
Keina tampak riang bermain bersama Oma dan Buna nya di tambah lagi ada Baby Galuh yang mulai bisa berceloteh. Tuan Ito hanya memperhatikan mereka saja sambil menonton televisi.
Tita yang sudah jauh lebih baik pun bisa membaur tanpa terlihat murung sedikit pun. Entah apa yang terjadi padanya saat tak sadarkan diri selama satu bulan lebih. Setelah sadar Tita jauh lebih baik.
Saat jam makan siang Ken memenuhi janjinya pulang ke rumah. Ken datang setengah jam sebelum makan siang di mulai. Ken berbincang bersama Tuan Ito sejenak sambil menunggu makan siang di sajikan.
"Mommy,," Panggil Keina.
"Iya Nak." Jawab Tita dari dapur.
"Keina mau makan ikan." Pinta Keina.
"Boleh sayang. Sebentar Mommy siapkan ya sayang." Jawab Tita.
Tita pun menyiapkan apa yang Keina inginkan. Setelah semua siap Tita pun meminta semuanya untuk segera makan mumpung masih hangat. Semua pun bergerak menuju meja makan. Baby Galuh di titipkan pada bibi sementara Laras makan.
"Owh! Iya Yang. Kita belum membelikan hadiah untuk Galuh." Ucap Ken setelah menyelesaikan makannya.
"Eh, Mas belum membelikannya?" Tita.
"Mas lupa sayang." Ken.
"Kenapa Onty sama Oncle repot sih. Melihat Onty sehat saja itu sudah hadiah ping indah untuk Laras dan Galuh." Laras.
"Jelas beda dong sayang. Biar nanti Onty antar ke rumah utama sekalian juga buat Gladys. Bukannya dia juga sudah mendekati perkiraan lahir ya?" Tita.
"Iya Onty. Bulan depan sudah masuk perkiraan lahir." Laras.
"Gladys tidak pulang ke rumah utama Kak?" Tita.
"Tidak. Bahkan mertuanya melarang Gladys pergi-pergi sekarang karena sudah mendekati perkiraan lahir. Takutnya maju atau mundur." Ayumi.
"Ya. Maklumlah ya Kak. Angga anak tunggal." Tita.
"Ya. Beruntung Gladys dapat di terima dengan baik oleh orang tua Angga. Bahkan mungkin Orang tua Angga lebih sayang Gladys daripada Angga." Nyonya Laura.
"Seperti Ayah dan Ibu lebih membela kamu dari pada aku yang anaknya Yang." Ken.
"Lah, kan emang aku yang anaknya Ibu dan Ayah hahaa..." Jawab Tita di akhiri tawanya.
__ADS_1
"Nah, benar itu." Tuan Ito.
"Bagaimana dengan kamu Ras?" Nyonya Laura.
"Eh, kok Laras Oma?" Laras.
"Bunda mu ini lebih sayang kamu atau Gagah?" Nyonya Laura.
"Lebih sayang Galuh lah tentunya." Ayumi.
"Ceh, kau cari aman Kak." Ken.
Semua pun tertawa mendengar jawaban Ken. Keina yang mendengar obrolan orang dewasa pun bagaikan di nina bobokan. Perut penuh dan mata mulai mengantuk.
"Mommy... Keina ngantuk." Ucap Keina.
"Keina mau bobo?" Tita.
"Iya. Tapi, Keina bobo di temani Bibi saja sebentar ya Mom." Pinta Keina.
"Hm.. Baiklah. Tapi, setelah Keina tidur Bibi boleh keluar ya?" Tita.
Tita pun segera memerintahkan Bibi untuk menemani Keina tidur dan setelah Keina tertidur bibi di minta untuk meninggalkannya. Keina pun berpamitan untuk tidur kepada semua yang ada di sana karena matanya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi.
Sedangkan Ken pamit untuk kembali ke kantor karena pekerjaannya masih menanti untuk segera di selesaikan. Maklumlah Ken sudah satu bulan lebih meninggalkan kantornya demi menemani Tita di rumah sakit.
Laras meminta ijin untuk menyusui Galuh yang terlihat kelaparan sebelum mereka semua berpamitan untuk pulang. Setelah Laras menyusui Galuh mereka semua pun berpamitan pulang. Tuan dan Nyonya Ito meminta Tita untuk berisitirahat agar kembali bisa lebih pulih lagi.
Tita pun mengantarkan mereka semua hingga ke depan rumah. Ayumi berada di balik kemudi. Karena mereka tak menggunakan supir. Ayumi lebih senang mengendarai mobilnya sendiri di bandingkan menggunakan supir.
Setelah semua pergi Tita pun masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat seperti yang sudah di perintahkan oleh Ken dan juga Tuan dan Nyonya Ito. Tak lama Tita pun sudha berlayar ke alam mimpinya.
Sore hari Tita terbangun. Tita segera menuju kamar Keina dan melihat apakah Keina sudah bangun atau belum dan ternyata Keina sudah rapih berpakaian setelah mandi di bantu bibi.
"Wah, rupanya anak Mommy sudah mandi dan wangi." Ucap Tita memasuki kamar Keina.
"Mommy. Tentu dong Mom. Mom, Keina boelh berjalan-jalan ke taman bersama bibi?" Pinta Keina.
"Apa bibi mau menemani Keina ke taman?" Tanya balik Tita.
__ADS_1
"Hm... Mau Bi?" Tanya Keina pada Bibi.
"Jika Nyonya muda mengijinkan dengan senang hati bibi mau menemani nona kecil." Bibi.
"Yeay... Bibi mau Mom. Boleh ya?" Punta Keina dengan menampilkan puppy eyes nya.
Jika sudah begitu maka Tita pun tak kuasa memberi ijin buah hatinya. Tapi, tidak begitu saja Tita memberi ijin keduanya. Tita menempatkan beberapa bodyguard untuk menjaga keduanya dari jarak yang tidak terlalu mencolok.
Keina pun berpamitan pergi ketaman dekat komplek bersama bibi dan ternyata di sana sudah sangat ramai ibu-ibu bersama anak-anak mereka. Karena di taman komplek ibu-ibu terbiasa membawa anak-anak mereka untuk bermain.
Keina pun bisa beradaptasi dengan cepat dan bergabung bermain bersama teman-teman barunya. Bibi hanya mengawasinya saja dari jarak dekat. Sementara para bodyguard mengawasi keduanya dari jauh.
Sementara Tita mengisi waktu sorenya dengan menyiram tanaman di halaman depan rumahnya. Sempat di larang oleh tukang kebun Tita tapi Tita bersikukuh karena dirinya akan merasa bosan jika hanya berdiam diri. Dan akhirnya Tukang kebun Tita pun pasrah melihat nona mudanya yang sekarang menjadi nyonya melakukan apa yang dia inginkan.
Saat Tita baru saja menyiram terlihat mobil Ken memasuki halaman rumah. Tita pun menghentikan kegiatannya dan memberikan selang air pada tukang kebunnya. Kemudian Tita menunggu Ken turun dari mobil.
Setelah memarkirkan mobilnya Ken berjalan mendekati Tita dengan merentangkan kedua tangannya meminta Tita untuk masuk kedalam pelukkannya. Dengan malu-malu Tita pun segera menghambur kedalam pelukkan Ken.
Ken memeluk Tita dengan erat dan mendaratkan ciumannya di puncak kepala Tita. Tita pun tak kalah erat memeluk Ken.
"Dimana Keina?" Tanya Ken.
"Ke taman bersama Bibi." Tita.
"Hanya berdua?" Ken.
"Tidak. Para bodyguard memantau mereka." Tita.
"Cerdas." Ken.
"Mas tau Tita bukan." Tita.
"Sangat." Ken.
Dengan bergelayut manja di pinggang Ken Tita mengikuti langkah Ken masuk kedalam rumah. Tita tak malu menunjukkan sifat manjanya pada Ken dan Ken sangat menyukai itu. Bahkan Tita tak merasa risih ketika berpapasan dengan para pekerja rumahnya.
Bahkan lara pekerja begitu senang melihat tingkah Tuan dan Nyonya mereka yang begitu romantis. Bahkan mereka berharap Ken dan Tita tidak akan pindah lagi dari rumah itu. Namun, Ken tak ingin di sebut menumpang hidup pada sang istri walaupun segala sesuatunya dirinyalah yang membiayai.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏