
Bunga menatap satu persatu orang yang berada di ruangan itu. Kemudian manik matanya bertemu dengan manik Angel Ibu dari Daren. Di sana tersimpan asa yang begitu dalam membuat Bunga tak tega jika dirinya menolak pinangan dari Daren.
Tapi, Bunga pun tak mengenal Daren bagaimana mungkin dirinya bisa menikah dengan orang yang baru saja beberapa jam yang lalu di kenalnya. Bahkan untuk mencintainya hanya dalam beberapa jam saja itu sangat mustahil baginya.
Melihat sendu mata Angel membuat Bunga menganggukkan kepalanya begitu saja menerima pinangan Daren. Dirinya sudah tak perduli lagi bagaimana kehidupan kedepan. Entah apa yang akan terjadi padanya.
"Thank you. You will receive our child in her every want. Thank you. that's all I can say." Ucap Angel penuh harap.
Ibu Niken tersenyum mendengarnya. Pasalnya Ibu Niken pernah bekerja di salah satu orang luar selama beberapa tahun yang membuatnya bisa berbahasa. Begitupun dengan Bunga.
Bunga membalas uluran tangan Angel dan Angel membawanya kedalam pelukannya. Tanpa terasa Angel meneteskan air matanya. Mikha mengusap lembut punggung istrinya. Bunga mengurai pelukannya dan menghapus sisa air mata yang membasahi pipi Angel.
"Terima kasih Nak Bunga, Bu Niken. Kalian menerima pinangan kami untuk Daren. Jadi, saya rasa untuk mempersingkat waktu yang semakin larut. Kita tentukan saja kapan pernikahan akan di adakan." Olla.
"Minggu depan." Jawab Daren lantang.
"Astaga!" Ucap Tita menepuk lengan Daren yang duduk di sampingnya.
"Daren, ini pernikahan bukan acara ulang tahun." Jawab Olla gemas.
"Iya Onty. Daren tau ini pernikahan. Dan Daren ingin itu terjadi minggu depan." Daren.
"Astaga! Lihatlah Mik. Anakmu akan membuat istri-istri kita melupakan kita." Celetuk Tanio.
Ibu Niken tersenyum melihat semua panik karena keingin Daren yang benar-benar membuat semua orang kalang kabut. Ibu Niken pun merasa konyol menerima lamaran hanya dengan pakaian rumahan yang sangat sederhana atau mungkin bisa di katakan di bawah kata sederhana.
Dan lihatlah Bunga yang hanya mengenakan piyama saja menerima lamaran seorang pria. Angel memasangkan sebuah cincin berlian yang sederhana di jemari Bunga. Bunga melihat jari lentiknya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Baiklah. Kita putuskan dua minggu lagi acara pernikahannya." Olla.
"Dan karena waktu yang singkat itu. Onty harap kerjasama kamu D. Hubungi Buna untuk memintanya membuatkan gaun pengantin yang indah untuk Bunga. Nanti biar Onty dan Onty Tita urus yang lainnya." Olla.
"Besok D bawa Bunga ke tempat Buna." Daren.
"Bagaimana Bunga apa kamu ada waktu besok?" Tita.
"Hm... Besok Bunga masuk sore Tante." Bunga.
"Baiklah. Kalian bisa pergi besok pagi sebelum Bunga kerja." Tita.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Apakah Ibu mengijinkan jika Bunga sudah menjadi istri saya Bunga berhenti bekerja?" Daren.
Deg..
Bunga menatap manik ibunya. Ibu Niken terdiam sejenak mendengar pertanyaan calon menantunya. Pasalnya Ibu Niken sangat menginginkan putrinya menjadi seorang perawat seperti yang di cita-citakan olehnya sejak dulu.
"Untuk itu Ibu serahkan pada kalian." Jawab Ibu Niken dengan berat.
"Tita juga seorang perawat Bu. Dan berhenti bekerja setelah menikah dengan Ken. Mungkin itu yang di lihat Daren." Olla.
Ibu Niken mentap Tita. Ibu Niken terlihat mengagumi Tita yang memilki paras yang masih terlihat cantik walaupun usianya tak muda lagi. Begitupun dengan Olla dan Angel. Sudah bisa di pastikan keluarga mereka bukan keluarga biasa.
Setelah semua di sepakati Daren dan yang lainnya pun berpamitan. Mikha berterima kasih pada Pak RT dan memberikan sebuah amplop berisikan sejumlah uang tunai tanda terima kasih. Walaupun Pak RT menolak Mikha tetap bersikukuh memberikannya karena Pak RT sudah meluangkan waktunya untuk keluarga mereka.
Dua mobil mewah meninggalkan pekarangan rumah Bunga yang sederhana tanpa pagar. Karena memang seperti itulah rumah-rumah di kampung Bunga. Tak ada pagar tinggi menjulang yang membatasi antara rumah dan rumah.
Setelah tamunya pergi Ibu Niken dan Bunga tak lantas pergi ke kamar keduanya sama-sama duduk di ruangan yang tadi berisikan tamu-tamunya. Keduanya sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
"Apa mereka orang kaya Nak?" Tanya Bu Niken.
"Entahlah Bu. Sepertinya iya di lihat dari mobilnya dan tunggu siapa tadi nama om dan tantenya?" Tanya Bunga mengingat perkenalan tadi.
"Kenapa? Siapa Kenzo Ito?" Ibu Niken.
"Kenzo Ito pemilik saham tertinggi di rumah sakit. Beliau merupakan adik ipar dari Dokter Rehan pemilik rumah sakit tempat Bunga kerja Bu." Bunga.
Ibu Niken menutup mulutnya yang terbuka menggunakan telapak tangannya sama seperti yang di lakukan Bunga baru saja. Dirinya tak menyangka akan berbesan dengan orang besar seperti mereka.
"Kau yakin Nak?" Tanya Ibu Niken.
"Yakin Bu. Bakhan tadi saja saat Bunga ketemu dia tengah berada di kelas VVIP khusus keluarga pemilik rumah sakit." Bunga.
"Kenapa kamu ngga bilang Nak? Apa mereka tidak malu berbesan dengan ibu. Dan astaga! Lihatlah apa yang kita kenakan dalam acara sebuah lamaran." Menunjuk pakaian yang dikenakan olehnya dan juga Bunga.
"Astaga! Ibu... kenapa Ibu tidak mengatakannya sejak tadi. Aduuuh... " Ucap Bunga menepuk jidatnya.
"Kau ini. Ibu saja beru menyadarinya." Ibu Niken.
"Ah, sudahlah. Salah mereka sendiri kenapa datang tak mengabari." Bunga.
__ADS_1
Pletak...
"Kau ini. Sudah sana tidur. Dan ini bawa semua hantaran ini masuk." Titah Ibu Niken.
"Iya Bu.." Bunga.
Sementara dalam perjalanan pulang. Tita dan Olla sibuk mencari WO untuk acara pernikahan sang keponakan yang mendadak. Olla dan Tita tak mau pernikahanya terlihat biasa dan tanpa persiapan. Keduanya sibuk berdiskusi di dalam mobil.
"Lihatlah Ken. Baru saja kita pergi meninggalkan rumah Bunga dan kita sudah di acuhkan oleh mereka." Tanio.
"Huh!! Kuta harus meminta ganti rugi pada Mikha." Ken.
"Enaknya kita minta apa ya dari dia?" Tanio.
"Liburan? Atau saham?" Tanio.
"Liburan gratis saja kepulau yang banyak cewek-cewek cantiknya." Celetuk Ken.
"Setuju." Tanio.
"Maaassss...."
Teriak Olla dan Tita bersamaan dengan berkacak pinggang mendengar obrolan suami mereka yang duduk di bangku depan. Sementara Tanio dan Ken hanya menampilkan deretan gigi mereka mendengar protes dari istri-istri mereka.
"Becanda sayang..." Ken.
"Ga ada jatah pokoknya." Tita.
"Eit,,, jangan dong sayang. Salahin Bang Mikha tuh yang kejam membuat istri Mas sibuk." Pebelaan Ken.
"Mas," Panggil Olla lebih lembut pada Tanio namun membuat Tanio merinding.
"Mas cuma mengiyakan saja sayang. Ngga bermaksud begitu kok." Tanio.
"Maksud ga ada tapi niat ada." Olla.
"Ngga dong sayang. Kamu tetap yang ter the best." Tanio.
"Berarti pernah ada yang the best lainnya?" Olla.
__ADS_1
🌻🌻🌻