
Semua keluarga pun berpamitan pada pasangan pengantin baru yang akan melanjutkan perjalanan bulan madu mereka ke pulau yang telah di siapkan oleh Ken. Ken memberikannya sebagai hadiah pernikahan untuk putri sulungnya.
Setelah semua keluarga pulang Daren dan Keina pun kembali ke kamar untuk bersiap karena Rasya akan segera menjemput keduanya menuju bandara. Keina tampak kesulitan untuk berjalan karena masih terasa sakit bagian intinya.
Bukan tanpa alasan karena Daren melakukannya berulang-ulang kali. Entah obat apa yang di minumnya membuat Daren begitu bertenaga.
"Masih sakit ya Yang?" Daren.
"Sedikit." Keina.
"Abang gendong?" Daren.
"Eh, ga usah. Kein malu Bang." Keina.
"Kenapa malu sih kan Abang suami kamu." Daren.
"Is.. Abang... Ini kan tempat umum." Keina.
Akhirnya Daren pun berjalan mengimbangi Keina. Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk bersiap di kamar pribadi mereka karena tak banyak barang yang mereka bawa. Setelah selesai mereka pun segera turun.
Saat keduanya sampai lobi hotel bersamaan dengan Rasya yang baru saja tiba untuk menjemput mereka.
"Mari Tuan, Nyonya." Ucap Rasya mengambil alih koper yang di bawa Daren.
Daren dan Keina berjalan lebih dulu sedangkan Rasya mengikutinya di belakang. Rasya memasukkan koper kedalam bagasi sedang pasangan Daren dan Keina memasuki mobil.
Rasya yang bertugas sebagai supir mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sampai di bandara Rasya segera memberikan koper pada petugasnya dan tugas Rasya pun usai ketika pesawat lepas landas.
"Hufh... Syukurlah si Bos ga terlambat. Aku fikir akan ada drama pagi ini karena kadwal keberangkatan terlalu pagi untuk sepasang pengantin baru.
"Sayang, tidurlah. Perjalanan masih lama. Setelah sampai nanti Abang bangunkan." Daren.
Keina pun menyandarkan kepalanya di bahu Daren sambil memeluk lengan kekar Daren. Tempat ternyaman bagi Keina sekarang adalah pelukan Daren. Tanpa terasa keduanya sama-sama tertidur.
Pramugara pesawat membangunkan Daren perlahan memberitahu jika pesawat mereka sudah sampai. Denga lembut Daren pun membangunkan Keina dalam pelukannya. Tak butuh waktu lama Keina pun membuka matanya.
__ADS_1
"Hmm.. Sudah sampai ya Bang?" Keina.
"Sudah sayang. Ayo kita keluar." Daren.
Keina pun berdiri dan mengikuti langkah Daren. Keduanya sudah di tunggu oleh orang yang menjemput mereka. Karena Ken tak ingin anak-anaknya kesitan di pulau orang. Keina dengan mesra merangkul lengan Daren sepanjang jalan menuju mobil yang menjemput mereka.
"Kita akan langsung ke villa atau mau mampir ke suatu tempat dulu Tuan?" Tanya Supir yang menjemput mereka.
"Langsung ke villa saja Pak. Nanti sore saja berjalan-jalannya." Daren.
"Baik." Jawab Supir patuh.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju villa yang sudah di sediakan oleh Ken. Ken menyewanya dari Rekan bisnisnya dan tentunya dengan harga yang tak main-main. Ken sangat profesional dalam hal ini.
Keina di buat takjub saat mereka tiba di villa. Villa yang cukup mewah untuk merek berdua. Tak ada siapapun di villa utama hanya ada mereka berdua. Para pelayan yang bertugas menempati pondok yang berada di belakang bangunan utama.
Daren dan Keina harus menggunakan interkom jika memerlukan mereka dan mereka akan datang sesuai dengan perintah. Karena pemilik villa tak ingin tamu mereka terganggu dengan adanya pelayan di bangunan utama.
Oleh karena itu, pemilik sengaja menempatkan para pelayan di suatu pondok dekat dengan bangunan utama.
"Wow! Designnya bagus." Puji Keina yang memang seorang arsitek.
"Suka. Siapa yang memilih ini?" Keina.
"Abang. Kemarin Daddy menanyakannya pada Abang dan meminta Abang memilih beberapa dan pilihan Abang jatuh pada Villa ini." Daren.
"Kenapa Abang memilih Villa ini?" Keina.
"Karena sekilas Abang melihat villa ini unik lain dari yang lain. Dan Abang rasa kita akan merasa nyaman berada di sini." Daren.
"Iiih,,, tambah sayang deh." Puji Keina memeluk Daren.
"Ayo kita mandi dulu. Terus makan siang." Daren.
"Mandi sendiri-sendiri ya." Keina.
__ADS_1
"Lama sayang. Lebih cepat mandi bersama." Elak Daren.
"Ish... Justru mandi berdua yang lama." Keina.
"Hahaha.... Baru satu hari jadi istri Abang udah pinter aja ya." Daren.
"Apa lagi coba. Semalam aja Abang ga kasih Kein tidur." Kesal Keina memanyunkan bibirnya.
"Abis kamu bikin Abang ga tahan sayang." Daren.
"Iiih,,, Abang.." Rengek Keina.
Pada akhirnya Keina pun menurut untuk mandi bersama dengan segala ritual plus-plusnya. Keina tak bisa menolak ajakan suaminya. Karena walau mulut berkata tidak respon tubuhnya mengatakan iya.
Sementara di kediaman Raya. Orang tua Raya sibuk mempersiapkan acara pernikahan putrinya. Karena mereka tak ingin mengecewakan besannya yang nota bene termasuk dalam jajaran pengusaha ternama.
Olla dan Nio menyerahkan sepenuhnya acara pernikahan Zio dan Raya pada keluarga Raya. Bahkan Olla dan Nio tak ingin ikut campur kedalamnya. Seperti apapun pestanya Olla dan Nio ikut saja. Karena mereka begitu menghargai besannya.
Biaya pernikahan semua menjadi urusan Zio. Nio hanya membantu beberapa saja yang memang Zio membutuhkannya. Zio memang sengaja menginginkan pernikahannya tak jauh dari adik sepupunya Keina.
Karena Zio ingin jika anak-anak mereka lahir jarak usianya tak jauh berbeda seperti halnya dirinya dan Daren, Zayn dan Andre. Hanya Keina yang tak memiliki teman sebaya di keluarganya. Bahkan Daffin dan Zizi pun hanya terpaut beberapa bulan saja.
Sementara Zio sibuk di kantor karena dirinya akan cuti setelah acara pernikahannya. Jadilah semua tanggung jawab di alihkan pada Zayn sementara. Zayn tak bisa menolak karena walau bagaimana pun itu merupakan perusahaan keluarga dan dirinya pun memiliki tanggung jawab yang sama dengan Zio.
Sementara selama Daren cuti Daffin lah yang menggantikan tugasnya. Daffin memang masih duduk di bangku kuliah tapi Ken memberikan tanggung jawab yang sama padanya. Ken ingin anaknya mulai belajar sejak dini.
Banyak karyawan kantor yang merasa senang dengan kehadiran Daffin namun sayangnya Daffin masih sangat muda dan mereka pun memiliki julukan berondong manis buat Daffin.
Daffin bukan tak tau tentang para pegawai yang selalu menggunjingkan dirinya hanya saja Daffin tak ingin ambil pusing. Jadi dirinya hanya membiarkannya begitu saja. Toh dirinya hanya menggantikan sementara saudara sepupunya.
Siang ini Zio menjemput Raya untuk melakukan fitting baju pengantin mereka di butik milik Ayumi. Bukan tanpa alasan Raya memilih butik Ayumi. Karena Raya selalu merasa puas menggunakan pakaian dari butik milik Ayumi.
Jadilah dirinya pun mempercayakan gaun pengantinnya pada Ayumi. Ayumi sudah menunggunya saat Raya dan Zio tiba di butik miliknya. Raya pun segera mencoba gaun pengantinnya dan Raya begitu puas dengan hasil karya Buna dari sahabatnya itu.
"Aku suka banget Tante."
__ADS_1
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏🙏