
Infus telah terpasang di lengan kiri Keina. Tita terus berada di sisi Keina bersama Daren. Reina bersama Melan dan Marni. Raya merasa kasian terhadap Keina dirinya pun melihat keadaan Keina sebentar setelah itu Raya pun harus kembali ke kamar karena putranya menunggu dirinya.
"Bagaimana? Sudah lebih baik?" Tanya Ken yang baru saja datang bersama Abi.
"Masih tidur Dad. Efek obat yang di berikan lewat infus kata Bang Angga." Daren.
"Syukurlah. Kapan bisa di pindahkan ke rumah?" Ken.
"Sore ini Ken akan langsung bawa Kein ke rumah Dad. Supaya lebih leluasa merawat Keina dan Reina." Daren.
"Harus menunggu infus habis dulu ngga?" Abi.
"Tidak Pi. Nanti suster akan mematikan dahulu infusnya dan di lanjut kan di rumah." Daren.
"Ya sudah. Mom, ayo bersiap pulang biar nanti bisa langsung di bawa Keina nya." Ken.
"Iya Dad.." Tita.
"Daffin mana?" Ken.
"Loh, bukannyabtadi masih di bawah ya." Tita.
"Tidak ada. Daddy fikir dia mengikuti Mommy ke sini." Ken.
"Loh, kemana lagi anak itu." Tita.
Semua pergi ke kamar masing-masing untuk bersiap pulang karena memang mereka tak berencana menginap. Hanya beberapa keluarga saja yang menginap.
Daren dengan setia menemani Keina di sisi tempat tidur. Tangannya tak lepas menggenggam tangan Keina yang bebas dari infusan. Sesekali Daren pun mengusap pipi Keina yang tampak pucat.
"Sayang, bangun yuk.. Abang tau kamu kuat sayang." Bisik Daren.
Sementara Daffin membawa Intan ke taman dekat hotel. Mereka berdua duduk berdampingan. Intan menatap lurus ke depan entah apa yang di lihatnya begitu juga dengan Daffin. Sesaat suasana hening di antara keduanya.
"Tan," Ucap Daffin memecah suasana.
"Iya Bang." Intan.
Daffin terlihat ragu untuk mengungkapkan isi hatinya. Beberapa kali Daffin terlihat menarik nafas dalam demi menetralkan perasaannya. Intan melihatnya dari sudut matanya. Ingin tertawa tapi juga dirinya gugup.
"Mm... pacaran yuk." Ucap Daffin spontan.
"Hah!" Intan.
"Hah! Eh,. Hehehe... Abang ga romantis ya." Ucap Daffin menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Intan pun menunduk antara malu dan lucu. Malu karena Daffin menembaknya dan lucu karena Daffin yang di kenalnya tegas dan cuek bisa gugup di hadapannya.
"Tan, kok diem. Gimana mau ngga?" Tanya Daffin malu-malu.
"Abang serius atau lagi latihan nembak pacar?" Intan.
"Se serius dong Tan. Gimana? Ga mau ya?" Daffin.
__ADS_1
"Eh, Abang ga salah pengen Intan jadi pacar Abang? Intan kan ga punya siapa-siapa." Intan.
"Itu ga penting buat Abang. Yang penting Intan mau sama Abang dan tulus sama Abang." Daffin.
"Gimana kalo Intan mau karena Abang anak orang kaya?" Intan.
"Hm... Klo gitu kamu salah mau sama Abang." Daffin.
"Eh, kenapa begitu?" Intan.
"Karena yang kaya itu bukan Abang tapi orang tua Abang. Jadi, kamu salah kalo nerima Abang karena kekayaan." Daffin.
"Kenapa?" Intan.
"Karena Daddy dan Mommy tidak menagajarkan kami untuk hidup berfoya-foya. Jika kami menginginkan sesuatu harus usaha dulu. Sejak kecil kami tidak di ajarkan kemewahan." Daffin.
"Intan percaya. Karena walaupun kamar tidur di rumah Abang sebesar rumah Almarhum orang tua Intan tapi, semua keluarga sangat sederhana dan saling menghargai." Intan.
"Jadi, gimana? Mau ngga sama Abang?" Tanya ulang Daffin.
"Abang mau jawaban mau atau ngga?" Intan.
"Astaga! Intaaannn... Nikah aja yuk langsung." Ucap Daffin frustasi.
Pasalnya ini kali pertama dirinya menembak seorang perempuan. Bahkan baru Intan perempuan pertama yang dekat dengannya. Bukan tak laku tapi Daffin membatasi pertemanannya dengan lawan jenis.
"Eh, ini aja belum di jawab udah di ajak nikah lagi." Intan.
"Mau ngga?" Daffin.
"Jadi pacar Abang Intan. Pacaran gitu kita Tan." Daffin.
Intan tersenyum menatap manik mata Daffin. Mencari kebohongan di sana namun hanya ada ketulusan yang Intan dapatkan. Dengan perlahan Intan pun menganggukkan kepalanya perlahan mengiyakan ajakan pacaran dari Daffin.
"Hah! Kamu serius Tan? Kamu mau?" Tanya Daffin memegang bahu Intan.
"Iya." Intan
"Aaa... Yes.." Ucap Daffin girang.
Intan tersenyum melihat tingkah Daffin yang seperti anak kecil mendapatkan mainan baru. Tiba-tiba saja Daffin memeluk Intan erat dan membisikkan ucapan terima kasih. Intan yang semula terkejut hanya diam membeku. Tapi, saat Daffin membisikkan kata terima kasih Intan pun mulai membalas pelukkan Daffin.
"Hmmm..."
Terdengar suara seseorang membuat keduanya melerai pelukannya dan menoleh ke arah orang tersebut.
"Abang!" Ucap keduanya bersamaan.
"Kalian ngapain berduaan disini?" Tanya Gagah memasang wajah serius.
Padahal Gagah telah melihat sejak pertama kali mereka berdua duduk. Gagah hanya diam memperhatikan karena ingin tau apa yang akan di lakukan Daffin dan Intan. Gagah pun menertawakan kekonyolan Daffin sejak tadi.
"Abang kepo. Ayo Tan masuk." Ajak Daffin memegang tangan Intan.
__ADS_1
"Hah! Ah, iya. Kita masuk dulu Bang." Ucap Intan menundukkan kepalanya pada Gagah.
Setelah Daffin dan Intan meninggalkan tempat mereka dan jauh dari tempat dimana Gagah berdiri Gagah pun tertawa mengingat kekonyolan adik sepupunya itu. Gagah tertawa hingga air matanya keluar.
"Yang, kenapa ih?" Tanya Laras yang baru saja datang menghampiri Gagah.
"Yaah, kamu telat Yang." Gagah.
"Telat kenapa?" Laras.
"Baru saja ada adegan yang bikin Mas tertawa seperti sekarang." Ucap Gagah masih saja tertawa.
"Adegan apa? Hayo.. Mas abis ngerjain orang ya?" Laras.
"Ngga doong." Gagah.
"Terus apa?" Laras.
"Daffin pacaran Yang sama Intan." Gagah.
"Hah! Mas serius? Mas tau dari mana?" Laras.
"Baru aja Mas liat Daffin nembak Intan. Makanya Mas ketawa. Daffin nembak cewek kaya mau ngajak main aja." Gagah.
"Iih, kaya Mas romantis aja. Mas juga tiba-tiba aja ngajakin Laras nikah ga ada nembaknya." Laras.
"Eh, kok jadi ngomongin Mas sih." Gagah.
"Abisnya Mas ngetawain Daffin. Mas sendiri aja ga romantis. Bahkan anak udah segede sekarang juga Mas ga ada romantis-romantisnya."Laras.
"Eh, tapi kalo lagi berdua romantis dong sayang.. Apa lagi kalo di kamar. Iya kan?" Goda Gagah.
"Iish... Udah ayo ah. Abang nginep di sini atau pulang?" Laras.
"Semua pulang?" Gagah.
"Ngga ada yang nginap juga." Laras.
"Bunda sama Ayah pulang?" Gagah.
"Nginap di mansion." Laras.
"Kita pulang aja deh. Anak-anak gimana?" Gagah.
"Anak-anak ngikut kita." Laras.
"Kalo gitu pulang aja. Kasian juga Keina kalo kita menginap di mansion nanti dia ga bisa istirahat keberisikan." Gagah.
"Oke. Laras siap-siap dulu sekalian ngasih tau anak-anak." Laras.
"Ya udah ayo kita sama-sama masuk." Gagah.
Mereka berdua pun masuk ke dalam bersama. Di dalam Keina sednag di persiapkan untuk di bawa pulang. Karena perawat yang di tugaskan Angga dan di setujui Daren sudah datang.
__ADS_1
🌻🌻🌻