengelolanya dengan baik. Sekarang duo A pun sudah bisa membantu Aldi." Ayumi.
"Ya kau benar Kak. Beruntung kami memiliki menantu dia yang mau merelakan gelar dokternya untuk mengelola perusahaan." Aiko.
"Kak Artur sudah pensiun?" Olla.
"Ya. Sekarang dia benar-benar menikmati hidupnya." Aiko.
Saat mereka asik berbincang terdengar suara dering ponsel Melan. Melan melihat tertera nama putra sulungnya memanggil dan Melan pun segera menggeser tombol hijaunya.
📱Melan
Ada apa Bang?
📱Daren
Apa Keina ada di sana Mi?
📱Melan
Astaga! Kau menelfon Mami hanya untuk menanyakan Keina. Apa kau tidak bisa menghubunginya secara langsung? Kalian bertengkar?
📱Daren
Mami,,, tenanglah dulu. Tadi Keina bilang akan pulang setelah dari perusahaan Daddy dan Abang berniat menjemputnya dan mengantarkan pulang tapi Keina menolak dan bilang akan di antarkan oleh supir. Tapi, sampai sekarang Abang belum mendapat kabar jika Keina sudah sampai atau belum.
📱Melan
Tunggu sebentar.
Melan pun bangkit dari duduknya menuju taman belakang menghampiri Keina yang sedang membaca. Sampai di samping Keina Melan langsung mengulurkan tangannya memberikan ponselnya pada Keina.
"Ada apa Mi? Kenapa ponselnya di berikan pada Kein?" Tanya Keina yang heran melihat Melan yang baru saja datang langsung menyodorkan ponselnya.
"Daren mencari kamu sayang." Melan.
"Hah! Astaga! Maaf Mi Kein lupa." Ucap Keina menampilkan deretan gigi putihnya.
"Selesaikanlah." Ucap Melan mengusap lembut pipi Keina.
"Terima kasih Mi." Keina.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏