
Rehan yang baru saja duduk di bangku kebesarannya melihat ke arah ponselnya yang berbunyi tanda pesan masuk. Dirinya terperanjat ketika membaca pesan dari Tita. Disana sudah terdapat balasan dari Tuan Ito dan juga istrinya Ayumi.
Namun, tak ada balasan apapun dari Tita. Rehan segera keluar dari ruangannya.
"Suster Mega, apa ada berita keluarga saya di IGD?" Tanya Rehan pada Mega.
"Tidak ada Dok." Mega.
"Baiklah saya akan ke depan. Beritahu saya jika ada apa-apa." Rehan.
"Baik Dok." Mega.
Rehan berjalan ke arah IGD dengan langkah lebarnya. Sampai di IGD Rehan melihat sekeliling tampak biasa saja. Terlihat Angga tengah memeriksa pasien dan terlihat biasa saja.
"Dokter Angga." Panggil Rehan.
"Iya Dok. Ada yang bisa saya bantu?" Jawab Angga sopan meskipun Rehan adalah Ayah mertuanya.
"Kamu sudah melihat pesan di grup?" Rehan.
"Maaf belum Dok. Saya baru selesai memeriksa pasien ini terakhir." Angga.
Kemudian mereka pun segera menjauh dari pasien dan masuk ke ruang jaga.
"Tita meminta kita ke rumah sakit tapi tak ada jawaban apapun darinya ketika semua menanyakan ada apa." Rehan.
Angga tampak berfikir apakah tadi ada pasien atas nama Tita atau keluarganya dan seingatnya tidak ada.
"Tapi, di sini aman Yah tidak ada keluarga." Jawab Angga.
Tak berapa lama Tuan dan Nyonya Ito tampak mendatangi IGD dan menanyakan pasien atas nama Tita namun juga tak ada. Rehan melihat orang tuanya dan segera menghampirinya di ikuti oleh Angga.
"Ayah, Ibu." Panggil Rehan.
"Ada apa? Bagaimana Tita?" Tanya Tuan Ito.
"Tak ada siapapun di sini Yah." Rehan.
"Benar Opa." Angga.
"Apa Tita mengerjai kita? Tunggu, dimana Gagah?" Nyonya Laura.
"Apa dia belum melihat pesan di grup?" Tuan Ito.
Sejenak hening di antara ke empat orang tersebut. Terlihat Ken terburu-buru berlari ke arah mereka berempat. Ken panik apa yang terjadi dengan istrinya.
"Dimana Tita?" Tanyanya begitu sampai di depan mereka berempat.
"Itu dia. Tak ada pasien atas nama Tita dan tak ada keluarga kita di sini." Rehan.
__ADS_1
"Kak Ayu?" Ken.
"Aku di sini." Jawab Ayumj yang juga baru sampai bersama Keina.
"Tunggu. Sekarang hanya tinggal Laras dan Tita yang tak ada." Nyonya Laura.
"Dan Gagah." Rehan.
"Astaga!" Ayumi.
Setelah sadar dengan keterkejutannya Ayumi segera memberikan Keina lada Ken dan dirinya segera berlari menarik tangan Rehan. Saat Ayumi akan segera berlari terdengar suara Gladys memanggilnya.
"Bunda.." Teriak Gladys menghampiri mereka dengan setengah berlari.
"Stop!!"
Kompak semua orang memintanya untuk berhenti karena begitu khawatir melihat Gladys berlari dengan perut buncitnya. Angga segera menghampirinya.
"Jangan berlari sayang." Angga.
"Ada apa? Dimana Onty?" Tanya Gladys panik.
"Tenang sayang semua baik-baik saja. Kami belum tau dimana Onty. Ponselnya tidak dapat di hubungi." Angga.
"Sudah cepatlah. Bawa Gladys menggunakan kursi roda." Tita Ayumi.
"Kita mau kemana Bunda?" Gladys.
Angga pun segera mengambil kursi roda khusus yang terdapat di IGD tempatnya tugas. Tak lupa Angga pun berpamitan pada dokter jaga yang lainnya jika dirinya ijin sebentar. Kemudian Angga berjalan mengikuti kemana Ayumi melangkah sambil mendorong Gladys di kursi roda.
Ken berjalan dengan Keina dalam gendongannya. Keina hanya bisa diam melihat para orang dewasa tengah di landa kepanikan. Begitu sampai di depan ruang bersalin terdengar tangisan bayi dan terlihatlah Tita tengah berdiri dengan senyum yang mengembang.
Tita merentangkan tangannya pada Ayumi. Semula Ayumi tertegun mendengar tangisan bayi dari dalam ruang bersalin. Dan sejenak semua pun terdiam.
"Selamat Kak. Sekarang Kau menjadi Opa dan Oma." Ucap Tita santai.
"Astaga! Tita! Jadi kau meminta kita untuk segera ke sini hanya karena Kau ingin mengucapkan selamat pada Kakak mu." Kesal Nyonya Laura.
"Tentu. Dan Ibu sekarang jadi Oma buyut." Ucap Tita santai.
"Sungguh tidak lucu Tita. Kau membuat kita semua panik. Tidak bisakah kau mengatakannya nanti di rumah." Tuan Ito.
"Tidak bisa. Karena Laras melahirkan di rumah sakit ini." Tita.
"Melahirkan!" Pekik semuanya.
"Wow! Kompak sekali." Tita.
"Dimana menantuku?" Ayumi.
__ADS_1
"Di dalam dan mungkin sedang di bersihkan." Jawab Tita masih dengan mode santainya.
Nyonya Laura menghambur memeluk Tita dan mengucapkan maafnya karena telah membentaknya begitu juga Tuan Ito. Sedangkan Ken hanya menggeleng melihat tingkah sang istri.
Semua berkumpul di ruang VIP yang telah di sediakan khusus untuk Laras dan Gladys bersalin. Karena jarak kehamilan keduannya hanya berjarak beberapa bulan saja.
Semua memberikan selamat pada Gagah dan Laras. Akhirnya mereka resmi menjagi Ibu dan Bapak. Burhan dan Marni pun datang mengunjunginya setelah mendapat pesan dari Tita mereka segera berangkat.
"Selamat ya Ras. Onty pulang dulu ya. Capek tadi nungguin yang lainnya pada lemot." Pamit Tita pada Laras.
"Terima kasih Onty." Gagah.
"Sama-sama. Onty jalan dulu." Tita.
Tita pun segera menggandeng tangan Ken yang masih berdiri menggendong Keina. Kemudian mereka pun pulang. Di susul Tuan dan Nyonya Ito yang juga berpamitan pulang. Menyisakan Rehan, Ayumi, Angga, Gladys dan Gagah di dalam ruangan.
"Ya Tuhan. Tita memang jahilnya luar biasa." Ayumi.
"Ya bersyukur kita bisa ke sini tepat waktu." Gladys.
"Jangan seperti itu kita pun salah. Sudah tau Laras akan segera melahirkan tapi kita tetap dengan ke sibukan kita. Bahkan Kakak pun tak siaga sebagai suami." Rehan.
"Laras juga salah Bun. Laras tak memberitahukan Kakak kalo Laras sudah merasakan ada tanda-tandanya." Laras.
"Untung saja Nak Tita tidak panik menghadapi kamu tiba-tiba mules Nak." Marni.
"Iya Bu. Bahkan Onty yang menyadari kalo Laras akan segera melahirkan." Laras.
"Iya Bun, Bu. Semalam Gagah sudah menanyakan pada Laras karena sepanjang malam Laras gelisah tapi Laras tak mengatakan jika Laras sudah merasakan kontraksi." Gagah.
"Karena kesal makanya Onty ngerjain kita semua ya." Gladys.
"Ya. Sepertinya begitu.." Gagah.
"Kita tidak pernah tau isi hati Tita. Saat kalian hamil Tita begitu tertekan karena kehilangan putrinya di tambah harus menghadapi kamu melahirkan itu merupakan tekanan baginya." Ucap Burhan tiba-tiba karena sejak tadi Burhan hanya diam.
"Maksud Anda?" Rehan.
"Saya tau di balik senyumnya Tita menyimpan luka yang dalam." Burhan.
Semua pun hening. Bahkan Laras dan Gladys merasa bersalah walaupun semua bukan salah mereka. Hanya karena rasa kehilangan Tita yang begitu dalam. Bahkan tanpa sepengetahuan mereka Tita beberapa kali menemui psikolog hanya untuk menenangkan dirinya.
Ken, ya Ken mengetahuinya saat tak sengaja Ken menemukan obat di laci kamarnya. Ken tau istrinya begitu terpukul kehilangan Tiara tapi Ken tak berfikir jika istrinya hingga harus berurusan dengan psikolog.
Ken pun melakukan hal yang sama mendatangi psikolog untuk menanyakan kenapa sang istri hingga harus menemui mereka. Dan jawaban dari psikolog itu begitu membuat Ken bersedih.
"Karena istri Anda tidak ingin membebani anda yang sudah di bebani dengan segala pekerjaan yang anda hadapi. Dan juga istri anda tidak ingin merusah suasan hati keluarga yang sedang berbahagia menghadapi kehamilan yang lainnya. Dan saat dirinya bersedih istri anda di paksa untuk bahagia." Psikolog.
Dan setelah itu Ken sedikit melonggarkan pekerjaannya hanya demi menemani Tita atau mengajak Tita keluar sekedar makan atau sekedar berjalan-jalan. Dan Ken tau menghadapi persalinan Laras bukanlah hal yang mudah bagi Tita.
__ADS_1
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏