Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Restu Damar


__ADS_3

Zizi bersimpuh di samping makam Damar yang masih basah. Air matanya tak terbendung lagi. Hanya tangisan dan ucapan maaf yang keluar dari mulutnya. Permohonan maaf karena dirinyahl harus menikah dengan pria lain.


Andre memegang bahu Zizi saat di rasa cukup lama Zizi menundukkan dirinya dengan tubuh yang gemetar. Andre merangkul Zizi dan membawanya ke dalam dekapannya. Paman Damar pun ikut meneteskan air matanya melihat keadaan Zizi.


"Maaf." Ucap Zizi lirih saat berada di pelukkan Andre.


Andre tak menjawab hanya mengusap lembut punggung Zizi. Semua pun berdo'a bersama untuk Damar dan kedua orang tuanya. Do'a di pimpin langsung oleh paman Damar. Setelah selesai berdo'a mereka pun meninggalkan pemakaman.


Tiba-tiba langkah Zizi terhenti dan pandangannya tertuju pada satu titik. Zizi mengurai kembali air matanya. Tubuhnya kaku, langkahnya terhenti.


"Sayang," Panggil Andre lembut.


Namun Zizi hanya diam menatap lekat apa yang ada pada pandangannya.


"Sayang," Ucap Ken pada Tita.


Tita mendekatinya Zizi.


"Dia memberi restu pada kalian sayang." Ucap Tita pelan mengusap lengan Zizi.


Zizi menoleh pada Tita kemudian pada bayangan Damar yang dilihatnya. Damar yang berdiri tak jauh dari mereka dan mengulas senyuman khasnya. Seketika Zizi pun luruh kebawah dan menangis. Beruntung Andre segera menangkapnya.


Mereka semua pun meninggalkan pemakaman dan kembali ke rumah keluarga Damar. Saat mereka kembali di lihatnya Zayn tengah memainkan ponselnya di depan rumah Damar sendiri.


"Zayn, kenapa kamu tinggalin Sinta sendiri?" Tanya Nio.


"Dia tidur Yah. Aisah menemaninya." Jawab Zayn.


"Syukurlah. Apa makanannya sudah masuk?" Olla.


"Sudah Bun. Sekarang Sinta tidur." Zayn.


Kemudian mereka pun berpamitan. Saat mobil mereka akan keluar. Masuklah sebuah mobil dan keluar seorang laki-laki dari dalamnya yang terlihat panik dan segera menuju rumah.


"Siapa dia?" Nio.


"Kekasihnya Sinta." Jawab Zayn santai.


"Apa?!!" Ucap Nio dan Olla bersamaan.


"Dih, santai aja Yah, Bun." Zayn.


"Kamu baik-baik saja Zayn?" Tanya Olla.


"Tentu Bun. Kenapa Bunda bertanya seperti itu?" Zayn.


"Ceh, kamu itu tidak peka." Olla.

__ADS_1


"Peka apanya sih Bun?" Zayn.


"Sudahlah. Ayo nyetir yang bener." Olla.


Zayn memutar bola matanya. Bukan tak tau apa maksud dari orang tuanya hanya saja Zayn pun tak ingin larut dengan perasaannya sendiri. Zayn tau Sinta memiliki kekasih bahkan mereka berencana akan menikah setelah Damar dan Zizi menikah.


Hanya saja kepeduliannya tak dapat tertahan ketika melihat Sinta yang begitu terpuruk saat kehilangan keluarganya. Zayn memberikan keamanan dan kenyamanan pada Sinta.


"Dimana Sinta Paman?" Tanya Hendrik kekasih Sinta.


"Di dalam. Dia baru saja tidur setelah semalaman tidak tidur." Jelas paman Sinta.


"Bagaimana ini bisa terjadi paman. Bukankah kemarin itu sebarusnya Bang Damar menikah?" Tanya Hendrik yang memang tak tau kejadiannya.


Hendrik menolak secara halus ketika Sinta memintanya hadir di acara pernikahan Damar saat itu Sinta sedikit kecewa tapi mencoba memakluminya. Sinta dan Hendrik memang jarang bertemu namun intens berkomunikasi hal itu juga yang membuatnya dekat dengan Damar dan sekarang dengan Zizi.


Karena Hendrik yang begitu sibuk setelah mereka sama-sama bekerja. Sinta sedikit memiliki banyak waktu karena bekerja di perusahaan keluarganya sendiri sementara Hendrik di perusahaan orang. Sinta pernah menawarkan dirinya untuk bekerja di perusahaan keluarganya hanya saja Hendrik menolak karena tidak ingin di cap tidak baik.


"Apa aku boleh melihatnya Paman?" Tanya Hendrik.


"Sebaiknya kamu tunggu dia bangun saja Hen." Ucap Rahmat sepupu Sinta.


"Kenapa? Saya tidak akan mengganggu tidurnya." Hendrik.


"Karena kami sekuat tenaga berusaha membuatnya tertidur. Kejadian ini bukan hal mudah untuk dia lewati. Jadi, tolong hargai. Biarkan dia tertidur." Rahmat.


Rahmat pun menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Hendrik dan Hendrik tersentak tak percaya. Hendrik tau Sinta pastilah syok berat karena semua kejadian terjadi di hadapannya dan merenggut nyawa tiga orang kesayangannya.


"Karena hal itulah. Semoga kamu mengerti." Rahmat.


"Iya Bang. Maaf karena saya panik mendengar berita kecelakaan dan saya mengenali kalian." Hendrik.


"Iya. Maaf mungkin Sinta tak memberitahukan kamu. Karena ponselnya entah kemana yang kami fikirkan hanyalah keselamatannya karena tiga yang lain meninggal di tempat." Rahmat.


Hendrik pun hanya berbincang dengan Rahmat karena Paman Sinta pun harus beristirahat karena para pelayat terus menerus berdatangan dan dirinyalah yang harus menemui mereka sebagai perwakilan keluarga karena Sinta tak dapat berbuat apa-apa.


Saat Hendrik dan Rahmat berbincang ponsel Hendrik berdering kemudian Hendrik berbicara serius dengan si penelfon. Setelah sambungan terputus Hendrik segera pamit kepada Rahmat dan dia berjanji akan kembali nanti.


Sementara keluarga Durant dan ito sudah kembali ke kediamannya masing-masing. Mikha dan Angel pun telah kembali ke negaranya. Karena mereka tak bisa terlalu lama. Tanio dan Tita mengerti oleh karena itu Tanio dan Tita memakluminya.


"Bagaimana keadaan Sinta Mom?" Tanya Keina.


"Masih belum beranjak dari kamarnya. Bahkan semalaman dirinya hanya menangis." Tita.


"Ini pasti berat buat Sinta Mom. Apalagi semua kejadian terjadi di hadapannya." Keina.


"Ya." Ucap Tita singkat melihat ke arah putra bungsunya yang telah siap dengan setelan casual dan jaketnya.

__ADS_1


Keina pun ikut menoleh ke arah pandang Tita.


"Dek, mau kemana?" Tanya Keina langsung.


"Hah! Mau ke tempat temen Kak." Daffin.


"Ngapain? Bukannya kamu libur ya?" Keina.


"Ceh, memang libur ga bisa main ke temen." Daffin.


"Pasti cewek kan teman kamu?" Tebah Keina.


"Mana ada. Jangan macem-macem deh Kak." Daffin.


"Kakak hanya bertanya kenapa kamu sewot?" Keina.


"Jangan terlalu jauh Daff." Marni.


"Iya Nek." Daffin.


"Memang kamu main kemana hingga jauh?" Tita.


"Tidak Mom. Nenek hanya memperingatkan saja." Daffin.


"Kau yakin?" Tita.


"Yakin Mommy sayang. Dah ah Daff pergi dulu ya. Bye Mom." Pamit Daffin mencium pipi Tita.


Daffin pun segera melesat keluar sebelum Kakaknya kembali menanyainya. Daffin pergi menggunakan motor sportnya. Tak lama Daffin keluar Ken mencarinya.


"Kalian melihat Daffin"? Ken.


"Dia pergi Dad." Keina.


"Daren?" Ken.


"Di ruang kerjanya. Ada apa Dad?" Keina.


"Daddy ada perlu dengan mereka. Ya sudah Daddy temui Daren saja dulu." Ken.


Keina pun tak banyak bertanya lagi pada Ken. Marni dan Tita pun hanya diam. Keina, Tita dan Marni memang tengah bersantai di ruang utama dengan berbagai makanan di tangan Keina tentunya.


Semakin bertambah kehamilan Keina semakin banyak makan dan bisa sedikit lepas dari Daren asalkan Keina tau dimana Daren berada dan saat dirinya mencari Daren ada di sana. Tapi, walaupun banyak makanan masuk tubuh Keina bagai tak merespon karena hanya perutnya saja yang membuncit.


Hal itu juga yang membuat Raya iri. Padahal kehamilannya dan Keina sama. Pertumbuhan janin mereka pun sama sehatnya. Tapi Keina memang seperti Tita yang badannya tidak bisa besar walaupun banyak makan. Bahkan Tita yang telah melahirkan tiga orang anak pun badannya masih tetap terjaga.


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2