
Daren dan Bunga melewatkan jam makan malam karena kelelahan. Bukan karena pesta pernikahan mereka melainkan karena Daren yang langsung menggempur Bunga tanpa ampun. Maklum saja Daren sudah berpuasa sejak berpisah dengan mantan istrinya.
Bunyi dering ponsel miliknya dan Bunga pun tak mengusik keduanya dari alam mimpi mereka membuat semua keluarga mengumpat di restoran hotel. Pasalnya mereka sengaja datang makan malam bersama untuk saling bercengkrama dan perpisahan karena Daren dan Bunga akan pergi berbulan madu besok.
"Astaga! Kemana mereka?" Tanya Tita yang sudah sangat lapar.
"Kita makan saja Yang. Mas rasa mereka tidak akan turun." Ken.
"Apa tidak apa-apa kita tidak menunggu pemeran utamanya?" Tita.
"Kamu seperti tidak pernah menikah saja Ta. Bukankan dulu pun begitu? Ken langsung mengurung kamu begitu status istri tersemat di depan nama kamu." Olla.
"His... Baiklah. Ayo kita makan." Tita.
Ibu Bunga mengembangkan senyumannya merasa bahagia berada di tengah-tengah keluarga yang penuh dengan kehangatan. Walaupun ada kekesalan mereka tetap saling merangkul dan memecahkan masalah bersama. Ibu Bunga merasa putrinya begitu beruntung mendapatkan keluarga seperti ini.
"Ayo Bu jangan sungkan makan yang banyak. Jangan fikirkan si pengantin baru itu ya." Tita.
"Iya.". Ibu Bunga.
Mereka pun menikmati makan malam tanpa ada sepasang pengantin yang di tunggu. Bahkan hingga acara makan malam usai sepasang pengantin baru itu tak kunjung datang. Mereka pun membiarkannya saja. Keina dan Daren mengantarkan Ibu Bunga pulang karena Ibu Bunga merasa tidak betah tinggal di hotel.
Reina dan Arka sudah di tahan kembali oleh Angel yang tak menginginkan dua batita itu di ambil oleh orang tuanya. Mikha pun tak keberatan mengurus kedua batita tersebut. Karena pada dasarnya mereka berdua menyukai anak kecil sayangnya mereka selalu kehilangan putra atau putri mereka dan hanya Daren yang mampu bertahan.
"Terima kasih Nak Keina, Nak Daren. Apa kalian mau mampir terlebih dahulu?" Ucap Ibu Bunga.
"Sama-sama Bu. Lain kali saja. Ibu perlu istirahat ini sudah malam." Keina.
"Baiklah. Kalian hati-hati di jalan." Pesan Ibu Bunga.
__ADS_1
"Baik Bu. Sampai bertemu besok ya Bu." Pamit Keina.
"Iya." Ibu Bunga.
Mobil Daren pun kembali melaju dengan kecepatan sedang menuju mansion karena mereka pun tak menginap di hotel. Karena jarak antara hotel dan mansion dekat jadi mereka memutuskan untuk pulang ke mansion tidak menginap.
Bunga membuka matanya perlahan. Badannya terasa remuk sakit yang membuatnya enggan bangun namun, perutnya terasa lapar karena sejak siang dirinya hanya memakan sedikit roti saja. Karena tidak sempat mengingat tamu yang datang begitu banyak.
"Mas,," Panggil Bunga dengan suara khas bangun tidur.
Daren merasa terusik karena pergerakan Bunga yang melepaskan pelukannya pun membuka matanya perlahan.
"Hm,, ada apa sayang?" Tanya Daren.
"Bunga laper Mas." Rengek Bunga.
"Astaga! Jam berapa ini? Kita pasti sudah di tunggu keluarga di bawah." Ucap Daren segera bangkit dari tidurnya.
Daren terduduk kemudian mengambil ponselnya di lihatnya begitu banyak panggilan tisaj terjawab dan betapa terkejutnya Daren saat melihat jam yang sudah menunjukan pukul 11 malam bahkan hampir pukul 12.
"Sayang, maafkan Mas membuat mu kelaparan. Pantas saja karena ini hampir tengah malam." Daren.
"Lantas bagaimana Mas? Perut Bunga laper." Rengek Bunga.
"Sebentar Mas hubungi kitchen." Daren.
Daren pun memesan makanan dan menintanya untuk di antarkan ke kemarnya. Tak lama pesanannya pun datang. Daren membantu Bunga duduk di atas tempat tidur tanpa mengijinkan Bunga turun. Karena saat Bunga akan ke kamar mandi tadi Bunga merasa kesulitan berjalan karena begian intinya terasa sakit. Daren pun membantunya ke kamar mandi dengan menggendong ala bridal.
Daren memberikan kaos oblongnya untuk di kenakan Bunga agar tak masuk angin. Kemudian Daren menyuapi Bunga dengan telaten. Awalnya Bunga menolak namun Daren tetap memaksa untuk menyuapinya. Akhirnya Bunga pun pasrah menerima semua perlakuan manis Daren.
__ADS_1
Pagi ini Daren dan Bunga telah bersiap untuk pergi berbulan madu. Daren tak melepaskan tangan Bunga sedetikpun saat mereka berjalan di bandara. Bunga sedikit kesulitan berjalan karena ulah Daren yang memintanya kembali saat setelah mereka menghabiskan makan malam mereka yang kemalaman.
Bunga pun hanya pasrah melayani suaminya karena itu sudah menjadi kewajibannya. Dan beruntung Daren memperlakukannya dengan lembut membuat Bunga sedikit kefikiran pada mantan istri Daren. Apa yang membuatnya menyia-nyiakan pria selembut dan setulus Daren.
Bahkan dirinya yang baru kenal Daren pun bisa merasakan itu walaupun Daren terlihat begitu posesif terhadapnya namun Bunga tak perduli. Bunga mengartikan itu sebagai bentuk rasa kasih sayang Daren yang besar terhadap dirinya.
Disinilah mereka sekarang. Di negara yang sangat ingin Bunga kunjungi. Daren mampu mewujudkan impiannya. Tak henti Bunga berterima kasih terhadap suaminya itu. Daren dan Bunga menginap di salah satu hotel berbintang disana. Keduanya di sambut hangat oleh pemilik hotel yang merupakan sahabat dari Daren.
Bunga meminta pada Daren untuk berjalan-jalan sore di sekitar hotel yang tampak ramai dan menyenangkan di mata Bunga. Daren pun mengabulkannya sebelum dirinya akan mengurung Bunga di dalam kamar hotel dan tidak akan membiarkan Bunga lepas dari pelukannya.
Acara jalan-jalan pun di akhiri dengan makan malam di salah satu restoran yang tak jauh dari hotel. Saat keduanya menunggu pesanan. Daren melihat sesosok wanita yang dia sangat kenali.
"Maria." Bisik Daren yang masih bisa di dengar Bunga.
"Siapa?" Tanya Bunga.
"Mantan istri ku." Jawab Daren jujur.
"Sedang apa dia di sini?" Bunga.
"Entahlah. Biarkan saja. Kita nikmati saja honey moon kita." Daren.
Bunga pun hanya diam tak menanggapi karena pesanan mereka telah datang. Seperti biasa Daren tak membiarkan Bunga makan dengan menggunakan tangannya. Daren akan dengan suka rela menyuapi Bunga. Maria tidak menyadari kehadiran Daren dan Bunga karena dirinya membelakangi Daren.
Bagaimana Daren mengenalinya tentu saja dengan mudah Daren akan mengenali orang yang sudah lama singgah di hatinya namun semua di khianati. Hingga Maria menyadari kehadiran Daren dan Bunga ketika Daren dan Bunga melewatinya dengan tangan yang sing bertautan.
"Daren." Panggil Maria.
Daren menghentikan langkahnya begitu juga dengan Bunga. Maria langsung bangkit dari duduknya dan bermaksud akan memeluk Daren. Namun, sayang. Aksinya di hentikan oleh Bunga.
__ADS_1
"Stop." Ucap Bunga menepis tubuh Maria yang akan berhambur kedalam pelukan Daren. Daren tersenyum melihat aksi dari istrinya.
🌻🌻🌻