
Hari ini hari yang paling menyedihkan bagi Melan karena anak pertamanya memutuskan untuk berkuliah di LN seperti keinginannya sendiri. Karena Abi mengijinkannya Melan pun tak dapat berbuat apapun.
Melan pun semakin di lemahkan oleh alasan Daren untuk memantaskan diri bersanding dengan Keina. Itulah yang akhirnya membuat Melan luluh meskipun Melan tetap was-was dengan kepergian Daren.
Seiring sejalan Zio pun berkuliah di sana juga. Universitas yang mereka pilih sama pun dengan jurusannya. Karena Zio dan Daren ingin sukses bersama seperti Orang tua mereka. Tekad keduanya sangat kuat.
Tanio pun membelikan apartemen yang bisa mereka berdua tinggali. Dan apartemen itu dekat dengan kampus mereka sehingga memepermudah keduanya untuk pergi ke kampus.
Keina yang masih duduk di bangku kelas satu menengah pertama tak begitu memperdulikan kepergian Daren. Yang dia sedihkan adalah kepergian Kakak sepupunya yang memang dekat dengan semua adik-adiknya termasuk Keina.
"Abang, Abang yakin mau pergi?" Tanya Keina.
"Yakin Dek. Do'ain Abang ya biar cepet selesai kuliahnya." Zio.
"Terus Keina sama siapa?" Keina.
"Kan ada Abang Zayn, Ada Kak Zizi dan Adek Daffin." Zio.
"Tapi, kan ga ada Abang." Rengek Keina lagi.
"Udah ih jangan nangis. Kan Abang sebentar perginya terus Keina juga bisa nyusul ke sana." Bujuk Zio.
Dengen berat hati Keina pun mengikhlaskan kepergian Zio. Setelah Keina berpamitan dengan Zio, Daren pun mendekati Keina. Daren mendekatkan tubuhnya pada tubuh Keina.
"Kein, Abang pergi dulu ya." Pamitnya.
"Ya Bang." Jawab Keina singkat.
"Keina jangan nakal ya. tunggu Abang. Setelah Selesai kuliah Abang akan meminang Keina." Bisik Daren.
Keina hanya menundukkan kepalanya. Karena sekarang ini Kiena sudah cukup mengerti apa maksud dari Daren. Bagaimana tidak Mami nya selalu mengatakan jika Daren adalah calon suaminya.
"Hei, liat Abang dong." Pinta Daren.
Keina pun perlahan mendongakkan kepalanya dan pandangan mereka pun bertemu. Daren menyunggingkan senyuman manisnya kemudian mengusap lembut puncak kepala Keina.
Blush....
Entah mengapa wajah Keina rasanya memerah menerima perlakuan Daren. Dengan sedikit di paksakan Keina pun membalas senyuman Daren.
Setelah mendengar panggilan bagi penumpang Zio dan Daren pun dengan berat meninggalkan semua keluarganya. Mereka bertekad kuat demi masa depan mereka dan nama baik keluarganya.
Keina memeluk Tita melepas kepergian Abang dan calon suaminya. Olla memeluk Zayn dan Zizi memeluk Nio. Sedang Abi dan Ken terlihat biasa saja. Jangan tanyakan Melan yang sudah sejak di rumah tadi dirinya menangis. Dan Andre selalu berada di sisinya.
Setelah kepergian Zio dan Daren semua berjalan sebagaimana mestinya. Karena Keina, Andre dan Zayn satu sekolah mereka jadi lebih mudah berkomunikasi. Zayn tampak selalu melindungi adik sepupunya itu.
__ADS_1
Berbeda dengan Andre yang terlihat lebih acuh. Sebenarnya bukan Andre tak perhatian pada Keina hanya saja Andre harus menekan perasaannya untuk Keina karena sadar Keina di sudah di jodohkan dengan Abangnya Daren.
"Keina.." Panggil Zayn dari atas motor sportnya.
"Abang. Mau pulang juga?" Keina.
"Iya. Ayo abang antar." Ajak Zayn.
"Tidak usah Bang. Keina di jemput supir." Tolak Keina.
"Telfon saja lagi supirmu bilang kamu pulang sama Abanh." Titah Zayn.
"Hm... Kasian Bang. Kayanya Pak supir udah deket sini deh." Ucap Keina menampilkan wajah penyesalannya.
Tin...tin...
Bunyi klakson mobil penjemput Keina sudah di depan sekolah. Keina pun pulang dengan mobil jemputannya seperti biasa dan Zayn pulang ke rumahnya menggunakan motor sportnya. Begitu juga dengan Andre.
Siang ini Andre bersama teman sekolahnya mampir main ke mall hanya sekedar untuk berjalan-jalan. Tanpa sengaja Andre melihat Mami nya tengah berbelanja bersama asisten rumah tangganya.
"Andre." Panggil Melan.
"Mami." Andre.
"Hah! Eh, ini teman andre Mam." Andre.
"Gita tante." Ucap Gita mengulurkan tangannya pada Melan.
"Melan. Mami nya Andre." Ucap Melan sopan.
"Mami tunggu di rumah Andre." Tegas Melan pada Andre kemudian meninggalkan Andre dan Gita.
"Mami kamu kenapa Dre? Ada yang salah ya sama aku?" Gita.
"Ngga Git. Mungkin ada yang penting yang mau Mami obrolin sama aku. Biasalah. Semenjak Mami di tinggal Kak Daren Mami lebih sensitif." Andre.
"Owh! Gitu. Ya udah kita pulang aja yuk. Kasian Mami kamu mungkin juga butuh teman karena Kakak kamu ga ada." Gita.
"Kayanya sih gitu. Ya udah Yuk." Ajak Andre.
Setelah mengantarkan Gita Andre pun bergegas menuju rumahnya yang tak jauh dari rumah Nio dan Olla. Andre melihat Zizi tengah berdiri di depan rumahnya saat Andre melintasi rumah Nio dan Olla.
Zizi seperti tengah menunggu seseorang. Andre melintas begitu saja di hadapan Zizi dan Zizi pun hanya diam saja tak merespon apapun. Andre memarkirkan motornya di tempat semula.
"Andre." Panggil Melan begitu melihat Andre datang.
__ADS_1
"Ada apa Mi?" Tanya Andre tenang.
"Mami sudah berapa kali bilang kamu jangan pacaran." Melan.
"Andre ga pacaran Mi." Andre.
"Terus apa yang tadi Mami liat." Melan.
"Gita itu temen sekolah Andre Mi." Andre.
"Awas kamu pacaran. Inget ya kamu Ndre kamu itu..." Ucap Melan terpotong.
"Sudah di jodohkan dengan Zizi anak tante Olla dan Om Nio." Andre.
"Nah, itu pinter." Jawab Melan bukannya marah.
"Tapi Mi,, Zizi itu masih kecil Mi. Bagaimana bisa dia di jodohkan sama Andre." Andre.
"Iya kan bukan sekarang nikahnya Ndre. Udah pokoknya Mami ga mau kamu pacaran atau deket sama perempuan mana pun titik.." Ucap Melan tegas kemudian berlalu menuju kamarnya.
"Astaga! Mami kenapa sih. Ku fikir cukup Bang Daren di jodohkan sama Keina. Kalo saja Keina yang di jodohkan sama gw juga gw ga bakalan begini." Gumam Andre sambil berjalan ke arah kamarnya.
Zizi yang semula berdiri di depan rumahnya kini sudah memasuki sebuah mobil yang menjemputnya. Mobil milik Ontynya yang ternyata menjemputnya karena Tita akan mengajaknya ke mall untuk berjalan-jalan.
Karena Keina begitu sibuk dengan teman-temannya. Beruntung Olla mengijinkan karen Olla juga harus mengantarkan Mamanya untuk cek kesehatan ya.
Sampai di mall Zizi dan Tita berbelanja apapun yang mereka mau beli dan tentunya Tita lah yang membayarnya. Setelah puas berbelanja keduanya mengisi perut yang mulai keroncongan.
"Mami kamu masih suka bilang kalo kamu jodohnya Andre." Tanya Tita pada Zizi.
"Masih Ty. Setiap kali kerumah pasti Mami bilang begitu." Zizi.
"Bunda kamu?" Tita.
"Kata Bunda nanti aja aku jawab klo udah gede. Yang pasti Bunda sama Ayah ga ngelarang Zizi sama siapa aja. Tapi lebih bagus kalo Zi sama Bang Andre." Keluh Zizi.
"Sabar ya sayang. Kak Keina juga begitu kalo Mami datang." Tita.
"Zi juga mau kaya Kak Kein. Biarin aja Mami mau ngomong apa. Zi juga mau biasa aja sama Bang Andre." Zizi.
"Sip! Bagus." Tita.
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏
__ADS_1