
Hai...Hai... Author kembali lagi....ππ Maafkan Author yang telah hibernasi karena kesibukan di RL membuat otak ngeblank π Cus kita lanjut ya sahabat...
πΌπΌπΌπΌ
Beberapa bulan berlalu kini kehamilan Intan yang sudah menginjak tujuh bulan namun terlihat seperti akan segera melahirkan. Intan pun terlihat kesulitan untuk bergerak. Karena khawatir melihat menantunya yang selalu naik turun menuju kamarnya Ken pun berinisiatif memindahkan kamar Intan dan Daff ke bawah demi keselamatan menantu dan kedua cucunya.
"Kamu belum cuti Tan?" Tanya Ken saat melihat Intan sudah rapi dengan pakaian kuliahnya.
"Belum Dad." Intan.
"Apa kamu tidak terganggu dengan baby twin kamu?" Ken.
"Sedikit Dad. Tapi, Menurut dokter Intan harus banyak bergerak agar persalinan nanti bisa normal." Intan.
"Jangan terlalu memaksakan." Ken.
"Iya Dad." Intan.
Intan pun kemudian berpamitan pergi ke kampus untuk menyerahkan tugasnya. Ken pun kembali membaca email pada layar tab nya. Intan pergi ke kampus di antar oleh supir seperti biasa. Tita tengah mengantar Bunga dan Angel ke rumah sakit. Angel menghubunginya pagi tadi karena panik menantunya di temukan terkulai lemas di dalam kamarnya sementara D tengah berada di luar kota.
Ken tidak dapat mengantarkan Tita karena ada yang harus di selesaikannya. Akhirnya hanya Tita yang pergi dengan di antarakan oleh supir menuju rumah Angel yang tak jauh dari mansion. D membeli rumah yang tak jauh dari mansion. Angel dan Mikha di minta ikut bersama mereka. Awalnya D pun meminta ibu Bunga untuk tinggal bersama mereka juga hanya saja Ibu Bunga menolaknya secara halus. Ibu Bunga tak bisa meninggalkan rumah peninggalan suami tercintanya. Alhasil D hanya memperbaiki rumah itu saja atas persetujuan Ibu mertuanya tentu saja.
"Apa kau yakin menantuku akan baik-baik saja Ta?" Tanya Angel saat mereka menunggu Bunga di periksa di ruang IGD.
"Tenanglah. Tita yakin Bunga akan baik-baik saja. Apa Kakak sudah menghubungi D dan Ibu Bunga?" Tita.
"Sudah. Ibu Bunga sedang menuju kemari dan D secepatnya pulang." Angel.
Sementara Mikha hanya diam menunggu menantunya yang tengah di periksa. Tak lama dokter Angga yang tak lain suami dari Gladys keluar dari ruang IGD.
"Bagaimana Bunga Ga?" Tanya Tita begitu melihat Angga keluar.
"Bunga baik-baik saja Onty. Sebaiknya Onty bawa Bunga ke ruangan Dokter Rini. Nanti akan di antar oleh Suster." Angga.
"Kau yakin Ga?" Tanya Tita yang mengerti maksud dari Angga.
"Tentu Onty. Apa yang lain belum mengetahuinya?" Angga.
"Onty rasa Bunga pun belum menyadarinya." Tita.
__ADS_1
"Hahaha... Baiklah. Segera bawa Bunga." Angga.
"Baiklah. Terima kasih Ga." Tita.
"Sama-sama Onty ku sayang." Angga.
Mikha dan Angel mengernyitkan dahi mereka melihat Angga dan Tita malah tertawa bukan menjelaskan bagaimana kondisi menantunya. Tak berselang Ibu Bunga datang menghampiri mereka bertiga.
"Besan, bagaimana Bunga? Apa yang terjadi?" Tanya Ibu Bunga.
"Tenanglah. Nanti akan Tita jelaskan. Sekarang kita harus membawa Bunga ke ruangan Dokter Rini." Jelas Tita.
"Ada apa?" Mikha.
"Tenanglah Bang. Semua baik-baik saja." Ucap Tita mengulas senyum tipisnya.
Kemudian Bunga pun keluar dari ruangan menggunakan brankar yang di dorong oleh dua orang suster. Kedua suster tersebut menunduk hormat ketika melihat Tita berada di sana. Tita pun membalasnya dengan senyuman. Terlihat Bunga sedikit lemas tertidur dengan pasrah.
"Ibu." Ucap Bunga hampir tak terdengar.
"Kau baik-baik saja Nak?" Tanya Ibu Bunga menghampiri Bunga.
"Apa Dokter Rini sudah di ruangannya?" Tanya Tita pada suster.
"Sudah Nyonya." Jawab salah satu suster.
Mereka pun pergi ke ruangan Dokter Rini yang di antara mereka hanya Tita yang mengetahui dokter apa Dokter Rini yang membuat wajah Mikha, Angel dan Ibu Bunga terlihat tegang. Mereka bertiga cemas apa yang terjadi dengan anak menantu mereka. Sementara Tita terlihat lebih santai. Hingga sampai di depan ruang Dokter Rini semua mata terbelalak melihat gelar Dokter Rini. Angel dan Ibu Bunga menutup mulutnya.
"Tita." Mikha.
"Tenanglah. Jika kalian tak ingin masuk biar Tita saja." Tita.
"Tidak." Jawab ketiganya kompak.
"Astaga! Kalian mengejutkan saja. Baiklah. Ayo semua masuk." Ajak Tita.
"Selamat Pagi Dok." Sapa Tita.
"Selamat Pagi. Wow... Rombongan Ta?" Dokter Rini.
__ADS_1
"Biar lebih akurat." Tita.
"Baiklah." Dokter Rini.
Semua terdiam saat melihat Dokter Rini mulai mengoleskan jel pada perut Bunga yang sedikit terbuka. Dokter Rini pun hanya diam seperti yang di kodekan Tita. Baru setelah selesai Dokter Rini bicara.
"Apa bisa duduk?" Tanya Dokter Rini pada Bunga.
"Bisa Dok. Hanya sedikit pusing." Bunga.
"Apa sudah ada asupan pagi ini?" Dokter Rini.
"Sudah beberapa hari ini saya tidak nafsu makan Dok. Mungkin asam lambung saya naik. Karena saya memiliki riwayat asam lambung." Jelas Bunga lirih.
"Suaminya?" Tanya Dokter Rini.
"Suaminya sedang di luar kota Dok. Sudah satu minggu belum kembali. Dan selama satu minggu itu juga menantuku tak mau makan." Jelas Angel.
"Baiklah. Lalu?" Tanya Dokter Rini menatap satu persatu orang yang berada di ruangannya.
Seperti tau apa yang di fikirkan dokter Rini Tita pun menjelaskannya.
"Ini Ayah dan Ibu mertua Bunga dan ini Ibu Bunga. Mereka semua harap-harap cemas dengan apa yang akan Dokter katakan." Tita.
"Owh! Baiklah. Apa tidak akan sekalian vidio call suaminya?" Usul Dokter Rini.
"Ah, kau benar Dok." Tita.
Tita pun segera mengambil ponselnya di dalam tasnya dan menghubungi D yang sedang dalam perjalanan pulang. D pulang tergesa begitu mendapat kabar jika istri tercintanya sakit. Saat panggilan terhubung Tita memintanya untuk fokus pada penjelasan dokter dan jangan menyela ucapan dokter. D pun mengerti dan menurutinya.
"Baiklah Dok. Mari kita mulai." Tita.
"Baiklah. Melihat kondisi kesehatan Nyonya Bunga setelah melalui rangkaian pemeriksa yang di lakukan oleh Dokter Angga dan di rujuk kepada saya. Maka di dapat hasil jika Nyonya Bunga positif mengandung dengan usia kehamilan sepuluh minggu." Jelas Dokter Rini.
Tak ada reaksi apapun dari semua yang ada di sana. Dokter Rini mengangkat alisnya memberi kode mata pada Tita dan Tita hanya tersenyum tipis melihat keterkejutan saudaranya pasalnya anaknya di katakan tak mampu memberi keturunan tapi nyatanya putra semata wayangnya mampu membuat Bunga menantunya hamil.
Ibu Bunga bersyukur putri satu-satunya dapat memberikan kebahagiaan di tengah-tengah keluarga Durant yang begitu hangat dan menyayangi putrinya. Mikha pun yakin jika itu benih dari Putranya karena setelah pernikahan putranya Bunga tak pernah jauh dari D bahkan jika D bekerja Bunga akan selalu dalam pengawasan dirinya atau istrinya.
"Huaaa....."
__ADS_1
π»π»π»