
Gagah merasa terkejut dengan pertanyaan Intan. Karena apa yang sudah di lakukan Daffin menurutnya sangat istimewa tidak mungkin Perempuan yang bersama Daffin tidak mengetahui siapa Daffin.
"Hm..." Dehem Gagah.
"Hah! Mmm... Sebaiknya kita lihat Ibu." Ajak Daffin.
"Permisi Dokter." Pamit Intan dan Gagah hanya mengangguk dan tersenyum.
Saat Intan dan Daffin tiba di ruangan yang menurut Daffin itu ruangan dimana Ibunya di rawat betapa terkejutnya Intan melihat ruangan Ibunya lebih mewah dari pada rumahnya sendiri.
"Kak,," Panggil Intan memegang lengan Daffin.
"Kenapa?" Ayo masuk." Daffin.
"Tapi ini.." Ucap Intan seraya pandangannya menyapu seluruh ruangan di sana.
"Masuklah. Kamu bisa belajar sambil menunggu ibu." Daffin.
Intan pun mengikuti langkah Daffin. Langkahnya semakin dalam. Intan melihat sang Ibu yang tengah terbaring di balik kaca besar di sana terdapat dua irang perawat yang juga terhalang oleh kaca. Dua orang perawat itu menundukkan kepalanya saat melihat kedatangan Daffin dan Intan.
Intan tau jika Daffin bukan orang biasa karena Intan pernah di bawa ke mansion hanya saja Intan tak pernah menyangka jika Ibu nya akan di bawa ke rumah sakit dan di perlakukan istimewa.
"Kamu bisa beristirahat di sana dan belajar di sini sambil melihat Ibu. Kakak harap kamu belajar dengan fokus agar mendapatkan nilai terbaik." Daffin.
Intan mengangguk dan tanpa sadar Intan meneteskan air matanya. Intan tidak pernah menyangka dirinya akan bertemu dengan orang baik seperti Daffin.
Grep...
"Terima kasih Kak." Ucap Intan memeluk Daffin.
Daffin yang terkejut dengan aksi Intan yang tiba-tiba memeluknya hanya diam. Kedua tangannya menggantung di udara. Beberapa detik kemudian Daffin membalas pelukan Intan.
"Tidak perlu berterima kasih. Jaga Ibu dulu ya. Kakak ada kuliah siang ini." Pamit Daffin.
Intan melepaskan pelukkannya dan mengangguk menjawab ucapan Daffin.
"Jangan menangis. Do'akan Ibu lekas sembuh." Ucap Daffin mengusap pipi Intan.
Setelah kepergian Daffin Intan terduduk di sofa yang tak jauh dari kaca penghubung atara ruangannya dan ruangan Ibunya. Dari sana Intan bisa melihat Sang Ibu yang terbaring tak berdaya.
"Daffin..." Panggil Zizi yang melihat Daffin turun dari motornya.
Daffin menoleh pada seseorang yang memanggilnya.
"Loh, kapan Lu datang?" Daffin.
"Kemari sore." Zizi.
"Mana oleh-olehnya?" Daffin.
__ADS_1
"Oleh-oleh aja Lu fikirannya. Tolongin gw dong Daff." Zizi.
"Apaan?" Daffin.
"Balikin buku yang gw pinjem ke perpus. Gw udah mau di jemput nih." Zizi.
"Astaga! Suruh Abang nunggu dulu deh atau anter Lu dulu ke perpus. Gw ada kelas nih." Tolak Daffin.
"Ish... Daffin." Zizi.
"Sorry sayangkuh. Gw buru-buru." Tolak Daffin segera pergi ninggalin Zizi.
"Daffin... Dasar adek durjana Lu!" Umpat Zizi kesal.
Tak lama Andre datang menjemput Zizi. Dan Zizi pun mengutarakan apa yang di alaminya. Andre pun dengan senang hati mengantarkan Zizi terlebih dahulu ke perpustakaan. Sebenarnya bukan Zizi tak mau. Hanya saja bagian intinya masih terasa ngilu akibat ulah suaminya.
"Langsung pulang atau ikut Abang ke kantor?" Andre.
"Memang boleh?" Zizi.
"Apa? Ikut Abang ke kantor?" Tanya Andre.
"Iya." Zizi.
"Boleh dong sayang. Siapa yang berani melarang kamu?" Andre.
"Ya, kali aja ada yang cemburu gitu.." Zizi.
"Gombal." Zizi.
Akhirnya Zizi pun ikut Andre ke kantor. Zizi duduk di sofa menunggu Andre bekerja. Karena lelah tanpa terasa Zizi pun tertidur di sofa. Andre yang melihatnya tak tega akhirnya Andre pun memindahkan Zizi ke ruang pribadinya.
Sementara di rumah Olla. Sinta tampak tak mempermasalahkan ketika Zayn tak pulang makan siang. Olla sudah di buat khawatir karena Zayn yang tak pulang. Tapi, Sinta tak memperlihatkan kesedihannya Sinta makan dengan tenang walau hanya bersama dengan Olla saja.
"Bunda, Sinta ke kamar ya. Ngantuk." Pamit Sinta.
"Tapi, kamu baru saja makan sayang." Jawab Olla.
"Tapi, Sinta ngantuk Bun." Jawab Sinta sayu.
"Baiklah. Istirahat saja." Jawab Olla mengijinkan.
Sinta pun memasuki kamarnya dan benar saja Sinta tertidur di atas ranjangnya ketika Olla mengintip dari balik pintu yang tidak di kunci oleh Sinta. Sinta benar-benar melakukan apa yang dia katakan.
Bagaimana tidak kelelahan jika Zayn terus membuatnya tak berdaya sepanjang malam. Bahkan Zayn tak memberi jeda sedikit pun. Olla hanya berfikir Sinta masih sakit yang membuat Sinta kelelahan dan kembali tertidur.
Sementara Raya dan Keina tengah bersantai di mansion bersama Tita dan Marni. Laras pun datang bersama kedua anaknya berkunjung menemui Marni. Menjadikan Mansion lebih hangat dengan kehadiran mereka.
"Kak, kata Mas Gah. Daffin membawa pasien ke rumah sakit?" Laras.
__ADS_1
"Iya. Ibu dari temannya." Tita.
"Siapa Mom?" Keina.
"Ibunya Intan. Anak perempuan yang beberapa waktu lalu tertabrak Daff." Tita.
"Yang tempo hari di bawa ke sini?" Marni.
"Iya Bu. Ternyata Ibunya sakit. Mas Ken meminta Daffin memindahkan ke rumah sakit keluarga. Sebelumnya Daffin membawanya ke rumah sakit dekat rumah mereka dan juga dekat dengan sekolahan Intan. Tapi, kondisinya terus tidak membaik." Jelas Tita.
"Dan sepertinya Intan itu tidak tau jika Daff dan Mas Gah saudara sepupu. Kata Mas Gah dia malah bertanya apa Mas Gah dan Daffin kakak beradik." Laras.
"Lantas Bang Gagah bilang apa?" Keina.
"Mas Gah tidak menjawab dan Daffin pun mengalihkan pembicaraan mereka." Laras.
"Astaga! Daffin... Daffin..." Keina.
"Mungkin Daffin tidak ingin Intan merasa tidak enak Kein." Raya.
"Iya. Sepertinya begitu." Tita.
"Gladys ga ke sini Kak?" Laras.
"Kemarin ada Glad ke sini sebentar sambil nganter Gia." Tita.
Mereka pun mengobrol hingga tak terasa udara semakin dingin karena telah sore. Daren dan Ken telah datang dari kantor. Begitu juga dengan Zio yang datang menjemput Raya. Laras berencana menginap di mansion dan Gagah akan menyusul sepulang dirinya tugas.
Zio pun segera berpamitan setelah sejenak menyapa Marni dan Laras. Keina masuk ke dalam kamar mengikuti Daren. Tita pun melakukan hal yang sama masuk ke dalam kamar mengikuti Ken.
"Mas, Daffin telah memindahkan Ibu Intan ke rumah sakit Keluarga." Tita.
"Ya. Gagah telah mengatakannya siang tadi." Ken.
"Mm... Apa yang terjadi?" Tita.
"Menurut Gagah. Penyakit ini sepertinya sudah lama di idap Ibu Intan. Dan dari penjelasan Intan Ayah dan adiknya meninggal dengan penyakit yang sama."Ken.
"Lalu Intan?" Tita.
"Intan akan di lakukan pemeriksaan setelah Intan selesai Ujian. Sementara Daffin akan menemaninya di rumah sakit." Ken.
"Hanya berdua?" Tita.
"Tidak. Ada dua orang perawat yang bergantian berjaga setiap hari." Ken.
"Apa ada kesempatan Mas?" Tita.
"Hanya Tuhan yang tau sayang. Kita tidak boleh mendahuluinya. Kita berusaha dan berdo'a saja yang terbaik untuk Ibu Intan." Ken.
__ADS_1
🌻🌻🌻