
Hari ini Keina dan Raya akan melakukan pemeriksaan kehamilannya pada Dokter Rini. Raya terlihat berjalan saling bergandengan tangan dengan Keina dan Suami-suami mereka mengikutinya di belakang sambil berbincang mengenai bisnis.
Siapa menyangka jika usia kehamilan Keina dan Raya sama. Namun, Raya terlihat lebih berisi sedang Keina biasa saja. Keina seperti Tita saat mengandung. Badannya tak berpengaruh sama sekali hanya perutnya saja yang menonjol.
Usia kehamilan mereka saat ini memasuki tiga bulan. Jadi belumlah terlihat. Saat mereka berempat duduk di kursi tunggu semua mata tertuju pada mereka. Karena posisi Keina yang tengah di suapi makanan oleh Daren.
"Kamu ga bisa makan sendiri Kein?" Zio.
"Makanan dari tangan Abang lebih enak Bang." Keina.
"Ish... Kau ini." Zio.
"Tidak masalah Bang. Asalkan Kein mau makan gw ga keberatan." Bela Daren.
"Mas Zio aja yang ga pernah nyiapin aku." Raya.
"Ceh, ga perhatian tuh Kak." Kompor Keina pada Raya.
"Heh... Sembarangan kamu. Mana ada perhatian ga perhatian di lihat dari suap menyuapi." Zio.
"Adalah. Kalo di suapi iti berarti perhatian wle..." Ucap Keina.
"Hei, kalian sudah datang. Ayo ikut Tante." Ajak Dokter Rini yang baru saja datang membuat pasien yang lain menoleh.
Mereka berempat pun ikut nasuk kedalam ruangan Dokter Rini. Pertama Raya yang melakukan pemeriksaan dan hasilnya oke. Kemudian Keina dengan hasil oke juga.
Sementara di luar ruangan dokter para pasien dokter Rini kasak kusuk membicarakan mereka berempat.
"Suster itu keponakannya dokter Rini ya? Pantas di dahulukan." Tanya salah satu ibu yang sedang mengantri.
"Jangan gitu dong sus. Kami juga kan sama saja pasiennya dokter Rini." Ucap salah satu pasien lagi.
"Ikut aturan aja seperti biasa lebih baik dari pada nyerobot." Ucap salah satu dari pasien lagi.
Saat semua tengah protes pada suster yang berjaga di depan. Rehan sebagai kepala rumah sakit yang cukup terkenal pun datang. Sebenarnya tidak sengaja dirinya lewat dan mendengar ucapan-ucapan para ibu-ibu pasien dokter Rini.
"Suster, Apa anak-anak saya sudah datang?" Tanya Rehan.
Suster yang mengetahui jika Keina adalah keponakan dari Rehan pun menjawab dengan hormat.
"Sudah Dokter. Ada di dalam sedang di periksa oleh Dokter Rini." Jawab Suster.
Seketika para ibu terdiam melihat kedatangan Rehan.
"Eh, bukannya itu Dokter Rehan pemilik rumah sakit ini?"
"Siapa dia? Apa hubungannya dengan pasien di dalam?"
Begitu beberapa pertanyaan yang terlontar di antara para ibu-ibu yang tadi memprotes Keina dan yang lainnya. Saat Dokter Rehan akan berpamitan pada suster Keina dan yang lainnya keluar dari ruangan dokter Rini.
__ADS_1
Dokter Rini menundukkan kepalanya saat berhadapan dengan Rehan. Sementara Keina langsung menghambur pada pelukkan Rehan.
"Yaya..." Panggil Keina.
Daren, Zio dan Raya pun menghampiri Rehan dan mencium punggung tangan Rehan.
"Bagaimana sehat semuanya?" Tanya Rehan.
"Sehat dong Yaya." Keina.
"Terima kasih Dokter Rini. Mari silahkan lanjutkan pemeriksaannya." Rehan.
"Sama-sama Dokter. Terima kasih kepercayaannya kepada saya." Dokter Rini.
Rehan dan keempat anak-anaknya pergi meninggalkan ruangan praktek dokter. Para ibu-ibu yang bergunjing pun seketika diam. Karena ternyata mereka bukan orang biasa itu yang di simpulkan mereka.
"Yaya, kami pamit dulu ya." Pamit Daren.
"Baiklah. Hati-hati di jalan." Rehan.
Mereka berempat pun memasuki mobil masing-masing dengan di antar oleh Rehan hingga ke lobi. Rehan memang sudah jarang datang ke rumah sakit setelah semuanya dia serahkan pada Gagah dan Angga menantunya.
Hanya saja hari ini kebetulan Rehan akan menemui Gagah karena ada hal yang akan mereka bicarakan. Kebetulan dirinya bertemu dengan teman lamanya yang membuatnya harus melewati ruang praktik Dokter Rini dan mendengar semua menggunjing anak-anaknya.
"Sepertinya ada sesuatu yang membuat Yaya menemui kita." Ucap Keina saat dirinya dan Daren sudah berada di mobil.
"Iya juga sih. Ya udah biar aja deh. Kein yakin hanya hal kecil yang Yaya bisa atasi." Keina.
"Mau mampir-mampir dulu sayang?" Daren.
"Hm... Ngga deh Bang. Kein mau bobo sama Nenek." Keina.
"Oke." Daren.
Sampai di mansion Keina membenarkan ucapannya. Dirinya langsung meminta Marni untuk menemaninya tidur. Marni pun dengan senang hati menurutinya.
Tita pun bertanya mengenai hasil pemeriksaan kehamilan Keina pada Daren. Setelah itu Daren langsung masuk kedalam ruang kerjanya dan melakukan pekerjaannya di sana. Daren akan melakukan rapat secara virtual jika Keina dapat lepas darinya.
Seiring bertambahnya usia kehamilan Keina. Kini Keina sedikit bisa lepas darinya. Hanya saja Daren belum bisa pergi ke kantor karena Keina sewaktu-waktu masih sering merengek mencarinya.
"Mom,,," Panggil Daffin yang baru saja datang.
"Hei boy... Sudah pulang? Tidak ke kantor membantu Daddy?" Tita.
"Ayolah Mom.." Daffin.
"Sepertinya anak Mommy lelah sekali?" Tita.
"Mom," Panggil Daffin lagi.
__ADS_1
"Ada apa?" Tita.
"Kakak belum pulang?" Daffin.
"Sudah. Di kamar bersama Nenek. Katanya mau tidur." Tita.
"Boleh Daff ikut tidur bersama?" Daffin.
"Boleh. Asal jangan mengganggu Kakak. Kasian Abang." Pesan Tita.
"Baiklah." Daffin.
Daffin pun segera menuju kamar Marni dan ikut bergabung dengan Marni dan Keina yang sudah tertidur lebih dulu. Sementara Tita mengurus tanamannya di belakang. Karena hanya itu yang di lakukannya sementara yang lain sibuk.
Hari ini Tita tidak pergi ke rumah Olla untuk persiapan pernikahan Zizi. Dirinya hanya akan di rumah mengurus tanamannya yang sedikit terbengkalai karena kesibukannya membantu Olla.
"Onty..." Panggil Gladys yang datang menemui Tita.
"Loh Glad. Sama siapa?" Tanya Tita yang melihat keponakannya datang.
"Sendiri. Tadi habis mengantarkan Gea terus mampir kesini. Onty apa kabar?" Ucap Gladys mencium pipi kanan dan kiri Tita karena tangan Tita kotor.
"Baik. Kamu sendiri bagaimana? Baik kan?" Tita.
"Alhamdulillah baik Onty. Kata Bunda Zizi mau nikah Ty?" Tanya Gladys yang belum mengetahui beritanya.
"Iya bulan depan." Tita.
"Jadi sama Damar kan?" Gladys.
"Iya. Sama siapa lagi?" Tita.
"Hahahaa... Kirain Andre berubah fikiran." Gladys.
"Ceh, kau ini." Tita.
Setelah mencuci tangannya Tita meminta Bibi untuk mengambilkan minuman dan beberapa camilan untuk Gladys.
"Bagaimana kehamilan Keina Ty?" Tanya Gladys yang memang sudah nengetahui kehamilan Keina melalui grup keluarga.
"Alhmdulillah baik. Baru saja tadi pagi periksa dengan Dokter Rini." Tita.
"Syukurlah. Ga nyangka ya bisa barengan sama istrinya Bang Zio." Gladys.
"Iya. Tadinya kami khawatir apalagi saat Keina tiba-tiba sering menangis karena mencari Daren. Tapi syukurlah itu semua karena Keina hamil." Tita.
"Seperti Mommy nya ya." Ledek Gladys.
🌻🌻🌻
__ADS_1