
Saatnya telah tiba. Momen kembalinya Burhan dan Marni sudah hampir dekat. Hanya tinggal menunggu kedatangan Burhan yang menurut orang Tita mereka sedang dalam perjalanan. Marni terlihat begitu gugup. Para Pria pun saling berbincang bersama penghulu yang sudah datang lebih dulu dari pengantin pria.
Tita mendapatkan laporan jika mobil Burhan sudah hampir mendekati rumah utama Ito. Tita pun segera menginformasikan kepada Ken dan Ken segera bersiap bersama yang lainnya.
Burhan turun dari mobil dengan begitu gagah namun wajah gugupnya sangat jelas terlancar. Laras menyenggol lengan Marni dan tersenyum penuh arti. Burhan melangkah dengan pasti walaupun dirinya tak bisa menutupi kegugupannya.
Burhan langsung di persilahkan menuju tempat yang sudah di sediakan. Tatapannya tertuju pada Marni yang begitu cantik malam ini. Begitu pun Marni yang terus menatap suaminya yang akan menjadi suaminya kembali setelah perpisahan yang begitu dramatis.
"Sudah siap Tuan Burhan?" Tanya pak penghulu.
Dengan mantap Burhan menganggukkan kepala dan menjawab siap. Acara pun segera di mulai tanpa basa-basi. Setelah terdengar kata SAH dari semua yang hadir kebahagiaan semakin terpancar dari mempelai pengantin lama rasa baru.
Marni mencium punggung tangan Burhan dan Burhan mendaratkan ciumannya di kening Marni cukup lama.
"Kau bisa melakukannya sepuas hatimu nanti besan." Ledek Rehan.
Marni pun tersipu malu di hadapan besannya. Laras memeluk lengan kekar Gagah dengan air mata yang membasahi pipinya. Bukan air mata kesedihan tentunya melainkan air mata kebahagiaan.
Laras begitu bahagia Ibu dan Ayah nya bisa kembali bersatu. Walaupun hingga detik ini Hanan tidak mengetahuinya. Yang Hanan tau Marni ikut bersama Laras.
"Gah, Opa dengar rencana kalian pindah dair rumah ini." Tuan Ito.
"Iya Opa. Kami ingin merasakan bagaimana kami hidup bersama." Gagah.
"Opa tidak melarang kalian hanya saja untuk saat ini keselamatan nomer satu. Saat kamu bekerja dan menyelesaikan kuliah mu Laras akan sendiri di rumah dan itu Opa rasa kurang aman Gah." Tuan Ito.
"Kenapa Opa berkata begitu? Akan ada orang yang bekerja di rumah kami sebagai teman Laras di sana Opa." Gagah.
"Apa kai yakin Hanan tidak akan murka jika dirinya mendengar Ayah dan Ibu mertuamu telah kembali bersama?" Tuan Ito.
"Opa benar Gah. Sebaiknya kalian tetap tinggal di rumah ini saja dulu." Ken.
"Hm... Bagaimana jika kami kembali saja ke rumah kami Ayah?" Tanya Ayumi.
"Kenapa begitu?" Nyonya Laura.
"Ti...tidak apa-apa Bu. Biar Laras merasakan tinggal di rumah mertuanya. Hitung-hitung pengganti kehadiran Gladys." Ayumi.
"Kenapa begitu Bunda. Glad masih bersama Bunda belum menikah." Protes Gladys.
"Ya, tapi tak lama lagi Angga akan menbawa mu pergi." Ayumi.
"Ceh, masih lama juga." Gladys.
__ADS_1
"Sayang." Ucap Angga lembut.
Gladys menundukkan wajahnya tak ingin ikut berbicara lagi.
"Jadi, kalian pun akan pergi dari rumah ini?" Nyonya Laura.
"Kami berjanji akan datang setiap hari Bu." Ayumi.
"Bukankah kalian sudah sepakat akan tinggal bersama kami lagi?" Tuan Ito.
"Apa kalian tidak nyaman tinggal bersama Kami?" Tita.
"Hei, kenapa berbicara seperti itu. Tidak ada terfikir ke sana. Hanya saja Ayu merasa kasian jika Mas Re pergi kerja. Jarak rumah sakit ke sini cukup jauh Bu, Yah. Jika kamu tetap di rumah kan tidak terlalu memakan banyak waktu karena jaraknya dekat." Ayumi.
"Kau keberatan Re?
"Hah! Tidak Ayah. Hanya saja mungkin faktor usia sehingga mudah lelah." Rehan.
"Nampaknya kami tidak bisa lagi menghalangi kalian. Jika memang itu keputusan kalian pergilah." Tuan Ito.
"Ayah... Bukan begitu." Ayumi.
"Kalian telah memiliki keluarga sendiri. Maka, kami pun tidak dapat melarangnya. Kau berhak membawa Ayu pergi Re." Nyonya Laura.
"Marni, Burhan. Selamat kembali bersama. Kami permisi." Ucap Nyonya Laura kembali dan berpamitan.
Setelah Keluarga Tanio dan Bagas pergi. Ken pun berpamitan untuk membawa anak dan istrinya ke kamar. Karena tak enak Angga pun berpamitan pulang. Menyisakan keluarga Ayumi dan Burhan.
Burhan dan Marni berpamitan untuk pergi malam itu juga ke peternakan yang sudah di sepakati dengan di antar oleh orang Tita. Bukan hanya mereka berdua tentunya. Ada lima orang lainnya juga yang ikut lergi bersama.
Dengan berat hati Laras pun harus merelakan Orang tuanya pergi. Kini tinggallah Rehan, Ayumi, Gladys, Gagah dan Laras. Mereka masih berkumpul di ruang utama.
"Bagaimana Yah?" Tanya Ayumi pada Rehan.
"Jika sudah begini Ayah tidak tega." Rehan.
"Hm.. Apalagi Bunda." Ayumi.
"Tapi, apa kita akan terus-menerus hidup bersama begini Yah, Bun?" Gagah.
"Bukan begitu Gah." Ucap Rehan terjeda.
"Bukan kah kita memiliki privasi sendiri Yah?" Gagah.
__ADS_1
"Kalo begitu silahkan kalian mencobanya. Ayah sangat tidak tega melihat Opa dan Oma kalian jika sudah begini." Rehan.
"Ayolah Yah." Bujuk Gagah.
"Kaka." Panggil Laras lembut.
"Kak, apa sebaiknya kita disini saja dulu. Bener kata Ayah. Kasian Opa sama Oma." Gladys.
"Kamu enak Glad setelah menikah akan di bawa oleh Angga. Kakak merasa ga enak Glad. Sebagai laki-laki masa ngga bisa kasih tempat tinggal untuk istrinya." Gagah.
"Hei, bukan itu perkaranya Gah." Rehan.
"Kamu mengatai Ayah dan Oncle mu Gah?" Ayumi.
"Hah... Bukan itu maksudnya Bun." Gagah.
"Sudahlah Kak. Ambil hikmahnya saja. Glad juga setelah menikah Mama Kak Angga ga ngijinin kita keluar dari rumah Mamanya karena Kak Angga anak tunggal." Gladys.
"Memang kamu terganggu Gah?" Rehan.
"Tidak Yah." Gagah.
"Kita sama-sama kerja di satu rumah sakit yang sama. Ayah terkadang lelah jika harus pulang ke sini. Tapi, kebahagiaan orang tua itu nomer satu." Rehan.
"Kau masih muda Kak." Gladys.
Sementara mereka mengeluarkan pendapat mereka Laras hanya diam tak menimpali hanya sesekali mengusap lembut lengan Gagah untuk menurunkan emosi suaminya.
"Sekarang kalian istirahatlah. Dan fikirkan tentang permintaan Opa dan segala konsekuensinya." Rehan.
"Kalo gitu Glad duluan Yah, Bun. Kakak-kakak." Pamit Glad lebih dulu karena matanya yang sudah tak bisa lagi di ajak kompromi.
"Kalian masuklah." Titah Ayumi.
Gagah mengajak Laras untuk pergi kekamar mereka. Ayumi dan Rehan pun masuk kedalam kamar. Setelah membersihkan diri mereka duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
"Kita menyakiti hati mereka Sayang." Ucap Tehan mengusap lembut bahu Ayumi yang berada di dekapannya.
"Ayu sadar semua pasti akan menyakiti hati mereka Mas. Mas tidak apa-apa jika kita tetap di sini?" Ayumi.
"Selama itu membuat mu dan orang tua kita bahagia Mas tidak masalah sayang. Hanya mereka yang kita punya." Rehan.
"Terima kasih Mas." Ayumi.
__ADS_1
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏