
Raya berniat akan pulang setelah acara pengajian selesai. Raya mencari keberadaan Keina yang sejak tadi menghilang setelah membanti Gea belajar. Raya merasa tidak enak terlalu lama di lingkungan keluarga Keina meskipun semua menerimanya dengan baik.
"Tante, liat Keina?" Tanya Raya pada Olla.
"Eh, tadi kemana ya. Ngga nanyain anak Tante aja?" Tanya Olla sambil melirik Zio di dekatnya.
"Eh, ngga Tan. Raya mau pamit sama Keina." Raya.
"Mau kemana?" Olla.
"Mau pulang Tan. Raya kan udah dari pagi disini. Ngga enak mau mandi." Raya.
"Owh! Ya udah di mandiin anak Tante aja gimana? Eh, maksud Tante di temenin mandi eh aduh kok salah terus ya. Di anterin pulang sama anak Tante nah gitu." Canda Olla.
"Bunda.." Tegur Zio.
"Owh! Abang mau anter Raya? Sip kalo gitu. Urusan Kiena biar aja. Paling di culik Daren." Olla.
"Kenapa lu bawa-bawa anak gw La?" Melan.
"Ceh, ponakan gw ilang. Udah pasti anak Lu pelakunya." Olla.
"Duuh,,, tu mulut ya. Noh, ponakan Lu dari tadi nemplok sama emaknya terus." Tunjuk Melan pada Keina yang tengah bermanja pada Tita.
"Ngeri lu kawinin dia." Olla.
"Nikah Tante." Raya.
"Apa? Oh, Raya mau nikah sama Zio. Boleh sayang boleh. Nanti bilang Orang tua kamu kalo kita mau silaturahmi ke rumah ya." Olla.
"Bunda.." Zio.
"Apa sayang,,, udah ga sabar ya kalian. Udah sana anter Raya pulang dulu kasian." Olla.
"Raya bawa mobil kok Tan." Tolak Raya halus karena memang dirinya menbawa mobil.
"Ngga apa-apa mobilnya di simpen di sini aja aman kok." Olla.
"Tapi, besok Raya mau pake ke kampus Tan." Raya.
"Besok Zio yang jemput kamu ke kampus. Oke Deal. Sana pergi." Olla.
Raya menggeruk tengkuknya yang tak gatal. Bagaimana bisa Tantenya Kiena bersikap absurt begitu. Padahal dirinya dan Zio juga baru saja bertemu pagi tadi. Mereka berdua tak saling kenal sebelumnya. Karena yang Raya tau kakak sepupunya Keina ya Zayn.
Tapi, saat Raya berjalan berdampingan dengan Zio menuju mobil Zio bersamaan dengan Zayn dan Nio datang dan berpapasan karena tengah berjalan menuju rumah utama.
"Mau kemana Kak?" Nio.
"Anter Raya Yah." Zio.
Tanio memperharikan gadis di samping anaknya begitu juga dengan Zayn yang nampak tak asing dengan gadis di samping Kakaknya.
"Saya Raya Om. sahabatnya Keina." Raya.
"Owh! Astaga... Pantesan kaya pernah liat." Zayn.
"Kamu kenal?" Nio.
__ADS_1
"Kenal dong Yah. Kita kan satu sekolah dulu." Zayn.
"Benar begitu?" Nio.
"Iya Om." Raya.
Raya sebenarnya agak takut juga berhadapan dengan Nio yang dingin dan tegas. Nio memang selalu berhati kepada siapapun yang baru di lihatnya bahkan kepada semua orang yang telah lama di kenalnya.
"Baiklah, Om masuk dulu." Nio.
Dengan santainya Nio memasuki rumah utama. Zayn melihat kegugupan Raya begitu juga dengan Zio.
"Zayn masuk dulu Bang. Hati-hati di jalan. Jalanan macet." Zayn.
"Hm..." Jawab Zio singkat.
Mereka pun kembali berjalan menuju mobil Zio. Namun, naasnya mobil Zio terhalang oleh mobil Daren dan Jessie. Zio pun menoleh ke arah Raya.
"Hm... Raya pulang sendiri aja Bang. Itu mobil Raya ga terhalang." Raya.
"Eh, kenapa begitu?" Zio.
"Ini mobil abang kan?" Tunjuk Raya pada mobil hitam yang di sinyalir milik Zio.
"Iya." Zio.
"Hufh! Mobil Abang terhalang oleh dua mobil ini. Jadi, biar Raya pulang sendiri saja karena mobil Raya tidak terhalang." Jelas Raya.
"Owh! Mana kuncinya?" Tanya Zio.
"Kunci apa?" Raya.
"Kunci mobil siapa? Abang? Kan sama Abang." Raya.
"Mobil kamu dong. Kalo mobil saya tidak bisa lewat." Zio.
"Untuk apa?" Raya.
"Mau pulang?" Tanya Zio dan Raya pun mengangguk.
"Ya udah sini mana kunci mobilnya." Zio.
"Eh, ga usah Bang. Ga apa-apa kok Raya ga mau ngerepotin Abang." Raya.
Mereka pun terus berdebat perkara antar mengantar. Raya yang merasa senang dan tak senang pun menolak secara halus niat Zio mengantarkannya karena jika menggunakan mobilnya maka Zio akan pulang dengan kendaraan umum sedang dirinya masih berharap bisa berduaan dengan Zio.
Akhirnya Zio menang dan mengantarkan Raya pulang. Setelah menyakinkan Raya jika dirinya tidak apa-apa pulang dengan taksi. Sepanjang perjalanan menuju rumah Raya hanya hening. Raya melihat ke arah luar dari jendela samping dan Zio konsentrasi kedepan.
"Raya sudah lama kenal Keina?" Zio.
"Hm.. Sejak sekolah menengah pertama Bang." Raya.
"Apa Keina pernah pacaran atau sekedar deket selama sekolah dulu?" Zio.
"Yang Raya tahu tidak pernah. Karena Keina selalu menjaga jarak dengan lawan jenis. Keina seperti membentengi diri dengan laki-laki." Raya.
"Klo Raya pernah?" Zio.
__ADS_1
"Pacaran? Ngga pernah. Kalo hanya sekedar deket sih pernah tapi ga sampai pacaran tapi itu juga ga lama karena kurang nyaman rasanya atau entah karena Keina juga ga pacaran jadi kaya udah terbiasa tanpa pacaran." Raya.
"Masa begitu? Tapi, Raya sama Keina pernah suka sama laki-laki gitu ngga tapi kalian Pendem?" Zio.
"Ngga. Kalo hanya sekedar mengagumi pernah. Dulu Keina pernah mengagumi kakak tingkat kita tapi setelah itu ya sudah menguap begitu saja tanpa ada keinginan untuk lebih dekat dengannya." Raya.
"Kalo Raya?" Zio.
"Raya pernah juga. Tapi, ya gitu juga menguap begitu saja." Raya.
"Jangan tanya siapa ya Bang. Orangnya itu ya adik Abang sendiri." Batin Raya.
"Kalo Abang pernah pacaran atau suka sama perempuan?" Raya balik bertanya.
"Kalo untuk pacaran Abang ga sempet soalnya selama sekolah tingkat pertama dan atas Abang mentargetkan untuk bisa masuk kuliah di universitas ternama di LN jadi fokus abang hanya sekolah. Setelah kuliah taget Abang cepet selesai dan cepet pulang jadi kegiatan Abang sama Daren ya cuma kuliah dan kuliah. Sesekali kita main tapi itu pun jika libur semester. Terkadang libur. semester pun kita gunakan untuk freelance kerja." Zio.
"Abang sama Bang Daren itu satu angkatan?" Raya.
"Iya. Usia kita hanya terpaut beberapa bulan saja. Seperti Zizi dan Daffin." Zio.
"Owh! Gitu. Bang Zayn juga sekolah di sekolah yang sama ya Bang sama Abang?" Raya.
"Iya. Dia juga seperti Keina bisa cepat menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Hanya saja saat pulang Zayn menunggu kami agar bisa pulang bersama-sama." Zio.
"Abang dekat ya sama adik-adik Abang?" Raya.
"Ya. Karena Abang cucu tertua di keluarga Ayah dan Bunda." Zio.
"Hm... seperti Kak Gagah ya?" Raya.
"Ya." Zio.
"Abang pernah suka sama perempuan?" Raya.
"Sepertinya sedang." Zio.
"Wah, beruntungnya perempuan yang bisa di sukai abang." Raya.
"Raya percaya ngga sama jatuh cinta pada pandangan pertama?" Zio.
"Percaya. Karena pandangan pertama itu tidak pernah salah. Pandangan berikutnya akan terlihat lebih indah dan baik." Raya.
"Ya, itu yang abang rasakan. Setelah melihatnya dia terlihat sempurna dan selanjutnya semakin memikat." Zio.
Tanpa terasa mobil Zio telah memasuki halaman rumah Raya dengan arahan map. Halaman rumah yang tampak sederhana namun rapih terlihat sangat terawat.
Raya merupakan anak satu-satunya. Di rumah sederhananya terdapat Mama, Papa dan Nenek orang tua dari Papa Raya. Mama Raya hanya ibu rumah tangga biasa sedangkan Ayah Raya bekerja di salah satu Bank swasta.
Zio pun sebentar mampir masuk sebelum taksi yang di pesannya tiba. Raya memperkenalkan Zio pada Mama dan Neneknya karena Papa Raya belum pulang. Mama dan Nenek Raya menyambut hangat kedatangan Zio. Kemudian Zio pun berpamitan setelah taksi yang di pesannya datang.
"Selamat istirahat. Jangan tidur terlalu malam. Nanti Abang kabari kalo sudah sampai di rumah." Zio.
"Iya. Abang juga cepet istirahat ya." Raya.
Sampai di mansion Zio langsung menuju kamarnya mengabaikan pertanyaan demi pertanyaan yang di lontarkan Olla. Zio hanya menampilkan senyumannya membalas pertanyaan-pertanyaan itu.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏