Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Daffin Kenzo


__ADS_3

Hari ini Tita sudah di perbolehkan pulang. Kondisinya sudah sangat baik begitupun dengan bayinya. Tita duduk di kursi roda dengan memangku jagoannya dan Ken berdiri di belakangnya untuk mendorong kursinya.


"Oncle, Onty..." Panggil Angga yang kebetulan berjaga pagi.


Ken dan Tita menoleh ke arah Angga. Angga sedikit berlari mendekati Ken dan Tita. Angga sedikit mengatur nafasnya sebelum dirinya berbicara.


"Onty, sudah bisa pulang?" Angga.


"Sudah Ga. Kau berdinas pagi?" Ken.


" Iya Onty. Sore nanti kami ke mansion." Ucap Angga.


"Kami tunggu kedatangan kalian. Dan menginaplah jika senggang." Ken.


"Ya Oncle. Nanti Angga bicarakan dengan Glad.


"Baiklah. Kami permisi. Selamat bertugas." Pamit Ken.


"Iya Oncle. Hati-hati." Jawab Angga.


Ken dan Tita sudah dalam perjalanan pulang. Ken tidak mengemudikan mobilnya sendiri melainkan menggunakan sopir pribadinya. Keina sudah menanti kedatangan adiknya bersama yang lainnya juga.


Hanya kurang Angga dan Gladys. Karena Angga bertugas pagi dan Gean tengah di bawa oleh Mama mertuanya pergi ke tempat arisan. Ya, begitulah Mama Angga yang selalu membawa cucunya kemana pun dirinya pergi. Mama Angga selalu membanggakan cucu pertamanya.


Ken dan Tita turun dari mobil. Keina langsung berlari menghapiri kedua orang tuanya. Ken dengan sigap menyambut putri pertamanya. Ken memeluk Keina dan mendaratkan ciumannya di wajah Keina yang membuat Keina kegelian.


"No, sudah Dad geli." Ucap Keina.


Mereka semua masuk kedalam rumah. Penyambutan Kedatangn Tita dan bayinya begitu meriah. Bahkan Ibu dan Bapak pun menyempatkan datang demi melihat cucu nereka kembali.


Tita memeluk erat Bapak yang sudah seperti Ayah baginya. Begitupun pada Ibu Marni. Tita bagaikan menemukan orang tuanya kembali. Bahkan Tanio dan keluarganya pun sudah tak sungkan lagi dengan Ibu dan Bapak.


"Bapak sama Ibu kapan datang?" Tanya Tita.


"Baru saja pagi tadi Nak. Kita langsung kemari." Marni.


"Makasih Bu, Pak sudah menyempatkan datang." Ken.


"Tidak perlu sungkan Nak." Marni.


Suasana hangat pun tercipta di dalam mansion. Galuh yang sedang belajar berjalan selalu ingin mengikuti kemana Keina pergi. Keina senang Galuh terus mengikutinya. Yang tidak senang adalah Gagah karena harus terus menopang Galuh agar tidak terjatuh.


Namun, semua dinikmati Gagah karena moment seperti itu tidak akan terjadi dua kali oleh putranya. Gagah pun bergantian dengan Burhan walau hanya sebentar saja karena faktor Usia.


"Ken, siapa nama adik Keina? Kau belum memberitahu kami." Tanya Tuan Ito.


"Astaga! Maafkan kami. Kami lupa memberitahunya." Sesal Ken.


"Tidak apa Ken. Kami semua terlalu bahagia mendengar kelahiran putra kalian hingga kita pun melupakannya." Nyonya Laura.

__ADS_1


"Namanya Daffin Kenzo." Ken.


"Daffin. Panggilny apa?" Ayumi.


"Daffin aja Kak." Ken.


"Baiklah." Ayumi.


Karena baby Daffin menangis Tita berpamitan ke kamar untuk mengasihi Daffin. Beruntung ASI Tita sudah lancar keluar sehingga bisa membuat Baby Daffin nyaman. Sementara Keina masih terus bermain bersama Galuh.


Celotehan Galuh dan Keina sangat bisa membuat semua irang dewasa tertawa. Burhan, Tuan Ito dan Rehan berkeliling di kebun yang pernah di garab Burhan. Burhan menunjukkan kegiatannya selama di mansion.


Dan Burhan pun begitu menhenali semua penghuni di dalam mansion tersebut. Burhan sudah tak canggung lagi berada di mansion Tita. Semua memperlakukannya dengan baik. Apalagi sejak mereka tau Tita memperlakukan Burhan layaknya seorang Ayah.


Setelah makan siang mereka semua membubarkan diri menyisakan Burhan dan Marni yang berencana akan tinggal di sana selama beberapa hari untuk membantu Tita merawat bayinya. Hal yang sama pernah Marni lakukan saat Laras baru saja melahirkan Galuh.


Mendengar itu Tita merasa senang karena Marni dan Burhan akan tinggal bersama mereka setidaknya beberapa hari kedepan. Begitupun Keina yang senang karena Nenek dan Kakeknya akan menginap di sana.


"Kakek, Kakek akan tinggal bersama Keina kan?" Tanya Keina.


"Kakek akan menginap beberapa hari di sini." Jawab Burhan.


"No Kakek. Kakek dan Nenek harus tinggal bersama Keina di sini." Keina.


"Lantas bagaimana peternakan? Nanti mereka akan kehilangan Kakek dan Nenek." Ucap Burhan memasang wajah seolah sedih.


"Tidak apa-apa Kek. Mereka akan baik-baik saja. Nanti orang Daddy akan mengurusnya." Jawab Keina sekenanya.


"Boleh begitu Dad, Mom?" Tanya Keina pada Tita dan Ken yang memang ada di sana.


"Boleh, asal Keina tidak nakal dan merepotkan Kakek dan Nenek." Ken.


"Hore... Nanti Keina akan berlibur ke tempat Nenek dan Kakek." Sorak Keina.


Semua pun tersenyum melihat tingkah Keina. Sementara Daffin anteng di pangkuan Marni. Sesekali Marni menggoyangkan kakinya agar Daffin merasa nyaman di pangkuannya.


"Bu, tidurkan saja Daffin di sini. Nanti ibu capek." Pinta Tita menunjuk stroller di hadapannya.


"Tidak, biarkan saja. Agar Daffin juga merasa hangat di pangkuan ibu." Tolak Marni.


"Terima kasih Bu. Ibu membagi kasih sayang Ibu padaku dan Laras." Tita.


"Kau tidak perlu berterima kasih nak. Kalian anak-anak ibu dan Ayah. Andai saja kau tak ada kita semua sudah kehilangan Ayah kalian." Marni.


"Semua sudah garisan Tuhan Bu. Tita bertemu Bapak dan akhirnya Tita juga bisa merasakan kasih sayang Bapak di tambah sekarang ada Ibu juga." Tita.


"Kami sangat beruntung memiliki kamu Nak." Marni.


"Tidak Bu. Tita lah yang sangat beruntung memiliki kalian. Bahkan Tita jaid merasakan memiliki adik yang cantik." Tita.

__ADS_1


Burhan dan Marni memang sudah menganggap Tita dan Tanio anak mereka begitupun dengan Tita dan Tanio. Hanya saja panggilan mereka berdua pada Burhan tetap Bapak sedangkan Laras tetap Ayah.


Namun, Marni selalu memanggil Burhan dengan panggilan Ayah walaupun Tanio dan Tita tetap memanggilnya Bapak. Burhan dan Marni tak mempermasalahkannya.


"Maaf Tuan, Nyonya ada Tuan Abi dan keluarganya di depan." Ucap Bibi.


"Baiklah Bi. Minta mereka kesini saja." Ken.


Bibi pun kembali ke depan dan mengantarkan Abi dan Melan juga kedua anaknya menuju ke taman belakang dimana semua tengah berkumpul di sana.


"Halo calon menantu Mami." Sapa Melan saat melihat Keina tengah bermain.


"Hai Onty." Sapa Keina.


"No Onty sayang. Mami seperti Daren juga memanggil Mami." Titah Melan.


Keina sedikit bingung kemudian Keina menampilkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya.


"Oke Mami." Jawab Keina membuat Melan senang.


"Om, Tante. Apakabar?" Sapa Abi pada Burhan dan Marni.


"Kabar baik Nak Abi. Bagaimana Nak Abi dan Istri baik juga kan?" Burhan.


"Baik juga Om." Abi.


"Halo Om Tante. Kapan datang?" Sapa Melan.


"Baru saja pagi tadi." Jawab Marni.


"Wah, senangnya Baby di gendong Nenek." Melan.


"Seneng ya Om, Tante. Cucunya sudah bertambah lagi." Abi.


"Tentunya Nak. Kami merasa paling bahagia. Bagaimana tidak kami di beri sekaligus cucu baru tiga." Burhan.


"Berapa hari kemarin Om dan Tante di rumah Nio?" Abi.


"Om hanya satu hari saja karena kebetulan lagi panen. Kalo Tante satu minggu di sana." Burhan.


"Sepertinya Tante akan sering berkeliling melihat cucu ya Tan." Goda Melan.


"Biar Tante ga repot. Tante akan minta anak-anak mengirimkan cucu-cucu Tante ke peternakan." Marni.


"Hahaha... Betul tuh Tan. Tapi, pasti anak-anak Tante akan kesenangan karena mereka akan berduaan dan mengolah cucu kembali." Ucap Abi tanpa filter.


"Astaga! Ga bisa dinsaring dulu tuh mulut." Ken.


Hahahaa..... Semua pun tertawa mendengar ucapan Abi dan Ken. Tita dan Melan menggelengkan kepalanya melihat tingkah suami mereka.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏


__ADS_2