Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Berlayar


__ADS_3

Tengah malam Sinta terbangun karena ingin buang air kecil. Karena Sinta tidur dengan memeluk Zayn membuat Zayn pun terbangun karena pergerakan Sinta. Sinta pun menoleh pada Zayn dan tersenyum.


"Mau kemana?" Tanya Zayn dengan suara khasnya.


"Kamar mandi." Jawab Sinta santai.


Sinta melanjutkan pergerakannya dan turun dari ranjang menuju kamar mandi yang seperti biasa Sinta tidak menutupnya. Entah apa yang terjadi tiba-tiba milik Zayn terbangun begitu saja saat melihat Sinta dalam kamar mandi.


Zayn pun segera menelungkupkan dirinya dan menekan hasratnya yang tiba-tiba saja bangun. Namun tanpa di sadari Sinta sudah kembali ke tempat tidur dan menyusupkan dirinya ke dalam pelukkan Zayn.


Zayn sedikit terperanjat dan mendesah. Sinta yang merasakan ada sesuatu mengenai pahanya menatap manik mata Zayn yang di penuhi kabut gairah.


"Sayang.." Bisik Zayn.


"Hm...." Jawab Sinta gugup.


"Abang boleh meminta hak Abang malam ini?" Tanya Zayn penuh hasrat.


Dengan ragu Sinta pun menganggukkan kepalanya. Di satu sisi Sinta takut tapi di sisi lain Sinta pun tak bisa menolak karena takut berdosa. Akhirnya Sinta pun memasrahkan dirinya pada Zayn malam ini.


Zayn memulainya dengan lembut hingga Sinta pun ikut terhanyut ke dalamnya. Malam yang panjang pun mereka lalui berdua. Jeritan Sinta tertahan oleh bekapan benda kenyal milik Zayn.


Setelah keduanya mencapai puncak nirwana keduanya pun saling berpelukan melepas lelas namun entah mengapa seperti ada dorongan tersendiri Zayn mengulangnya lagi ,lagi dan lagi hingga pagi hari menjelang.


Saat ketukan bahkan mungkin gedoran terdengar di pintu kamar mereka. Mereka pun masih dengan setia memejamkan matanya. Karena weekend Zayn pun tak berencana masuk kantor. Karena pekerjaannya sudah di selesaikan kemarin malam.


Olla pun merasa heran karena baik Zayn maupun Sinta belum juga bangun hingga jam menunjukkan pukul sepuluh siang. Beberapa kali Olla menanyakan apakah sepasang manusia itu sudah keluar dari kamar atau belum dan beberapa kali juga Olla mendapatkan jawaban belum.


"Ada apa Bun?" Nio.


"Zayn sama Sinta belum keluar kamar Yah." Cemas Olla.


"Biarkan saja Bun. Kaya ga pernah muda aja.". Goda Nio.


"Ayah ini. Kalo kita kan beda Yah. Kita nikah karena memang saling suka. Tapi mereka." Jawab Olla menggantung.


"Sayang. Sini duduk." Panggil Nio menepuk sampingnya yang kosong.


Olla pun menurutinya dengan duduk di samping Nio.


"Putra kita lelaki normal. Begitu juga dengan menantu kita wanita normal. Lama terus bersama akan membuatnya tergoda sayang dan tidak mungkin mereka diam saja. Toh mereka halal melakukannya bukan? Jadi kita do'akan saja yang terbaik untuk anak dan menantu kita." Jelas Nio.


"Apa bisa secepat itu Mas?" Olla.


"Bisa sayang. Mas saja dulu bisa dengan cepat suka sama kamu yang pecicilan sama kaya Tita." Goda Nio.

__ADS_1


"Iiih,,, ngga ya. Melan tuh sama Tita yang begitu." Sanggah Olla.


"Bagaimana pun kamu Mas tetap suka. Kamu yang terbaik." Nio.


"Gombal.." Olla.


Olla dan Nio pun menikmati kebersamaan berdua dengan saling menggoda. Begitulah mereka di saat senggang. Bercengkrama berdua atau bersama ke tiga putra dan putri mereka.


"Siang Yah, Bun." Sapa Zayn yang sedang menuruni anak tangga dengan hanya menggunakan celana pendek dan kaos.


"Abis berlayar Zayn sampe pulang sesiang inu?" Tanya Nio.


"Ayah Kepo." Jawab Zayn santai menuju dapur.


Plak...


"Aww,, kenapa mukul sih Bun... Sakit ah.." Protes Nio.


"Lagian Ayah pertanyaannya." Olla.


"Lah, ada yang salah? Ngga ah." Nio.


Zayn kembali dengan air minum di tangannya dan meminta bibi membawakan sarapan sekaligus makan siang untuk dirinya dan Sinta.


"Kurang enak badan Bun. Mungkin semalam terlalu lama.." Belum selesai Zayn menjawab Nio sudah menyelanya.


"Terlalu lama berlayar Bun. Habis berapa putaran Zayn. Jangan keterlaluan masih bisa melakukannya besok dan besoknya lagi." Nio.


"Ayah." Olla.


"Sudah jangan dengarkan Ayah. Apa perlu panggil Om Angga?" Olla.


"Tidak perlu Bun. Biar Sinta istirahat saja. Zayn juga kan ga ke kantor." Zayn.


Zayn melanjutkan langkahnya menuju kamar membawakan minum dan makanan untuk Sinta. Sinta tengah menunggunya duduk di atas ranjang dengan menyandarkan dirinya pada headboard.


"Kok lama Bang?" Tanya Sinta yang melihat Zayn masuk.


"Tadi Bunda nanyain kamu." Zayn.


"Terus Abang jawab apa?" Sinta.


"Kamu kecapean abis di bikin enak sama Abang." Ucap Zayn asal.


"Abang..." Teriak Sinta melempat bantalnya pada Zayn.

__ADS_1


"Hahahaa.... Ngga dong sayang. Abang bilang kamu masuk angin. Karena kemarin terlalu lama di pinggir kolam." Zayn.


"Abang, terus ini gimana? Masa Sinta ga bisa jalan sih." Rengek Sinta.


"Bisa sayang. Itu ga akan lama kok. Maaf ya. Mau mandi dulu atau makan dulu?" Tanya Zayn.


"Makan Bang laper.." Rengek Sinta.


Setelah menghabisakan makanannya mereka pun mandi bersama dan lagi-lagi Zayn mengulang kegiatannya tadi malam hingga membuat Sinta terkulai lemas. Zayn pun membantu Sinta mengenakan pakaiannya.


"Maaf ya sayang. Abang ga bisa nahan." Ucap Zayn dan Sinta hanya mengangguk saja.


Tak berbeda jauh dengan Zizi yang tak di beri sedikit pun jeda untuk beristirahat oleh Andre. Entah dari mana tenaga yang di perolehnya hingga kegiatannya tak pernah usai. Karena besok siang mereka harus pulang kembali Andre pun bagai tak menyia-nyiakan waktu berdua dengan Zizi.


"Abang,,, bukankah kita bisa melakukannya lagi di rumah. Ayo kita beli oleh-oleh dulu." Rengek Zizi saat Andre memintanya lagi.


"Sayang. Rasanya akan sangat berbeda saat kita di rumah nanti." Bujuk Andre.


"Sama pokoknya sama saja rasanya. Ayo pergi atau ga ada jatah lagi sama sekali." Ancam Zizi.


"Jangan dong sayang. Masa kamu tega sih sama Abang." Rayu Andre.


"Makanya ayo pergi." Rengek Zizi.


"Iya-iya. Tapi sebentar aja ya." Andre.


"Iya. Yang penting kita pergi dulu. Masa iya menantu Dirgantara pergi-pergi ga bawa oleh-oleh." Sindir Zizi.


"Astaga! Iya sayang iya." Jawab Andre segera bersiap.


Walaupun sedikit kesulitan untuk berjalan tapi Zizi berusaha untuk jalan seperti biasa walaupun tetap terlihat aneh. Andre pun dengan sabar melayani rengekan demi rengekan Zizi yang menyalahkannya hingga tak mampu berjalan dengan benar.


Setelah berbelanja cukup banyak untuk oleh-oleh keluarga dan teman kuliahnya Zizi pun meminta makan di restoran terdekat karena perutnya yang sudah lapar. Padahal Andre sudah tak tahan ingin segera menuju villa kembali.


Zizi pun membelokkan dirinya masuk kedalam restoran begitu saja tanpa persetujuan Andre terlebih dahulu karena rasa laparnya. Andre pun hanya mengikutinya saja.


"Abang mau makan apa?" Tanya Zizi.


"Apapun yang kamu pilihkan Abang pasti makan sayang." Jawab Andre.


Setelah memesan makanan mereka berdua pun bersenda gurau tampak begitu mesra. Tampak Andre yang tak bisa jauh dari Zizi. Andre terus memeluk pinggang Zizi seolah takut di tinggal.


"Andre, Zizi..."


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2