
Sementara itu Ken sampai di kantornya. Ken memarkirkan mobilnya kemudian turun dengan menggendong Keina. Keina diam dalam gendongan Daddy nya. Dan Keina akan tersenyum ketika ada yang menyapa Daddy nya.
"Pagi Tuan." Sapa salah satu karyawan Ken dan Ken hanya menundukkan kepalanya sementara Keina memberikan senyum manisnya pada Karyawan tersebut.
"Astaga! Cantik banget putri Tuan Ken."
"Ya ampun senyumnya bikin hati meleleh."
"Ya ampun Tuan Ken Hot Daddy."
Begitulah kira-kira bisik-bisik diantara para karyawan Ken. Ken tak memperdulikannya. Hingga dirinya sampai di ruangan Ken mendudukkan putrinya di pangkuannya dan memberikan tab pada putrinya sementara dirinya membuka pekerjaannya yang masih berada di laptop.
Ken bekerja dengan satu tangannya menahan tubuh Keina. Anton yang melihatnya begitu takjub karena Tuannya bisa bersikap manis terhadap putri kecilnya. Bahkan Ken tak merasa risi ketika Keina bergerak aktif mengikuti gerakan di dalam tabnya.
"Dy cu Dy cu." Oceh Keina.
"Mau susu?" Tanya Ken dan Keina pun menganggukkan kepalanya.
"Sebentar ya sayang." Ucap Ken. Kemudian Ken menghubungi Anton dan meminta Anton untuk membuatkan susu untuk putri kecilnya karena Keina tak mau turun dari pangkuan Daddynya.
Setelah menerima perintah dari Tuannya Anton pun segera menuju ruangan Ken dan membuatkan susu untuk Keina yang terdapat di dalam tas Keina yang di bawakan oleh Tita. Setelah selesai Anton memberikannya pada Keina.
"Minum susu sama Om yuk?" Ajak Anton.
"No, Dy ja." Keina.
"Hm.. Baiklah." Ucap Anton memberikan botol susu pada Ken.
Dengan lembut Ken memberikan susu dalam botol dengan Keina menyandar di dadanya. Ken memegang botol susu dengan satu tangannya dan satu tangannya lagi bekerja pada keyboard laptopnya.
Anton benar-benar bangga pada Bosnya itu karena sikapnya membuat Anton pun ingin segera berkeluarga hanya saja Anton belum menemukan wanita yang nengerti akan pekerjaannya.
Setelah botol susunya kosong Keina pun tertidur di pangkuan Ken. Dengan sangat lembut Ken pun membawa Keina kedalam ruangan khususnya. Ken menidurkan putri kecilnya dengan sangat hati-hati tidak ingin mengganggu tidurnya.
Setelah menidurkan Keina Ken kembali mengerjakan pekerjaannya. Ken membiarkan pintu ruang pribadinya terbuka agar Ken bisa memantau putrinya yang tengah tertidur.
Sementara Gladys bertemu dengan Laras di sebuah kafe yang berada tak jauh dari kos-kosan Laras. Gladys datang lebih dulu dan memesan kopi.
💌 Gladys
Glad udah sampe kafe ya Kak.
Tulis Gladys dan mengirimkannya pada Laras. Laras yang sedang dalam perjalanan pun hanya tersenyum dan menyimpan kembali ponselnya kedalam tasnya.
"Hai,, sudah lama ya?" Gladys.
"Lima menit." Ucap Gladys jujur dan Laras pun tersenyum.
"Apa kabar?" Laras.
"Baik. Kakak bagaimana?" Gladys.
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat Kakak baik-baik saja." Laras.
"Kakak, ga sibuk ya kerja sambil kuliah?" Gladys.
"Hm.. Kakak tidak berkuliah lagi Dys." Laras.
"Maksud Kakak?" Gladys.
"Dua tahun lalu bukankah Kakak pernah datang ke rumah dan meminta Dokter Gagah bergantian jaga dengan Kakak. Kau ingat itu?" Laras.
"Hm... Dari situlah aku mengenal Kakak." Gladys.
"Kakak tidak bisa menghindar dari acara perjodohan yang di rencanakan Ayah tiri Kakak. Dan dengan sekuat hati Kakak menolaknya hingga Ayah Kakak marah besar dan mengusir Kakak dari rumah." Laras.
Gladys tak menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya ketika mendengar cerita Laras.
"Ibu Kakak tak berdaya di buatnya. Beliau hanya bisa diam tanpa membantu Kakak. Kakak keluar dari rumah dengan uang seadanya beruntung Kakak menggunakan perhiasan peninggalan Ayah kandung Kakak."
"Semula Kakak masih berkuliah seperti biasa sampai tiba-tiba Kakak mendapatkan surat yang berisikan jika Kakak di DO dari kampus tersebut yang Kakak tak tau apa penyebabnya. Tapi, Kakak yakin itu ada campur tangan dari Ayah Kakak." Jelas Laras panjang kali lebar.
"Maaf Kak." Ucap Gladys tak nyaman.
"Tidak apa-apa Dys." Laras.
"Lalu selama dua tahun ini Kakak hidup sendiri?" Gladys.
"Ya. Beruntung yang punya Kos mau menampung Kakak. Dan keberuntungan kembali berpihak pada Kakak. Tak lama Kakak mendapatkan pekerjaan di toko buku kemarin sampai sekarang." Laras.
Gladys melihat mobil Onclenya sudah sampai di halaman rumah. Itu menandakan bahwa adik kecil manisnya sudah sampai rumah juga. Gladys turun dari mobilnya dan segera masuk kedalam rumah utama.
"Adek cantik..." Panggi Gladys pada Keina.
"Ssstt... Jangan berteriak Glad. Onty mu sakit." Ayumi.
"Hah! Sejak kapan?" Gladys.
"Pagi tadi. Dan tadi Onty mu muntah-muntah hebat. Makanya Bunda hubungi Oncle kamu dan Oncle segera pulang." Ayumi.
"Keina mana?" Gladys.
"Di bawa Gagah ke luar." Ayumi.
"Loh, Kakak sudah pulang?" Gladys.
"Sudah." Ayumi.
"Opa sama Oma mana?" Gladys.
"Di atas. Ini Bunda mau bawa air jahe ke kamar Onty kamu. Nanti kalo ada dokter Angga minta dia naik ya." Ayumi.
"Hah! Kok dia?" Gladys.
__ADS_1
"Ga usah protes. Bunda cuma inget sama mantu Bunda." Ayumi.
Glek
"Bunda..." Teriak Gladys tertahan.
Ayumi melenggang pergi meninggalkan anaknya tanpa memperdulikan anaknya yang kesal karena Angga yang di minta Bundanya datang untuk memeriksa Tita.
Tak lama setelah Ayumi naik Angga pun datang dan segera masuk kedalam rumah utama. Angga melihat Gladys yang tengah terduduk di sofa depan televisi.
"Glad." Panggil Angga.
"Eh, ayo Kak cepet udah di tunggu." Ucap Gladys langsung menarik tangan Angga spontan.
Angga pun hanya tersenyum melihat reaksi Gladys.
"Bun, ini Kak Angga nya sudah datang." Gladys.
"Masuklah Ga. Oncle minta tolong periksa Onty. Tadi dia muntah-muntah hebat setelah makan siang dan baru saja Onty juga kembali muntah hebat." Ken.
"Baik Oncle. Dan Angga permisi memeriksa Onty." Ucap Angga sopan.
"Iya silahkan." Ken.
Angga pun meneriksa Tita seksama. Semua orang menunggu jawaban hasil pemeriksaan Angga. Sementara Tita hanya memejamkan matanya tak karena pusing di kepalanya.
"Apa Onty tidak melewatkan waktu makan Onty?" Tanya Angga dan Tita menggelengkan kepalanya.
"Maaf sebelumnya Onty. Apa jadwal tamu bulanan Onty sudah datang?" Angga.
"Hah!" Tita membuka matanya dan melihat Angga tersenyum manis padanya.
"Masud mu Ga?" Ken.
"Maaf Oncle untuk memaatikan dugaan saya. Sebaiknya Onty di periksa oleh obgin." Angga.
"Onty hamil lagi? Yeaay.." Teriak Gladys.
"Hus... berisik. Sebaiknya kau bersiap juga memberikan Bunda cucu." Ayumi.
"Bunda, kalo ngomong asal bunyi aja deh. Gladys kan masih perawan bagaimana bisa Gladys kasih Bunda cucu." Gladys.
"Makanya cepetan nikah." Ayumi.
"Nikah sama pohon." Gladys.
"Ya kalo pohonnya mau sih ga apa-apa." Ayumi.
"Bundaaa." Ucap Gladys geram.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏