Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Manja


__ADS_3

Tita sangat santai menanggapi kejadian kecelakaan yang merenggut satu orang nyawa. Sementara semua begitu panik walau tak melihatnya. Gagah yang notabene seorang dokter saja begitu kaget mendengar kecelakaan tersebut.


"Tita audah pernah melihat orang dengan berbagai macam gaya kematian Bu. Jadi yang Tita biasa saja melihat kejadian tadi. Walaupun Tita juga kaget denger suaranya." Jelas Tita.


"Hufh... Kakak lupa kalo kamu perawat dan lernah bekerja pada bagian otopsi." Ayumi.


"Wow! Benarkan Onty?" Angga.


"Ya. Makanya ayo lanjutkan sekolag kamu. Masa jadi dokter umum aja." Tita.


"Kalo semua jadi spesialis ga asik Ty. Angga bukan ga mau dan tidak mempelajarinya. Bukannya sombong Angga sekolah syaraf Ty. Hanya saja Angga masih menggunakan dokter umum Angga." Jelas Angga.


"Eh, pantesan Kamu betah sama adek aku." Gagah.


"Maksud Kakak?!" Teriak Gladys tak terima.


"Loh, kenapa ga di pake?" Nyonya Laura.


"Untuk masuk rumah sakit keluarga itu ga mudah Oma. Saat itu dokter umum yang tengah di butuhkan jadi ya kenapa tidak." Angga.


"Kamu ga sayang?" Ayumi.


"Ngga Bunda." Angga.


"Kalo begitu kamu bisa bantu Kakak untuk menangani Tante Ai?" Gagah.


"Biar Kakak saja dengan dokter Emanuel." Angga.


"Astaga! Pantes saja kamu begitu mengerti apa yang terjadi dengan Aiko." Tuan Ito.


"Kamu tau suami mu dokter syaraf?" Tanya Laras pada Gladys.


"Nggak. Yang Glad tau dia dokter cintanya Glad." Ucap Gladys.


"Ceh, gombal." Tita.


"Eh, mana nih, macaron nya?" Tanya Nyonya Laura.


"Hehee.. Abis Oma." Ucap Laras menampilkan deretan gigi putihnya.


"Tidak apa-apa. Oma hanya bertanya.". Nyonya Laura.


"Onty, Laras boleh makan cake strawberry nya?" Tanya Laras.


"Jangan tanya. Semua yang ada di sini kamu boleh makan." Ayumi.


"Yeee..." Sorak Laras.


"Hati-hati loh Kak. Banyak suster cantik dan langsing di rumah sakit." Goda Gladys.


"Kakak.... Huhuhuuuu.... Laras jelek dan gendut ya karena suka makan huhuhuuu...." Tangis Laras pun pecah tak jadi memakan kuenya.


"Astaga! Glad." Gagah.


Gagah pun segera membujuk Laras dan tak mempermasalahkan jika dirinya banyak makan. Karena bagi Gagah Laras seksi dan cantik. Gagah juga tak mau jika buah cintanya dengan Laras kekurangan gizi di perut Mama nya.

__ADS_1


Gladys mendapatkan pelototan dari Tita, Ayumi dan Nyonya Laura. Sementara Gladys melupakan jika ibu hamil begitu sensitif. Gladys hanya menggoda saja tapi nyatanya Laras begitu bersedih.


"Kak, Glad minta maaf ya. Bukan maksud Glad begitu." Ucap Gladys menyesal.


Laras hanya mengangguk dalam pelukkan Gagah. Sementara Gagah sudah menampakkan muka marahnya. Andai saja Laras tidak dalam pelukkannya mungkin saja Gagah sudah mendaratkan bogemannya pada Gladys.


Akhirnya Gagah pun berpamitan membawa Laras ke dalam kamar untuk berisitirahat. Namun Laras ingin Bunda ikut serta bersamanya karena Laras ingin tidur di temani Bunda. Dan Ayumi pun dengan senang hati menemani sang menantu yang tengah mengandung keturunannya.


"Persis seperti kamu pas hamil Keina ya Ta." Nyonya Laura.


"Duh, semoga kalo Glad hamil ga aneh-aneh ya Kak." Ucap Gladys pada Angga.


"Amin." Ucap Angga mengamini.


"Hei, do'a apa itu. Onty saja yang baru mengenal Oncle saat itu begitu manja pada Oncle dan Oma. Apalagi kamu. Onty do'akan kamu ga bisa lepas dari Angga." Tita.


"Onty ih,,, nyebelin." Rajuk Gladys.


"Ga apa-apa sayang. Nanti kan pas kamu hamil kita di rumah Mama jadi Onty ga tau kalo kamu hamil." Ucap Angga menenangkan Gladys.


"Betul. Pokoknya kita diem-diem aja ya Kak. Tau-tau pas kesini perut Glad udah gede aja." Gladys.


"Iya. Biar ga ketauan manjanya kamu kaya apa pas hamil." Goda Nyonya Laura.


"Opa,,, Oma jahat nih." Gladys.


"Ga apa-apa. Opa tetap sayang kok." Ucap Tuan Ito.


Semua pun tertawa mengerjai Gladys yang kehamilannya saja belum terlihat. Semua pun mendo'akan yang terbaik untuk Gladys dan Angga mengingat Angga hanya anak tunggal di keluarganya sudah sangat di pastikan kedua orang tua Angga pasti menginginkan segera di beri cucu.


"Hm... Tita boleh di rumah Ayah?" Tanya Tita.


"Kenapa?" Gladys.


"Hm... Tita ada janji sama Tari." Tita.


"Owh! Iya Ga apa-apa. Nanti Keina biar kita bawa ya." Gladys.


"Klo ga ngerepotin boleh hehehee.." Jawab Tita.


"Ada masalah di kantor?" Tuan Ito.


"Ngga Yah. Hanya ada sedikit yang mengganjal saja." Tita.


"Hanya Tari?" Nyonya Laura.


"Iya Bu. Karena Arif Tita tugaskan di kantor biar tidak terlalu mencolok. Mungkin lisa Tita ke kantornya." Tita.


"Sudah di bicarakan dengan Nio?" Tuan Ito.


"Sudah Yah. Saat di rumah tadi." Tita.


"Ken sudah tau?" Nyonya Laura.


"Belum Bu. Baru nanti malam Tita akan bahas bersama Mas Ken." Tita.

__ADS_1


"Baiklah. Semoga semuanya baik-baik saja ya." Nyonya Laura.


"Amin." Tita.


"Onty, kerja di kantor juga?" Angga.


"Ngga hanya sesekali aja kontrol." Tita.


"Dari dulu sejak Onty masih dinas di rumah sakit?" Angga.


"Iya." Tita.


"Wow! Onty hebat bisa membagi waktunya." Puji Angga.


"Lebih tepatnya terpaksa harus bisa Ngga." Tita.


"Ayah sama Ibu pamit ke kamar dulu ya. Mau rebahan dulu. Nanti sore mau liat kebun." Pamit Tuan Ito.


"Oke Opa, Oma selamat istirahat." Gladys.


Sementara Tita dan Angga hanya tersenyum kepada keduanya. Tita, Gladys dan Angga tidak beristirahat ketiganya berbincang santai dan sedikit sharing masalah pekerjaan antara Angga dan Tita.


Gagah keluar dari kamarnya setelah cukup menenangkan Laras yabg akhirnya tidur bersama Ayumi dan saling berpelukkan. Gagah merasa gemas melihat Laras yang tidur meringkuk dalam pelukkan Ayumi.


Namun, Gagah pun merasa bahagia karena tak ada batasan antara Laras dan Bundanya. Ayumi selalu menomer satukan Laras daripadanya. Dan Gagah tidak merasa cemburu karena dengan begitu dirinya cukup tenang.


Keluar dari kamar Gagah melihat kedua adiknya dan Tita tengah berbincang hangat. Gagah mendudukkan dirinya di samping Tita kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Tita. Sesaat Angga merasa terkejut dengan tingkah Gagah.


"Jangan kaget. Kakak memang begitu pada Onty. Manja." Gladys.


"Heh.... Biasanya Lu juga gitu." Gagah.


"Sudah. Kalian keponakan Onty jangan saling berebut." Tita.


"Onty ga risih di glendotin Kakak?" Angga.


"Karena kamu belum terbiasa makanya risih Ga." Gagah.


"Hehehe.. Mungkin." Jawab Angga menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kalian kapan pindah?" Tanya Gagah.


"Ceh, ngusir nih?" Gladys.


"Bukan. Ya kali Mama sama Papa kangen sama anaknya." Gagah.


"Sepertinya Lusa Kak. Mama sama Papa sedang di luar kota kebetulan." Angga.


"Baik-baik Lu sama Mama Papa. Jangan manja." Pesan Gagah.


"Emang Kakak Manja." Gladys.


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2