Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Menuju Puncak


__ADS_3

Gladys berjalan sedikit melambat ketika dia dan Angga menuju kamar mereka. Suasana masih sore terlihat pemandangan begitu indah diluar hotel. Gladys sedikit memiliki ide untuk sekedar mencari udara di luar.


"Kak, duduk di sana yuk. Kayanya enak deh." Tunjuk Gladys pada salah satu bangku di taman hotel.


"Hm... Sepertinya di dalam kamar lebih mengasikkan deh sayang." Goda Angga yang mengerti kegugupan Gladys.


Karena jujur sebenarnya Angga pun gugup menghadapi malam pertama mereka. Angga pun sama takut mengecewakan Gladys. Namun, rasa gugupnya mampu dia tutupi dengan menjahili Gladys.


Dengan sedikit mendorong Gladys akhirnya Angga dan Gladys pun sampai di kamar mereka berdua. Kamar yang sudah di hias sedemikian rupa oleh petugas hotel.


"Hmm... Kakak mau mandi duluan?" Tanya Gladys.


"Kenapa ngga mandi bersama? Hmm..." Angga.


"Kakak,,," Rengek Gladys.


"Kenapa hm?" Angga.


"Glad harus membersihkan riasan ini dulu. Kakak mandilah lebih dulu." Gladys.


"Baiklah. Biar Kakak bantu kamu dulu ya." Angga.


Angga pun membantu Gladys membuka hiasan di kepalanya dan Gladys mulai menghapus make up di wajahnya. Detak jantung keduanya berdetak tak beraturan. Angga membantu Gladys membuka resleting di bagian belakang gaunnya.


Dan terpampanglah punggung mulus Gladys tanpa cela. Angga menelan ludahnya menahan hasrat yang entah datang dari mana tiba-tiba saja datang padanya.


"Kak,,," Panggil Gladys gugup.


"Ayo kita mandi sekarang." Ajak Angga menuntun Gladys menuju kamar mandi.


Keduanya mandi bersama untuk pertama kalinya. Karena siang tadi mereka mandi sendiri-sendiri. Kecanggungan pun terjadi pada keduanya namun Angga mampu membuat suasana menjadi begitu santai dan romantis.


Setelah mandi Angga membopong tubuh Gladys ala bridal dengan masih menggunakan jubah mandinya begitupun dengan Gladys. Gladys mengalungkan tangannya di leher Angga. Dirinya pasrah apapun yang akan terjadi maka terjadilah.


Malam ini bisa dia tahan tapi malam berikutnya entah apa yang akan terjadi. Tak mungkin juga dirinya terus menolak keinginan dari suaminya. Berawal dari saling menyesapi bibir kemudian turun keleher dan dengan tak tau dirinya. Suara laknat pun keluar dari mulut Gladys membuat Angga semakin bersemangat.

__ADS_1


Kedua tangan Angga pun tak tinggal diam. Jari jemarinya menjelajah setiap lekuk tubuh Gladys hingga berhenti di dua gundukan kenyal yang membuatnya semakin tergoda. Angga menurunkan jubah mandi yang di kenakan Gladys hingga terpampanglah apa yang dia pegang.


Tanpa aba-aba Angga pun segera melahap dua benda kenyal tersebut satu persatu. Dan suara laknat itu pun kembali keluar dari mulut Gladys. Dan Gladys semakin di buat tak menentu ketika Angga menurunkan tangannya di antara dua pahanya.


"Sayang, apa boleh?" Tanya Angga yang sudah diliputi kabut gairah.


Gladys hanya menganggukkan kepalanya pasrah. Karena walaupun mulutnya berkata tidak tubuhnya merespon lain. Tubuhnya semakin meminta lebih dari setiap sentuhan yang Angga lakukan.


Hingga keduanya sama-sama mencapai puncak kejayaan bersama-sama. Hembusan-henbusan nafas tak beraturan mengakhiri petualangan Angga. Angga mencium kening Gladys dan merebahkan badannya di samping Gladys.


Angga menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua kemudian membawa tubuh Gladys kedalam pelukannya. Angga begitu bahagia karena Gladys memberikan dirinya seutuhnya.


"Terima kasih sayang sudah menjaganya untuk Kakak.". Bisik Angga di telinga Gladys.


"Hm.. Jawab Gladys yang kelelahan dalam pelukkan Angga.


Sementara Laras dan Gagah tengah menikmati perjalanan mereka menuju suatu tempat yang akan membuat keduanya menikmati kebersamaan diantara mereka. Sepanjang perjalanan Laras terus memeluk Gagah dari samping dan Gagah pun membiarkannya.


Cukup larut ketika mereka sampai di hotel tempat mereka menginap. Laeas segera membersihkan dirinya sementara Gagah memesan makanan untuk mereka berdua. Karena tadi tidak sempat makan malam.


"Kemarilah sayang. Kita makan dulu." Ajak Gagah.


"Kakak tidak mandi dulu?" Laras.


"Makan saja dulu Yang. Kakak sudah lapar." Gagah.


"Hm.. Baiklah. Laras pake baju dulu Kak." Ucap Laras.


Dengan santainya Laras mengenakan lingerie yang sengaja dia bawa sesuai arahan Tita dan Nyonya Laura. Gagah menatap Laras tak berkedip. Diriny tak menyangka jika istrinya berani mengenakan pakaian dinas itu.


"Sayang, kamu menggoda Kakak?" Ucap Gagah memeluk Laras dari belakang.


"Tidak Kak. Hanya ini pakaian tidur yang Tita bawa. Ini pun Onty yang membelikannya." Jawab Laras jujur.


"Ah, rasanya Kakak tidak ingin makan itu." Tunjuk Gagah pada meja yang tersaji makanan.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah tadi Kakak lapar? Jadi, Kakak mau mandi dulu?" Laras.


"Tidak. Kakak mau makan kamu dulu." Gagah.


"Kakak,,, ayolah. Kita makan dulu ya." Laras.


"Baiklah sayang, makan yang banyak agar kau memiliki tenaga untuk melayani Kakak." Ucap Gagah membuat wajah Laras memerah.


Sementara itu di kamar Ken dan Tita. Ken tidak bisa berbuat apa-apa karena Keina ingin tidur bersama mereka. Keina merajuk saat setelah berganti pakaian ternyata Zio dan Zayn sudah tidak ada lagi di sana dan akhirnya Tita dan Ken pun harus membujuk Keina dengan tidur bersama mereka.


Semula Keina akan tidur bersama Hena dan Bagas dan rencana itu pupus sudah. Marni dam Burhan sudah kembali ke peternakan setelah acara akad nikah. Mereka berdua tidak menghadiri acara resepsi karena di takutkan akan ada kolega Burhan yang masih mengenalinya.


"Sayang, tak terasa ya. Rasanya baru kemarin kita memiliki dua orang putra dan putri. Tapi, sekarang mereka telah berkeluarga. Sekarang hanya tinggal kita berdua." Rehan.


"Iya Mas. Rasanya begitu tak percaya Gladys yang masih begitu manja kini di ambil orang." Ayumi.


"Semoga pernikahan kedua anak kita senantiasa di berkahi ya sayang." Rehan.


"Amin Mas. Do'a terbaik selalu untuk kita semua." Ayumi.


Di kamar Tuan dan Nyonya Ito mereka berdua duduk di sofa yang terdapat di dekat jendela besar dengan pemandangan kota yang semakin gelap.


"Semoga kita di beri umur panjang dan sehat selalu ya sayang. Agar kita bisa melihat cicit kita lahir kedunia." Nyonya Laura.


"Amin sayang." Tuan Ito.


Keduanya menikmati perubahan hari dari terang menjadi gelap. Aiko dan Artur duduk di atas tempat tidur dengan bersandar di sandaran tempat tidur. Aiko menyandarkan kepalanya di bahu Artur meratapi kejadian yang menimpa keluarga kecil Jessie.


"Begitu banyak dosa ku ya Pi. Hingga berimbas pada Jessie. Aku yang menanamkan rasa itu pada Jessie." Keluh Aiko.


"Semua sudah menjadi kehendaknya sayang. Agar Jessie bisa lebih kuat lagi dalam menghadapi segala ujian dalam rumah tangganya. Kita sebagai orang tua hanya bisa mengingatkan mereka berdua agar tidak keluar dari jalurnya." Artur.


"Hmm... Kau benar Pi." Aiko.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏


__ADS_2