Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Persiapan Pernikahan Daffin


__ADS_3

Tanpa terasa Keina dan keluarga kecilnya sudah lama berada di rumah Melan karena kesibukan di mansion. Tita pun semakin di sibukkan dengan persiapan pernikahan Daffin. Marni telah pulih tapi keluarga Gagah masih belum pulang.


Gagah dan keluarga kecilnya memilih tetap di mansion hingga pernikahan Daffin. Daffin pun semakin sibuk di kantor karen dirinya akan cuti selama satu minggu setelah pernikahannya.


Daffin dan Intan memutuskan akan pergi berbulan madu dan tak akan menunda kehamilannya walaupun Intan masih harus melanjutkan kuliahnya. Intan tidak keberatan jika dirinya hamil.


Tita pun menyambut hangat keinginan anak-anaknya. Tita bersedia membantu dengan senang hati. Bahkan Ayumi pun tak akan keberatan jika harus mengurus bayi Intan dan Daffin nantinya.


Ayumi telah menyelesaikan semua pakaian keluarga untuk acara pernikahan Daffin. Pegawainya akan mengirimkan ke alamat masing-masing. Ayumi sengaja tak meminta mereka semua datang karena pegawainya akan mengirimkannya.


"Mom, Daff hari ini sudah tidak ke kampus dan ke kantor. Ada yang bisa Daff bantu?" Daffin.


"Kau bersantai saja di rumah semua sudah ada yang mengerjakannya." Tita.


"Apa Oncle akan datang Mom?" Daffin.


"Ya, tentu saja. Lusa mereka akan terbang." Tita.


"Daff akan menjemputnya." Daffin.


"Tidak perlu sayang. Supir Daddy akan menjemputnya." Tita.


"Mom, ayolah." Daffin.


"No Daff. Kau akan tetap di rumah." Tita.


"Dengarkan Mommy mu Daff." Ken.


"Baiklah Dad." Daffin.


"Mau bisa mengecek pekerjaan mu di rumah." Ken.


"Oke." Daffin.


"Kau bisa bermain bersama Nenek Daff." Marni.


"Tentu saja Nek. Daff akan puas-puasin manja-manja sama Nenek." Daffin.


"Memangnya kau mau kemana setelah menikah?" Tita.


"Berbulan madu lah Mom. Masa di rumah saja." Daffin.


"Jangan menggoda Mommy mu Daff." Ken.


Daffin pun menampilkan deretan giginya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tita memang tak ingin Daffin dan Intan pergi dari mansion setelah mereka menikah.


Karena Keina pasti akan sering bolak-balik ke rumah Melan. Daren awalnya akan membeli rumah sendiri tapi Melan dan Tita tak mengijinkan. Apalagi Tita. Mansion begitu besar dan Tita tak menginginkan kedua anaknya keluar dari mansion.


Tita pergi bersama Ken berjanji untuk bertemu dengan WO bersama Ayumi. Ken mengantarkan Tita terlebih dahulu barulah setelah itu dirinya ke kantor.


"Pulang nanti Tita sama Kak Ayu ya Mas." Pamit Tita pada Ken.


"Ke kantor saja ya sayang." Ken.


"Baiklah. Nanti Tita minta di drop ke kantor Mas." Tita.

__ADS_1


Tita pun memasuki restoran tempat dimana dirinya, Ayumi dan WO berjanji untuk bertemu. Ayumi sudah berada di dalam bersama WO. Kemudian Tita ikut bergabung bersama mereka.


Persiapan sudah hampir selesai. Besok undangan pun akan di sebar. Tita dan Ayumi berencana akan mengambil undangan di percetakan setelah pertemuannya selesai dengan WO.


"Kita ke percetakan sekarang saja ya." Ayumi.


"Iya Kak. Makan siang nanti Tita mau ke kantor Mas Ken." Tita.


"Ngapain?" Ayumi.


"Nemenin Mas Ken makan siang Kak." Tita.


"Baiklah. Besok jangan lupa untuk menyebar undangan." Ayumi.


"Iya Kak." Tita.


"Untuk acara rumah sakit kamu ngga mengundurkan?" Ayumi.


"Tidak Kak. Karena Keina masih di rumah Mami nya jadi Tita masih bisa heandle acara rumah sakit." Tita.


"Kamu jangan terlalu lelah Ta." Ayumi.


"Iya Kak. Kalo Tita capek Tita istirahat kok." Tita.


"Baiklah. Kakak tidak ingin mendengar kau sakit ya."Ayumi.


"Kakak juga harus jaga kesehatan." Tita.


Tanpa terasa mereka telah sampai di percetakan. Ayumi dan Tita mengecek undangannya apa masih ada revisi atau tidak. Setelah di yakini benar mereka pun segera keluar.


Mendengar namanya di panggil Tita pun menoleh. Begitu juga dengan Ayumi.


"Maaf siapa ya?" Tita.


"Saya Laila teman kuliah mu dulu." Jawab orang tersebut yang ternyata Laila teman satu kelas Tita saat kuliah.


"Astaga! Maafkan aku. Apa kabar Lai?" Tita.


"Kabar baik. Kamu lagi buat apa?" Laila.


"Ini undangam untuk putra bungsu ku. Kamu buat apa?" Tita.


"Kebetulan percetakan ini milik suami ku Ta." Laila.


"Wah,, benarkah? Eh, iya Kenalkan ini kakak ipar ku Lai." Tita.


"Laila."


"Ayumi."


"Owh! Iya. Nanti datang ya di pernikahan putra ku." Tita.


"Akan ku usahakan Ta." Laila.


"Kalo begitu kita permisi dulu ya." Pamit Tita.

__ADS_1


"Iya silahkan. Hati-hati dan terima kasih sudah mempercayakan pembuatan undangan pernikahan putra kamu pada percetakan kami." Laila.


"Iya sama-sama Lai." Tita.


Tita dan Ayumi pun meninggalkan percetakan. Sebelumnya Tita meminta Ayumi untuk mampir ke restoran langganan mereka untuk membeli makan siang.


Setelah mendapatkan apa yang mereka pesan Ayumi dan Tita pun berpisah d restoran itu. Tita memilih naik taksi untuk pergi ke kantor Ken karena kasian pada Ayumi harus mengantarkannya.


Ayumi tidak menolaknya hanya saja Tita yang merasa tak enak. Ayumi pun pulang ke rumah dan Tita kekantor. Sampai di kantor Tita di sambut hangat oleh security. Tita hanya menundukkan kepalanya dan tersenyum membalas sapaan mereka.


Tita langsung menuju lift khusus untuk mengantarkannya ke ruang suaminya. Sampai di lantai dimana ruangan suaminya berada Tita menyapa sekretaris Ken.


"Siang Bu." Rahman.


"Siang. Bapak ada di dalam?" Tita.


"Ada Bu. Tapi, sedang ada tamu dari PT M." Rahman.


"Baiklah. Kamu tolong tata makanan ini ya untuk makan siang saya dan suami. Ada juga untuk kamu dan Haris." Tita.


"Terima kasih Bu." Rahman.


Tita mengetuk pintu ruangan Ken. Setelah Ken mempersilahkannya masuk Tita pun memasuki ruangan suaminya. Tita menyunggingkan senyumannya. Ken pun bangkit dari duduknya menyambut kedatangan Tita.


"Selamat siang. Maaf mengganggu." Tita.


"Siang sayang. Masuklah." Titah Ken.


Tita melihat seorang laki-laki yang usianya mungkin sama dengan Ken duduk di depan meja Ken di sampingnya wanita muda dan seksi. Sepertinya Tita bisa mencium gelagat yang tak beres.


"Ren, kamu belum makan siang?" Tegur Tita saat melihat Daren duduk di sofa dengan laptopnya.


"Belum Bu. Sebentar lagi saya akan makan siang." Jawab Daren formal.


"Makan siang saja dulu tinggalkan pekerjaan kamu." Tita.


Mengerti maksud Tita. Daren pun segera membereskan pekerjaannya dan keliar dari ruangan Daren setelah berpamitan dengan Ken.


Ken memang kerap meminta Daren masuk ke dalam ruangannya ketika ada klien datang. Agar Daren belajar bagaimana menyikapi berbagai klien apalagi yang memiliki niat terselubung.


Tak lama setelah Daren keluar terdengar ketukan di pintu dan munculah Rahman dengan membawakan makan siang untuk Tita dan Ken.


"Makan siangnya Bu." Rahman.


"Terima kasih Rahman. Pergi makan siang lah." Tita.


"Baik Bu. Permisi." Rahman.


Setelah Rahman keluar Ken mengakhiri pertemuannya dengan kliennya.


"Saya rasa cukup sampai di sini. Nanti hubungi sekretaris saya saja jika sudah selesai anda revisi." Ken.


"Baiklah. Sebelumnya saya akan mengajak anda makan siang. Namun, sepertinya anda ada tamu lagi." CEO PT M.


"Terima kasih ajakannya. Saya lebih senang makan bersama istri saya." Ken.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2