
Tengah malam Ken tidur Ken terusik dengan suara rintihan. Ken segera menegakkan kepalanya dan benar rintihan itu berasal dari Tita. Ken segera memencet tombol darurat untuk memanggil dokter. Tak lama dokter dan perawat datang ke ruangan Ken.
Dokter jaga segera memeriksa keadaan Tita kemudian memberikan suntikan penenang untuk Tita dengan seijin Ken.
"Baiklah Tuan. Nyonya akan kembali sadar besok pagi. Kejadian tadi normal pada pasien seperti istri anda Tuan. Besok sambutlah kesadarannya dengan baik." Dokter.
"Terima kasih Dokter." Ken.
"Sama-sama Tuan. Kami permisi." Pamit Dokter.
Ken kembali duduk di samping Tita. Ken mengusap lembut pipi Tita dengan tangan yang terus menggenggam tangan Tita yang terbebas dari infus.
"Sayang, terima kasih kamu telah berjuang untuk kami. Terima kasih kamu kembali untuk kami sayang. Mas tidak akan membiarkan kamu seperti ini lagi sayang. I Love You." Ucap Ken kemudian mendaratkan ciumannya di kening Tita.
Pagi hari saat Ken membuka matanya Tita masih memejamkan matanya. Seperti biasa Ken pun mendaratkan ciuman selamat pagi pada kening Tita. Kemudian Ken beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Pakaian ganti telah di bawakan oleh Anton dan pakaian kotornya akan di bawa Anton siang hari saat dirinya mengangarkan pakaian bersih dan beberapa berkas yang perlu tandatangan Ken.
Setelah segar dan mengenakan pakaian Ken menghampiri Tita dan kembali duduk di sampingnya. Sebuah rutinitas yang selalu Ken lakukan selama satu bulan ini.
Aroma sabun Ken terhirup oleh penciuman Tita yang sudah sadar namun belum sepenuhnya. Tita mendengar suara gemericik air saat Ken mandi tadi dan kini aroma sabun yang Ken gunakan. Tita mencoba meresapinya kemudian perlahan matanya membuka.
Ken yang sudah siap dengan kesadaran Tita dengan seksama memperhatikan perubahan pada wajah Tita. Ken sengaja tak memanggil dokter karena semalam dokter sudah mengatakan jika pagi ini Tita akan terbangun setelah di beri suntikan penenang semalam.
"Selamat pagi sayang." Sambut Ken dengan menampilkan senyumannya.
Tita tak menjawab sapaan Ken namun dirinya menyunggingkan senyum manisnya walaupun wajahnya sudah semakin kurus namun kecantikannya masih terlihat jelas.
"Gimana tidurnya nyenyak?" Tanya Ken mengusap lembut puncak kepala Tita.
"Hm... Ini dimana Mas?" Tita.
"Kita sedang menginap di rumah sakit sayang." Ken.
"Ngapain? Ayo pulang." Ucap Tita ingin menggerakkan badannya untuk bangun namun Ken menahannya.
"Sssttt.... Tenang sayang. Besok pasti kita pulang atau bila perlu hari ini pun kita pulang." Cegah Ken.
"Ngapain sih Mas kita nginep di rumah sakit?" Protes Tita.
"Sepertinya istri Mas sedang merindukan jaga di rumah sakit makanya istri Mas mengajak Mas menginap di sini." Ken.
"Hah!" Tita.
__ADS_1
Kemudian Tita sadar sepenuhnya jika di tangannya terpasang jarum infus dan terpasang selang oksigen di hidungnya. Tita pun berniat melepaskan selang oksigennya namun Ken melarangnya. Ken akan mencopotnya jika dokter sudah datang.
"Sabar ya sayang. Kita tunggu dokter sebentar. Mas sudah menghubunginya dan memberitahukan jika kamu sudah sadar. Jadi sabar ya." Ken.
"Tapi ini ga apa-apa Mas. Kan Tita udah sadar." Tita.
"Iya. Tapi nanti setelah dokter memeriksa keadaan kamu." Ucap Ken menenangkan.
Tita pun pasrah pada perintah sang suami. Karena entah mengapa seluruh tubuhnya merasakan lemas tak berdaya. Dan Tita pun kembali memejamkan matanya merasakan ketidak nyamanan dari tubuhnya.
"Mas,," Panggil Tita.
"Iya sayang. Mas di sini sayang." Jawab Ken yang tengah mengambil air minum untuk ya dan Tita.
"Badan Tita sakit semua." Keluh Tita.
"Mau mas pijit sayang?" Tawar Ken
"Mau..." Jawab Tita malu-malu.
Ken pun memijit tangan Tita dengan perlahan begitupun kakinya. Ken benar-benar memperlakukan Tita dengan sangat lembut.
"Sudah Mas. Tita mau pulang. Mau ketemu Keina." Ucap Tita.
Tita pun merebahkan kepalanya di pundak Ken yang duduk di sampingnya. Tangannya melingkar di tangan Ken memeluk tangan kekar itu dengan erat.
"Sayang, ada yang ingin Mas sampaikan." Ucap Ken.
"Apa?" Tanya Tita.
"Tapi, kamu jangan marah ya atau berfikir yang macam-macam." Ken.
"Hm... Katakanlah." Tita.
"Sayang, apa kau tidak keberatan jika kita pulang ke mansion utama keluarga mu?" Tanya Ken penuh ke hati-hatian.
Ken telah membicarakannya dengan Tanio sebelumnya dan Tanio tidak keberatan dengan alasan yang Ken berikan. Hanya saja Tanio khawatir Ken merasa tersinggung jika harus tinggal di mansion mereka. Tapi, Ken tampak tak mempermasalahkan itu.
"Kenapa?" Tanya balik Tita.
"Di rumah terlalu ramai sayang. Mas tidak ingin kemesraan kita terganggu." Alasan Ken.
"Mas ih. Tidak enak dengan Ayah dan Ibu Mas. Masa Kak Ayu saja kembali ke rumah itu kita malah pindah rumah." Ucap Tita yang selalu mementingkan perasaan orang lain.
__ADS_1
"Mas sudah membicarakannya dengan Kak Rehan dan Kak Rehan tidak keberatan jika harus tetap di rumah utama. Ayah dan Ibu pun menyetujuinya." Ken.
"Bagaimana Ibu dan Ayah bisa langsung menyetujuinya? Mas mengancam?" Tita.
"Hei, mana mungkin Mas mengancam orang tua Mas sayang. Mas hanya mengatakan jika apa yang terjadi dengan mu adalah karena kamu begitu sangat merindukan rumah masa kecil mu." Ken.
"Hei, memang apa yang terjadi dengan Tita?" Tanya Tita.
"Sayang, kita disini bukan hanya satu malam tapi sudah lebih dari satu bulan." Ken.
"Mas becanda jangan keterlaluan deh." Tita.
"Sayang, Mas hampir gila melihat kamu yang terbaring dengan mata terpejam lebih dari satu minggu lamanya bahkan hingga satu bulan lebih. Mas tidak pernah tau apa yang terjadi dengan mu sebelumnya sayang. Mas hanya berdo'a dan meminta agar kamu bisa bertahan dan kembali kepada Mas dan Keina." Ken.
Tita menundukkan kepalanya kemudian kembali mendongakkannya dan menatap dalam manik mata Ken dan Tita melihat ketulusan di sana. Tita meraih pipi Ken dan mengusapnya lembut.
"Maafkan Tita Mas." Ucapnya lirih.
"Tidak perlu meminta maaf sayang, kamu tak bersalah. Mas bahagia sekarang kamu telah kembali. Mas tau apa yang terjadi dengan mu setelah kepergian Tiara. Mas pun sama terpukulnya sayang. Tapi, semua itu bukan akhir dari hidup kita sayang. Tiara adalah bekal syurga kita nanti. Dan Tuhan lebih menyayanginya dari pada kita." Jelas Ken.
"Maaf Mas. Tita pun tak mengerti kenapa semua ini terjadi." Ucap Tita dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
Ken mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Tita.
"Berjanjilah Sayang. Ini air mata terakhir atas kesedihan kita kehilangan Tiara. Dan hanya akan ada air mata kebahagiaan setelahnya. Bukan karena kita ingin melupakan Tiara tapi kita harus lebih kuat agar bisa mendo'akan Tiara juga Keina dan adik-adiknya nanti." Ken.
Tita memeluk Ken dengan erat. Ken mengusap lembut puncak kepala Tita dan mendaratkan ciumannya di sana. Ken mengusap lembut punggung Tita yang bergetar karena tangisnya.
"Kita pukang ke mansion Durant sayang." Ucap Ken.
"Tapi, apa Mas tidak keberatan jika Mas tinggal di rumah itu?" Tita.
"Tidak sama sekali sayang. Karena kita hanya akan sementara tinggal di sana. Setelah rumah kita selesai di renovasi maka kita akan pindah kesana." Ken.
"Rumah kita?" Tita.
"Ya. Mas membelinya beberapa hari setelah kamu masuk rumah sakit sayang dan Mas langsung merenovasinya." Ken
"Terima kasih Mas." Tita.
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏
__ADS_1