
Seketika Zizi kembali tak sadarkan diri. Semua menjadi panik karena Olla pun ikut tak sadarkan diri. Nio mengangkat tubuh Olla dan membaringkannya di sebelah Zizi. Ketika Zizi sadar tangisnya lun pecah.
Melan berusaha menenangkan Zizi bersama dengan istri Mikha. Namun tangis Zizi seolah tak bisa di hentikan. Andre yang dadanya terasa begitu sesak pun langsung menghampiri Zizi memandangnya lekat sejenak tatapan mereka beradu.
Melan memberikan ruang pada Andre untuk duduk di samping Zizi. Tanpa aba-aba Zizi pun menghambur kedalam pelukkan Andre. Andre memeluk Zizi erat. Dan butiran bening pun meluncur bebas di pipinya.
Melan yang sejak tadi berusaha tegar pun akhirnya tak tertahan lagi. Air matanya meluncur bebas begitu pun dengan istri dari Mikha. Zizi mencurahkan segala rasanya pada Andre.
"Pernikahanku hancur Bang." Ucap Zizi di sela tangisnya.
"Mas Damar pergi ninggalin Zi." Ucapnya lagi.
Membuat siapapun di sana merasa teriris hatinya dan tak kuasa ikut menangis.
"Pernikahannya akan tetap berlangsung. Kamu tetap akan menjadi ratu sehari. Dan Ratu di sepanjang hidup Abang." Ucap Andre.
Zizi melepaskan pelukannya dan menatap sendu Andre. Andre mengusap air mata yang membasahi pipi Zizi.
"Kamu yakin Ndre?" Tanya Nio yang berada di samping mereka.
"Yakin Yah. Andre tidak akan membuat Ayah malu. Dan Andre akan bertanggung jawab penuh pada Zizi." Ucap Andre yakin.
"Terima kasih Ndre." Ucap Nio menepuk bahu Andre.
"Segeralah bersiap. MUA tolong rapihkan riasan Zizi. Kita lanjutkan acara ini." Tita Tanio.
Semua tim pun kembali di sibukkan. Zizi masoh dengan kesedihannya kembali di perbaiki riasannya. Andre segera di bawa oleh MUA ke ruangan lain dan mendandaninya sementara yang lain menyiapkan kesiapan di tempat acara.
Para tamu undangan pun sudah kasak kusuk karena acara sudah molor hingga setengah jam. Belum ada kejelasan apapun dari pihak penyelenggara.
"Bagaimana?" Tanya Ken pada Tita.
"Andre akan menggantikannya." Tita.
"Hah! Kau yakin sayang?" Ken.
__ADS_1
"Ya. Itu yang Tita dengar dari Kak Angel." Tita.
"Semoga bukan Andre tidak merasa terpaksa." Ken.
Acara pun. Berlangsung khidmat. Kini Zizi sah menjadi Nyonya Andre. Walaupun hatinya masih untuk Damar tapi Zizi harus nenerima kenyataan jika Damar telah pergi. Ada rasa bersalah terselip di hatinya karena menerima pinangan Andre tapi hidup harus terus berjalan.
Hingga acara usai Zayn masih berada di rumah duka. Begitu juga dengan Angga dan Gagah. Jenazah Damar dan Kedua orang tuanya telah di kebumikan pada satu liang lahat. Sinta masih saja menangisi kepergian Kakak dan kedua orang tuanya.
Kini tinggal dirinya seorang diri. Paman dan bibinya adik dari Ayah Sinta dengan setia menemani keponakannya. Saat ingatannya kembali Sinta pun kembali tak sadarkan diri. Zayn pun merasa kasihan melihatnya.
Entah perasaan apa yang ada di hatinya tapi rasanya begitu enggan meninggalkan Sinta seorang diri. Entah karena mereka sering bertemu beberapa waktu terakhir atau apa Zayn pun tak mengerti.
"Om, Tante. Saya mewakili keluarga Tanio Martin Paman saya mengucapkan turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya. Kami pun memohon maaf dan restunya agar pernikahan adik kami tetap berlangsung dengan pengantin pria pengganti." Ucap Gagah.
"Terima kasih juga Nak kami ucapkan pada keluarga Pak Tanio dan yang lainnya karena sudah membantu proses pemakaman keluarga almarhum Damar dan juga Kakak kami." Ucap Paman Sinta.
"Kami pun tak mempermaslahkan jika ada pengantin pria pengganti untuk Nak Zizi. Kami merestuinya. Semoga pernikahannya awet hingga menutup usia nanti. Dan pastinya Damar pun akan merestuinya." Tambah Paman Sinta.
"Semua kejadian atas kehendak Tuhan Nak. Kita hanya berencana tapi Tuhan yang menentukan. Semoga kejadian tidak membuat kita saling bermusuhan ya Nak. Semoga kekeluargaan kita tetap terjalin." Paman Sinta.
"Terima kasih. Sekali lagi terima kasih Nak." Ucap Paman Sinta.
"Zayn." Panggil Angga.
"Abang pulang dulu ya. Hubungi Abang jika terjadi sesuatu." Ucap Zayn pada Sinta.
Sinta hanya menatap sendu Zayn. Zayn mengusap lembut pucak kepala Sinta.
"Saya titip Sinta. Hubungi saya jika terjadi sesuatu." Pesan Zayn pada Rahmat putra dari Paman Sinta.
"Baik Bang. Terima kasih." Rahmat.
Angga, Gagah dan Zayn pun pulang dengan keadaan yang kacau. Mereka mengurus semuanya di mulai dari rumah sakit. Mobil Keluarga Damar suda tak berbentuk lagi. Siapapun yang melihatnya tidak akan pernah berfikir jika penumpang di dalamnya akan selamat.
Damar, Ayah dan Ibunya meninggal di tempat karena terhimpit. Wajah Damar sudah tak dapat di kenali lagi. Untung Damar sudah mengenakan jas yang akan di kenakannya pada acara akad itu yang membuatnya mudah di kenali.
__ADS_1
Ayah dan Ibu Damar berada di mobil yang sama membuat semua pun yakin jika mereka orang tua dari pengantin pria. Ya, siang itu memang mereka pergi dalam satu mobil yang sama dengan tujuan mengenang kebersamaan sebelum Damar melepas lajangnya.
Damar yang mengemudikan langsung mobilnya dengan sang Ayah di samping kemudi. Ibunya tepat di belakang kursi kemudi dan Sinta di sampingnya. Saat kejadian naas itu entah mengapa pintu samping Sinta terbuka dan Sinta terpental keluar.
Namun, tidak dengan Ibunya. Ibu, Ayah dan Kakaknya menjadi korban himpitan mobil depan dan belakangnya. Mobil box di bagian depan dan truk di bagian belakang yang mengalami rem blong mengakibatkan mobil di belakangnya pun ikut menyeruduk mobil truk tersebut. Termasuk dua mobil keluarga Damar.
Di kamar hotel yang seharusnya di isi oleh Damar dan Zizi kini di isi oleh Abdre dan Zizi. Andre merasa gugup hanya berdua dengan Zizi yang kini telah sah menjadi istrinya. Begitupun Zizi yang tak pernah menyangka justru Andre yang menjadi suaminya.
Sesekali tangisnya masih keluar begitu saja. Zizi merasa tak enak pada Andre namun Andre dapat memahaminya karena walau bagaimana pun Damar memiliki ruang tersendiri di hati Zizi.
Andre mendekati Zizi dan mengusap pundaknya yang bergetar karena menangis. Zizi mengangkat kepalanya dan menatap Andre yang berada di sampingnya.
"Maaf Bang." Ucapnya lirih.
"Abang mengerti dan Abang tak marah. Abang pun minta maaf karena telah lancang menggantikan posisi Damar." Andre.
"Tidak Bang. Zi berterima kasih pada Abang. Mas Damar pun pasti akan merestui kita." Zizi.
"Istirahatlah. Besok kita pergi ke makam Damar dan kedua orang tuanya." Titah Andre.
"Bang," Panggil Zizi lirih.
"Kenapa?" Andre.
"Ini kan..." Ucap Zizi terputus.
"Malam pertama kita?" Tanya Andre.
Zizi hanya mengangguk dan Andre mengulas senyumnya kemudian mengusap pipi Zizi lembut.
"Masih ada hari esok dan esoknya lagi sayang. Abang tidak akan memaksamu. Abang akan menunggu hingga kamu siap. Tidurlah." Ucap Andre.
Zizi begitu tersanjung mendengar ucapan sayang dari bibir Andre. Hal yang rasanya akan mustahil Andre ucapkan padanya. Zizi pun merebahkan dirinya di dada Andre. Terdengar debaran jantung Andre di telinganya.
🌻🌻🌻
__ADS_1