Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Kepulangan Zizi


__ADS_3

Zizi dan Andre menoleh ke arah sumber suara. Kemudian Zizi mengalihkan pandangannya pada Andre namun Andre terlihat biasa saja sementara Zizi tampak tidak enak.


"Hm... Hai Kak. Ada di sini juga? Sama siapa?" Tanya Zizi berusaha bersikap sebiasa mungkin.


"Iya Zi. Saya kerja di sini." Kinan.


"Owh! Kok Abang ga cerita kalo Kak Kinan kerja disini sih?" Tanya Zizi pada Andre.


"Abang juga ga tau sayang." Ucap Andre mengusap lembut rambut Zizi.


Namun Zizi tampak kurang nyaman dengan perlakuan Andre padanya.


"Mmm... Boleh gabung di sini?" Tanya Kinan.


"Eh, iya Kak silahkan." Zizi.


Saat Kinan duduk bersamaan dengan datangnya pesanan Zizi dan Andre. Kemudian mereka pun makan makanan yang sudah mereka pesan. Sambil menunggu pesanan Kinan datang.


"Sayang,, kita duluan aja yuk." Ucap Andre.


"Hm.. Kak Kinan. Maaf ya kita duluan." Pamit Zizi tak enak hati.


"Iya silahkan." Kinan.


Zizi merasa ada yang aneh dengan sikap Andre dan Kinan. Zizi pun merasa tak enak. Sebab dirinya tau jika Kinan adalah kekasih Andre dulu. Zizi berfikir apa mungkin Andre masih berhubungan dengan Kinan saat menikahinya.


Di dalam kamar mereka Zizi pun tak ingin memendam rasa penasarannya tentang hubungan Andre dan Kinan. Jujur mulai ada rasa cemburu di hatinya kala Andre bertemu dengan Kinan apalagi diantara mereka pernah punya cerita.


"Abang..." Zizi.


"Ya sayang." Andre.


"Zizi boleh bertanya?" Zizi.


"Tentang Sinta?" Tebak Andre langsung mengerti arah pemikiran istrinya. Andre pun berniat menjelaskan sebenarnya.


Zizi mengangguk menjawab pertanyaan Andre. Karena memang dirinya merasa serba salah dengan Kinan tadi.


"Tapi, klo ngga boleh juga ga apa-apa kok Bang." Zizi.

__ADS_1


"Boleh sayang. Sini." Andre menepuk sofa sebelahnya.


"Abang sama Kinan sudah memutuskan untuk masing-masing sejak kamu dan Almarhum dekat. Abang merasa ada yang salah dengan hubungan Abang dengannya. Karena sejak awal kami dekat jujur Abang hanya menjadikannya pelarian dari perasaan Abang sama kamu.


Jahat. Itu kata yang paling tepat untuk Abang buat Kinan. Tapi, sejak awal kami dekat Abang pun sidha menjelaskan jika Abang hanya menganggapnya teman tidak lebih. Tapi, Kinan ingin mencobanya.


Berkali-kali Abang mengatakan untuk dia mencari orang lain saja. Tapi Kinan tetap bertahan. Sampai pada akhirnya Abang benar-benar tegas mengatkan padanya jika kami tak mungkin bersatu."


Andre menjeda ucapannya sebelum dirinya melanjutkan kembali.


"Abang melanjutkan kuliah S2 sementara dia bekerja. Kemudian ada seorang lelaki datang dan memintanya pada Abang dan Abang pun dengan ikhlas merestui mereka karena Abang tau siapa lelaki itu. Tapi, Kinan menghilang hingga kami mencari ke setiap penjuru kota. Orang tuanya tak memberitahukan dimana putri mereka."


"Dan disinilah ternyata Kinan tinggal. Abang sudah memberitahukan pada orang yang sedang mencarinya jika dia ada di sini. Abang terkejut bukan karena Abang takut ketauan sedang bersama kamu sayang. Hanya saja kenapa Abang dan lelaki itu tak pernah berfikir jika Kinan berada di sini."


Andre pun mengehentikan ceritanya ketika ponselnya berbunyi. Andre melihat ke arah layar begitu juga dengan Zizi. Zizi mengerutkan keningnya membaca nama yang tertulis di layar ponsel Andre.


"Arya!"


"Ya."


"Bukankah dia.." Ucap Zizi menggantung.


"Bagaimana bisa?" Zizi.


"Abang, Arya dan Lukman berteman sejak kami duduk di bangku sekolah. Kami melanjutkan sekolah di universitas masing-masing. Dan kami bertemu kembali saat Arya melamar di perusahaan Papi dan Lukman kami bertemu saat kami menghadiri rapat di luar kota." Jelas Andre.


"Jadi kalian berteman?" Zizi.


"Ya. Berkali-kali Abang menawarkan Arya untuk mengelola perusahaan sendiri tapi dia menolaknya entah mengapa. Dan tiba-tiba dia mengatakan keinginannya meminang Sinta. Abang dengan ikhlas memberikannya. Dan Abang berani bersumpah Abang belum pernah melakukan apapun dengan dia." Andre.


"Makasih Bang." Ucap Zizi memeluk Andre.


"Eh, astaga!" Ucap Andre.


"Ada apa?" Zizi.


"Abang mengabaikan panggilan Arya sayang." Andre.


Andre pun segera menghubungi kembali Arya namun sayang ponselnya sudah tidak bisa di hubungi karena Arya sedang melakukan perjalanan udaranya. Di ketahui Andre dari pesan yang di kirim Arya.

__ADS_1


Siang ini Andre dan Zizi kembali ke kota mereka. Kepulangan mereka sudah di tunggu oleh Melan dan Abi di bandara. Zizi langsung berlari menghambur ke dalam pelukan Melan begitu melihat Melan berdiri menunggunya.


"Mami... Zizi kangen Mami." Ucap Zizi dalam pelukkan Melan.


"Papi ga di kangenin." Ucap Abi.


"Papi juga tentunya." Jawab Zizi mengurai pelukkannya pada Melan dan beralih pada Abi.


"Kalian tidak merindukan putra kalian?" Tanya Andre.


"Tentu dong sayang. Bagaimana kami tidak merindukan kamu. Tapi, menantu kami yang lebih kami rindukan." Canda Melan memeluk putra bungsunya.


"Mana Arya? Bukankah kemarin dia menyusul kalian? Ada apa?" Abi.


"Tidak ada apa-apa Pi. Hanya ada sedikit urusan yang harus di selesaikan oleh Arya. Jadi dia masih berada di sana." Andre.


"Ya sudah ayo kita pulang. Kasian menantu Mami." Ajak Melan.


Mereka pun pergi meninggalkan bandara. Sampai di rumah Sinta dan Olla tengah menunggu kedatangan Zizi dan Andre. Sinta dan Olla tak ikut kebandara karena Sinta beralasan jika dirinya kurang enak badan sehingga lebih memilih menunggu adik iparnya di rumah.


Padahal kenyataannya dirinya tak sanggup jika harus berjalan di bandara dengan bagian intinya yang kurang nyaman akibat ulah suaminya semalam. Zayn benar-benar tak memberi ampun pada Sinta.


Saat ini Zayn sedang menemani Nio berolah raga. Yang biasa mereka lakukan di ruang olah raga di rumah mereka. Mereka memang selalu kompak dalam melakukan segala hal. Bersama Zio juga sebelum Zio pindah rumah.


"Welcome home Adek.." Sambut Sinta pada Adik iparnya.


"Kakak..." Paggil Zizi menghambur ke dalam pelukkan Sinta.


Sementara keluarga Melan dan Olla tengah saling bercengkrama melepas rindu padahal hanya dua hari mereka pergi. Lain halnya di mansion. Ketegangan tengah di rasakan disana karena ulah Daffin yang sampai saat ini belum juga mengatakan ada apa dengan dirinya yang pergi pagi pulang pagi.


Kali ini kesabaran Ken sudah habis. Len menunggu kedatangan Daffin sesuai informasi dari Tita jika Daffin akan datang pada pukul lima pagi dan akan kembali pergi pukul enam pagi. Hanya satu jam saja dirinya ada di rumah.


Bukan Ken tak mengetahui kegiatan Daffin selama berada di luar rumah. Hanya saja Ken ingin ke jujuran dari putranya. Selain itu juga Daffin berjanji akan menjelaskan semua kegiatannya pada Tita tapi waktu itu tak kunjung datang.


Ken mendengar deru motor milik Daffin. Ken pun duduk dengan tenang menunggu putranya masuk. Saat Daffin melangkah masuk suara Ken mengejutkannya. Pasalnya tidak biasanya Ken ada di sana sepagi itu.


"Daffin."


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2