
Tita dan Ken pun menikmati makan siang berdua setelah tamu Ken pulang. Tita tak membahas lagi mengenai perempuan tadi dan ajakan mereka makan siang. Memang tak banyak yang mengetahui istri dari Ken. Bahkan anak-anak Ken pun jarang di ketahui public.
Keluarga mereka memang tak pernah menunjukkan diri mereka jika mereka bagian dari keluarga Ito maupun Durant. Mereka lebih senang di kenal sebagai pribadi mereka sendiri.
Karena Mereka tak ingin semua orang dekat dengan mereka hanya karena siapa keluarga mereka. Apalagi mengingat seperti apa masa lalu Tita yang begitu amat menyembunyikan jati dirinya karena persaingan bisnis ayahnya.
"Bagaimana persiapannya sayang?" Tanya Ken setelah menyelesaikan makan siangnya.
"Alhamdulillah tinggal beberapa persen lagi. Itu undangan untuk karyawan kantor ya Mas." Tunjuk Tita pada tumpukan kartu undangan.
"Wah, sudah pada tahap pembagian undangan ya sayang?" Ken.
"Iya Mas. Besok semua undangan ini di sebar." Tita.
"Huh! Rasanya baru kemarin kamu melahirkan mereka sayang. Sekarang mereka semua sudah memiliki tanggung jawab mereka sendiri." Ken.
"Iya Mas. Rasanya baru kemarin Tita mengganti popok mereka. Bangun tengah malam untuk menyusui mereka." Ucap Tita menerawang.
Tanpa terasa air mata Tita meluncur begitu saja di pipinya. Ken melihatnya dan segera membawa Tita ke dalam pelukannya. Dan tangisan Tita pun pecah dalam pelukkan Ken.
"Terima kasih Mas. Kamu selalu ada untuk Tita." Ucap Tita di sela tangisannya.
"Mas yang harusnya berterima kasih sama kamu sayang. Kamu mau menerima Mas dengan segala kekurangan Mas. Kamu telah melahirkan anak-anak hebat untuk Mas. Kamu segalanya bagi Mas. Apapun akan Mas lakukan untuk kamu sayang." Ucap Ken mengecup kening Tita.
Sejenak mereka pun bernostalgia bersama mengenang kebersamaan mereka yang begitu banyak liku. Awal pertemuan mereka yang tak pernah di sangka akan berakhir di pelaminan. Rasa tak suka Ken berubah menjadi rasa suka yang begitu teramat.
Tita yang di kecewakan Aldi seolah mendapatkan obat dengan kehadiran Ken. Tanpa mereka sadari pertemuan demi pertemuan di antara mereka menimbulkan percikan-percikan asmara.
Bahkan Tita bisa mengekspresikan dirinya di hadapan Ken. Tita yang sangat sulit terbuka dapat terbuka di depan Ken. Tita bisa menceritakan semua yang di rasakannya pada Ken tanpa rasa sungkan.
Tira bisa menangis, tertawa dan marah kepada Ken tanpa merasa takut atau sungkan. Begitupun dengan Ken. Ken mampu bersikap lembut di hadapan Tita. Ken yang terkenal dingin dan acuh mampu mencair di hadapan Tita.
"Mas, kita ke makam Tiara ya. Sudah lama kita tidak mengunjunginya setelah Reina lahir." Ajak Tita.
"Iya sayang. Kita beritahu dia jika adik bungsunya akan menikah dan Kakak perempuannya sudah memiliki putri cantik." Ken.
__ADS_1
"Sekarang yuk Mas." Tita.
"Mas ada meeting dulu sayang. Setelah meeting kita ke sana ya." Ken.
"Baiklah. Tita tunggu di sini saja ya." Tita.
"Oke sayang. Kamu istirahat saja dulu nanti Mas bangunkan jika Mas sudah selesai." Ken.
Tak lama Rahman datang memberitahukan jika meeting akan di mulai Ken pun berpamitan pada Tita untuk menghadiri meeting terlebih dahulu.
Setelah Ken dan Rahman pergi Tita pun masuk kedalam ruang pribadi Ken. Tak butuh waktu lama Tita sudah berselayar ke alam mimpi.
Meeting kali ini cukup memakan waktu bagi Ken. Ken gelisah meninggalkan Tita sendiri setelah sebelumnya mereka bercerita masa lalu mereka. Ken takut jika Tita terus menerus memikirkan masa lalunya.
Daren menangkap kegelisahan Ken. Dengan tegas Daren pun memutuskan hasil meeting mereka. Ken menyadari jika menantunya mengetahui kegelisahannya. Dan Meeting pun usai. Satu persatu anggota Meeting pun keluar menyisakan Rahman, Ken dan Daren.
"Ada apa Dad?" Daren.
"Tidak ada apa-apa. Daddy hanya mengkhawatirkan Mommy kalian yang menunggu di ruangan Daddy." Ken.
"Mommy akan baik-baik saja Dad." Daren.
"Baiklah Dad. Apa Daren perlu ikut?" Daren.
"Tidak perlu. Biar Daddy dan Mommy saja. Kamu selesaikan pekerjaan mu saja." Ken.
"Baiklah Dad. Besok jika Daddy akan libur boleh Dad." Daren.
"Terima kasih Nak." Ken.
"Kamu kerjakan pekerjaan saya Man." Tambah Ken pada Rahman.
"Baik Bos." Rahman.
Mereka bertiga pun meninggalkan ruangan Meeting menuju ruangan mereka masing-masing. Ken berjalan lebih cepat agar segera sampai ke ruangannya. Ken bernafas lega ketika melihat Tita tengah meringkuk di atas tempat tidur.
__ADS_1
Tita mengikuti apa yang di perintahkan oleh Ken untuk tidur. Ken membereskan pekerjaannya kemudian membangunkan Tita perlahan.
"Hm... Udah selesai Mas?" Tanya Tita dengan suara khas bangun tidur.
"Sudah sayang. Maaf ya kamu menunggu terlalu lama." Ken.
"Ngga apa-apa Mas. Kan Tita juga cuma tidur." Tita.
"Yuk bersiap kita ke rumah Tiara." Ken.
"Oke." Tita.
Tita ke kamar mandi untuk cuci muka agar wajahnya terlihat lebih segar. Setelah siap mereka berdua pun keluar dari ruangan Ken dengan saling bergandengan tangan. Mereka pamit kepada Rahman dan juga Daren.
"Ren, Daddy sama Mommy pulang lebih dulu ya." Ken.
"Iya Dad. Hati-hati di jalan." Jawab Daren mencium punggung tangan Ken dan Tita.
"Kamu jangan terlalu sore pulangnya. Kasian Keina dan Reina menunggu kamu." Tita.
"Siap Mom. Maaf kami masih di rumah Mami." Daren.
"Tidak masalah. Yang penting Reina senang dan sehat." Tita.
"iya Mom." Daren.
Ken mengendarai mobilnya sendiri dengan Tita yang duduk tenang di samping kemudi.Ken menjalankan mobilnya sedikit lebih cepat dari biasanya mengingat jarak kantor dan makam lumayan jauh.
Sebelum memasuki pemakaman Tita dan Ken membeli bunga untuk di simpan di atas pusara Tiara. Tak lupa juga Ken dan Tita membawakan bunga untuk Tuan dan Nyonya Ito. Karena mereka pun di semayamkan di dekat Tiara.
Ken dan Tita menyapa penjaga makam terlebih dahulu sebelum mereka masuk kedalam. Setelah itu Ken dan Tita berjalan menuju makam Tiara, Tuan dan Nyonya Ito.
"Halo anak Mommy sayang. Maaf Mommy dan Daddy baru datang lagi ke sini ya. Kakak Keina sudah melahirkan sayang. Keponakan kamu cantik deh sama cantiknya seperti Onty nya. Minggu depan adek Daffin akan menikah sayang." Ucap Tita bercerita di depan pusara Tiara.
Setelah bercerita panjang lebar Tita dan Ken pun kemudian berdo'a untuk mendo'akan Tiara, Tuan dan Nyonya Ito juga. Karena sudah hampir sore mereka pun tak lama berada di pemakaman.
__ADS_1
Tita dan Ken berpamitan pada pusara Tiara, Tuan dan Nyonya Ito. Tak lupa mereka berdua pun berpamitan pada penjaga makam dan memberikan sedikit uang kepadanya. Itu yang selalu mereka lakukan jika datang. Sebagai rasa terima kasih telah merawat dan menjaga makam orang tua dan putri mereka.
🌻🌻🌻