
Seisi rumah utama begitu sibuk menyiapkan acara pertunangan Gladys dan Angga malam nanti. Hingga tak ada yang menyadari jika pengantin baru mereka belum keluar hingga waktu sarapan sudah berlalu.
Keluarga akan datang sore hari karena mereka harus bekerja terlebih dahulu. Begitupun dengan kakak dari Tita. Keluarga Kevin pun di beritahu pernikahan Gagah dan rencana pertunangan Gladys hanya saja mereka berhalangan datang karena kondisi Kevin ya g semakin menurun.
Kevin memang selalu sakit-sakitan setelah kepergian mendiang istrinya. Hidupnya tak bergairah. Setiap hari hanya mendiang istrinya yang selalu dia fikirkan. Beberapa kali Kevin keluar masuk rumah sakit. Bahkan Tita pun pernah sekali menjenguknya tapi hanya beberapa hari saja karena Ken tak dapat meninggalkan pekerjaannya terlalu lama.
Gagah mengerjapkan matanya ketika sinar dari luar jendelanya menerobos masuk dan menyilaukan matanya. Gagah membuka matanya dan betapa terkejutnya dia saat melihat jam yang menggantung di dinding kamarnya menunjukan pukul 10 pagi.
Gagah mengambil cuti satu minggu di rumah sakit dan memilih kuliah online selama satu minggu kedepan karena ingin memberikan kualitas bersama istrinya walaupun tak ada rencana bulan madu dalam waktu dekat.
Gagah bangkit sari tidurnya. Dilihatnya sang istri masih asik dengan mimpinya. Gagah pun menyunggingkan senyumnya mengingat pergulatan dengan istrinya semalam. Hal yang baru pertama kali dirinya dan juga Laras lakukan.
Gagah pergi ke kamar mandi dengan hanya menggunakan boxernya saja. Karena semalam setelah pergulatan bersama istrinya Gagah tak menggunakan lagi bajunya begitupun dengan Laras yang kelelahan dan tertidur dengan masih dalam keadaan polos dan hanya di tutupi oleh selimut tebal.
Setelah menyelesaikan mandinya Gagah pun menyiapkan air hangat untuk Laras mandi. Gagah mengenakan pakaiannya terlebih dahulu kemudian membangunkan Laras dengan lembut.
"Istriku sayang. Bangunlah. Sudah siang. Ayo mandi Kakak sudah menyiapkan air untukmu." Ucap Gagah mengusap lembut pipi Laras.
Merasakan ada yang menyentuhnya Laraspun membuka matanya.
"Hm.. Jam berapa Kak? Badan Laras sakit." Ucap Laras dengan suara khas bangun tidurnya dan si alnya itu terdengar seksi di telinga Gagah.
"Sepuluh tiga puluh." Gagah.
"Hah! Benarkah?" Ucap Laras bangun dari tidurnya dan membuat selimut yang menutupinya melorot dan memperlihatkan dua gundukan kembarnya.
"Iya sayang. Dan kamu mau menggodaku sekarang?" Ucap Gagah menatap penuh minat.
Laras menunduk dan dengan cepat menutupi gundukannya kembarnya dengan wajah yang memerah.
"Kakak! Mesum." Teriak Laras dari balik selimut.
"Kakak belajar mesum dari mu dan hanya padamu Kakak mesum." Gagah.
"Kakak, awas. Laras mau mandi." Laras.
"Mandilah Kakak sudah siapkan air panasnya." Gagah.
Laras pun mencoba bangun dengan badan yang terasa remuk akibat ulah Gagah semalam yang membuatnya sangat kewalahan. Laras belum bisa mengimbangi Gagah yang sangat bersemangat melakukannya.
__ADS_1
Saat dirinya berdiri Laras merasakan sakit yang luar biasa pada area sensitifnya apalagi saat kakinya mecoba di langkahkan. Laras menatap Gagah yang duduk di sofa membuka tabletnya.
"Kak." Panggilnya lirih dan hampir menangis.
"Kenapa?" Tanya Gagah santai.
"Kakak.." Panggil Laras lagi dan bulir bening pun menetes di pipinya.
Gagah menoleh ke arah Laras dan betapa terkejutnya Gagah mendapati Laras yang menangis.
"Ras, kamu kenapa? Kok nangis?" Tanya Gagah menyimpan tabletnya di atas meja dan menghampiri Laras.
"Sakit." Ucap Laras lirih.
"Mana? Yang mana sakit?" Tanya Gagah panik.
"Itu Kak di sini." Tunjuk Laras pada bagian intinya.
"Astaga! Maafkan Kakak sayang." Ucap Gagah menyibak rambut Laras yang menggerai ke dapan dan mencium kening Laras dalam penuh kasih.
Tanpa berkata lagi Gagah mengangkat tubuh Laras ala bridal menuju kamar mandi dan Laras pun mengalungkan tangannya di leher Gagah. Sampai kamar mandi di turunkannya Laras perlahan untuk membuka selimut yang melilit tubuh polos Laras.
"Berendamlah. Katanya itu akan mengurangi rasa sakitnya. Mau di mandikan sekalian?" Gagah.
"Ngga mau. Nanti ga mandi lagi." Laras.
"Hahaha... Kamu mulai tau apa yang Kakak fikirkan." Gagah mengusap lembut kepala Laras.
"Kakak di luar ya. Mau cek tugas dulu." Ucap Gagah dan Laras hanya menganggukkan kepalanya.
Gagah pun keluar dan berkutat kembali dengan tabletnya dan mulai mengecek tugasnya sayu persatu. Gagah pun mencoba mengerjakannya satu persatu yang bisa dirinya kerjakan.
Sementara di kamar mandi karena air di dalam bathtub sudah dirasa dingin Laras pun keluar dari dalamnya dan membilas tubuhnya di bawah guyuran shower. Dan betapa terkejut dirinya melihat pantulan dirinya di depan cermin.
Leher dan bagian dadanya di penuhi tanda jejak suaminya. Laras menutup mulutnya yang terbuka lebar melihat tanda jejak di tubuhnya. Laras pun menyelesaikan ritual mandinya dan mengenakan handuk yang di lilitkan di tubuhnya keluar dari kamar mandi karena lupa tidak membawa baju ganti.
Laras mengenakan pakaiannya di walk in closet. Setelah itu Laras mengeringkan rambutnya kemudian Laras mengambil tas kosmetiknya dan mengambil sesuatu yang bisa menutupi area lehernya yang memerah akibat suaminya.
Gagah hanya melirik sekilas melihat tingkah Laras dan membuatnya tersenyum tipis. Karena dirinyalah yang membuat Laras kerepotan menutupinya.
__ADS_1
"Kak, masih banyak ya tugasnya?" Tanya Laras duduk di samping Gagah.
"Tidak. Ini udah sedikit lagi kok. Kenapa?" Tanya Gagah menengok sekilas ke arah Laras.
"Lapar." Ucap Laras singkat.
"Astaga! Kakak lupa kalo kita melewatkan sarapan kita. Ayo kita makan. Biar tugasnya Kakak lanjutkan nanti." Ajak Gagah mematikan tabnya dan tak lupa untuk save pekerjaannya.
Gagah menyimpan tabnya kemudian mengajak Laras keluar dari kamarnya dan menuju dapur. Tanpa di sadari tangan mereka saling bertautan.
"Astaga! Kakak. Kalian baru bangun?" Tanya Ayumi yang melihat anak menantunya yang baru keluar dari kamar.
"Eh, Bunda. Maaf Laras kesiangan Bunda." Ucap Laras malu.
"Ngga apa-apa sayang. Pasti ini kerjaan anak Bunda. Ayo makan. Kamu belum sarapan tadi." Tarik Ayumi pada Laras.
"Aw.." Pekik Laras.
"Aduh! Kenapa? Bunda kekencengan ya nariknya?" Tanya Ayumi panik.
"Hah! Ngga Bun. Itu.." Ucap Laras terjeda dengan wajah yang memerah.
"Makanya sabar Bun. Kaki Laras sakit tadi kepentok kursi." Bohong Gagah tak ingin membuat istrinya malu.
"Aduh, maafin Bunda ya sayang. Sudah di obati?" Ayumi.
"Sudah Bun. Kan suami Laras dokter." Laras.
"Ceh, iya... iya... Sudah ayo kamu gendong istri kamu ke meja makan." Titah Ayumi.
"Eh, ga usah Bunda. Laras bisa jalan kok tapi pelan hehehe.." Laras.
"Ya udah Bunda duluan ke meja makan siapin makanan buat kalian." Ayumi.
"Ngga usah Bunda. Biar bibik aja. Lagian kan Bunda lagi repot." Gagah.
"Memang Bunda akan minta bibi siapin. Bunda mau cek persiapan buat nanti malam." Ucap Ayumi santai.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏