Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Berkumpul Bersama


__ADS_3

Tak berselang lama Tanio dan keluarga pun datang. Olla memeluk erat Marni Ibu mertua yang baru di temukan. Begitupun dengan Tanio. Zio dan Zayn begitu senang melihat kehadiran Kakek mereka. Keduanya langsung menghambur pada Burhan.


Burhan memang lebih dekat dengan cucu-cucunya. Karena Burhan akan mengabulkan apapun permintaan cucu-cucunya. Sementara Zizi hanya diam dalam gendongan baby sitter.


"Sini Mba Zizi biar saya yang gendong Mba bisa gabung sama yang lain di belakang." Titah Melan.


"Baik Nyonya." Pamit Mba suster.


"Halo calon mantu Mami. Tambah cantik aja nih. Abang Andre pasti tambah cinta nih kalo begini." Celoteh Melan.


"Hais... Pemaksaan emaknya ini nah." Olla.


"Di amin kan saja Nak. Siapa tau memang berjodoh kan kalian jadi sudah mengenal bagaimana menantu kalian." Marni.


"Iya Bu. Pasrah aja Olla sih. Selama anak-anak tidak merasa di paksa." Olla.


"Nio juga kemarin bilang kan sama Ibu. Ibu jangan pulang. Nah, kan sekarang Ibu ke sini lagi." Tanio.


"Iya. Tapi, kasian kemarin Ayah ga ada yang bantu di peternakan." Marni.


"Gimana Pak sekarang sudah beres?" Tanio.


"Sudah nak. Semua lancar berkat do'a anak-anak Bapak." Burhan.


"Laras mana?" Tanya Tanio.


"Baru saja pulang tadi. Besok ke sini lagi. Karena tak ada persiapan menginap. Besok sebelum Gagah kerumah sakit Laras di drop di sini." Tita.


"Emang Olla mau menginap?" Melan.


"Iya dong. Mertua gw ada di sini kesempatan lah kita kumpul." Olla.


Begitulah Olla menyebutkan Marni dan Burhan. Mertua. Karena Olla menganggap Burhan dan Marnilah orang tua Tanio sekarang. Mikha yang mendengar cerita tentang Burhan dan Marni ingin sekali bertemu hanya saja perusahaannya tengah benar-benar tidak bisa di tinggalkan.


"Papi,, Mami juga mau menginap di sini. Pokoknya kita menginap Pi." Rengek Melan pada Abi.


"Loh, kenapa Mami mau menginap juga." Abi.


"Kan dua calon menantu kita ada di sini Pi." Ucap Melan memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Astaga Mi." Abi.


"Ayolah Pi. Papi minta bibi siapkan pakaian kita terus minta supir antarkan ke sini." Melan.


"Kenapa ga Mami yang hubungi Bibi?" Abi.


"Papi ga liat. Mami lagi gendong menantu Mami." Melan.


Ken hanya menggeleng melihat aksi para sahabatnya. Sementara Burhan dan Marni pun hanya tersenyum melihat perdebatan anak-anaknya. Walaupun tak ada ikatan darah di antara mereka tapi kedekatan di antara mereka begitu erat.

__ADS_1


"Sebaiknya kita pindah ke dalam saja. Hari sudha semakin sore. Kasian Daffin dan Zizi anginnya semakin kencang." Ajak Marni.


"Ibu bener. Ayo kita masuk." Ken.


Mereka pun semua masuk. Abi mau tak mau menuruti keinginan sang istri untuk menginap di sana. Melan pun begitu senang karena permintaannya di kabulkan oleh Abi. Melan dengan senang hati membantu Marni menggantikan pakaian Zizi dan Daffin.


Daffin di pegang oleh Marni dan Zizi di gantikan bajunya oleh Melan. Olla dan Tita tak mempermasalahkan mereka berdua bisa mengurus anak mereka yang lainnya. Sementara para pria berkumpul di ruang utama.


Mereka berbincang santai dan sesekali mereka pun membicarakan bisnis mereka. Burhan sesekali menimpali karena walau bagaimana pun Burhan termasuk kedalam salah satu pengusaha di kota itu. Hanya saja nasibnya begitu naas karena perusahaannya di rebut oleh orang kepercayaannya sendiri.


"Mas,,," Panggil Tita.


Tanpa menunggu panggilan berikutnya Ken segera berlari menuju arah suara Tita.


"Astaga! Si Ken gercep banget." Abi.


"Ken tidak mau kecolongan lagi. Apapun yang sedang dia lakukan pasti akan di tinggalkannya ketika Tita memanggilnya." Tanio.


"Wow! Salut banget gw sama dia. Bisa berubah cepat." Abi.


"Kalian pun patut mencontonya. Keluarga kalian nomer satu." Burhan.


"Iya Pak."


Iya Om."


"Ada apa sayang?" Tanya Ken.


"Keina demam Mas." Tita.


"Hah! Mas telfon Angga sekarang." Ken.


Tanpa menunggu Ken segera menghubungi Angga. Dan secara kebetulan Angga tengah dalam perjalanan menuju mansion Durant. Ken kembali kebawah dan bergabung kembali bersama yang lainnya.


"Mana Tita dan Keina Ken?" Tanya Marni.


"Di atas Bu. Apa Daffin haus?" Ken.


"Tidak.Tadi Tita sudah memberikan ASInya." Marni.


"Kenapa Tita dan Keina lama tidak turun?" Olla.


"Keina demam Kak." Ken.


"Apa! Mantu gw demam. Aduh! Dareen..." Teriak Melan.


Daren yang tengah bermain bersama Zio, Zayn dan Andre pun langsung bangkit mendekati Melan.


"Ada apa Mi?" Tanya Daren.

__ADS_1


"Itu calon istri kamu sakit." Melan.


"Mami." Peringat Abi.


"Hish... Papi. Biarin ih biar Daren terbiasa dan tay kalo Keina calon istrinya." Melan.


Abi hanya diam mendengus kasar.


"Anak lu belum ngerti kali Mel." Olla.


"Ngerti pokoknya anak gw mesti ngerti klo perempuan mana pun yang mereka mau gw ga bakalan restuin. Pokoknya jodoh mereka itu Keina sama Zizi." Melan.


Olla pun menepuk jidatnya yang melihat kelakuan sahabatnya. Tak berapa lama Angga datang bersama Gladys dan Gean. Angga langsung menuju kamar Keina bersama Ken.


"Hai sayang,, kenapa? Apa ada yang sakit?" Tanya Angga pada Keina.


"Kepala Keina sakit Kak." Ucap Keina lirih.


Daren hanya diam memperhatikan gadis kecil yang sudah di klaim sebagai calon istrinya itu oleh Mami nya. Daren berdiri di samping Melan yang tengah menunggu hasil pemeriksaan Angga.


"Hm... Tidak apa-apa hanya demam flu biasa. Kakak kasih obat mau ya di minum biar cepat sembuh." Bujuk Angga pada Keina dan Keina hanya menganggukkan kepalanya.


"Angga resepkan obat Onty. Nanti biar bibi yang membelinya." Angga.


"Makasih Ga." Tita.


"Tidak perlu sungkan Onty. Kita keluarga sudah sepatutnya saling membantu." Angga.


"Daren, kamu tunggu Keina di sini Mamimau buatkan bubur buat Keina." Pesan Melan.


"Ngga usah repot-repot Mel. Biar bibi yang buatkan." Tolak Tita halus.


"Tidak apa-apa Ta. Gw ga merasa di repotkan selama itu menyangkut calon menantu gw." Melan.


Kini hanya tinggal Daren dan Tita yang menemani Keina. Karena Tita harus mandi dan menyusui Daffin dengan terpaksa Tita menitipkan Keina pada Daren.


"Abang, boleh Mommy titip Keina sebentar? Mommy mau mandi dan menyusui Daffin sebentar." Pinta Tita.


"Hm... Boleh Mom." Daren.


Kini Daren pun duduk di samping tempat tidur Keina. Keina hanya diam memejamkan matanya karena begitu terasa panas. Daren memperhatikan gadis kecil calon istrinya itu. Karena Daren cukup mengerti apa itu calon istri. Daren saat ini duduk di bangku sekolah dasar sementara Keina baru saja akan masuk sekolah taman kanak-kanak.


"Kei, abang ga tau harus apa. Abang hanya bisa berdo'a yang terbaik untuk kita. Jika besar nanti kita berjodoh semoga Kei bisa menerima Abang begitupun sebaliknya jika kita berjodoh Abang akan berusaha membuat Kei bahagia." Bisik Daren.


Bukan Keina tak mendengarkan apa yang Daren ucapkan hanya saja Keina tak mengerti apa maksud dari ucapan Daren. Keina pun hanya diam mencoba tertidur.


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2