
Daffin di buat kelabakan oleh keputusan Ken dan Tita yang memintanya manikahi Intan untuk mencegah adanya omongan tidak baik di luaran. Pasalnya Intan akan lebih sering datang ke mansion ketika Ayumi datang dan itu akan menimbulkan beberapa asumsi.
Intan pun tak kalah cemasnya dari Daffin. Antara haru, takut dan bahagia semua bercampur aduk. Haru karena keluarga Kenzo Ito mau menerimanya yang hanya sebatang kara. Takut jika dirinya tak bisa menjadi istri yang di idamkan Daffin. Bahagia karena bisa berdampingan dengan orang yang di cintainya.
"Sayang," Panggil Ayumi yang melihat Intan termenung di taman.
"Buna." Intan.
"Kenapa?" Ayumi.
"Ngga ada apa-apa Bun." Intan.
"Jangan bohongi Buna sayang. Kamu belum siap?" Ayumi.
Intan hanya diam menatap lurus ke depan. Matanya berkaca-kaca dan satu kedipan saja air mata akan tumpah membasahi pipinya. Ayumi membawa Intan kedalam pelukkannya dan tangis Intan pun pecah. Ayumi mengusap lembut punggung Intan.
Ayumi tau apa yang di rasakan Intan. Hidup sebatang kara bukan hal yang mudah. Jika Daffin tidak bertemu dengannya entah apa yang akan terjadi dengannya. Kehilangan orang tua tempatnya bernaung dan di usir oleh warga karena penyakit keluarganya.
"Sayang," Panggil Ayumi setelah Intan sedikit lebih tenang.
Ayumi mengurai pelukkannya dan mengusap lembut air mata di pipi Intan.
"Buna tak mau kamu menangis lagi. Dan hanya boleh ada tangisan bahagia kedepannya. Apapun yang terjadi Buna akan tetap menjadi Buna kamu." Ayumi.
"Terima kasih Buna." Intan.
"Jangan terlalu banyak menangis. Masa saat hari bahagia kamu nanti mukanya ga cantik gara-gara kebanyakan nangis." Goda Ayumi.
"Buna..." Rengek Intan.
Rehan yang melihat mereka berdua di ambang pintu tanpa sadar ikut meneteskan air matanya. Rehan segera menghapus air matanya. Gladys yang baru saja datang bersama Gea putri bungsunya melihat Rehan menangis.
"Opa kenapa Bun?" Tanya Gea.
"Bunda ga tau. Ayo deketin." Ajak Gladys.
Mereka berdua pun berjalan mendekati Rehan dan melihat ke arah pandang Rehan. Dan mereka melihat Intan dan Ayumi yang tengah saling berpelukan. Rehan, Ayumi, Ken dan Tita memang telah mengetahui asal usul Intan yang tak mungkin mereka ceritakan.
Hal itu juga yang membuat Ken memutuskan untuk menikahkan Daffin dan Intan sebelum mereka tau Daffin dan Intan telah memiliki hubungan istimewa. Itu juga yang membuat Rehan ikut menitikan air matanya.
"Ayah." Panggil Gladys lembut.
"Astaga! Glad, sejak kapan kamu di situ?" Rehan.
"Sejak Ayah nangis." Gladys.
"Hah!" Rehan.
__ADS_1
"Opa kenapa?" Gea.
"Ti tidak kenapa-kenapa." Rehan.
"Intan kenapa Yah?" Tanya Gladys yang mengerti kenapa Rehan menangis.
"Sepertinya Intan masih ga percaya Oncle kamu minta dia menikah dengan Daff." Rehan
"Ya ampun. Kalo Gea sih mau banget tuh di nikahin sama Abang Daff." Gea.
"Bukan tidak mau Ge. Itu karena Kak Intan hanya tinggal sendiri. Dan pastinya di momen bahagianya dia ingin ada kedua orang tua dan keluarganya." Gladys.
"Kan kita keluarga Kak Intan juga Bun." Gea.
"Berbeda sayang. Sesayang apapun kita, semahal apapun kita memberikan barang pada Kak Intan, Seistimewa apapun kita memperlakukan Kak Intan tetap berbeda jika dia harus kehilagan keluarga intinya." Gladys.
"Jadi, Ge harus sayang dan jaga Bunda, Ayah dan Abang Gean selagi mereka masih ada. Setelah Gea kehilangan mereka maka tak akan ada lagi kebahagiaan yang sama dengan apa yang mereka berikan." Rehan.
"Begitu ya Bun, Opa." Gea.
"Iya sayang." Gladys.
"Kasian ya Bun Kak Intan." Gea.
"Kita akan selalu ada untuk Kak Intan. Tapi, keluarganya akan lebih dia rindukan." Gladys.
"Ayo ke sana Bunda." Ajak Gea.
"Hai,,, baru datang?" Ayumi.
"Iya Bun. Halo calon pengantin." Sapa Gladys.
"Hai Kak." Intan.
"Kak Intan, Gea boleh peluk?" Tanya Gea.
"Hah! Boleh dong." Jawab Intan merentangkan kedua tangannya.
Gea memeluk Intan erat. Intan pun membalasnya. Gladys bergelayut manja di lengan Ayumi. Ayumi mengusap lembut tangan Gladys yang bergelayut di lengannya.
"Ayo Bun, Tan kita ke butik." Ajak Gladys.
"Astaga! Kenapa Bunda lupa. Ayo, sebentar Bunda siap-siap dulu. Kamu juga Tan ayo siap-siap." Ucap Ayumi beranjak dari duduknya masuk ke dalam.
"Intan masuk dulu Kak." Pamit Intan.
Gladys dan Gea pun menunggu mereka di ruang utama sambil menikmati camilan yang di sediakan bibi. Karena hari ini Intan libur maka Ayumi dan Gladys menyempatkan diri untuk fitting baju pengantin di butik.
__ADS_1
Ayumi sendiri yang akan menangani gaun pengantin Intan. Yang lainnya akan di urus Laras dan Gladys. Awalnya Keina ingin ikut membantu tapi Gladys dan Laras melarangnya karena kondisi Keina yang baru saja sembuh dan Keina harus merawat Reina.
Begitupun dengan Tita dan Marni yang tidak di perbolehkan ikut campur dalam acara pernikahan Daffin dan Intan. Semua rangkaian pernikahan dari mulai lamaran hingga acara inti Laras, Gladys, Ayumi dan Jessie yang akan mengurusnya.
Jessie ikut membantu karena permintaan Ayumi dan Jessie dengan senang hati membantu. Ayumi juga tak ingin Jessie merasa sendiri setelah kepergian Aiko. Artur pun tak memilih menikah kembali. Artur lebih memilih menyibukkan dirinya sendiri di rumah.
"Glad, Kak Laras dan Jessie sudah jalan?" Ayumi.
"Sudah Bun. Hari ini mereka berdua akan bertemu dengan WO dan memilih gedung yang cocok untuk acara." Gladys.
"Sudah ada kabar?" Ayumi.
"Belum Bun. Nanti siang paling mereka langsung ke butik." Gladys.
"Ya udah. Ayo jalan. Intan mana?" Ayumi.
"Intan di sini Buna." Jawab Intan yang sedang menuruni anak tangga.
"Ya udah ayo jalan. Eh, kita pamit Ayah dulu." Ayumi.
Mereka berempat pun berpamitan pada Rehan untuk pergi ke butik. Tita, Keina dan Marni pun akan pergi ke butik untuk menguskur pakaian yang akan mereka kenakan saat acara nanti. Untuk para lelaki Ayumi mempercayakan pembuatan pakaiannya pada rekan kerjanya yang khusus membuat pakaian pria.
Reina si bayi mungil juga akan di buatkan pakaian khusus oleh Ayumi. Gea memilih duduk bersama Intan. Ayumi duduk di bangku samping kemudi sementara Gladys bertugas mengemudi.
"Tan, nanti belajar nyetir ya sama Daff." Gladys.
"Kenapa Kak?" Intan.
"Karena kamu harus mandiri jangan bergantung pada suami. Jika ada hal yang urgent kamu bisa mengendarai mobil." Gladys.
"Iya Kak. Nanti Intan bilang sama Abang." Intan.
"Harus ya Tan." Ayumi.
"Iya Buna." Intan.
"Gea boleh belajar nyetir juga Bunda?". Gea.
"Boleh. Tapi, nanti setelah kamu punya KTP." Gladys.
"Dimana Gea bisa dapet KTP Bunda. Biar Gea bisa belajar nyetir." Gea.
"Nanti setelah umur kamu 17 sayang." Gladys.
"Yah,, masih lama dong Bun." Gea.
"Semua ada prosesnya sayang." Ayumi.
__ADS_1
"Oke Oma." Gea.
🌻🌻🌻