
Di dalam ruangan Zayn dengan setia menemani Sinta di sisi ranjang. Dengan Sinta yang masih setia memejamkan matanya. Tiba-tiba Sinta terbangun lebih cepat dari perkiraan dokter. Sinta menjerit kemudian terduduk di atas ranjang.
Zayn pun berdiri di samping Sinta. Sinta yang melihat Zayn di sampingnya pun langsung berhambur ke dalam pelukkan Zayn. Entah mengapa sejak kejadian beberapa waktu lalu yang mengakibatkan keluarganya meninggal tempat paling ternyaman adalah Zayn.
Sinta dapat meluapkan segala rasanya kepada Zayn. Seperti saat ini. Saat kejadian beberapa jam yang lalu melintas di ingatannya Sinta langsung bangun dan membenamkan kepalanya di dada bidang Zayn.
Zayn mengusap punggung Sinta dengan lembut meyakinkan jika semua baik-baik saja. Tubuh Sinta gemetar. Zayn segera menekan tombol darurat agar dokter segera datang. Paman Sinta, Orang tua Zayn dan Dokter datang bersamaan.
Kedatangan mereka bukan menambah ketenangan pada Sinta melainkan ketakutan yang luar biasa. Pelukkannya semakin erat membelit pinggang Zayn. Zayn pun segera memberi kode kepada semua keluarganya untuk keluar terlebih dahulu dan menyisakan Dokter dan Suster.
Dengan bujukan Zayn akhirnya Sinta pun mau untuk di periksa oleh Dokter. Sinta memegang erat tangan Zayn agar Zayn tidak pergi meninggalkannya. Walaupun sedikit sulit untuk memeriksa Sinta Dokter tetap melakukan tugasnya.
Sinta dinyatakan baik-baik saja hanya sedikit trauma. Dan saat dua kejadian yang hampir sama Zayn yang ada di dekatnya yang membuat dirinya merasa aman ketika bersama Zayn.
"Lalu bagaimana ini?" Tanya Paman Sinta.
"Kita tidak mungkin membiarkan Sinta dam Zayn bersama karena belum muhrim." Bibi Sinta.
Sejenak mereka semua terdiam dalam fikiran masing-masing.
"Nikahkan saja abang sama Kakak." Ucap Zizi santai.
"Hah!"
"Astaga! Kompak banget sih. Abang.." Rengek Zizi pada Andre.
"Benar. Hanya ini jalan keluarnya." Nio.
"Bagaimana sayang? Mau ya nikah sama Abang Zayn?" Tanya Olla pelan pada Sinta.
Sinta mendongak menatap Zayn. Manik matanya bertemu dengan manik mata Zayn. Tanpa keraguan Sinta mengangguk kemudian kembali memeluk Zayn erat seolah takut di tinggalkan.
"Zayn?" Tanya Nio.
"Jika itu yang terbaik Abang ikut saja.". Zayn.
"Abang ikhlas?" Olla.
__ADS_1
"Ikhlas Bunda." Zayn.
Akhirnya mereka pun pulang ke rumah. Ruli di buat kelimpungan harus mempersiapkan pernikahan dadakan antara bosnsekaligus sahabatnya dengan Sinta. Begitu juga Bunda Ayumi yang di hubungi untuk menyiapkan baju pengantin dalam empat jam kedepan.
Zayn masih membujuk Sinta untuk mau di tinggalkan sebentar saja namun semua itu nihil adanya. Akhirnya Zayn tetap berada di rumah Sinta mempersiapkan pernikahannya di sana. Para tetangga yang di beritahu pun merasa heran dan bertanya-tanya.
Semua keluarga dekat pun ricuh mempersiapkan diri untuk datang ke rumah Sinta menghadiri pernikahan mereka. Raya dan Keina tampak paling ricuh karena kehamilan mereka.
Raya yang stres karena banyak gaunnya yang tak cukup lagi sementara Keina panik karena Daren belum juga sampai di rumah sementara waktu terus berputar. Andre dan Ken sedang menghadiri rapat penting sehingga membuat keduanya tak dapat di hubungi.
Dan disinilah mereka semua di rumah Sinta yang di sulap sederhana untuk persiapan pernikahan dadakan mereka. Beruntung pihat KUA bersedia. Karena rayuan dari Ruli tentunya. Paman Sinta selaku wali dari Sinta pun telah siap menikahkan keponakannya.
"SAH."
Kata itu sudah mengaung di halaman rumah Sinta. Rentetan acara yang cukup singkat pun segera berakhir dengan hidangan yang seadanya juga berasal dari dua restoran milik keluarga Dirgantara.
Sinta terus menatap Zayn. Dan tangannya tak pernah lepas dari tautan Zayn. Dan Zayn pun tak merasa risih dengan apa yang di lakukan Sinta.
"Selamat ya Dek. Udah jadi suami sekarang." Ucap Zio.
"Iya. Selamat ya Dek." Ucap Zio pada Sinta dan Sinta mengulurkan tangannya dengan seulas senyuman di bibirnya.
"Selamat sayang." Ucap Raya pada Sinta.
Mereka berdua pun saling berpelukkan. Raya dan Sinta sudah saling kenal dan Sinta tak taut pada Raya. Apalagi Raya sekarang menjadi Kakak iparnya.
"Kak Sinta, selamat ya.." Ucap Zizi.
Tanpa di duga Sinta menghambur kedalam pelukan Zizi dan tangisannya pecah di dalam pelukkan Zizi. Zizi membiarkannya dengan mengusap lembut Punggung Sinta.
"Tuhan sudah mengatur segalanya Kak." Ucap Zizi seolah tau apa yang ada dalam fikiran Sinta.
Sinta merenggangkan pelukannya dan menatap dalam manik mata Zizi. Zizi tersenyum pada Sinta.
"Terima kasih." Ucapan pertama yang Zizi dengar setelah kepergian Damar dan kedua orang tuanya.
"Ya. Berbahagialah." Do'a tulus Zizi.
__ADS_1
Setelah semua keluarga pulang dan setelah di putuskan bersama Zayn pun membawa Sinta untuk tinggal bersama dengan kedua orang tuanya. Zayn pun meminta Paman Sinta dan keluarganya untuk menempati rumah peninggalan orang tua Sinta.
Walau awalnya menolah tapi setelah di bujuk oleh Zayn dan Sinta. Akhirnya Paman Sinta pun menyetujuinya. Usahanya akan di lankutkan oleh putra pertamanya Rahmat. Dan usaha orang tua Sinta di lanjutkan olehnya atas kemauan Zayn.
"Masuk sayang." Ajak Olla saat Zayn dan Sinta tiba di rumah mereka.
Sinta menatap Zayn dan Olla bergantian.
"Masuklah bersama Bunda. Abang akan membawa koper kamu masuk." Titah Zayn.
Sinta pun mendekati Olla dan Olla segera menggandeng Sinta dengan penuh kelembutan. Sinta pun merasa nyaman. Sinta menatap sekeliling rumah. Abi menyapa menantu barunya dengan penuh kehati-hatian karena di takutkan Sinta ketakutan.
Zayn masuk dengan dua koper besar di tangannya. Kemudian Zayn meminta kepada pekerjanya untuk meletakkan kedua koper besar itu di dalam kamarnya. Dam meninta bibi untuk membereskannya.
"Kalian sudah makan malam Nak?" Tanya Olla pada Zayn.
"Sudah Bunda tadi sebelum kami ke sini." Jawab Zayn.
"Sykurlah. Kalo begitu kalian istirahatlah." Titah Olla.
"Ayo sayang. Kita istirahat." Ajak Zayn pada Sinta yang hanya diam duduk di sofa.
Sinta pun bangkit dan menundukkan kepalanya pada Olla dan Abi. Olla dan Abi pun hanya tersenyum pada menantu mereka. Sinta dengan hati yang takut pun mengikuti langkah kaki Zayn menaiki anak tangga setapak demi setapak.
"Ini kamar kita. Di sana pakaian kita. Kamu bersih-bersih kemudian ganti pakaian kamu ya. Abang di sini cek email dulu ya." Titah Zayn pada Sinta.
Dengan langkah pelan Sinta menututi apa yang di perintahkan Zayn. Sementara Zayn duduk di sofa yang terdapat di dalam kamarnya. Zayn menatap laptopnya dengan khusu hingga tak menyadari jika Tita sudah berada di hadapannya.
"Astaga! Sudah selesai?" Tanya Zayn yang terkejut karena Sinta berada di hadapannya dengan pakaian tidur.
Sinta menganggukan kepalanya.
"Baiklah. Abang mandi dulu ya." Ucap Zayn mematikan laptopnya.
Saat Zayn akan menutup kamar mandi Sinta berteriak sontak membuat Zayn heran dan kembali ke luar dari kamar mandi.
🌻🌻🌻
__ADS_1