Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Dua Lelaki Hebat


__ADS_3

Tita dan Gladys pun asik berbincang karena sekarang mereka sudah sangat jarang bertemu namun pertemuan mereka pun harus terhenti karena Gea putri dari Gladys dan Angga sudah meminta di jemput kembali.


Dengan berat hati Gladys pun harus berpamitan dengan Tita. Tita mengantarkan Gladys hingga ke depan. Setelah mengantarkan Gladys Tita bermaksud pergi ke kamarnya untuk sejenak beristirahat.


"Mom," Panggil Daren.


"Kenapa?" Tita.


"Kein belum bangun?" Daren.


"Sepertinya belum. Kamu kerja saja nanti Nenek pasti mencari kamu jika Kein bangun." Tita.


"Baik Mom." Daren.


Daren pun kembali ke ruang kerjanya. Sore Ken datang bersama Rasya karena ada hal yang perlu di tandatangani oleh Daren. Ken langsung meminta Rasya untuk menemui Daren di ruang kerjanya ketika mengetahui jika Daren ada di sana dari bibi.


Sementara Ken langsung menuju kamarnya. Dilihatnya Tita tengah membaringkan tubuhnya tidak seperti biasanya. Ken pun menghampiri Tita.


"Sayang," Panggil Ken.


"Mas, sudah pulang?" Tita.


"Kamu demam sayang." Ken.


"Sepertinya Tita masuk angin Mas." Ucap Tita.


"Sudah minum obat?" Ken.


"Belum." Tita.


"Jangan terlalu lelah sayang. Minggu ini kamu begitu sibuk mengurus persiapan pernikahan Zizi." Ken.


"Sepertinya begitu." Tita.


"Masih banyak yang harus di persiapkan?" Ken.


"Tidak ada. Semuanya sudah di alihkan pada WOnya." Tita.


"Syukurlah. Beristirahatlah. Agar saat acaranya nanti kamu fit sayang. Mas ga mau kamu sakit." Ken.


"Iya Mas." Rengek Tita manja.


Tita memang kerap bermanja pada Ken. Dan Ken pun tak mempermasalahkannya. Menurut Ken itu sangat wajar karena seharian di rumah akan membuat suntuk bagi Tita. Ken selalu memanjakan Tita walaupun kini usianya sudah tak muda lagi.


Malam hari Ken membawa makan malamnya ke kamar karena Ken tidak ingin Tita kelelahan. Padahal cuma masuk angin tapi Ken memperlakukan Tita sangat istimewa.

__ADS_1


"Kenapa tidak makan di sini Dad?" Keina.


"Mommy tidak enak badan. Jadi biar Daddy temani Mommy makan di kamar. Kalian makan saja bersama." Ken.


"Apa Mommy baik-baik saja Dad?" Daffin.


"Ya. Mommy kalian hanya kelelahan bolak-balik ngurus pernikahan Zizi." Ken.


"Hm... Apa kami boleh menengok Mommy?" Daffin.


"Makanlah saja dulu. Setelah makan malam nanti kalian boleh melihat Mommy." Titah Ken.


"Baiklah Dad." Daren.


Akhirnya Daren, Keina, Daffin dan Marni hanya makan malam berempat. Mereka menghabiskan makan malam dengan santai tanpa terburu-buru. Karena mereka pun tau jika Tita tengah makan juga di temani Ken.


"Daff, Nenek lihat kemarin kamu ada di jalan A. Sedang apa?" Tanya Marni setelah menyelesaikan makannya.


"Hah! Nenek ngapain jauh-jauh kesana?" Tanya balik Daffin menghindari pertanyaan Marni.


"Adek,, Kamu ini Dek. Nenek nanya malah balik Nanya. Di jawab dulu tuh pertanyaan Nenek." Keina.


"Ih,, Kakak nyamber aja deh." Daffin.


"Sudah-sudah... Nenek pulang dari rumah sakit kemarin itu tante Laras sekalian ambil pesanan dari rumah temennya terus Nenek liat kamu kayanya lagi bon..." Ucap Marni terpotong.


"Oh... Nenek antar Tante Laras. Kirain Nenek abis ngapain jauh-jauh." Potong Daffin.


"Daffin lagi bon apa Nek?" Keina.


"Kakak ih... Nyamber aja deh." Protes Daffin.


"Kenapa Daff? Ada yang kamu sembunyikan?" Sela Daren.


"Hah! Ng... Ngga kok Bang." Jawab Daffin gugup.


Sementara Marni mengulas senyumnya karena tau dengan siapa Daffin kemarin saag dia melihatnya. Dan sepertinya Daffin masih malu-malu untuk mengakuinya. Daffin terlihat salah tingkah saat Marni menatap manik matanya.


"Eh, sudah kan makannya ayo kita lihat Mommy." Ajak Daffin mengalihkan.


Semua pun bergegas meninggalkan meja makan menuju kamar utama. Di sana Ken dan Tita baru saja menyelesaikan makan mereka. Ken mempersilahkan anak-anaknya masuk bersama dengan Marni juga.


"Mommy..." Serbu Keina dan Daffin.


Keina naik ke tempat tidur mengambil sisi kiri Tita sementara Daffin di samping kanan. Keduanya memeluk Tita bersamaan. Ken tersenyum melihat tingkah kedua anaknya yang selalu melakukan hal yang sama pula saat dirinya sakit.

__ADS_1


Daren dan Marni ikut tersenyum melihat kehangatan ibu dan anak itu. Marni mendekati Ken mengusap lembut lengan Ken yang masih menatap kedua anak dan istrinya saling berpelukan.


"Mereka sudah besar Bu." Ucap Ken.


"Ya, dan Kau akan segera jadi Kakek." Marni.


"Rasanya baru kemarin Ken menggendong mereka Bu. Sekarang Keina akan jadi ibu." Ken.


"Ibu bangga pada kalian. Kalian bisa mendidik anak-anak kalian dengan baik." Marni.


"Terima kasih Bu. Ibu selalu ada untuk kami." Ucap Ken memegang tangan Marni.


"Kalian anak-anak Ibu. Sudah sepatutnya Ibu ada untuk kalian." Marni.


Daren yang berada di samping Marni dan Ken merasa terharu mendengarnya. Ken Ayah mertuanya yang terkenal tegas dan dingin saat di kantor begitu lembut dan hangat memperlakukan keluarganya.


Sikap itu pula yang dia contoh saat berada di kantor menghadapi berbagai klien. Beruntung dia memiliki contoh yang begitu baik dari Papinya dan juga Daddy mertuanya. Dulu Daren berfikir Papinya paling sempurna dalam memimpin. Nyatanya Ken pun sama halnya dengan Abi. Pantas saja mereka bersahabat.


Abi, Ken dan Nio tak pernah mencampur adukkan masalah pekerjaan jika sudah berada di rumah. Mereka seolah bukan siapa-siapa jika berada di rumah. Mereka hanyalah seorang Ayah yang begitu hangat dan menyayangi istri dan anak-anaknya.


Sementara di kantor ketiganya bagai tak tersentuh. Membatasi segala hal. Bahkan hanya sekretaris mereka saja yang bisa masuk kedalam ruangan mereka. Selain itu butuh persetujuan dari ketiganya. Bahkan klien mereka pun.


Abi, Ken dan Nio memiliki ruang khusus menerima tamu agar lebih leluasa. Mereka menyediakan ruangan dengan dinding kaca untuk penerimaan klien. Karena mereka tidak ingin terjadi kesalah fahaman dari pasangan mereka.


Jadi, saat mereka bertemu klien para karyawan bisa melihat dari kubikel-kubikel mereka bahkan cctv pun terpasang di ruangan tersebut. Jadi, jika ada hal yang mencurigakan dari klien nisa langsung terlihat oleh salah satu bahkan semua karyawan di sana begitu juga terpantau cctv.


"Dad," Panggil Daren.


Ken menoleh ke arahnya kemudian merentangkan tangannya. Daren masuk kedalam pelukkan Ken. Marni mengusap punggung keduanya dengan lembut. Daren dan ken mengurai pelukan mereka dan membawa Marni masuk kedalam pelukan mereka.


"Terima kasih Nak. Kamu menjaga Kein begitu baik." Ken.


"Belum seberapa di banding Daddy menjaga Kein Dad." Daren.


"Kau sudah baik Nak." Ken.


"Kalian dua lelaki hebat." Puji Marni.


"Terima kasih Bu, Nek." Ucap Daren dan Ken bersamaan.


Kemudian mereka pun mengurai pelukannya. Kembali melihat ke arah Tita dan kedua putra-putrinya. Dan terlihat Keina tertidur di pelukan Tita.


"Astaga!"


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2