
Terjadi kehebohan di butik milik Ayumi karena kedatangan saudara Ayumi. Semua karyawan Ayumi pun di buat kewalahan untuk melayani mereka semua. Sementara Ayumi spesial melayani Intan. Reina menjadi pusat perhatian semuanya. Bayi yang usianya belum genap dua minggu itu mencuri perhatian semua yang berada di butik.
"Aduh lucu banget sih. Cantik lagi. Siapa namanya Kak?" Tanya pelanggan Ayumi pada Keina.
"Rein Tante." Jawab Keina.
"Aduh,, jadi pengen cepet nikah terus punya boneka kaya gini." Ucap pelanggan itu lagi.
"Aamiin. Semoga di segerakan ya Kak." Keina.
Keina pun membawa Rein masuk. Tidak boleh ada yang menyentuh Rein sebelum mencuci tangan. Karena terlalu rentan. Di dalam ruangan Ayumi Rein hanya di baringkan di strollernya. Hanya di gendong saat Rein haus.
"Udah booking restoran belum buat makan siang?" Tita.
"Sudah Onty. Nanti kita bisa langsung ke sana." Gladys.
"Laras sama Jess gimana?" Tita.
"Mereka juga langsung meluncur Ty." Gladys.
"Oke. Menu sudah oke ya?" Tita.
"Sudah." Gladys.
Walaupun orang-orang dewasa di sekitarnya saling berteriak menyerukan pendapat dan keingian mereka Reina tetap tertidur pulas setelah meminum susu melalui sumbernya. Intan begitu bahagia bisa berada di tengah-tengah keluarga Daffin.
Namun tak dapat di pungkiri rasa rindu terhadap keluarga angaktnya begitu besar. Intan pun masih sering berkunjung ke makam mereka berbagi cerita bersama orang tua angkatnya dan juga adik angkatnya. Hanya dengan pusaea mereka tanpa ada jawaban.
Sementara di perusahaan Ken. Berkumpul Ken, Daren dan Daffin. Ke sengaja mengumpulkan keduanya di kantor untuk menceritakan tentang Intan. Ken tak ingin Daffin merasa di bohongi.
"Bagaimana proyek kamu Daff?" Ken.
"Alhamdulillah sudah berjalan Dad. Sejauh ini masih aman." Lapor Daffin.
"Kau Ren?" Ken.
"Alhamdulillah aman juga Dad. Kemarin sempat ada kendala dengan proyek yang ada di kota D tapi sudah di atasi dan kembali berjalan." Daren.
"Benarkah? Kok Daddy tidak menerima laporan kendala?" Ken.
__ADS_1
"Daren sudah selesaikan Dad sebelum sampai ke meja Daddy. Karena itu hanya masalah sepele sebenarnya namun mereka menperbesarnya." Daren.
"Bagus. Kau harus belajar dari Abang dalam menyelesaikan masalah Daff. Selama Abang bekerja dengan Daddy sangat jarang dan bisa di bilang tidak pernah ada laporan kasus sampai di meja Daddy. Walaupun Abang kamu bekerja dari rumah." Ken.
"Tentu Dad." Daffin.
"Kau juga harus tau bagaimana bersikap Daff. Apalagi setelah kau menikah nanti." Ken.
"Siap Dad." Daffin.
"Lalu bagaimana kuliah kamu?" Ken.
"Semester depan sudah masuk magang Dad. Dan pengajuan maganganya di kantor Om Abi." Daffin.
"Kenapa tidak memilih kantor ini atau kantor Om Nio?" Ken.
"Terlalu riskan Dad. Disini semua akan tau Daff anak Daddy apalagi Daff sudah memiliki posisi sendiri. Di kantor Om Nio wah,,, bisa habislah Daff sama Bang Zio. Mending di kantor Om Abi saja bersama Bang Andre." Daffin.
"Tapi, jangan sepele kan Andre Daff. Karena saat di kantor dan di rumah itu akan berbeda." Daren.
"Siap Bang. Daff juga sudah bicarakan dengan Om Abi dan Bang Andre." Daffin.
"Penuh Dad." Daffin.
Mereka pun berbincang santai mengenai kuliah Daffin dan beberapa pekerjaan mereka. Daffin dan Daren memang memiliki posisi yang cukup baik di perusahaan tersebut. Daren sebagai CEOnya dan Daffin sebagai direktur perencanaan.
Tak ada yang menyangka jika Daffin adalah adik ipar Daren. Yang mereka tau Daren anak dari Ken dan Keina adalah menantu. Karena kedekatan Daren dan Daffin yang tak terlihat seperti ipar.
"Daff, semoga apa yang akan Daddy sampaikan tidak akan merubah hati kamu." Ken.
"Ada apa Dad?" Daffin.
"Sebenarnya Daddy, Yaya, Buna dan Mommy sudah mnegetahui asal usul Intan. Bukannya kami tak percaya padanya. Hanya saja kami berjaga-jaga." Ken.
"Iya Dad Daff mengerti." Daffin.
"Orang tua kandung Intan masih hidup dan hidup sedikit kurang layak. Mereka memang menitipkam Intan pada orang tua angkat Intan dengan sengaja karena himpitan ekonomi.
Daddy memberikan bantuan kepada mereka tapi tidak atas nama Daddy melainkan pemerintah. Tapi, jika kalian ingin kehidupan yang lebih layak lagi Daddy akan bantu." Jelas Ken.
__ADS_1
"Dad, Daff tidak tau harus bagaimana berdiskusi dengan Intan juga Daff rasa ini bukan waktu yang tepat. Setiap kali Daff tanya pada Intan mengenai krang tua kandungnya Intan masih setia dengan jawaban tak mau tau.
Daff rasa bukan karena Intan durhaka melainkan situasinya saat ini Intan lebih merasa kehilangan orang tua angkatnya. Dan Intan takut jika dirinya mengetahui siapa orang tua kandungnya lantas mereka menolak kehadiran Intan. Jelas Daffin.
"Ya. Itu juga yang Daddy fikirkan." Ken.
"Apa Intan memiliki saudara kandung Dad?" Daren.
"Tidak. Intan merupakan anak tunggal dari pasangan ini." Ken.
"Apa pekerjaan mereka Dad?" Daffin.
"Ayah nya bekerja sebagai kuli panggul dan Ibunya pemulung." Ken.
Daffin dan Daren menutup mulutnya tak percaya. Bahkan orang tua kandung Intan jauh dari kata layak. Pantas saja Intan di berikan pada orang tua angkatnya dulu. Mereka menginginkan kehidupan yang lebih layak untuk anaknya.
"Dad, apa mereka ada ke inginan bertemu Intan?" Daffin.
"Tidak ada. Karena mereka menganggap Intan telah tiada. Jikapun Intan datang menemui mereka, mereka tidak akan mengenali Intan sedikitpun." Ken.
"Daren rasa biarkan saja seperti ini dulu Dad, Daff. Jika nanti Intan memang berkeinginan ingin mengetahui siapa orang tua kandungnya maka kita tunjukan. Karena orang tua angkatnya saja dulu tidak sedikitpun memberitahukan tentang ini pada Intan." Daren.
"Ya, Abang benar. Daff akan menjaga Intan semampu Daff." Daffin.
"Bagus. Sekarang fokus saja pada pernikahan kalian." Ken.
"Iya Dad.." Daffin.
Perbincangan ketiga pria dewasa itu begitu intim namun masih terlihat santai. Sangat jarang bagi ke tiganya berkumpul bersama seperti ini. Biasanya akan ada Tita atau Keina terselip diantara para pria itu.
Mereka bertiga pun memutuskan untuk makan siang di kantin perusahaan. Para karyawan yang tidak biasa melihat mereka pun saling berbisik. Apalagi pesona Daren dan Daffin.
Banyak para karyawan perempuan yang begitu mengagumi mereka bahkan ada juga di antara mereka yang terang-terangan mengatakan jika mereka menyukai Daren atau Daffin.
Namun, seperti halnya Ken. Daren dan Daffin tak menggubris semuanya. Mereka berdua menulikan pendengarannya dari hal-hal yang tidak penting. Banyak kiriman bunga dan coklat untuk Daren dan Daffin. Akan tetapi semua itu hanya akan sampai di meja sekretaris mereka.
Bahkan Daren dan Daffin tak mengetahuinya sama sekali. Karena mereka memang berpesan tidak perlu memberitahukan tentang hal itu pada mereka. Karena itu semua tidak penting bagi mereka.
🌻🌻🌻
__ADS_1